
Pelajaran sudah usai. Namun Soobin belum mendapati So Hyun kembali bangkunya. Melihat ponsel dan tas So Hyun masih berada di meja ia langsung bergegas mencari di sekitar sekolahnya.
Karena banyak siswa yang berlalu lalang karena jam pulang sekolah, membuat Soobin kesulitan menemukan So Hyun.
Ia kemudian memeriksa beberapa ruangan kelas lain, dan tempat kesehatan namun So Hyun tidak berada disana. Lalu Soobin bertanya pada murid murid yang masih berada di kelas, namun mereka tidak tau karena So Hyun adalah murid baru dan banyak yang belum mengenalnya.
Ia melirik sebuah tanda di depan pintu toilet. Ia sedikit curiga dengan tanda tersebut karena sebelumnya tanda itu tidak ada disana.
" Kim So Hyun?!!! Apa kau ada di dalam?!!" teriak Soobin dari luar. Ia tidak bisa masuk karena toilet tersebut adalah toilet wanita.
Karena tak ada jawaban akhirnya Soobin akhirnya pergi meninggalkan tempat tersebut. Namun, sebelum ia melangkahkan kakinya ia merasa jika Soobin harus memeriksanya ke dalam.
Ia melangkah masuk dan membuka pintu satu persatu,hingga ada satu pintu di ujung yang tertutup dan diganjal oleh tongkat pel. Tanpa berpikir panjang ia lalu mengambilnya dan membuka pintu tersebut. Soobin terkejut ketika menemukan So Hyun terduduk lemas di atas closet.
Soobin mencoba menyadarkannya dengan menepuk nepuk pelan pipi So Hyun. Lalu tak lama So Hyun membuka matanya dan nampak ketakutan.
" Tolong aku..." lirih So Hyun.
Soobin lalu menggendong So Hyun menuju ruang kesehatan. Ia berlari hingga menarik perhatian beberapa siswa yang belum pulang karena ada kegiatan pelajaran tambahan.
" Siapa yang melakukannya padamu?!" tanya Soobin.
So Hyun tak menjawab.
Lalu saat sampai di ruang kesehatan Soobin langsung menidurkan So Hyun di atas brankar.
"Kenapa dengannya?" tanya salah satu petugas kesehatan yang sedang berjaga saat itu.
Ia langsung memeriksa So Hyun yang nampak lemas dan pucat.
" Saya tidak tau. Saya menemukannya sudah pingsan karena terkunci di toilet."
.
..
.
.
.
.
Soobin menemani So Hyun hingga ia sadar. Teman dekat Sungjae tersebut duduk di sebuah kursi yang ada di samping So Hyun. Ia menatap So Hyun yang mulai sedikit membuka matanya.
" Kau pingsan atau tidur?" tanya Soobin.
" Ah, maafkan aku." ucap So Hyun, ia tak percaya jika Soobin ternyata menemaninya saat ia tak sadarkan diri.
" Siapa yang melakukannya padamu?" tanya Soobin kembali karena dia belum mendapati jawaban dari pertanyaannya tersebut.
" Aku juga tidak tau. Saat aku ingin membuka pintu, pintu tersebut sudah dikunci dari luar. "
" Kau punya musuh disini? "
So Hyun menggelengkan kepalanya.
" Aku pindah ke sekolah ini belum lama. Siapa yang tidak menyukaiku? Aku saja hanya mengenalmu dan Sungjae."
" Ayo pulang. Aku antar."
" Tak usah. Aku bisa pulang sendiri."
" Sudahlah. Jangan menolak tawaranku, aku tak akan meminta untuk kedua kalinya lho."
Lalu So Hyun turun dari ranjang dan mengekor dibelakang Soobin, So Hyun tersenyum kecil.
.
.
.
" Sial!!! Rencana kita gagal." ucap Serim ia mengintip Soobin dan So Hyun yang keluar dari ruang kesehatan bersama.
" Kita butuh rencana yang lebih matang lagi. Aku tak akan biarkan gadis itu terus menempel pada Soobin." Serim menendang tembok yang ada didepannya karena kesal melihat Soobin dan So Hyun yang semakin dekat karenanya.
***
Soobin benar-benar mengantarkan So Hyun sampai depan rumahnya. Mereka berdua pulang dengan bis. So Hyun mengira jika Soobin benar-benar menyukainya karena sikapnya hari itu.
"Kau serius.. ... Tak apa apa kan?!" tanya Soobin, ia membalikkan badannya dan memastikan jika So Hyun baik-baik saja.
" Eoh, aku tak apa apa. Terimakasih sudah menolongku."
" Kalau berterimakasih padaku. Kapan kapan traktir aku makanan enak." goda Soobin.
" Baiklah."
"Kalau begitu aku akan pulang. Sampai bertemu besok." ia melambaikan tangannya pad So Hyun. Untuk sesaat So Hyun tersadar mengapa banyak murid perempuan yang menyukainya.
So Hyun memandangi punggung Soobin sebelum ia masuk dalam rumah. Ada perasaan yang menggelitik di hatinya. Ia tersenyum tiap kali mengingat apa yang sudah ia lakukan hari ini.
" Apa dia benar-benar menyukaiku?!" gumamnya.
" Hey?!" panggil seseorang hingga mengejutkan So Hyun.
" Op- oppa?! Apa yang kau lakukan disini?" tanya So Hyun pada pria yang sudah berdiri di depannya.
Namanya Minhyuk, salah satu artis dari agensi ayah So Hyun. Hari itu pria yang bernama lengkap Lee Minhyuk tersebut sengaja datang untuk menemui So Hyun.
" Aku dengar kau kemarin ke agensi? Kenapa tidak menemuiku?" tanya Minhyuk.
" Eoh, itu... Soalnya aku sedang bersama teman." So Hyun menundukkan kepalanya.
Mereka sudah lama saling mengenal, namun So Hyun menjadi canggung pada Minhyuk karena suatu hal. Kecanggungan tersebut terjadi setelah Minhyuk pernah mengatakan jika dirinya menyukai So Hyun dan akan menunggunya hingga ia bisa menerima perasaan darinya.
" Anak laki laki tadi? Bukan sainganku kan?" tanya Minhyuk menggoda.
So Hyun terkejut karena rupanya gerak geriknya tadi terlihat oleh Minhyuk.
"Bukan.. Bukan seperti itu. Ia hanya teman sekelasku."
Minhyuk lalu menatap dalam wajah So Hyun lalu tersenyum. Ia membungkukkan badannya lalu mengusap rambut So Hyun hingga membuat wajahnya memerah karena malu.