Young Papa

Young Papa
Masalah Datang



Drrrrttttt Ddrrrrttt


Jaevan melihat hpnya bergetar di atas meja makan, tidak lama hpnya kemudian berhenti bergetar "NORA AYO TURUN SARAPAN!"


"IYA" teriak Nora dari kamar.


Jaevan melepas apronnya lalu membawa mangkuk berisi bubur ketan hitam ke meja mangkan.


Drrrtttt Drrtttt


Hp kembali bergetar, segera Jaevan meraih hpnya, menggeser ikon hijau untuk mengangkat telphon yang masuk


"Hallo"


"Jaevan You ok?"


"Im ok of course" jawab Jaevan "tumben sekali kak kau pagi pagi menanyakan kabar ku?".


Tidak ada jawaban


"Halo kak kau masih disana?"


"Jae begini, sekarang kita ada masalah, apa kau sudah melihat berita mu?"


"Berita? Berita apa memangnya?, masalah apa?" Jaevan balik bertanya.


"aku akan kirim link beritanya nya"


Tut


Drrrrtt


Satu pesan masuk dari Dion, Jaevan segera membukanya.


"Papa mana sarapan ku" Nora berjalan menuruni tangga.


"Sini kemarilah" Jaevan menuangkan bubur ke piring Nora.


Nora menghampiri meja makan, meletakkan tasnya di kursi lalu duduk "Waaaahhhhhh bubur ketan" Seru Nora girang.


"Nahhh pelan-pelan makannya".


"Emmm" Nora mengangguk dan mulai makan.


Jaevan duduk di kursi berhadapan dengan Nora, dan juga mulai memakan bubur di piringnya.


Drrrt Drrrttt


Hpnya kembali bergetar [Regan] menelphon


"Halo"


"Jae kau sudah baca berita?"


"Berita apa sih? " tanya Jaevan.


"Sebentar aku kirim link beritanyanya"


Ting


"Itu sudah ku kirim"


"Oh iya ini aku baru ingin membacanya"


Jaevan menyembunyikan panggilan, dan membaca artikel yang baru Regan kirim yang ternyata sama dengan yang Dion kirim.


Alis Jaevan bertaut membaca artikel yang ternyata dirinyalah yang menjadi topik.


...[Jaevan Kontestan Masterchaf terlibat skandal di lingkungan sekolah dengan selebgram Zorya]...


"Ini...." Jaevan tidak bisa berkata-kata lagi "Wahhh, ini sangat buruk ini melewati batas" nada bicara Jaevan tanpak tidak menyenangkan.


"Apa, apa Jae ceritakan kebenarannya pada ku, itu tidak benar kan?"


"Di sekolah saja, aku akan ceritakan".


"Baiklah ya sudah sampai jumpa di sekolah".


Tut


Jaevan meletakan hpnya, memijat keningnya yang berdenyut.


"Papa sakit?" Nora bertanya dengan raut wajahnya yang cemas.


Jaevan mengangkat kepalanya, memberikan senyuman terbaiknya "Tidak, papa sehat kok".


"Benarkah?, papa tidak bohongkan?"


Jaevan mencubit pipi Nora "Iya sayang, Uttututu lucunya".


"Papa jangan cubit nanti pipi Nora melar".


"Benarkah!" Jaevan malah semakin gemes dan mencubit kedua pipi gembul Nora.


Tok tok tok


Jaevan dan Nora melihat ke arah pintu.


Jaevan bangkit dan melihat siapa yang bertamu di rumahnya pagi-pagi.


Cklek


Jaevan terkejut mendapati dua orang polisi datang kerumahnya.


"Saudara Jaevan?".


"Iya benar" jaevan mencoba menjawab setenang mungkin.


"Anda harus ikut kami ke kantor polisi untuk diminta keterangan atas laporan yang kami terima terkait kasus pelecehan".


Jaevan mengerjap mencoba mencerna perkataan polisi di otaknya "A apa, kasus pelecahan? Tunggu dulu siapa yang melaporkan ku?".


"Anda bisa bertanya nanti di kantor, sekarang anda harus ikut kami" polisi itu memborgol kedua tangan Jaevan.


...**********...


Satu mobil polisi berhenti di pinggir jalan, Dua orang berseragam polisi keluar dari mobil menghampiri Hani yang kebetulan sedang membuang samapah.


"Permisi bu, apa benar itu kediaman Jaevan?".


"Iya benar, ada apa ya?".


"Terima kasih bu".


Kedua polisi itu pergi menuju rumah Jaevan tanpa menjawab pertanyaan Hani.


Perasaan Hani mulai tidak enak, dari tempatnya berdiri ia mengawasi kedua polisi itu.


Ia melihat Jaevan keluar membuka pintu, dan berbicara dengan mereka. Sayangnya Hani tidak bisa mendengar apa yang di bicarakan, hingga kedua polisi itu memborgol tangan Jaevan.


Hani panik dan memanggil suaminya " PAPA PA CEPAT KEMARI JAEVAN PA" teriak Hani.


Mendengar teriakan ibunya, Dania dan ayahnya, segera berlari keluar rumah meninggalkan sarapan mereka "Mama ada apa?"


"PAPA HWAAAAA PAMAN MAU BAWA PAPA KEMANA, PAPA JANGAN PERGI, PAPA NORA IKUT" tangis Nora pecah, dia menarik-narik dan memukul polisi yang membawa Jaevan mencoba mencegah papanya di bawa pergi.


Dania, Hani, dan Rey tergopoh-gopoh menghampiri.


"Pak tolong biarkan saya bicara sebentar dengannya" Jaevan memohon untuk di beri waktu untuk bicara dengan Nora.


Kedua polisi itu melepaskan Jaevan, dan memberi waktu setengah menit.


"Nora dengar papa, Nora jangan khawatir papa pergi sebentar, Nora di rumah ya..."


"JAEVAN" jaevan menoleh.


"Pak ada apa ini? tanya Rey.


Kedua polisi itu tidak menjawab pertanyaan Rey.


"Paman bisa tolong jaga Nora sebentar".


"Sebentar ada apa ini sebenarnya?" Tanya Rey mulai tersulut emosi.


"Nora bersama paman dan bibi Dania dulu ya" Jaevan mengusap Air mata Nora.


"Sudah waktu habis ayo" kedua polisi itu menarik tangan Jaevan membawanya masuk ke mobil.


"Paman aku titip Nora tolong"


belum selesai Jaevan berbicara polisi itu membawa paksa Jaevan masuk ke dam mobil.


"PAPA WHEEEEE PAPA NORA IKUT PAPA" tangisan Nora membuat semua orang yang mendengarnya di lingkungan perumahan mereka keluar.


Mobil perlahan melaju pergi membawa Jaevan.


"PAPA" Teriak Nora mengejar mobil yang membawa papanya. Rey dan Hani mengejar Nora dan membawanya ke dalam pelukan mereka.


"P A P A" Nora menangis sejadi-jadinya mencoba memberontak dalam gendongan Rey.


"Ma jaga Nora papa akan susul Jaevan di kantor polisi"


Hani mengangguk dan mengambil alih Nora dari gendongan suaminya sedangkan Dania membeku di tempatnya, membisu saat para tetangga mulai berdatangan dan bertanya padanya.


...**********...


Di sekolahan Regan dan Lenovan sejak tadi menunggu Jaevan di depan kelasnya.


"Regan ini sudah hampir jam masuk kelas, Jaevan tidak mengabari mu?"


"Tidak"


"Coba telphon"


Regan mengangguk, dan segera mengeluarkan hpnya.


Drrrtttt Drrrrrtttt Drrrtttttt Drrrrtt Drrrrttt


"Tidak di angkat"


Deeerttttt


Bel masuk kelas berbunyi.


"Sudahlah mungkin dia telat, jam istirahat saja kita menghampirinya"


Lenovan mengangguk "Dahhhh aku ke kelas".


"Emmm"


Lenovan dan Regan berpisah pergi ke kelas masing-masing.


...**********...


Jaevan duduk di hadapan polisi yang kini sedang mengintrogasinya terkait laporan pelecehan terhadap dirinya yang sebenarnya Jaevan sendiri merasa tidak melakukannya.


"Mana Kartu identitas mu?".


Jaevan merogoh saku celananya, mengeluarkan kartu identitas dari dompet dan menyerahkannya.


"Wali mu siapa?".


"Aku yatim piatu".


Polisi itu berhenti mengetik sejenak mendengar penuturan Jaevan.


"Satupun tidak ada".


"Ya".


a


Polisi itu mengangguk.


"Langsung saja ke permasalahan, apa hubungan mu dengan Zorya Gifanda".


"Kami hanya teman satu sekolah" jawab Jaevan apa adanya, namun jawabannya satu ini sebenarnya malah memperkuat dugaan perbuatan yang dilakukannya.


"Hanya teman? Tidak lebih".


"Ya".


"Sudah berapa lama kalian berteman?".


"Aku tidak bisa bilang kalu kami teman akrab, tapi akhir-akhir ini kami sering bersama".


...**********...


"Dania" panggil Lenovan.


Dania menoleh, berbalik kebelakang melihat orang yang memanggil namanya.


Lenovan menghampiri Dania dan bertanya "Apa kau tau dimana Jaevan?".


Dania memandang Regan dan Lenovan bergantian "Dia tadi pagi di bawa ke kantor polisi" tutur Dania menunduk.


"KANTOR POLISI! KENAPA?".


Dania menggeleng.


"Re ayo" Regan mengangguk lalu berlari pergi bersama Lenovan.


"Kalian mau kemana?" tanya Dania


"MENYUSUL JAEVAN" teriak Regan sembari berlari pergi.


Dania terbengong di tinggal begitu saja, hingga telinganya mendengar kasak kusuk orang bergunjing membicarakan hal buruk tentang Jaevan.


...To be Countinue...


Teman-teman jangan lupa di like, komen, dan tambah favorit ya 😊.


nantikan chapter selanjutnya ya heheh.


Maaf kalo typo bertebaran heheh.