
Hari demi hari sudah berlalu, selama hampir 3 bulan terahir ini Jaevan sudah dapat menjalani hari-harinya lebih terencana. Sekolah, café, dan kegiatannya di galeri masterchaf dapat tertata dibanding 2 bulan lalu yang membuat Jaevan stres karena harinya yang sibuk.
Berkat Dion yang membantunyalah, Jaevan bisa mengatur jadwal sekolah, mengurus cafe, dan mengikuti ajang masterchaf.
Kesibukannya sayangnya membuatnya tidak dapat sekolah seperti teman-temannya, Jaevan sering tidak menghadiri kelas, dan juga membuatnya sering pulang larut meninggalkan Nora bersama Dion. Namun untuk mengantar jemput Nora sekolah Jaevan akan meluangkan waktunya walaupun berada ditengah kesibukannya.
Hari ini Jaevan kembali menjalankan perannya sebagai siswa, kembali ke sekolah dan mengikuti kelas. Sampai di sekolah Jaevan bukannya langsung menuju kelas namun langkahnya menuju ke UKS.
Meletakan tasnya di kursi lalu merebahkan dirinya di kasur. Jaevan memilih berbaring dan tidur sebentar sebelum bel masuk kelas karena Jaevan tidak dapat menahan rasa kantuknya lebih lama, hari-harinya yang sibuk membuatnya tidak bisa tidur dengan benar.
Cklek
Seseorang masuk ke ruang UKS dan menempati ranjang kosong satunya. Awalnya orang itu tidak menyadari disana dia tidak seorang diri karena adanya tirai putih.
Shhhhhhhhb Kepak
Hembusan angin menciptakan suara kepakan dan tirai putih tersibak, menyadarkan orang itu ada sosok yang tertidur di sebelahnya, dia bangkit dan mendekati Jaevan yang sedang tidur. Duduk di sampingnya bertopang dagu, sambil memandangi paras objek didepan matanya, senyumannya tertarik membentuk guratan di sisi matanya.
Dia mengeluarkan hp dari sakunya, mengetik sesuatu lalu memasukkanya kembali ke saku, dia bangkit dari duduk namun sebelum pergi, dia merendahkan wajahnya, jemarinya menyingkirkan helai surai hitam Jaevan. Agar dapat memandangi dengan jelas bulu mata panjang nan lebat yang baru kali ini dilihatnya dimiliki oleh seorang laki-laki.
...**********...
"sttt kau kenapa?" tanya Dania pada Susan.
"Hah"
"Apa ada masalah kau terlihat murung?".
Susan menggeleng "tidak apa-apa".
Dania hanya mengangguk dan kembali memperhatikan guru didepan.
Kriiiiiiiiiiing
"Sampai sini dulu anak-anak, minggu depan kita lanjut materi selanjutnya" setelah guru pergi dari kelas semua murid satu persatu juga keluar dari kelas.
"Dania ikut gabung kami yuk" Susan memeluk lengan Dania
Dania tersenyum, dan dengan lembut melepas lengannya dari Susa "Tidak Terima kasih".
"Sekali ini saja" Susan memohon dengan wajahnya yang dibuat sememelas mungkin.
"Susan aku bukan lavel kalian, aku lebih baik sendiri tanpa teman dari pada aku bergabung dengan kalian".
"Kan ada aku".
Dania menggeleng "Aku mau pergi, kalau kau mau ikut aku ke kantin ayo" Dania bangkit dari bangkunya dan melangkah pergi.
Ketika langkahnya sudah samai pintu kelas, Dania menoleh kebelakang memastikan apakah Susan ingin ikut dengannya, namun Susan masih saja tidak bergerak dari kursinya, kepalanya tertunduk hingga rambutnya jatuh menutupi wajahnya.
"Jika kau tidak merasa senang bersama mereka, maka lebih baik kau pergi" setelah mengatakan itu Dania melangkah keluar kelas meninggalkan Susan.
Susan mengankat kepalanya mendengar kalimat yang di ucapkan Dania 'Kau pikir aku tidak punya pemikiran itu, aku sangat ingin pergi tapi bagaimana caranya' Susan membatin.
Di kantin Dania bertemu dengan Regan dan Lenovan yang kebetulan juga membeli sandwich.
"Hai Dania" Dania tersenyum membalas sapaan Lenovan.
"Apa Jaevan hari ini sekolah?" tanya Dania.
"Emmmm dia tadi baru saja pergi menjemput Nora".
Dania mengangguk, senyumannya mengembang mendengar bahwa Jaevan hari ini ke sekolah, karena dia sekarang sangat sulit didapati bahkan hanya untuk melihat Jaevan disekolah hari ini saja adalah suatu kabar gembira bagi Dania.
"Bibi aku mau 5 bungkus".
Regan dan Lenovan menoleh melihat Dania.
"Apa" Sergah Dania.
"Apa itu untuk Jaevan?" goda Lenovan menaik turunkan alisnya.
"Tentu saja aku beli untuk ku, Jaevan dan Nora".
Lenovan dan Regan tersenyum semakin lebar.
"Ada apa dengan kalian, hentikan senyuman itu kalian seperti orang bodoh"
Senyum Lenovan dan Regan seketika menghilang "Bodoh kau bilang" sergah Lenovan.
Dania segera membayar dan menerima pesannya lalu pergi meninggalkan mereka. Dania segera menuju kelas Jaevan untuk meletakkan sandwich di bangkunya sebelum dia kembali.
Langkahnya ringan, senyumnya mengembang mencerminkan susasana hatinya yang baik.
Langkah Dania berhenti di ambang pintu, senyumannya hilang berganti dengan raut wajah kecewa. Didepan matanya Jaevan duduk bersama dengan seorang gadis.
"Jae" sapa Regan.
Jaevan menoleh dan melihat Regan, Lenovan dan juga Dania di depan pintu kelas. Regan dan Lenovan masuk ke kelas dan menarik Dania juga karena dia sedari tadi berdiri di tengah pintu.
Regan dan Lenovan menarik kursi duduk di samping Jaevan dan Nora, sedangkan Dania masih berdiri di samping Regan "Jae ini aku beli untukmu dan Nora".
Jaevan tersenyum dan menerima sandwich pemberian Dania "Terima kasih" Dania mengangguk dan segera berbalik pergi.
Sret
Regan menahan Pergelangan tangan Dania, "Di sini saja dulu" Regan berdiri dan memaksa Dania duduk di kursi yang didudukinya tadi, lalu mengambil kursi lainnya dan duduk di samping Dania.
"Hai" sapa gadis yang duduk di depan Jaevan.
Dania menoleh "Ha hai" sapa Dania balik dengan tersenyum canggung.
"Oh iya" Jaevan teringat janjinya tiga bulam lalu pada Dania.
"Dania aku masih punya hutang janji pada mu kan?" Jaevan berkata sembari meringis 'Bisa-bisanya aku baru ingat sekarang' batin Jaevan.
"Janji apa?"
"Kau waktu itu membantuku mengerjakan Pr kimi jadi aku ingin berterimakasih"
"Ohh itu" Dania mengangguk.
"Jadi kau mau apa? katakan saja"
Dania menggaruk pipinya "Aku tidak tau"
"Pokoknya hubungi aku kala kau sudah memikirkannya"
Dania mengangguk.
...**********...
Drap Drap Drap
Zorya melangkah dengan menghentak-hentakkan kaki.
Bruk
Dan dengan kasar duduk dimejanya.
Ke empat temannya yang lain menatap heran.
"Kenapa?"
Mata tejamnya melihat Susan, seperti ingin membunuhnya "Kau sebangku dengan Dania bukan?".
Susan mengerjab beberapa kali "Apa?".
"Ck kau selain bodoh juga tuli ya" mendengar kata-kata yang merendahkan dirinya Susan merasa panas. Tangannya mengepal menahan amarah.
"Dania dia teman sebangku mu kan?".
"Ahhh iya".
Zorya berdiri mengacungkan jari telunjuknya menunjuk wajah Susan "Halangi dia agar tidak bertemu Jaevan".
"Sudah pergi sana moodku rusak melihat mu"
usirnya mendorong bahu Susan membuatnya sedikit terhuyung ke belakang. Susan pun berbalik dan pergi kembali kelasnya.
"Ck".
Zorya memainkan hp nya, ia membuka galeri photo mencari foto yang ia ambil tadi pagi di UKS. Iya memeperbesar poto itu, mengamati wajah damai Jaevan yang sedang tertidur.
"Kau menyukainya" tanya salah satu dari tiga orang temannya.
"Emmm aku sangat menyukainnya" Jawab Zorya sembari masih menatap layar hpnya.
"Lalu bagai mana dengan kekasih mu, kau tidak menyukinnya lagi?"
"emmm aku bosan dengannya"
......To be Countinue......