
Brummm
"Yey sampai" teriak Nora.
Jaevan melepas helmnya dan menurunkan Nora dari motor.
Drettt drreett drrreett
Jaevan merogoh hpnya dari celana, dan mengisyaratkan Nora untuk duluan masuk ke rumah.
"Halo kak".
"Halo Jae apa kau ada di rumah?".
"Iya aku baru saja sampai, ada apa?".
"Ada hal penting yang ingin aku katakan, jadi nanti aku akan kerumahmu saja lebih enak di bicarakan langsung".
"baiklah".
"Ya sudah aku tutup dulu, ada pelanggan yang datang".
"Emmm".
Tut
Setelah panggilan telphon selesai, Jaevan turun dari motor dan masuk kerumah.
Kriet
Jaevan masuk ke kamar Nora, dan mengutip satu-persatu baju yang tergeletak di lantai, sedangkan Nora, ia sibuk mencari baju di lemari.
"Mau makan apa Nora?" tanya Jaevan.
“Ayam"
“Ayam, oke" Jaevan kemudian keluar dari kamar Nora dan kembali turun kebawah. Baju kotor yang ia bawa ia masukkan ke keranjang, ia melepas jaket danimnya dan memasukannya juga ke keranjang pakaian kotor.
Jaevan membuka kulkas, mengambil bahan-bahan yang akan ia masak. Bahan-bahan itu ia cuci bersih dan di letakkan di dalam wadah piring.
"Papa butuh bantuan? " tanya Nora yang sudah berdiri di samping Jaevan.
"Emmmm Bisa tolong siapkan bumbu".
"Emmm" Nora mengangguk, kemudian mengambil apron miliknya dan memasangnya sendiri, tak lupa juga mencuci tanggannya terlebih dulu.
Jaevan mengarahkan Nora dengan hanya menyebutkan nama-nama bumbu, sedangkan Nora dengan cekatan mengambil satu-persatu bahan yang disebutkan.
"Papa apa ini harus di haluskan?".
"Emmm".
Nora mengerti, ia mengambil Tumbukan di depannya yang tadi sudah Jaevan siapkan, memasukan semua bumbu dan menumbuknya sampai halus.
"Papa apa ini sudah cukup?".
"Emmm ini sudah" Jaevan menyendok bumbu yang sudah halus, dan melumurkannya dengan daging ayam.
Sembari menunggu bumbu meresap, Jaevan menyiapkan presto, melumurinya dengan mentega dan memanaskannya.
Setelah dirasa sudah panas, Jaevan meletakkan daging ayam ke presto lalu menutupnya.
"Emmmm Nora apa kau mencium aromanya?".
Nora mendekat hidungnya "Emmm, papa baunya enak”
Kriuk
Perut Nora berbunyi.
"AHAHAHAHA" mereka berduapun tertawa.
Masih dengan tawa, Jaevan membalik presto membukanya untuk mengecek apakah dagingya masak dengan baik.
Nora ikut mendekat melihat "Apa belum matang pa?".
"Sebentar lagi" Jaevan menutup kembali presto, dan sedikit mengecilkan api.
Ting
Lampu rice cocer berubah menjadi hijau tanda jika nasi sudah matang.
Nora mengambil centong nasi mengaduk nasi agar nasi matang dengan sempurna seperti yang diajarkan Jaevan padanya.
"A AA Panas"
"Nora hati-hati" Jaevan memperingati.
"Tada" Jaevan meletakan sepiring ayam di meja, lalu duduk di sebelah Nora.
"Papa aku mau paha".
"Ini".
"Wahhhh" Nora berseru saat mencium bau ayam "Yammm hmmmmm, papa!" Nora memberikan dua jempol pada Jaevan.
Jaevan menoleh "Makan lah yang banyak" Jaevan tersenyum dan mengacak poni Nora.
...**********...
Sudah pukul 20.00 malam rupanya Jaevan berdialog dengan dirinya sendiri, 'apa kak Dion jadi akan datang?'
Jaevan mengambil hpnya dan menghubungi Dion. Namun sudah dua kali Jaevan mencoba menghubungi namun nomor Dion hanya berdering saja, 'sudahlah aku tunggu saja, mungkin dia sedang dalam perjalan' pikir Jaevan.
Jaevan pun turun kebawah menyusul Nora yang sudah asik dengan program tv kesukaannya yaitu sepongebob.
30 menit berlalu, akhirnya Dion datang. Ia membawa tiga cup minuman di tangannya, dua cup capucino milk ice, dan satu americano ice.
"Apa ini dari café?"
Dion tertawa "Ahahah iya".
"Terimakasih" Jaevan meraih americano ice dan meminumnya.
"Baru pulang dari café?"
" Emmm"
Dion duduk dan melepas jaketnya.
"Kakak sudah makan?".
"Sudah tadi makan di café dengan anak-anak?"
Jaevan mengangguk "Apa café baik-baik saja?".
"emmm, tenang saja semuanya baik-baik saja sekarang".
"Syukurlah".
Jaevan bangkit, dan pergi ke dapur. Ia kembali membawa setoples biskuit coklat di tangannya.
“Jadi bagaimana, hal penting apa yang kaka bicarakan di telphon tadi?".
Dion membuka tasnya, dan memberikan lembaran kertas pada Jaevan.
"Ini apa?"
"Ada tawaran dari iklan untuk mu, mereka baru saja mengeluarkan produk peralatan dapur dan mereka ingin kau jadi model iklan mereka".
Jaevan mengangguk mendengar penjelasan Dion sembari membaca kertas di tangannya.
"Bagaimana, apa kau tertarik untuk mencobanya?".
“menurut kakak bagaimana? Apa aku bisa melakukannya?aku takut nanti gara-gara aku mereka menjadi rugi besar".
"Apa yang kau katakan, jangan berpikir buruk seperti itu?".
"Kak kau tau sendiri kan! aku di mata publik bagaimana?"
"Itu hanya rumor Jae, jangan jadikan hal itu menghambat mu, ayo cobalah"
"Jae kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali Jae? Dion mencoba meyakinkan Jaevan".
"Jae jadilah dirimu sendiri dan jangan takut pada orang-orang yang membencimu, mari buktikan pada mereka, buat mereka menyukaimu" Dion menggenggam tangan Jaevan.
"kak hentikan, kau membuatku takut Jaevan" mencoba melepaskan tangannya dari Dion.
Dari pada melepaskannya Dion malah membawa tangan Jaevan di dadanya "Ayolah" Dion memohon dengan matanya yang berbinar memohon.
"Ok ok aku mau"
Dion tersenyum dan melepaskan tangan Jaevan.
"Ya sudah, aku pulang dulu, aku akan mengabari mereka jadi tunggu kabar dari ku"
Dion meraih jaket dan tasnya "By" Dion berpamitan pulang.
"By".
...To be Countinue...