Young Papa

Young Papa
Efek Obat



...Warning ๐Ÿ”ž...


Bagi yang belum cukup umur diharapkan tidak membaca chapter ini, karena terdapat bahan bacaan yang tidak pas untuk dibaca anak di bawah umur.


.


.


.


"Huh" Jaevan menghela napas berusaha fokus.


'Apa ini? kenapa hari ini panas sekali?' Jaevan menggerutu dalam hati, kening jaevan mengkerut 'Apa di sini hanya aku yang merasa gerah?' gerutu Jaevan lagi saat mendapati hanya dia lah yang berkeringat.


Jaevan menutup bukunya lalu mengipasi dirinya dengan buku ditangannya. Jaevan menggelengkan kepala mencoba membuat dirinya tetap fokus.


Namun 10 menit sudah berlalu, Jaevan merasa semakin merasa gerah dan sangat sulit fokus belajar, Jaevan merasa gelisah dalam duduknya.


"Nora, kamu disini dulu ya jangan kemana-mana!".


"Papa mau kemana?"


"Papa mau ke wc sebentar".


"Ok jangan lama-lama"


Jaevan mengangguk.


"Pak" panggil Jaevan sembari mengangkat tangannya "boleh saya permisi ke wc


10 menit"


"Terima kasih pak" Jaevan bangkit dan segera pergi ke wc.


Nora yang tetap tinggal di bangku, menatap papa yang pergi hingga sosoknya tidak dapat ia lihat. Nora kembali menatap guru yang melanjutkan penjelasannya, mengoyangkan kakinya yang menggantung sembari menopang dagu.


...****************...


Braaassssss


Jaevan berusap beberapa kali hingga rambutnya juga ikut basah.


"Hah" Jaevan berpegang pada pinggiran wasrafel menggelengkan kepalanya beberapa kali, berharap dengan dinginnya air dapat membawa fokusnya kembali.


Dipandangnya pantulan dirinya di cermin, Jaevan menyugar rambutnya ke belakang 'Apa yang sebenarnya terjdi padaku, kenapa aku seperti ini' batin Jaevan.


"Arrgggg"Jaevan mencengkram kuat pinggiran keramik pada wastafel, kepalanya tertunduk mencoba memahami perasaannya, kancing bajunya ia buka berharap mendapat kesejukan.


'Ada yang kurang aku membutuhkan sesuatu tapi apa?' Jaevan bertanya pada dirinya sendiri.


Jaevan menarik tisu mengeringkan wajahnya yang basah dan kembali mengancingkan kancing seragamnya lalu keluar dari wc.


...**********...


Tuk tuk


Zorya bersandar di dinding sembari menendang-nendang batu krikil.


"Ck lama sekali" rutuknya.


Akhirnya matanya menemukan sosok yang sedari tadi dia nantikan. Ya Jaevan adalah orang yang dia tunggu sedari tadi untuk keluar kelas.


"Wc tebaknya", dan benar Jaevan pergi ke wc.


Senyumannya mengembang 'Aku rasa obatnya mulai bekerja'


Zorya mengikuti Jaevan dan menunggunya di luar wc.


20 menit


Jaevan keluar


Tap


Zorya berdiri di depan Jaevan.


"Zorya" Jaevan terkejut mendapati Zorya yang tiba-tiba muncul di depannya.


Zorya tersenyum "Kenapa rambutmu basah? Apa kau merasa gerah?"


"Hari ini sangat panas, ku rasa mungkin nanti akan turun hujan"


"Benarkah tapi aku merasa biasa saja!"


"Hah, benarkah? Kau tidak merasa gerah?" tanya Jaevan tidak percaya.


Zorya menarik tanga Jaevan membawaya untuk menyentuh lehernya "Aku tidak keringata kok, nih rasakan apa leherku berkeringat?"


Dada Jaevan berdesir hebat, buru-buru ia menarik tanganya.


"Itu bukan karena cuaca"


Alis Jaevan bertaut "Lalu?" tannya nya tidak mengerti.


Zorya menarik tangan Jaevan "Ikuti aku, aku tau cara menghilangkannya" Zorya menyeret Jaevan paksa untuk ikut bersamanya.


Mereka pun sampai di ruangan penyimpanan alat olahraga "Kenapa kesini?" tanya Jaevan.


Zorya berbalik badan "Sudah kubilang , aku tau cara menghilangkannya!


Tunggu sebentar! " Zorya menutup pintu dan menguncinya.


"Kenapa kau kuci? " prerotes Jaevan.


"Itu agar udara di luar tidak masuk ke dalam"


Serasional apapun Jaevan berfikir, namun perkataan Zorya tetap saja tidak dapat dimengerti olehnya.


"Untuk apa ?" Lagi-lagi Jaevan bingung namun buruknya karena saat ini ia sulit sekali untuk fokus membuatnya kesulitan mengontrol sesuatu yang entah ia sendiri tidak memahaminya.


Entah apa yang membuat kerasionalan berfikir Jaevan menghilang, Jaevan kembali tidak dapat merasa fokus.


Jaevan mengerjap beberapa kali, melihat kini Zorya melepas baju seragamnya menyisakan kaus dalam tipis yang memperlihatkan branya.


Jaevan menggelengkan kepala mencoba untuk mendapatkan kesadarannya 'Apa aku berhalusinasi' batin Jaevan.


Zorya mendekati Jaevan, menyugar rambut basah jaevan dengan jemarinya yang lentik dan ia mendorong dada Jaevan.


Bruk


keduanya terjatuh diatas matras dengan Zorya berada diatas Jaevan.


"Zorya apa yang kau lakukan?" bentak Jaevan panik.


"Ssssstttt aku sedang membantumu Jaevan" bisik Zorya ditelinga Jaevan.


"Huff" Zorya meniup telinga Jaevan.


"Aaarrgg" Jevan menggeram merasakan tubuhnya semakin memanas.


Zorya tersenyum puas melihat rekasi yang diberikan Jaevan, tangan lentiknya menggoda Jaevan menyentuh alis, hidung bibir, rahang, dan berahir di jakun, Jakun itu bergerak saat ia menyentuhya yang menurut Zorya sangat manly dimatanya.


Sentuhan itu bagaikan sengatan listrik di rasakan oleh kulit Jaevan, Netranya bergerak liar "Zorya apa yang kau"


Cup


kalimat Jaevan terhenti karena Zorya yang tiba-tiba mencium bagian leher di bawah telinganya.


Cup


Zorya tidak puas, kembali ia mencium di bagian ceruk leher Jaevan menghisapnya kuat membuat Jaevan menggeram.


"Arrrrggg"


Zorya tersenyum melihat hasil perbuatnya Kurang jelas.


"Arrrgg"


Sekali lagi Zorya kembali mencium dan menghisap ceruk leher Jaevan dan kali ini lebih kuat hingga menimbulkan bercak kemerahan yang sangat jelas di leher putih Jaevan.


Zorya tersenyum puas, diusapnya dua kissmark di leher Jaevan Kau milikku.


Bruk


Jaevan membanting tubuh Zorya dan giliran dirinya yang berada diatas. Apa yang di lakukan Zorya membuat sesuatu terpancing dalam diri Jaevan, ia mencengkram kedua tangan Zorya, nalurinya mulai menguasi dirinya.


Zorya tersenyum dalam hati "Jaevan" panggilnya parau dan sensual. Ia mengamati lekat setiap ekspresi wajah Jaevan meningkmati wajah tampan dan hot yang kini berada sangat dekat di depan wajahnya.


tubuh keduanya sangatlah intim dengan Zorya berada di bawah kungkungan tubuh Jaevan, bahkan deru napas Jaevan dapat Zorya rasakan menerpa kulit wajahnya.


entah kenapa mendadak hidung Jaevan seprti memiliki penciuaman tajam, ia dapat mencium aroma tubuh Zorya dan itu membuatnya semakin hilang akal.


Perlahan Jaevan merendah, semakin membawa keatas kedua lengan Zorya yang ia cengkram berada di atas kepala Zorya.


0,5 cm lagi hidung keduanya saling bersentuhan dan saat itu tiba-tiba suara terlintas di kepala Jaevan.


"Papa" suara Nora berdengung di kepalanya, membuat kesadarannya kembali.


Jaevan mengerjap beberpa kali, dan telah berhasil mengendalikan dirinya, Jaevan buru-buru bangkit berdiri saat menyadari ia menindih tubuh Zorya "Maafkan aku"


Setelah mengucapkan kalimat maaf Jaevan segera bangkit dan keluar meninggalkan Zorya diruangan itu.


Di koridor Jaevan sedikit kesulitan untuk berjalan, karena tubuhnya terasa begitu gerah dan Jaevan merasa tersiksa menahan sakit.


"JAEVAN" panggil Lonevan yang saat itu berada di luar kelas.


"Kau kenapa?"


"Van bisa bantu aku pulang?"


"Kau sakit?โ€


Jaevan mengangguk.


"Tunggu sebentar kita hubungi Regan dulu"


Lonevan segera mengeluarkan hp dari sakunya dan menghubungi nomor Regan.


Berderin****g


"Halo"


"Regan jemput Nora di kelas dan bawa tas Jaevan".


"Apa yang terjadi?"


"Jaevan sakit"


"Baiklah"


Tut


Lenovan merangkuh Jaevan membantunya duduk di kursi koridor. 5 menit kemudian Regan datang bersama Nora di gendongannya.


Jaevan berjalan dibantu Lenovan, mereka menuju ke parkiran motor. Regan membonceng Nora di depan sedangkan Jaevan dibonceng oleh Lenovan.


...To be Countinue...


Hy para pembaca ku yang ku sayangi maaf saya ya telat up akhir akhir ini, soalnya karena kerjaan jadi banyak waktu yang tersita ๐Ÿ˜ขjadi saya baru up kalo dah selesai nulis๐Ÿ™ heheh saya harap karya ini dapat menghibur kalian ya. Tolong dukung saya terus ๐Ÿ˜Š


Sebagai bentuk penghargaan atas usaha untuk membuat karya ini, author memohon untuk like, komen dan tambah favorit karya ini ya๐Ÿ˜Š.