
Hening. Sohyun merasa canggung di depan Soobin setelah mengutarakan perasaannya yang tiba-tiba. Itu hanyalah spontan karena dirinya merasa dipancing-pancing oleh Soobin.
Sungjae yang merasa ada hal aneh di antara mereka langsung membuka suaranya.
"Baru beberapa hari aku tinggal. Sepertinya sudah banyak yang terjadi," ucapnya setengah berbisik.
Tak ada sahutan, hanya Soobin langsung menyenggol lengan Sungjae untuk tetap diam.
Soobin mendadak takut melihat ekspresi wajah Sohyun yang seakan bisa meledak kapan saja di depannya.
"Aku sudah selesai," ucap Sohyun kemudian berdiri. Dia tak menatap wajah Sungjae maupun Soobin. Gadis itu benar-benar malu dengan keduanya.
"Dia benar-benar meyukaimu?" tanya Sungjae penasaran.
"Sepertinya begitu. Tapi, sepertinya juga dia hanya bercanda."
Sungjae menatap punggung Sohyun yang berjalan keluar dari perpustakaan hingga menghilang di balik pintu. Tugasnya tinggal sedikit lagi selesai. Sedangkan Soobin sepertinya dia tak ingin mengerjakannya karena tidak mau kembali ke kelas secepat mungkin.
"Kenapa?" tanya Sungjae heran.
"Aku tak ingin kembali ke kelas."
"Karena anak baru itu?"
Soobin mengangguk. "Rasanya sangat canggung. Aku harus bagaimana?"
"Kamu menyukainya?"
Soobin menggeleng mantap. "Tidak, aku tidak menyukainya."
Dengan sekejap Sungjae memukul kepala Soobin dengan buku tulis yang ada di tangannya.
"Makanya berhenti bersikap manis pada setiap gadis." Setelah mengucapkan itu Sungjae langsung pergi dari Soobin. Sedang temannya itu hanya mengelus kepalanya yang dirasa sakit karena perbuatan Sungjae.
**
Saat kembali ke kelas. Sungjae menemukan Sohyun sibuk dengan buku tulisnya. Atau lebih tepatnya berpura-pura sibuk untuk menutupi rasa malunya.
Sungjae duduk di sebelahnya, ia hanya meliriknya sebentar lalu kembali pada kegiatannya.
"Aku tak bilang apa-apa kok," protes Sungjae karena dituduh oleh Sohyun.
"Baguslah," ucapnya lagi. Namun wajahnya berubah ketika melihat Soobin berjalan dari luar kelas.
"Ah, mengesalkan," rutuk Sohyun. Dia menundukkan wajahnya.
Dia sadar jika ucapannya tadi hanya akan menjadi boomerang baginya. Kini dia hanya menjadi tak bebas duduk di sana. Ingin sekali rasanya dia pindah ke bangku lain. Tapi sepertinya tak mungkin.
"Pulang sekolah temui aku di minimarket tempat Sungjae bekerja," bisik Soobin langsung dilirik oleh Sungjae.
"Kenapa harus di tempatku bekerja?" protes Sungjae.
"Apa harus di rumahmu? Tak mungkin 'kan?" Soobin dengan percaya diri malah balik memprotes temannya itu.
"Bagaimana? Bisa tidak?" tanya Soobin memastikan.
Soohyun mengangguk. Dia akan menemui Soobin dan menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Jika hanya perasaan suka darinya tak ada yang lebih. Soohyun bahkan tidak berharap bahwa Soobin akan membalas perasaannya itu.
Sungjae tak bisa berhenti memandang Sohyun dari samping. Dia menghela napasnya berkali-kali karena belum mengerti situasi apa yang terjadi dengan kedua orang yang ada di depan dan sebelahnya itu.
**
Sungjae menghentikan langkahnya. Ketika mendapati sebuah bayangan Sora ada di depan sekolahnya. Dia turun dari mobil dan langsung menghampirinya.
Soobin juga ikut menghentikan langkahnya. Dia bersembunyi di balik punggung Sungjae. Lelaki itu merasa bersalah karena pernah bertemu dengan Sora secara diam-diam beberapa hari yang lalu.
"Aku ingin bicara padamu," ucap Sora pada Sungjae. Namun Sungjae tak peduli, dia langsung melanjutkan jalannya.
"Aku ingin bertemu dengan Hyeri," ucapnya lagi saat Sungjae sama sekali tak memedulikannya.
Sungjae menoleh ke arahnya dengan pandangan sinisnya. Sudah berapa kali Sungjae mengatakan pada wanita itu. Jika Sungjae tak akan pernah membiarkan Hyeri bertemu dengannya.
Note Author: Kalau tetap mau kelanjutan bab cerita ini. Author gak minta banyak-banyak dari para reader. Cuma tolong tinggalkan like sama komen aja udah cukup🙄🙄
Sebenarnya udah males mau up. Karena gak ada feedback bagus dari novel ini. Tapi karena ada yang komen nanyain kelanjutannya, makanya author lanjutin.