
"Kalau aku menyukainya apa itu akan berpengaruh untuk hidupmu?" Pertanyaan Sungjae membuat Sora mematung. Ia menatap lelaki yang ada di depannya kini penuh dengan tatapan kemarahan kepadanya.
**
Soobin dan Sohyun saling memandang. Tak ada kata yang mereka ucapkan. Hening, jika Hyeri tidak berceloteh.
"Kamu kenapa di sini?" tanya Soobin pada Sohyun yang sedang merapikan meja bekas mereka berdua belajar tadi.
"Apa kamu tidak melihatnya? Aku sedang belajar."
"Tidak. Aku tidak melihatnya. Aku melihatmu tidur seperti itu berdua dengan Sungjae."
"Lalu apa urusanmu?"
Soobin diam. Dia harus menjawab apa? Dia lebih memilih untuk pura-pura sibuk dengan Hyeri daripada menjawab pertanyaan dari Sohyun.
"Aku akan pulang," ucapnya sebelum ia bersalaman dengan tangan mungil Hyeri.
"Aku antar." Soobin setengah berlari mengejar Sohyun.
"Tak usah. Aku bisa pulang sendiri."
Namun langkahnya terhenti ketika mendapati dua pemandangan yang membuatnya merasa tak enak.
Tamparan dari Sora masih teringat jelas. Rasa sakit yang menghilang kini seakan muncul kembali di pipinya hingga tanpa sadar ia memegangi pipinya itu.
Keduanya masih mematung. Bahkan tak tahu jika ada empat pasang mata sedang melihat Sungjae dan Sora sedang mengalami konflik batin.
"Pulanglah," lirih Sungjae ia membalikkan badannya dan menemukan Sohyun sudah berdiri di belakangnya.
Ia menggendong Hyeri yang sedang digendong oleh Soobin.
"Antar Sohyun pulang ya," ucap Sungjae pada Soobin saat ia mengambil Hyeri dari gendongannya.
Soobin mengangguk. Sedang Sohyun menatap lelaki itu tak enak. Lelaki yang sebelumnya ceria dan dapat tertawa dengannya beberapa waktu yang lalu kini berubah lagi.
Sohyun diam. Dia berjalan melewati Sora begitu saja. Soobin melirik ke belakang dan melihat Sora tak juga beranjak dari rumah Sungjae. Apa yang akan dilakukan wanita itu?
**
Soobin tetap mengikutinya. Dia sudah bertekad akan mengantarkan Sohyun hingga rumahnya.
"Maaf," ucap Soobin pada Sohyun.
Sohyun nampak sibuk dengan buku yang ada di tangannya. "Maaf untuk apa?"
"Karena tak tahu jika kau dan Yoo Jung ada masalah."
Sohyun berdecih. "Tak apa-apa."
"Apa kau menyukai Sungjae?" tanyanya tiba-tiba. Sohyun langsung menatap lelaki yang ada di sampingnya itu.
"Kenapa memangnya?"
"Tidak 'kan? Kau tidak menyukai Sungjae? Kau yang bilang padaku jika kau menyukaiku."
"Perasaan bisa gampang berubah. Terlebih jika perasan itu untukmu. Kupikir Sungjae lebih baik dari pada kau."
Ucapan dari Sohyun cukup membuat sekitar dadanya terasa nyeri. Bagaimana perasaan bisa berubah secepat itu?
Dia memandang Sohyun menuju kasir. Dia membayar buku yang ia beli tadi. Kemudian keluar tanpa Soobin.
Namun sayangnya hujan sudah mulai turun ketika dia sudah berada di jalan. Soobin yang melihat ada payung yang di jual di toko tersebut langsung membelinya. Ia berlari menyusul Sohyun dan memayunginya dengan payung tersebut.
Sohyun mendongakkan wajahnya. Melihat Soobin sudah ada di sampingnya dengan payung berwarna merah jambu.
"Tolong jangan buat aku bingung," ucap Sohyun lirih.
"Bingung kenapa?"
"Aku bisa saja menyalahartikan semua kebaikanmu itu kepadaku. Kau tau sendiri aku menyukaimu. Bagaimana bisa kau melakukan hal ini kepadaku sementara kau tidak memiliki perasaan sama sekali padaku."
Soobin tercenung. Langkah kakinya terhenti seketika.
"Bagaimana kalau aku menyukaimu? Apa kita bisa berpacaran mulai hari ini?"