Young Papa

Young Papa
See You



Satu minggu kemudian


Pukul 11.00 sebuah mobil pengangkut barang berhenti di depan rumah Jaevan. Dua orang turun dari mobil itu dan masuk kerumah Jaevan, dua orang itu keluar masuk rumah Jaevan sembari membawa satu persatu kardus berbagai ukuran. Kardus-kardus itu di masukan ke dalam mobil.


Kesibukan di rumah Jaevan membuat para tetangga penasaran, terutama keluarga Rey yang sangat terkejut.


"Jaevan" Panggil Hani masuk ke dalam rumah Jaevan.


Jaevan yang saat itu tengah menuruni tangga sembari membawa kardus di tangannya segera menghampiri Hani "Ada apa bibi?"


"Apa maksud mu ada apa! seharusnya bibi yang bertanya seperti itu. Ada apa ini sebenarnya? Apa isi di dalam kardu-kardus itu?" tanya Hani sedikit garang.


"Bibi ini semua barang-barang ku dan Nora".


"Mau dibawa kemana memangnya?".


"Bibi aku dan Nora mau pindah, maaf sebelumnya baru memberi tahu bibiĺ.


"Pinda?" ulang Hani "Apa maksudmu, kalian mau pindah?pindah kemana?".


Jaevan diam, ia tidak mengerti kenapa Hani semarah itu.


"Jaevan kami benar-benar sudah menganggapmu keluarga. Jadi kenapa kau tidak merundingkan terlebih dahulu hal seperti ini dengan kami orang dewasa".


Jaevan tersenyum "Bibi sebelumnya aku sangat berterimakasih untuk itu, aku sangat bahagia kalian sangat peduli dengan kami. Tapi bibi aku mohon percayalah pada ku".


Mata Hani mulai berkaca-kaca "Jaevan kau itu sudah seperti anak bagi bibi, mengetahui kau akan pergi jauh seperti ini membuat ku sangat khawatir. Siapa nanti yang akan merawat kalian jika kalian sakit".


"Bibi percayalah pada ku, aku bisa menjaga diriku dan Nora, kami akan baik-baik saja".


"Lalu siapa Nanti yang menjaga kalian, jika kalian di ganggu orang".


"Karena itulah aku harus pergi dari sini bibi. Di sini kami tidak merasa aman, aku juga tidak ingin mengangu ketenangan di sini".


Kali ini Hani terdiam, benar apa yang dikatakan Jaevan. Di sini Jaevan dan Nora tidak aman, rumahnya setiap hari selalu saja di datangi orang asing.


"Tapi janji selalu beri kabar pada kami mengerti".


Jaevan mengangguk "Iya bibi".


...**********...


Dania yang saat Itu baru pulang berbelanja di pasar, Heran melihat keramaian di rumah Jaevan. "Apa yang sebenarnya terjadi?", tanyanya dalam hati.


Kantong belanjaan segera ia letakkan di dalam rumah, dan bergegas pergi kerumah Jaevan. Ia mengamati sekitar rumah Jaevan yang dipenuhi kardus "mau dibawa kemana semua kardus ini?" tanya Dania lagi.


“Mama" panggil Dania saat Hani keluar dengan membawa kardus kecil di tangannya.


"Ini ada apa sih?"


"Jaevan mau pindah".


Dania terkejut "Pindah? Pindah rumah?" ulangnya.


Hani mengangguk, lalu pergi meninggalkan Dania yang masih terpaku.


Ia kembali sadar dari keterpakuannya ketika melihat Jaevan menuruni tangga sembari menelphon.


"Jaevan".


Langkah Jaevan terhenti, ia mengangkat kepalanya melihat Dania.


"Kak nanti aku kabari lagi by" Jaevan kemudian memasukkan hpnya kedalam saku celana dan kembali melangkah menuruni tangga.


"Hai" sapa Jaevan saat sudah berada di depan Dania.


"Kau mau pindah?"


Jaevan mengangguk.


"Tiba-tiba, kenapa?"


"Aku tidak punya pilihan lain, aku tidak ingin menganggu kalian. Karena aku kalian sering mendapat ketidak nyamanan, aku merasa tidak enak karena itu".


"Tapi kenapa sangat tiba-tiba?".


"Tidak, ini sebenarnya sudah lama aku berencana pindah sudah sebulan yang lalu".


"Kau tidak memberi tahu ku" Jujur ia saat ini merasa malu, memangnya siapa dia bagi Jaevan sehingga harus memberitahu hal seperti ini padanya. Tapi ia tidak bisa menahan suara dalam benaknya.


"Maaf"


Dania mulai merasa sesak, ia tertunduk untuk menyembunyikan matanya yang muai berkaca-kaca.


Jaevan ingat akan sesuatu, ia kemudian mengambil sebuah paper bag warna ping yang terletak di ruang tamu.


"Ini, maaf aku baru memberikannya padamu"


Dania mengangkat kepalanya dan menerima paper bag itu "Apa ini?"


"Hadiah kelulusan mu".


Dania ingat di hari kelulusannya saat ia bersama teman sekelasnya yang lain, ia mendengar Jaevan datang ke acara kelulusan. Namun sayangnya saat ia ingin menghampiri Jaevan, dia sudah terlebih dahulu pergi.


Aku kira kau tidak datang waktu itu.


"Aku datang".


Dania kemudian membuka paper bag itu, sebuah mainan alat musik. Sangat cantik,


"Kau suka?" tanya Jaevan.


Dania mengangguk "Emmm aku suka, ini sangat cantik".


"Syukurlah jika kau suka" Jaevan tersenyum lembut.


...**********...


"Jaevan apa semuanya sudah beres?" tanya Dion.


Jaevan mengangguk


"Ayo kalau gitu" Dion masuk terlebih dahulu kedalam mobil.


Jaevan menarik napas, lalu memasang senyum di wajahnya. waktunya untuk berpamitan, Jaevan berbalik dan menghampiri Hana Bibi kami pamit.


Hana mengangguk, mengelus bahu Jaevan "Jaga dirimu ya jaga Nora juga, sering-seringlah memberi kabar."


Jaevan mengangguk "Iya bibi, dan terimakasih untuk semuanya, dan juga maaf jika aku pernah berbuat salah"


Hani meraih kedua tangan Jaevan menggenggamnya erat, "bibi akan mendoakan mu dan akan selalu mendukungmu".


" Kami akan menunggu mu pulang, jadi saat kau merasa lelah pulanglah hmmm" Hani kemudian tersenyum, lalu melepas genggamannya.


"Iya bi".


Jaevan kini berdiri di hadapan Dania. Dania tertunduk air matanya mulai berlinang, dengan cepat ia mengusapnya dengan punggung tangan.


Jaevan menyadari itu, ia mengulurkan tangannya.


Melihat tangan Jaevan di depan wajahnya, Dania langsung mengangkat kepala. Matanya dan mata Jaevan beradu, senyum Jaevan terpasang di wajah rupawannya, tatapan matanya yang teduh berhasil membuat jantung Dania berdebar.


Bukannya berjabat tangan, Dania malah memeluk Jaevan. Memeluknya erat, ia menenggelamkan wajahnya di dada bidang Jaevan, menghirup aroma tubuh lelaki yang selama ini diam-diam ia sukai.


Jaevan terpaku, tidak tau harus bagaimana, ia menoleh pada Hani, merasa tidak enak padanya. Namun Hani malah tersenyum melihat itu semua.


Alhasil Jaevan dibuat salah tingkah "Dania" panggilnya.


Jaevan tidak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa diam menuruti Dania. "Ehmm aku dengar kau lulus masuk keperguruan tinggi kedokteran ya?"Jaevan bertanya berusaha untuk mengatasi kecanggungannya.


Dania mengangguk.


"Di luar kota?".


Dania mengangguk.


"Wahhhh kau hebat "


"Hiks hiks"


Dania kini benar-benar menangis.


"Hei kenapa kau menangis?"tanya Jaevan khawatir.


Dania diam tidak menjawab pertanyaan Jaevan.


"Sssssssttt" Jaevan merangkuh punggung Dania, mengusap kepalanya lembut, mencoba menenangkan.


Dania yang merasakan Jaevan memeluknya semakin merasa tidak dapat merelakan Jaevan pergi, ia semakin memeluk Jaevan erat.


"Dania maaf sekarang aku harus pergi, kak Dion menunggu ku".


Jaevan merasakan pelukan Dania melonggar "Terimakasih untuk semuanya, dan aku minta maaf atas semua kesalahan yang aku perbuat padamu"


Akhirnya Dania melepaskan pelukannya, ia menghapus jejeak air mata di wajahnya dengan punggung tangan "Janji kau akan kembali kan!".


Jaevan tersenyum, namun tidak menjawab pertanyaan Dania.


"Janji!" Dania mgangkat jari kelingkingnya.


Jaevan mau tidak mau mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Dania.


Senyum merekah, Jaevan lega Tentu saja suatu saat aku akan kembali Jaevan tersenyum.


"Kalau begitu aku pamit".


Dengan terpaksa Dania mengangguk, lagi pula ia tidak bisa mencegah Jaevan pergi karena itu adalah pilihannya, dan ia ingin menghormati pilihan Jaevan.


"Nora ayo pamit dengan bibi dan kak Dania"


Nora mengangguk, ia mencium tangan Hani "Bibi Nora pamit ya byby".


Hani berlutut menyamakan tingginya dengan Nora, ia memeluk Nora erat mencium kedua pipi dan kening Nora Anak pintar, "jaga diri ya! Jangan nakal, dengarkan papamu hmmm jadi anak yang baik ok".


"Ok" Nora tersenyum, lalu beralih pada Dania Kakak aku pamit ya.


Dania berlutut juga menyamakan tingginya dengan Dania" Nora jangan lupa sering-sering hubungi kakak ya!" Nora mengangguk.


Untuk yang terakhir Dania memeluk Nora erat, "Sudah-sudah! Kak Dion sudah lama menunggu" tegur Hani.


Dengan terpaksa Dania melepas pelukannya dan bangkit berdiri.


Jaevan meraih tangan Nora, membawanya masuk ke dalam mobil. Mobil dion perlahan mulai berjalan.


Tin


Nora menurunkan kaca mobil "Dahhhhh" ia melambaikan tangan pada Hani dan Dania.


Hani dan Dania membalas lambaian tangan Nora hingga mobil mereka menghilang dari pandangan mereka.


"See you" gumam Dania.


...**********...


4 Tahun kemudian


Kini karir Jaevan semakin bersinar. Karirnya di dunia antertainer semakin bersinar, usahanya juga semakin berkembang.


Di usianya yang tergolong muda ia adalah orang yang memiliki pengaruh besar di kalangan remaja, dan orang dewasa. Kesuksesan yang di raihnya dengan kerja keras walaupun adalah orang yang tidak menyelesaikan sekolahnya, menjadikannya sebagai sang motivator bagi orang-orang yang juga tidak dapat pergi ke perguruan tinggi.


Sedangkan Nora, ia sudah sekolah. Mengikuti kelas melalui layar ipad di depannya.


Drrrrkkk


Jaevan masuk ke mobil setelah ia selesai melakukan pemotretan.


"Tuan apa kau butuh sesuatu?" tanya maid pada Jaevan.


"Tidak, aku hanya ingin intirahat saja". Jaevan duduk bersandar melepas semua perhiasan yang ia pakai. Ia memperhatikan Nora yang sedang fokus memperhatikan layar ipad.


" Apa jadwalnya masih lama hari ini?".


“mungkin sebentar lagi selesai tuan".


Jaevan mengangguk.


Drrrrkkkk


Dion datang membawa kotak makan siang di tangannya, dan memberikannya pada Jaevan.


"Bibi Ame ini nasi mu dan Nora".


"Terimakasih Tuan"


Jaevan mengangguk "Kak apa aku masih ada jadwal?".


Dion mengangguk, menelan makanan di mulutnya terlebih dahulu "Jam 15.00 kau ada syuting iklan lagi".


Jaevan mengangguk.


"Iya bu guru terimakasih, by".


Kelihatanya Nora baru saja menyelesaikan kelasnya, Nora membereskan semua peralatan belajarnya dan memasukannya ke dalam tas.


"Sudah selesai?" tanya Jaevan.


"Emmmmm"


"Bagaimana apa hari ini pelajarannya sulit?" Nora menggeleng. Lalu turun duduk di kursi mobil di sebelah Jaevan.


"Papa sudah selesai kerja?".


Jaevan mengangguk.


"Suapi hehhehe" tawa Nora memperlihatkan gigi gigi susunya.


"Hmmmm"Jaevan mengelus pipi tembem Nora sini sini ayo kita makan.


Jaevan meminta kotak nasi Nora yang tadi diberikan pada Bibi Ame ,"Nah ayo buku mulutmu lebar-lebar".


"AAAAAA" Nora membuka mulutnya lebar dan melahap satu sendok yang Jaevan suapkan.


"Bibi Ame makanlah, ini sudah siang".


"Iya tuan".


Seperti ini lah kehidupan yang Nora dan Jaevan jalani. Nora akan ikut Jaevan kemana saja papanya pergi, di bantu Ame seorang wanita berumur 30 tahun yang bekerja sebagai pengasuh Nora. Menjaga Nora dan membantu Nora belajar di saat Jaevan sedang bekerja.


...And...


Hy guys apa kabar heheheh, tidak terasa akhirnya sampai juga pada akhir cerita, bagaimana apakah menghibur kalian, semoga saya iya heheheh.


Maaf klo mungkin ada yang merasa kurang puas dengan alur cerita yang saya buat, saya mohon maaf sebesar-besarnya. Saya akan berlatih lagi kedepannya untuk membuat karya yg bagus 💪, by 👋 see you guys heheh.