Young Papa

Young Papa
Obsesi



...Warning 🔞...


Yang masih di bawah umur mohon bijak, pada chapter ini mengandung konten bacaan yang bukan untuk anak di bawah umur.


.


.


.


.


"Papa wajah papa kenapa?"


"Papa jatuh semalam"


"Ohh, papa sekarang baik-baik saja? Badan papa ada yang sakit?"


"Papa baik-baik saja sayang" Jaevan mencubit pipi Nora "Sudah siap?"


"Emmm"


Jaevan berdiri dan menggendong Nora, membawanya menaiki motor.


"JAE TUNGGU" Teriak Dania dari rumahnya, beruntung Jaevan belum meng gas motornya. Dania berlari menghampiri Jaevan "Boleh aku ikut hehehe"


"Ayo"


Dania tersenyum dan naik ke jok belakang.


...**********...


Brum


Jaevan memasuki lingkungan sekolah, memarkirkan motornya dan melepas halm, Dania turun dari motor Jaevan dan berjalan bersama menuju ke kelas.


Sepanjang jalan yang mereka lewati, kasak-kusuk orang-orang sangat jelas terlihat di mata Jaevan, namun dia memilih untuk tidak memperdulikannya dan terus berjalan.


"Yo Broo" sapa Lenovan "Hei, ada apa dengan wajahmu" tanya Lenovan kaget "Oh **** tapi kau terlihat bagus"


Plak


Jaevan mengeplak kepala Lenovan.


"Ouch sakit hei!" Lenovan mengusap kepalanya.


Jaevan tidak menggubris protesan sahabatnya, memilih pergi melanjutkan langkahnya ke kelas.


"Dania apa yang terjadi, kenapa dia?" tanya Lenovan pada Dania.


"Orang itu gila, kau tau! Tiba-tiba dia datang dang main serang duluan" cerita Dania sembari berjalan menuju kelasnya.


"Siapa?"


"Entahlah kami tidak tau dia siapa"


Tap


Dania berhenti "By aku ke kelas".


"By"


Dania dan Lenovan pun berpisah pergi menuju kelas masing-masing.


...**********...


"Wahhh menurutmu siapa yang akan keluar jadi pemenang? Zorya atau Dania"


"Apa maksud kalian?"


Mereka semua menoleh, dan terkejut mendapati Zorya bediri di belakang mereka.


"Bukan apa-apa ahahah"


Zorya tidak percaya "Mau ku beri pelajaran, atau katakan padaku!" ancam Zora yang berhasil membuat ke tiga temannya berjengit.


Mau tidak mau salah satu dari mereka memperlihatkan hp miliknya. Zorya merebutnya, dan membaca Pembicaraan di pesan grup sekolah.


Senyumnya mengembang "berani-beraninya dia mendekati milikku, lihat saja siapa yang akan keluar jadi pemenang".


Ketiga teman Zorya berpandangan, mencoba menerka apa yang akan di lakukan Zorya.


Zorya mengembalikan hp itu lalu pergi meninggalkan ke tiga temannya.


...**********...


Drrrtttt


Zorya : Bring Karoke, cepat datang.


"Hah" Susan menarik nafas sejenak "Pak Burning Karoke"


"Baik Nona"


Susan menyenderkan kepalanya di jendela kaca, menikmati waktunya dengan memperhatikan keramaian jalan raya.


Saat di lampu merah perhatiannya tertarik pada seorang siswa yang berseragam sekolahnya sedang asik mengobrol dengan anak kecil diboncengan depan. Mereka sangat asik membicarakan sesuatu hingga membuat si anak itu nampak tertawa lepas.


Ah Susan menyadarinya, itu Jaevan dan Nora, Susan menurunkan kaca mobilnya "Jaevan" panggil Susan.


Jaevan menoleh, dan membuka kaca halmnya "Hai".


Mereka terdiam sejenak" Kau teman Dania bukan! Susan?".


Susan mengangguk, ini adalah pertama kalinya Susan berbicara dengan Jaevan.


"Mau pulang?"tanya Jaevan.


"Hah oh iya".


"kalau begitu hati-hati ya" Jaevan menyalakan kembali mesin motornya.


"Kau juga, dan aku akan menantikan penampilanmu di tv".


Jaevan mengangkat jempolnya, lalu menggas motornya karena lampu sudah berubah hijau.


Susan memandang kepergian Jaevan hingga motornya tertutupi oleh pengendara yang lain. Susan menutup jendela mobilnya lalu memasang earphone dan menyetel lagu di ply list hpnya.


"Nona sudah sampai".


Susan segera memasukkan hp ke tas dan keluar mobil. Langkahnya menuju resepsionis "Permisi ruangan atas nama Zorya dimana".


"Lantai 3 ruang nomor 1".


"Terimakasih".


Susan menaiki left menuju lantai tiga


Ting


Susan keluar dan dapat langsung menemukan ruangan nomor 1 tempat Zorya memintanya datang.


Baru saja ia hendak membuka pintu, namun pintu itu lebih dulu terbuka.


"Hai kau teman ****** itu" tunjuknya.


Susan terdiam, dia tau orang didepannya ini adalah kekasih Zorya.


"bilang padanya, jangan terlalu sombong"


Setelah mengatakan itu dia berlalu pergi.


Susan masuk kerungan, dan mendapati ruangan sudah berantakan sedangkan Zorya asik duduk bersilang kaki dengan rokok di tangannya.


Zorya bangkit mendekati Susan "Bayar semua ini"


Tangan Susan mengepal kuat Membuat buku-buku jarinya memutih. Zorya menepuk bahu Susan lalu pergi begitu saja meninggalkan Susan dengan segala kekacauan yang dibuatnya.


Susan memperhatikan seisi ruangan 'Hah haruskah mereka melakukanya disini' Susan melangkah mencari remot.


'Dimana benda itu' Susan menunduk.


'Ouuhh menjijikan' Susan bergidik menemukan benda kontrasepsi tergeletak dilantai menumpahkan isinya dilantai, dan tidak jauh disana remot itu berada.


'**** aku tidak akan mengambilnya'.


Susan keluar meninggalkan ruangan itu, biarkan petugas saja yang bereskan.


Drrrtttt


Zorya : beli obat Vard*****, terserah mau beli dimana, berikan padaku besok.


"Hah" Susan kembali melanjutkan langkahnya.


"Pak ayo pulang".


"iya Nona".


"Nanti mampir sebentar ke apotik"


Mobil pun melaju ke jalan raya.


...**********...


Sebuah mobil hitam mewah menepi di depan apotik, seorang gadis remaja keluar dari mobil namun sebelum itu ia sudah mengganti seragamnya dengan pakaian santai yang sengaja ia beli.


"Ada yang bisa saya bantu".


"Saya mau beli Vardenafil" apoteker itu memperhatikan Susan dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"Satu tablet atau satu kotak?".


"Satu tablet saja".


Setelah menerima obat tersebut Susan segera membayar dan pergi.


...**********...


Keesokan hari disekolah Zorya sudah menunggu Susan di depan kelas, seperti biasa Zorya menjadi pusat perhatian orang-orang yang melewatinya.


Dari kejauhan Susan sebenarnya sudah melihat keberadaan Zorya, Susan sengaja berjalan lambat karena malas bertemu dengan Zorya.


Zorya kesal menunggu Susan berjalan sangat lambat, maka dia yang pergi mendekatinya.


"Beri obat itu pada minuman atau makanan Jaevan saat dia tidak di kelas" bisik Zorya ditelinga Susan.


Susan kaget mendengarnya, Susan tidak menyangka jika Zorya bermaksud memberikan obat ini pada Jaevan.


"Kenapa matamu seperti itu, mau aku buat matamu tinggal satu" Zorya memandang Susan dengan tersenyum mengerikan.


"Lakukan dengan baik dan jangan sampai ada yang melihat" Zorya menepuk pundak Susan lalu pergi.


Susan menghembuskan nafas berat, dan kembali melangkah ke kelas.


"Pagi Susan" sapa Dania


Susan tersenyum menanggapi Dania.


...**********...


Di jam istirahat pertama biasanya Jaevan akan pergi menjemput Nora. Maka sekarang adalah waktu yang tepat menurut Susan. Saat dia sudah sampai, kebetulan tidak ada orang dikelas, sehingga memudahkan Susan.


Drrrrrk


Cepat-cepat Susan menuju bangku Jaevan dan mencari botol minum di dalam tas milik Jaevan.


Ketemu, segera dia mengeluarkan botol minum itu dan mengambil obat yang di bawanya, dengan tergesa-gesa Susan mencampurkan obat itu, lalu mengembalikan botol dan tas ketempat semula lalu pergi.


Susan kembali ke kelas, duduk sambil menggigiti kuku jarinya. Susan gelisah, obat apa itu sebenarnya. Susan mengeluarkan hp dan mencarinya di internet "Susan" Susan kaget dan langsung mematikan hpnya dan mengangkat kepal.


Zorya berdiri di depan kelas "Sudah kau lakukan dengan benar?" Susan mengangguk.


"Bagus"Zorya lalu pergi.


Susan kembali menyalakan hpnya, Susan membekap mulutnya saat mengetahui obat itu adalah obat yang digunakan untuk merangsang hormon sexsual pria.


"Susan ada apa?" Susan kaget mendapati Dania sudah berada di depannya.


...**********...


"Tada"


"Waaahhh Mata Nora berbinar ini kak Regan yang masak?"


Regan mengangguk , sambil tersenyum bangga.


"Wihhh mau dong"


Plak


Regan mengeplak tangan Lenovan.


"AAAA mau" rengek Lenovan.


"Ck kau nanti saja, sekarang aku mau mendengar pendapat chaf, chaf silahkan".


Jaevan terkekeh, satu sendok penuh Jaevan suapkan kemulutnya. Regan sangat menantikan tanggapan seperti apa untuk masakannya dari Jaevan, Jaevan mengunyah perlahan mengecap setiap rasa yang muncul di indra perasanya.


"Enak?" tanya Regan.


Jaevan mengangkat kepalanya, memandang Regan. Lenovan, Nora yang menatapnya menunggu jawaban. Jaevan bersedekap dada "Sayang sekali"


Raut wajah Regan berubah. Muncul niat ingin menjahili Regan, bibir Jaevan berkedut menahan tawa Menurutku masakanmu ini tidak kini wajah Regan benar-benar terlihat sangat lucu "tidak baik jika tidak dihabiskan".


Plak


Regan memukul lengan Jaevan.


Jaevan melotot mengusap lengannya yang terasa panas dan berdenyut "AAAA Sakit”.


“Kau pikir jantungku tidak sakit hah".


"Kenapa jadi kau yang marah?".


"AAAAAAAAA".


Nora menjewer telinga Regan.


"Nora sakit" Nora melepaskan jewerannya, Regan mengaduh mengusap telinganya yang panas.


"AHAHAHAHAH" tawa Lenovan dan Jaevan pecah.


"AAAAAAAAA" giliran Jaevan yang dijewer Nora.


"Nora Papa salah apa?" rengek Jaevan.


"Kalian bertengkar, jadi Nora hukum Papa sama kak Regan seperti bu guru di sekolah".


Jaevan memegang kedua telinganya, begitupun Regan mengikuti "Maaf bu guru".


Nora tersenyum "Jangan di ulangi!".


"Baik bu guru"


Klik


Ternyata sedari tadi Lenovan merekam semua tingkah konyol Regan dan Jaevan tanpa sepengetahuan mereka.


'Kkekekeke' Lenovan tertawa jahat puas dengan hasil rekamannya.


"Ayo sekarang makan" Lenovan mengantongi hpnya lalu duluan mencomot makanan di setiap kotak bekal di depan matanya.


"Yey" Norabersorak gembira.


Dengan semangat Nora melahap makanannya, membuat pipinya mengembung seperti tupai.


“EEEE" Nora bersendawa "Ups".


"AHAHAHHAHA" tawa mereka kembali pecah.


"Uhuk uhuk" Jaevan tersedak cabai "Uhuk" ia memukul dadanya "Uhuk" namun usahanya tidak berhasil, tenggorokannya semakin terasa gatal dan panas.


"Ouuuuuh"Jaevan meraih botol minum dan minum hingga tenggorokannya tidak lagi gatal dan panas.


...To be countinue...


**Hay guys hehehe semoga karya ini bisa menghibur kalian, tolong dukung saya terus ya😊


Jangan lupa like, komen, dan tambahkan ke favorit ya, sebagai bentuk menghargai usaha penulis untuk membuat cerita ini.


see you next chapter🙌**