Young Papa

Young Papa
Terpesona



"Nak Jaevan kadang-kadang main ke rumah ibu ya, kenalan sama anak saya kali aja kan berjodoh"


"Duh ibu anak-anak kan masih sekolah masih jauh perjalanan mereka" perotes Hani.


"Ih kamu kok darih tadi protes sih, anaknya aja diem?" emosi ibu itu mulai tersulut.


"Diem bukan berarti setuju kan?" balas Hani.


"Eh ibu jangan ribut ah" lerai bibi sayur "mending potoin saya sama Chef Jaevan dong mumpung ketemu langsung".


"Saya juga dong nanti tolong poto"


Mulai lah mereka mengatur posisi saling dorong berusaha bisa berdiri di samping Jaevan, tidak cukup hanya di situ mereka juga meminta berfoto berdua, Jaevan hanya bisa menurut pasrah diminta para ibu-ibu untuk melakukan berbagai macam pose, dan Hani sebagai fotografer.


...****************...


Drap drap drap


"Kamu kenapa sih, pulang-pulang nekuk muka gitu" tanya Rey yang keheranan saat melihat Hani masuk sembari menghentak-hentakan kaki.


"Itu tuh ibu-ibu komplek bikin kesel" sungut Hani sembari menata belanjaannya di kulkas.


"Bikin kesel kenapa?" tanya Rey.


"Kesel pokoknya"


"Kenapa sih?" desak Rey yang dibuat semakin penasaran.


"Mereka tuh pada cari muka sama Jaevan"


Rey terperangah tidak menduga alasan yang menyebabkan Hani kesal seperti sekarang ini "Ya mungkin mereka pengemar Jaevan ma".


"Ck" Hani berdecak kesal, sebenarnya bukan itu yang membuatnya sangat kesal, niat mereka yang ingin menjodohkan Jaevan dengan putri merekalah yang membuat Hani kesal. Kasih sayangnya pada Jaevan membuatnya sangat protektif.


...****************...


Sedangkan di rumah Jaevan, ia baru saja selesai mencuci baju, untung cuciannya tidak terlalu banyak hari ini, jadi ia masih sanggup mencuci meski kondisinya kurang fit.


Masih dengan langkahnya yang berat, Jaevan mengangkat keranjang pakaian itu keluar untuk di jemur.


Sinar matahari yang sudah terik sangat pas sekali terasa hangat menimpa kulit, kehangatan matahari mulai membuat keringat Jaevan muncul dan rona kemerahan nampak di wajahnya yang tadinya masih pucat, dan hal ini lah memang yang Jaevan inginkan ia sengaja melakukan banyak aktifitas dengan begitu kondisinya akan cepat pulih.


Selesai menjembur Jaevan masih harus memasak, tangannya cekatan menyiapkan semua bahan yang ia butuhkan. tidak lama kemudian Nora turun dan menghampirinya.


Nora menarik kursi pelastik dan naik di kursi itu, memperhatikan Jaevan yang sedang memotong daging ayam.


"Mau membantu?" tawar Jaevan.


Nora mengangguk "Emmm".


"Kalau begitu ini saja cuci terus iris" Jaevan menyerahkan mangkuk berisi bawang bombai.


Nora mengangguk dan Jaevan melanjutkan memotong daging. sambil sesekali memperhatikan Nora, senyumnya bahkan tidak pernah luntur, setiap Nora yang selalu penasaran dan antusias dengan apapun yang sedang ia lakukan hal itu merupakan hal yang sangat lucu di matanya.


"Papa" panggil Nora "beginikan?" tanyanya sembari memperlihatkan bagaimana ia akan mulai mengiris bawang bombai di tangannya.


Jaevan berhenti mencuci daging ayam yang tadi ia potong dan mengarahkan Nora bagaimana bawang itu harus di iris.


"Teruskan" Jaevan pun menyerakan pisau pada Nora "hati-hati !".


Nora mengangguk ia mulai menerapkan apa yang Papanya ajarkan.


Tak tak tak


Tangan Nora lihai bergerak memotong bawang. Jaevan tersenyum lalu berbalik kembali melanjutkan kegiatannya yang tadi belum selesai.


"Pa sudah"


Jaevan mengangguk, ia lalu memindahkan daging ayam yang baru selesai ia cucu ke adonan tepung, mencelupkan daging ayam satu persatu.


Ia melirik Nora dan tersenyum jahil "Nora".


"Emmm" Nora menoleh dan mendapatkan coletan tepung di pipinya.


"Aaaaaa papa" perotes Nora sembari mengelap pipinya dengan tangan.


belum cukup Jaevan menambahkan lagi coletan gendum di hidung Nora "Eeemmm" Nora menggeram dengan ekspresi mukanya yang lucu, lalu dengan cepat tangan mungilnya meraih mangkok berisi tepung dan berusaha mencoletkannya juga di wajah papnya.


Suara tawa merekapun meramaikan suasana rumah, wajah merekapun di penuhi dengan coletan tepung.


.


.


.


.


"Jaevan Nora" Dania masuk dan tidak mendapati mereka, namun jelas ia dapat mendengar suara tawa Jaevan dan Nora.


.


.


.


.


"Oh hai" sapa Jaevan.


Dania tersenyum dan mendekat "Boleh aku membantu?".


"Tentu"


Senyum Dania semakin mereka, dengan semangat ia pun berdiri di samping Jaevan yang sedang sibuk melumuri daging ayam dengan tepung "Apa tugas ku?" tanya Dania.


"Tugas mu menggoreng ayam ini saja"


Dania mengangguk "Dimana wajannya?"


"Disana" Jaevan menunjuk rak piring bawah.


"Oh ok"


"Papa aku? tanya Nora.


"Nora buat sambal saus saja"


"Ok"


prik prik prik prik tar prik


Dania menjauh dari wajan karena takut terkena percikan minyak, ia cepat-cepat mengecilkan api kompor sebelum percikannya semakin memercik.


"Sippp" soraknya saat minyak tidak lagi banyak memercik "Jae mana yang harus ku goreng?"


"ini" Jaevan menyerahkan piring berisi daging ayam yang sudah ia balur dengan tepung krispy.


Selesai dengan Dania kini giliran Nora "Papa pertama harus apa?" tanya Nora.


"Pertama tuangkan minyak goreng sedikit, tunggu sampai lumayan panas, kedua masukkan bawang bombai tumis"


Nora mengikuti semua instruksi Papanya "Tumis sampai harum?" tanya Nora.


Jaevan mengangguk "Kalau sudah harum saus tomat masuk, saus cabai, saus tiram masuk, jangan lupa beri sedikit air".


Selagi Jaevan fokus mengarahkan Nora, Dania dalam diam memperhatikan Jaevan sembari tersenyum, ia terpaku dengan sosok Jaevan, apapun tentangnya membuat ia terpesona dan ia kini menyadari perasaannya yang sangat menyukai laki-laki di depan matanya ini.


Jaevan berganti pada Dania dan mendapatinya tengah tersenyum, ia melirik wajan "Dania ayamnya !"


Dania tersadar "Oh astaga" buru-buru ia membalik ayam goreng yang iya goreng 'fiuuhh untung tidak gosong, jika tidak aku pasti malu setengah mati' Dania membatin.


...****************...


Selesai kegiatan memasak Jaevan berada di kamar tengah mandi, sedangkan Nora dan Dania di ruang tamu menontoan acara Tv menunggu Jaevan turun.


Tidak lama kemudian Jaevan turun dengan rambut yang masih setengah basah "Kalian sudah makan?".


Dania menggeleng.


"Hah bukannya tadi aku sudh bilang makanlah duluan?"


"Kami ingin menunggu mu, iyakan Nora?"


Nora mengangguk membenarkan perkataan Dania.


"Yey ayo sekarang makan" Girang Nora berlari menuju meja makan, dan duduk di kursi sembari mengayunkan kaki.


Jaevan dan Dania pun menyusul duduk di kiri dan kanan Nora, mereka pun makan dengan nikmat. Jaevan tersenyum melihat Nora makan sangat lahap bahkan ada dua paha ayam di piringnya "Dania tambah lagi?"


"Ah tidak terimakasih aku sudah kenyang" tolak Dania 'Huhuhu aku mau lagi' dalam hati Dania berkata lain, demi menjaga imagnya di depan Jaevan ia hanya bisa menelan ludah.


"Jae kenapa makan mu dikit sekali?" tanya Dania yang melihat piring Jaevan masih menyisakan nasi.


"Aku sudah kenyang"


Jaevan berkata demikian karena saat ini ia tidak begitu menikmati makananya, ia hanya menyuapkan nasi 6 sendok, ia tidak bisa memaksa dirinya untuk menghabiskan nasi di piringnya yang terasa hambar, karena rasa pahit lidahnya itu lah berefek pada nafsu makannya.Walaupun ia tidak memiliki nafsu makan banyak, tapi setidaknya ia masih bisa meminum obat.


Setelah makan Dania dan Nora kembali berada di ruang tamu duduk lesehan di ambal berbulu melanjutkan menonton acara Tv yang sama-sama mereka sukai yaitu filem disny, sedangkan Jaevan menyuci piring-piring kotor.


Nora dan Dania tertawa bersama di saat ada hal lucu di film yang mereka tonton "Apa filemnya sangat bagus?" tanya Jaevan yang penasaran.


"Emmmm lucu, Papa ayo capat kesini filemnya lucu!" seru Nora.


"Mana mana!" Jaevan pun selesai mencuci dan segera bergabung ke ruang tamu.


Mereka pun menonton dan tertawa bersama hingga tidak terasa satu jam setengah sudah waktu berjalan.


"Yah filemnya selesai" Nora bersedih, ia pun mengganti saluran Tv mencari siaran lain yang ia sukai.


sedangkan Jaevan sudah tertidur sejak 30 menit yang lalu karena efek obat yang ia minum.


Dania memperhatikan Jaevan yang tengah berbaring tidur, ia mendekat dan meletakkan telapak tangannya di kening Jaevan, Dania menatap lembut Jaevan yang tertidur "Syukurlah kau tidak demam lagi".


Srek


Dania lalu langsun menarik tangannya saat Jaevan bergerak merubah posisi tidurnya menjadi miring.


......To be Countinue......