
Bel pulang sekolah pun berbunyi, buru-buru Dania membereskan mejanya "Susan duluan ya" pamitnya.
Susan memandang Dania keheranan, melihat teman sebangkunya itu begitu sangat buru-buru, ipun mengedikkan bahu tak peduli mungkin ada urusan penting pikirnya.
Dania berjalan cepat keluar gedung dan langsung menuji parkiran motor.
"JAE TUNGGU" teriak Dania menghentikan Jaevan yang akan menggas motornya
Jaevan yang melihat Dania berlari menghampirinya melepas pedal gasnya dan membuka kaca helm full facenya "Ada apa?"
Dania tidak langsung bicara, dia menarik napas sejenak "Boleh ikut?"
"Eheemmmmm" Goda Regan yang saat itu juga di sana.
"Boleh dong apa sih yang tidak buat kamu sayang, iya gak Jae" Goda Lonevan juga.
"TAAAAA" Teriak Nora mengagetkan mereka.
"Nora, kenapa?"
"Papa laba-laba" Nora berjengit melihat ada seekor laba-laba yang berjalan mendekatinya.
Jaevan dengan sigap langsung mengenggam laba-laba itu dan melemparnya, yang sayangnya laba-laba itu terbang ke arah Lenovan.
"SHIITTT" Teriak Lenovan langsung menghempaskan tanggannya yang tertempel laba-laba.
"Sorry broo"
"Ahahaah" tawa Nora pecah.
"Aaaiss" umpat Lenovan pada laba-laba.
Jaevan pun kembali berbicara pada Dania
"Boleh saja! tapi aku tidak langsung pulang, aku harus ke cafè setelah ini".
"Iya karena itu aku mau ikut, tolong traktir aku makan di cafè mu hehehe"
"Oh ok ayo"
Dania sangat senang, ia oun segera naik ke motor dengan berpegang pada bahu Jaevan.
motir Jaevan pun melaju meninggalkan Lenovan dan Regan.
"Aku juga ikut" ujar Regan dan langsung menyusul motor Jaevan.
"Hei tunggu" Lenovan menyusul.
motor mereka pun keluar gerbang saling beriringan, dan itu dilihat Zorya dari dalam mobilnya "Ck sialan" umpatnya menatap Dania tidak suka.
Ia pun melajukan mobilnya mengikuti mereka di belakang.
...****************...
Cling
Ini kali pertama Dania datang ke cafè Jaevan, ia menatap sekeliling cafè.
"Bos"
Dania menoleh saat seorang karyawan menghampiri mereka, ia mengerjap saat karyawan itu menatapnya.
"Siapa? pacar mu bos?" tanyanya pada Jaevan.
Karyawan itu pun melempar senyuman nakal, menatap bergantian dirinya dan Jaevan, Dania pun hanya bisa tersenyum.
"Cantik ya" Pujinya yang berhasil membuat Dania menjadi salah tingkah.
"Ck sana kembali kerja" usir Jaevan.
"Siap bos besar" karyawan itu kabur terbirit-birit.
Jaevan berbalik badan "Dania duduk lah, aku ke atas dulu ya"
Dania mengangguk, setelahbitu Jaevan pun pergi ke atas menggendong Nora.
Dania duduk di kursi kosong dekat meja kasir kembali mengaati sekeliling cafè, sangat ramai banyak perempuan cantik yang sedang hang out juga dating di dapatinya, Dania mengeluarkan hpnya dan mengabadikan foto, ia tersenyum puas melihat hasil jepretannya yang sangat aestetik, ia menyadari yang menjadikan foto jepretannya aestetik bukanlah kemampuan fotografernya melainkan memang cafènya lah yang sangat aestetik sehingga foto yang di ambil oleh orang yang buruk dalam foto pun akan tetap terlihat bagus.
Cling
Dania menoleh ke pintu mendapati Lenovan dan Regan datang.
"Yo kak"
"Oh kalian apa kabar"
"Baik kak"
"Kami boleh main kan?"
"Dilarang pun percuma"
Regan dan Lonevan hanya nyegir kuda, mereka pun pergi entah kemana, kemudian muncul dengan mengenakan apron yang sama dengan para karyawan, Dania memperhatikan Regan Dan Lenovan yang terlihat sangat bersenang-senang melakukan tugas yang dilakukan karyawan.
"Nona mau pesan apa" tanya salah satu karyawan yang berdiri di depan Dania.
"Oh sebentar" Daniapun mulai membuka buku menu.
"Bos bilang nona boleh memesan apapun disini".
Dania mengerjap menatap karyawan itu "Benarkah?"
Karyawan itu mengangguk, Dania pun kembli melihat buku menu, ia beberapa kali membolak balik buku itu bingung ingin yang mana karena semua makanan sangat terlihat enak "Eemm aku mau hidangan rekomen dasi boleh" Dania tersenyum putus asa karena gagal memilih mana yang ingin ia makan.
"Iya tunggu ya, kami akan buatkan yang sangat spesial buat nona".
Karyawan itu pun pergi, Dania kembali memainkan hpnya untuk mengisi waktu sembari menunggu hidangan.
10 menit kemudian karyawan itu oun datang membawa nampan, dan meletakan hidangan di meja.
"Wahhhh" seru Dania takjup, ia sangat bersemangat untuk segera melahao hidangan tersebut.
"Ehhmm apa saya boleh bertanya?"
"Ah iya boleh?"
"Nona pacarnya bos?" tanya karyawan itu tanpa sungkan.
"Ah apa? ohh kami teman rumah kami bertetangga" Jawab Dania terkejut.
"Tetangga" ulangnya dan tersenyum sembari mengangguk.
Jaevan pun datang dengan pakaian sudah berganti dengan pakaian seragam cafè.
"Silahkan di nikmati Nona" Karyawan itu pun segera pergi saat Jaevan sudah berdiri di hadaan Dania.
"Nikmatilah" Jaevan tersenyum "Maaf ya aku tidak bisa menemani, aku harus ke dapur tidak apa kan".
Dania mengangguk.
"Kalau mau pesan yang lain pesan saja ya"
"Iya"
Jaevan pun tersenyum "Ya sudah aku ke dapur ya" Pamit Jaevan, ia pun pergi ke dapur.
Dania kemudian melanjutkan makannya, namun barubsaja suapan pertama masuk kemulutnya , "Sedang apa kau?" Dania menoleh dan mendapati Jaevan sedang berkecak pinggang menghalangi jalan Lenovan yang saat itu baru keluar dari dapur sembari membawa nampan penuh piring di tangannya.
"Ck minggir-minggir" bukannya menjawab, Lenovan malahtetap berjalan maju, alhasil terpaksa Jaevan menyingkir.
Regan kemudian juga muncul membawa nampan berisi penuh gelas, Mereka berdua namak sangat lues berbicara dengan para pengunjung, layaknya saling mengenal bahkan Dania mendengar mereka sempat menggombali para pelanggan, Dania menggeleng melihat tingkah mereka.
Cling
Dania menoleh ke pintu, tatapan mereka pun beradu, menatap dengan sorot mata tidak suka satu sma lain.
Zorya berjalan dengan anggun menuju satu meja kosong yang berhadapan dengan Dania. Regan pun datang menghampiri "Uwaahh tidak ku sangka kau datang kesini rupannya" Regan tersenyum miring.
"Nah sekarang apa yang ngin kau pesan"
Regan pun mencatat pesanan Zorya "Ok tunggu ya"
Zorya kembali menatap Dania, Dania yang menyadari ia di tatap seperti itu bingung karena sangat jelas saat ini Zorya menatapnya seperti mengajak berkelahi, sangat berbeda ketika di sekolah.
"Hei lihat-lihat itu" dua karyawan yang sedari tadi memperhatikan Dania dan Zorya.
"Bukannya dia gadis yang waktu itu pernah datang kesini pas kita sudah tutup?"
"Iya kurasa memang dia"
"Apa ini persaingan memperebutkan cinta?"
"ckckck jika salah satu dari mereka berhasil mendapatkan hati bos" perkataannya sejenak terjeda "Hemm aku akan menyebutnya suhu jika berhasil meluluhkan hati si kulkas seribu pintu".
"Yahhh jujur aku jadi iri pada bos! seandainya wajahnya adalah wajah ku wahhh".
"Aku pasti bisa melakukan apapun dengan wajah itu" tambahnya.
"Kau iri? kau ingin menjadi seperti bos? yakin?"
"Emmmm tapi sepertinya aku tidak akan sanggup ahahah"
...To be Countinue...