
Satu bulan sudah Jaevan ditahan dalam penjara, menjalani serangkaian persidangan yang memojokan namanya. Melalui hari demi hari yang tidak mudah baginya untuk tetap bertahan, di setiap malan yang panjang di mana matanya terbuka, meredam tangisnya dalam hati.
Kesepian, ya itulah yang tengah ia rasakan, nafasnya tercekat setiap kali ia menahan air matanya, lidahnya kelu menyebut mendiang kakak dan kedua orang tuanya.
Setiap dikedipan matanya, muncul wajah Nora sosok anak kecil yang adalah satu-satunya keluarga yang masih ia miliki. Jaevan tersenyum getir kala mengingat wajah Nora yang lucu dengan mata bulatnya yang berbinar memanggil nya dengan panggilan Papa bukan Paman.
Namun walau demikian suara itulah yang memanggilnya Papa satu-satunya alasan Jaevan menegakan punggungnya juga Yang menenangkan hatinya, menyadarkannya bahwa ia tidak sendirian masih ada keluarga yang ia miliki di dunia ini.
Sedangkan di tempat yang berbeda, Nora sebelum ia tertidur pasti selalu teringat papanya. Ia selalu menangis dan memanggil papanya dengan suara yang kecil agar tidak terdengar orang lain. Ia selalu terbangun tengah malam dan duduk di depan jendela menatap rumahnya yang selalu gelap bertanya-tanya kapan papanya akan pulang ke rumah. Dan disetiap ia kembali tidur ia selalu berdoa semoga esok pagi ketika bangun papanyalah yang berada di sampingnya, membangunkannya seperti biasa. Namun ketika bangun tidur ia akan selalu bersedih, karena ternyata doanya tidaklah terwujud.
...**********...
Ckrek Ckrek Ckrek Ckrek
"Tolong beri jalan!"
"Tolong beri jalan!"
Ckrek Ckrek Ckrek Ckrek
"Jaevan tolong beri tanggapan sedikit!"
"Jaevan!"
Ckrek Ckrek Ckrek Ckrek
Suasana di depan gedung pengadilan ramai tak terkendali, Jaevan di kawal oleh dua orang Polisi menerobos melewati kerumunan wartawan menuju ke dalam ruang persidangan.
Berpuluh blip kamera memborbardir Jaevan tanpa ampun, juga puluhan mic yang di sodorkan kepadanya sampai ia masuk keruang sidang, di dalam ruanganpun tidak jauh berbeda, di sana wartawan sudah siap dengan kamera dan buku di tangan mereka masing-masing.
Jaevan duduk di samping kuasa hukumnya, dan menghembuskan nafas berat di balik masker yang ia kenakan. Di ruangan ini ia merasa sesak, karena semua mata tertuju padanya. Jaevan mengedarkan matanya ke seluruh penjuru ruangan, dan mendapati ada kak Dion dan Rey di sana, duduk di kursi paling depan.
Ia lega Nora tidak hadir di persidangannya, karena kehadiran Nora di persidangan kemarin memancing para wartawan mencari informasi terlalu jauh yang sangat mengganggu privasi hidupnya.
Sedangkan Ketidak hadiran kedua sahabatnya dan Dania jaevan bisa tebak pasti saat ini mereka tengah sibuk mengikuti ujian akhir. Ia iri dengan kenyataan dimana ia tidak dapat ikut ujian seperti temannya yang lain dan malah berada di sini.
Dan di sana Jaevan juga dapat melihat Zorya Gifanda, dia duduk di temani kedua orang tuanya. Dan saat itu tanpa sengaja mata mereka bertemu, Zorya buru-buru menundukan kepalanya. Sedangkan Jaevan masih menatapnya, ia bertanya-tanya dalam hati salah apa sebenarnya ia pada zorya.
Ruangan yang tadinya ramai menjadi hening ketika Ketiga Hakim akhirnya memasuki ruangan persidangan, semuanya berdiri memberi hormat. Baru setelah para hakim duduk, semua di persilahkan duduk kembali.
Acara persidanganpun dimulai dengan agenda pemeriksaan barang bukti dan pemeriksaan para saksi.
Jaevan duduk di tengah ruang sidang, ditanya berbagai pertanyaan oleh jaksa yang berusaha membuat Jaevan mengakui perbuatan yang dituduhkan padanya. Namun dengan tegas kuasa hukum Jaevan membantah tuduhan itu.
Dalam usahanya untuk membuktikan Jaevan benar bersalah, Jaksa menghadirkan saksi yang mengunggah vidio yang menjadi awal mula tuduhan itu ditujukan padanya.
Jaevan pindah duduk di samping kuasa hukunya kembali. Ia akhirnya dapat mengetahui siapa yang mengunggah vidio itu, yang ternyata rekan satu angkatan sekolahnya, namun sayangnya Jaevan tidak mengenal siapa dia.
"Saudara saksi apa benar anda yang menunggah vidio tersebut?".
"Benar".
"Apa anda benar-benar yang berada di sana saat itu, melihat secara langsung terdakwa keluar dari runganan olah raga itu?".
"Iya benar".
" Lalu apakah anda menyaksikan secara langsung Terdakwa melakukan pelecehan terhadap korban?"
"Tidak".
Jaksa mengangguk, dan mempersilhkanya pergi.
“Yang mulia wualaupun saksi tidak melihat secara lagsung terdakwa melecehkan korban, tapi saya punya bukti kuat yang dapat saya tujukan di persidangan ini".
"Tunjukan".
"orang-orang yang hadir mulai bersorak, melontarkan kata-kata kasar pada Jaevan".
“keberatan yang mulia".
Hakim mengangkat tangannya, memberi isyarat pada kuasa hukum Jaevan untuk tidak menyela jaksa.
"Yang mulia izinkan saya memanggil saksi korban".
"Silahkan".
Semua mata tertuju pada sosok yang berdiri dan merjalan kedepan menghadap hakim untuk di sumpah. Suara jepretan kamera kembali terdengar, Zorya seorang selebgram terkenal kini sedang di sumpah dan duduk di muka persidangan.
"Saudari benar terdakwa melakukan pelecehan terhadap anda?".
Zorya mengangguk.
"Bisa ceritakan kapan, di mana dan bagaimana koronoligi terdakwa melecehkan anda?"
Zorya menoleh kebelakang melihat kedua orang tuanya, lalu mengangguk. Zorya mulai menceritakan kronologinya dengan kepala menunduk. Jaevan yang mendengarnya tidak bisa berkata-kata, dadanya serasa di hantam. Ia marah pada semua yang dikatakan Zorya. Itu tidaklah benar, ia benar-benar di fitnah, semua yang disampaikan di muka pengadilan semua merugikannya.
"kepada kuasa hukum terdakwa, saya persilahkan untuk menyampaikan pembelaan anda!"
"Terimakasih yang mulia, yang mulia saya ingin menyangkal semua tuduhan yang di tujukan pada saudara jaevan, karena bagai mana jika faktanya yang menjadi korban disini adalah Jaevan".
"Keberatan yang mulia".
Kali ini Hakim menghentikan jaksa yang ingin menyela.
“Yang Mulia saudara Jaevan tidak akan pernah memiliki niat untuk melakukan pelecehan terhadap saudari Zorya, karena saudara Jaevan tidak memiliki rasa kertertarikan padanya. Dan yang sebenarnya adalah saudari Zorya lah yang tertarik untuk mendekati saudara Jaevan bahkan dia lah yang pertama mendekati".
"yang mulia dapat lihat vidio ini".
Vidio pun di putar " Ini adalah rekaman cctv yang terpasang di cafe milik saudara Jaevan Vidio itu memperlihatkan saat kejadian saudari Zorya mencium Jaevan di café dapat kita lihat saudari Zorya lah yang memperlihatkan rasa ketertarikan, bukankah ini juga bisa menjadi kasus pelecehan?".
Malu, Zorya tertunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah karena rasa malu.
"saya bisa katakan bahwa saudari Zorya terobsesi pada saudara Jaevan, hingga membuatnya berani memasukan obat kontrasepsi ini ke dalam air yang diminum Jaevan".
"keberatan yang mulia".
Hakim mengangguk, memberi izin jaksa untuk menyela.
"Kuasa hukum Saudara Jaevan, anda tidak memiliki bukti apapun atas pernyataan anda".
"Tentu saya punya buktinya".
Tendra mengambil botol minum dari atas meja tempatnya duduk, "Yang mulia botol ini milik saudara Jaevan, di botol ini selain sidik jari Jaevan terdapat dua sidik jari lainnya, yang pertama sidik jari milik saudari Dania, sidik jarinya melekat karena dia yang membereskan meja makan di hari terdaka ditangkap. dan satu lagi sidik jari milik seseorang yang saya ternyata adalah teman saudari Zorya".
"Kuasa hukum Jaevan apa mereka bisa di hadirkan dala persidangan ini".
“Maafkan saya yang mulia, sepertinya mereka berhalangan hadir karena saat ini mereka tengah sekolah".
"Jika mereka tidak hadir, terpaksa persidangan ini akan saya tunda dan akan dilanjutkan minggu depan pukul 08.00"
...To be Countinue...
Hy semua, saya kembali lagi, maaf ya lama up. Huhu mohon di malkumi ya author ini yang suka hilang-hilangan, tapi tenang saja! Author usahain cerita ini bakal sampai tamat walaupun saya mungkin hanya bisa satu minggu sekali up nya, tolong terus nantikan ya cerita selanjutnya !
Have a nice day 😊 semoga dapat menghibur.
Janan lupa like, komen, dan tambah ke favorit ya.
Oh ya aku ada cerita baru judulnya nerd girl in cover yang penasaran cek aja lngsung ya by by👋👋👋