Young Papa

Young Papa
Enam



Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Sudah waktunya Sungjae berganti shift dengan karyawan selanjutnya. Ia merapihkan beberapa barang yang baru datang dan meletakknya ke dalam gudang.


Lalu saat keluar dari gudang ia menemukan sesosok wanita yang tak pernah ia bayangkan, dan akan bertemu di tempat itu.


Mata mereka tak sengaja saling bertemu. Sora menyapanya seolah tak pernah terjadi apa apa. Sedang Sungjae kembali teringat dengan masa lalu yang menyakitkannya hingga sekarang.


" Lama tak bertemu?!" sapa Sora, ia melambaikan tangan pada Sungjae dengan kaleng bir ditangannya.


Sungjae pura pura tak mendengar lalu keluar begitu saja. Ia mencoba untuk mengabaikan Sora. Namun tangan kecil itu meraih pundak Sungjae dengan cepat.


" Aku sedang berbicara padamu." ucap Sora ia memandang Sungjae dengan seksama.


" Tapi tak ada hal yang ingin ku bicarakan padamu."


" Kau masih marah padaku?!" pertanyaan Sora membuat Sungjae menaikkan salah satu alisnya dan bibirnya tersenyum sinis. Ia hendak mengatakan sesuatu hal namun ia mencoba untuk menahannya.


" Anak itu?! Masih hidup kan?!" tanya Sora lagi. Namun Sungjae sudah berbalik dan pergi meninggalkannya.


" Dia sudah banyak berubah." gumam Sora.


Ia duduk di minimarket tersebut dan melihat sekelilingnya. Sora bertanya tanya pada kasir yang sedang berjaga mengenai Sungjae. Sora sangat penasaran dengan keadaan Sungjae saat ini.


Sebelumnya ia telah memerintahkan seseorang untuk mencari tau tentang Sungjae. Lalu ia juga menyuruh pesuruhnya untuk mengambil beberapa foto anaknya yang dia tinggalkan pada Sungjae.


Ia tersenyum tiap kali melihat foto anak kecil tersebut.


" Apa Sungjae pernah membawa seorang anak kecil kesini?" tanya Sora pada kasir tersebut.


" Mungkin pernah sekali, dia kesini dengan salah satu temannya." kasir tersebut mencoba mengingat ingat.


" Teman?? Laki laki atau perempuan?" tanya Sora lagi, dalam hatinya berharap jika Sungjae masih memiliki perasaan yang sama seperti dulu padanya.


" Laki laki."


" Syukurlah." gumam Sora ia tersenyum lalu membayar sekaleng bir yang ia ambil lalu memberikan uang lebih pada kasir itu.


" Aku akan sering datang kesini."


Kasir tersebut mengangguk dan tersenyum senang.


***


Sungjae melepaskan pakaiannya dan menggantungnya rapi di kamarnya. Pintunya diketuk dan tak lama ibunya masuk untuk menyuruhnya makan malam.


" Makanlah."


" Eoh, aku akan kesana sebentar lagi." Sungjae tersenyum pada Hyeri yang sudah tertidur lelap dikamarnya. Semua penderitaanya seakan sirna begitu melihat wajah malaikat kecilnya.


" Kau tampak murung. Apa ada masalah yang sedang terjadi? "tanya ibu Sungjae ia memberikan semangku sup pada Sungaje.


" Tak ada. Jangan khawatir." Sungjae mulai menyendok nasi dan memasukkan kedalam mulutnya.


" Kau benar tak ingin melakukan tes DNA pada Hyeri?"


Sungjae menghentikan makannya. Nasi yang ia telan seakan sulit turun dari tenggorokannya. Ibunya yang tau langsung mengambilkan segelas air untuknya.


" Lalu setelah tes DNA, bagaimana?" tanya Sungjae usai meneguk air putih yang diberikan oleh ibunya.


"Ibu hanya ingin tau apa dia benar benar anakmu atau bukan?! Karena ibu tak yakin dulu kau melakukan hal itu pada seorang gadis."


" Dan, kita sudah pernah membahasnya kan? Aku sudah mulai menyayangi anak itu, bu." imbuh Sungjae.


" Tapi bagaimana dengan masa depanmu? Ibu tau kau akan dikeluarkan dari sekolah karena Hyeri."


Sungjae terdiam. Ia tak tau harus mengatakan apa pada ibunya. Karena ternyata diam diam ibunya selama ini mengetahui masalah Sungjae di sekolah.


Ia hendak mengatakan jika beberapa waktu yang lalu bertemu dengan ibunya Hyeri namun diurungkannya. Sungjae takut jika ibunya semakin memaksanya untuk melakukan tes DNA tersebut.


" Aku sudah selesai makan." Sungjae berdiri dan menuju dapur untuk mencuci piring kotor miliknya.


***


" Aigoo lucunya." seru Seunggi wali kelas Sungjae. Ia mencoba menggendong Hyeri, namun Hyeri menolaknya dan berjalan menuju arah Sungjae yang ada di depannya.


Sore itu ia datang untuk membicarakan masalah lomba fisika tersebut pada Sungjae.


" Apakah dia benar anakmu?" tanya Seunggi.


Sungjae mengangguk, namun ekspresinya seakan ada kekhawatiran yang sedang menggelayutinya.


" Bagaimana dengan lomba itu? Kau sudah siap kan?"


Lomba fisika akan diadakan beberapa minggu lagi. Awalnya Sungjae sangat yakin jika ia akan mendapatkan juara dan membawa nama sekolahnya. Namun semakin hari, keyakinan tersebut sirna perlahan karena mentalnya.


" Kau harus yakin?!! Ingatlah lomba tersebut demi masa depanmu dan anak ini." ucap Seunggi.


**


Sohyun terlihat celingukan saat masuk kedalam minimarket. Seperti hendak mencari seseorang. Namun mendadak kecewa karena bukan Sungjae yang sedang berjaga pada hari itu.


" Kau pasti mencari Sungjae." ucap Kasir yang bernama Baekyung tersebut pada Sohyun.


" Ah, tidak. Kau salah."


" Dia ternyata populer juga akhir akhir ini. Karena sudah ada dua orang gadis yang mencarinya."


"Dua?? Siapa lagi??"


Baekyung hanya menaikkan pundaknya.


" Aku hanya ingin mengembalikan ini padanya." Sohyun memberikan sebuah paper bag berisi jaket yang dipinjamkan oleh Sungjae saat kejadian memalukan menimpanya.


Ada beberapa alasan mengapa Sohyun tak bisa mengembalikan jaket pada Sungjae di sekolah.


" Eoh, nunim?!! Kau datang kembali. Pasti sedang mencari Sungjae juga?!" ucap Baekyung membuat Sohyun menoleh ke arah pintu masuk.


Dia melihat seorang wanita cantik dengan tubuh kecilnya. Terlihat dari pakaiannya yang ia kenakan nampak bukan dari kalangan orang biasa.


" Juga?! Memang siapa lagi yang mencarinya selain aku?" tanya Sora dengan nada angkuhnya.


Baekyung menunjuk dengan matanya ke arah Sohyun. Sohyun yang ditatap oleh Sora membeku dan kepercayaan dirinya mulai runtuh.


" Kau siapa??!" tanya Sora berjalan mendekat pada Sohyun.