Young Papa

Young Papa
Hilang Kontrol



...🔞Warning...


Gak untuk yang di bawah umur ya !!


Hati-hati Lenovan memapah Jaevan masuk ke dalam rumah hingga ke kamarnya.


Lenovan membantu Jaevan berbaring di tempat tidur "Butuh sesuatu?".


Jaevan menggeleng "aku hanya ingin istirahat".


"Kau yakin?"


"Bisa tolong jaga Nora sebentar".


"Tentu saja, kau jangan khawatir! Tidurlah".


"Terimakasih".


Lenovan mengangguk lalu pergi dari kamar Jaevan.


...**********...


Selang 20 menit mereka kembali memeriksa keadaan Jaevan.


"Regan apa yang harus kita lakukan?"


Lenovan nampak kebingungan melihat keadaan Jaevan.


"Arrrrrggg" Jaevan menggeram, tubuhnya berkeringat, dan dia terus saja merintah kesakitan.


"Jaevan apa yang sakit?" Regan menyentuh kening Jaevan.


"Tidak panas?" Regan bertatapan dengan Lenovan.


"Papa, papa di mana yang sakit?" air mata Nora mulai berlinang.


Digenggamnya dengan erat jemari Jaevan.


"Re aku akan ke apotik cari obat, kau disini saja jaga Nora dan Jaevan".


Regan mengangguk "Tapi kau mau beli obat apa?".


"Aku akan bertanya saja nanti dengan apoteker" Regan mengangguk.


"Hati - hati di jalan!" Lenovan mengangguk.


"Aku pergi" Lenovan pamit dan pergi meninggalkan kamar.


"Nah nora ayo kita ke bawah, biarkan papa istirahat ok, ssssss sudah jangan nangis dong nanti kalo papa sudh minum obat pasti sembuh".


Nora mengusap air matanya "emmm".


"pinter" Regan menggendong Nora" huppp" dan membawanya keluar kamar tak lupa menutup pintu kamar pelan.


Setelah pintu kamar tertutup, Jaevan bangkit dari kasur menuju kamar mandi. Menyalakan shower lalu berdiri di sana dengan pakaian sekolah yang masih melekat di tubuhnya.


Sssssssrrrraaahhh


Suara gemericik air memenuhi ruangan kamar mandi membasahi lantai. Jaevan mendongak menikmati dinginnya air yang membasahi wajahnya, Seluruh tubuhnya menjadi basah dan memperlihatkan kulit tubuhnya yang masih terbalut seragam putih.


...**********...


'Tok tok tok'


Regan yang sedang menyuapi Nora menoleh ke pintu "Nora sebentar ya" Regan meletakkan sendok dan bangkit berdiri untuk melihat siapa yang datang.


'Cklek'


"Di sini kalian rupanya!".


"Berhentilah bolos kalian itu sudah di akhir semester dasar, ini tas kalian" Dania memberikan tas milik Regan dan Lenovan.


Regan menoleh melihat jam di dinding, dan ternyata sekarang sudah jam pulang sekolah.


"Hehehehe terimakasih" Regan mengambil tas miliknya dan Lenovan dari tangan Dania.


"Dan kami tidak bolos".


Dania memicingkan alisnya"Lalu?".


"Hah Jaevan sakit dan kami tidak bisa meninggalkannya" terang Regan.


"Jaevan sakit?" mata Dania membulat.


"Sakit apa?Dimana dia?".


"Ada dikamar sedang tidur".


Dania bernapas lega mendengarnya, "Boleh aku lihat dia?".


"Silahkan" Regan mempersilahkan Dania masuk.


Dania meletakkan tasnya di sofa, kemudian berjalan menaiki tangga ke lantai dua, sedangkan Regan menyuapi Nora kembali.


'Cklek'


'Cklek'


Dania masuk ke kamar bersamaan dengan Jaevan yang keluar kamar mandi.


"Astaga Jaevan kenapa kau basah-basahan" Dania mendekati Jaevan.


"Handuk dimana handuk?" Dania menoleh kanan dan kiri mencari handuk.


"Ah di sana" Dania segera mengambil handuk yang tergantung lalu kembali menghampiri Jaevan.


Dania mengusap rambut dan wajah Jaevan untuk mengeringkan air yang menetes dari helai rambut dan wajahnya.


'Grep'


Jaevan mencekal tangan kanan Dania, membuat Dania mau tidak mau menghentikan tangannya dan menatap Jaevan.


"Jae ada apa?".


Namun Jaevan tetap diam.


"kau baik-baik saja?".


Namun lagi-lagi pertanyaan Dania tidak di jawab Jaevan.


'Glek'


Dania menelan ludah saat dirinya di tatap dalam oleh Jaevan dengan matanya yang tajam dan tegas.


Jaevan meju satu langkah mendekati Dania "Jae?" cicit Dania merasa terintimidasi dengan tatapan Jaevan yang semakin membuat jantungnya berdegup.


Satu langkah lagi Jaevan mendekat membuat Dania reflek mundur satu langkah "Jaevan?" panggil Dania sekali lagi.


Dan tetap sama Jaevan hanya diam dan terus melangkah memojokkan Dania hingga langkah mundur Dania terhenti karena kasur di belakangnya.


'Bruk'


Jaevan mendorong Dania dan jatuh di kasur.


'Deg'


Tatapan mereka saling beradu, Dania bisa merasakan betapa gilanya kini jantungnya berdebar, Dania dapat merasakan deru nafas Jaevan di permukaan kulit wajahnya.


Dania menahan nafas saat mata tegas Jaevan berganti dengan tatapan sendu namun sangat dalam menatapnya, Dania terkesiap saat wajah Jaevan merendah dan semakin dekat ia merasakan hidung mancung Jaevan menyentuh kulit wajahnya dari kening, mata, hidung, "Jae?" cicit Dania.


Jaevan menghentikan aksinya, lalu menatap kembali wajah Dania.


'Tes tes tes'


bulir-bulir air terjatuh dari rambut Jaevan membasahi wajah Dania, Dania memejamkan matanya.


'Srrkk'


Dania merasakan Jaevan bangkit, Dan saat matanya terbuka mata Dania membulat.


Jaevan melepaskan baju seragamnya yang sudah basah dan melemparkanya begitu saja ke lantai, lalu kembali mengurung Dania.


Ini benar-benar bukan lelucon, Dania terkesiap melihat otot-otot Jaevan, dan kini Jaevan berada di atasnya bertelanjang dada.


"Jaevan" Panggil Dania, tangannya menyentuh dada Jaevan mencoba mendorongnya.


"Sssssss" desah Jaevan.


Reflek Dania menjauhkan tangannya dan menutup mulutnya dengan kedua tangan, mendengar suara Jaevan membuat dada Dania berdesir.


Jaevan meraih pergelangan tangan Dania mencengkramnya dan membawanya di sisi kepala. Dania menoleh ke kiri dan kanan saat kedua tangannya di tekan oleh Jaevan, "Jae kau kenapa?".


'Deg'


Jantung Dania benar benar meledak saat dirasa telingannya merasakan deru panas nafas Jaevan.


"Ssssssss hhhhhhaaaaaahh" Dania tersentak saat mendengar ******* Jaevan di telinganya.


Dania merasakan kembali hidung mancung Jaevan kali ini turun ke rahang semakin turun ke leher, dan ulah Jaevan sukses membuatnya meremang.


'Cup'


Dania terbelalak saat merasakan ada sesuatu yang lembut menyentuh lehernya terasa hangat dan basah di sana.


Dania kembali berusaha bergerak mencoba menyingkirkan Jaevan dari atas tubuhnya, sekuat tenaga Dania mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman Jaevan, namun tenaganya kalah kuat dengan Jaevan.


Dania memejamkan matanya erat saat Jaevan kembali mengecup dan sedikit menggit lehernya, kakinya bergerak ribut mencoba membebsakan diri.


Bukannya terbebas, Jaevan malah semakin merapatkan tubuhnya dengan menindih Dania, mengapit kaki Dania dengan kakinya agar diam.


Dari jarak sedekat ini, Dania dapat mencium aroma Jaevan yang menguar dari rambutnya, aroma yang selama ini membuatnya selalu tersenyum, nyaman, dan ketagihan.


"Jae AAA" Dania menjerit merasakan lehernya di hisap kuat dan itu menimbulkan rasa yang sedikit berdenyut.


"AAAAA" Dania kembali menjerit karena Jaevan mulai gencar mencium, mengigit dan menghisap lehernya.


...**********...


Lenovan memarkirkan motornya di depan sebuah apotik, melepas helm dan masuk ke apotik.


"Permisi kak saya mau beli obat!".


"Mau beli obat apa?".


Lenovan berfikir "Ini mbak obat untuk orang sakit".


Apoteker itu mengerutkan keningnya tidak memahami obat apa yang dimaksud Lenovan, Lenovan jadi merasa malu sendiri "Ahahah maksud saya obat untuk orang yang gejalanya kesakitan, sampai berkeringat, nafasnya juga berat kurang lebih sakitnya itu kak?" terang Lenovan sudah berusaha semaksimal mungkin agar dapat dimengerti.


"Apa belum di periksa oleh dokter?".


"Belum".


"Sebaiknya kau bawa dulu ke dokter agar kami bisa memberikan obat yang tepat untuknya, karena jika diberi obat yang tidak tepat dikhawatirkan akan membuat sakitnya bertambah parah, jadi maafkan kami".


"Ahhhh begitu ya, baiklah terimakasih".


Lenovan keluar dari apotik dengan wajah kecewa. Lenovan pun menaiki motornya dan kembali ke rumah Jaevan.


'Cklek'


"Obatnya ada?" tanya Regan.


Lenovan menggeleng "Mereka bilang lebih baik kita membawanya periksa ke dokter".


"Hmmmm ya sudah ayo".


"AAA".


Reflek Regan dan Lenovan melihat ke lantai dua saat mendengar suara teriakan, merasa penasaran Regan memutuskan untuk pergi ke lantai dua memeriksa apa yang terjadi di ikuti Lenovan.


Namun di lantai dua mereka tidak menemukan apapun, keduanya saling bertatapan.


"AAAAA" teriakan itu kembalin terdengar, Regan dan Lenovan menoleh ke kamar Jaevan.


"Regan siapa di dalam, itu tadi suara perempuan?".


"Tadi Dania datang, aku baru ingat kalu dia sedari tadi belum turun".


Mereka saling berpandangan "Jangan bilang...".


"Hei itu tidak mungkin" Regan seakan paham apa yang di pikirkan Lenovan.


"Ok ayo kita periksa, aku juga menjadi berpikir yang tidak-tidak" Regan mengakui kalau dirinya juga tidak bisa tidak berpikir sesuatu yang vulgar.


'Cklek'


Perlahan Regan membuka knop pintu "Dania Jae..van"


Keduanya mematung, terperangah dan kaget melihat apa yang ada didepan mata mereka. Jaevan menindih Dania tanpa mengenakan pakaian atas, dan sedang mencumbu dengan agresif leher Dania, sedangkan Dania mencoba melepaskan tangannya dari Jaevan.


"MAAF" teriak Regan panik dan segera menarik Lenovan keluar kamar.


'Brak'


Pintu ditutup dengan keras, membuat kesadaran Jaevan kembali. Matanya bertabrakan langsung dengan mata Dania yang bergetar, Jaevan langsung bangkit berdiri menyadari posisi nya yang sangat begitu intim.


Dania bangkit berdiri, kepalanya tertunduk tidak berani menatap Jaevan "Aku pulang" Dania berbalik dan segera melangkah keluar kamar.


"Dania tung...".


terlambat Dania sudah terlebih dahulu membuka pintu kamar.


...**********...


'Drap drap drap'


Dania melangkah menuruni tangga dengan langkah cepat meninggalkan rumah, mengabaikan Regan, Lenovan, dan Nora yang sedang berada di ruang tamu.


"Dania"panggil Lenovan.


Namun panggilan itu diabaikan Dania.


......To be Countinue......