
08.00 pagi mobil Dion sudah terpakir di depan rumah Jaevan sejak 30 menit yang lalu. Tidak berselang lama Dion keluar dari rumah sembari menggendong Nora masuk ke mobil, sedangkan Jaevan menyusul di belakang.
"Jae mau pergi kemana pagi-pagi?" tanya Rey yang saat itu sedang menyiram bunga di halamannya.
"Ke kerja paman".
Rey mengangguk "Hati-hati".
Jaevan tersenyum dan masuk ke mobil.
Tin
Rey melambai hingga mobil mereka sudah tidak terlihat lagi, dan melanjutkan kegiatannya di akhir pekan ini.
...**********...
Di sebuah gedung Jaevan, Dion, dan Nora berada di lift menuju lantai 8 gedung.
Ting.
Nora memegang tangan Jaevan erat sembari menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Kiyaaa cuuuuuutttee hayyy" para kariyawan berteriak melihat kedatangan Nora.
Nora berdiri di belakang Jaevan mencoba bersembunyi, sembari mengikuti langkah papanya berjalan.
Jaevan yang menyadari itu, berjongkok untuk melihat wajah Nora "Kenapa sayang?"
Nora menggeleng, sembari tertunduk dan sesekali melirik ke para kariyawan melalui ekor matanya.
Jaevan menoleh mengikuti lirikan Nora.
Ia pun menyadari banyak kariyawan yang sedang memperhatikan mereka. Jaevan tersenyum mencoba untu ramah-tamah.
"Aaaaaaa" Teriak mereka kegirangan.
"papa" panggil Nora sembari merapatkan diri pada Jaevan.
Jaevan tersenyum, ia merapikan rambut Nora yang sedikit tidak rapi, lalu menggendongnya.
Jaevan menyusul Dion yan sedang berbicara dengan seorang kariyawan, mereka kemudian di persilahkan untuk menunggu di sebuah ruangan sedangkan kariyawan itu masuk ke ruangan lain.
15 menit mereka menunggu akhirnya karyawan tadi kembali bersama dengan seorang laki-laki yang berpakaian jas rapi.
"Halo selamat siang, perkenalkan saya Kepala manajer pemasaran”.
Jaevan dan Dion berdiri, mereka saling berjabat tangan.
"Halo cantik" Sapanya ramah kepada Nora.
"Siapa Nama mu?".
Nora Malu-malu Nora menjawab di balik punggung Jaevan.
Jaevan dan Dion menerima berkas proposal yang diberikan kariyawan wanita, yang mungkin adalah sekretaris manajer. Lembar demi lembar Jaevan baca, ia menemukan sedikit perbedaan dari berkas yang Dion berikan kemarin. Proposal yang ini menjelaskan hal-hal lebih luas mengenai barang dan ide-ide yang nanti akan menjadi bahan dalam pengiklanan. Dan dari pada itu manajernya sendirilah yang memaparkan isi dari proposal, penjelasannya yang tidak terlalu panjang juga mudah di pahami dapat Jaevan dan Dion mengerti.
"Jadi bagaimana? apakah anda tertarik untuk menjadi model dari produk kami".
"Baiklah, saya rasa ini baik untuk saya coba".
"Baiklah kalau begitu ini kontraknya, mohon untuk di baca".
Jaevan menerima berkas perjanjian itu dan membacanya telit, lalu menandatangani surat perjanjian itu dan menyerahkannya.
"saya sangat berterimakasih atas kesediaan anda menjadi wajah baru untuk produk kami, saya harap kita dapat bekerja sama dengan baik”.
"Merekapun saling bersalaman".
...**********...
Keesokan paginya, Jaevan sudah harus memulai kegiatan pemotretan. Dibantu Dion yang kini menjadi managernya yang menghandel segala keperluan Jaevan.
Sekarang dunia baru bagi Jaevan, dimana ia disibukkan dengan dunia pekerjaan yaitu penyiaran dan kuliner. Melepaskan mimpinya dalam dunia perkuliahan seperti teman-temannya yang lain.
Tentu saja ia harus melepas dunia perkuliahan, mengingat ia di drop out dari sekolah juga mengingat perannya sebagai sosok papa bagi Nora dan sosok Bos bagi kariyawannya membuat Jaevan mengambil keputusan ini.
Dunia kampus memang adalah mimpinya tapi dunia yang kini ia jalani adalah pilihannya, yang di jalaninya tanpa penyesalan.
Dari iklan pertamanya, tidak disangka ternyata di terima dan mendapat respon baik dari masyarakat, bahkan produk yang dipromosikannya habis terjual dalam kurun waktu 3 hari, dan akibatnya perusahaan mendapat begitu banyak pesanan hanya dalam kurun waktu 24 jam.
Lambat laun Jaevan mulai mendapat berbagai macam tawaran iklan dan juga tawaran untuk hadir menjadi bintang tamu, berkat itu nama dan wajahnya mulai dikenali banyak orang dan lambat laun namanya yang rusak mulai dilupakan.
Semakin bersinar semakin bertambah pula fans dan hater Jaevan. Mengingat skandalnya yang disorot banyak media tidak memungkiri kini pun Jaevan masih saja memiliki rumor buruk.
Namun Jaevan tidak ingin ambil pusing untuk menanggapi rumor-rumor itu, ia tetap fokus dengan apa yang ia lakukan, melakukan pekerjaanya dan Nora.
Karena kegiatannya, Jaevan akan jarang pulang kerumah, sudah sejak 3 bulan Jaevan hanya bisa pulang kerumaah 1 kali dalam seminggu, Setelah pulang syuting atau pemotretan ia lebih memilih pulang ke café dan tidur disana karena bagaimanapun juga ia masih memiliki café yang harus di awasi meskipun café diserahkan pada karyawan yang sudah lama bekerja dengannya, dan jika tidak ada jadwal ia akan di café melayani pelanggan. Karena itu Kemanapun Jaevan pergi Nora selalu ikut.
Nora biasanya akan duduk bersama Dion memperhatikan Jaevan di lokasi syuting maupun lokasi pemotretan. Disaat ia merasa bosan ia tidak akan merengek pada Jaevan ia lebih memilih menyibukan diri untuk menggambar.
...**********...
Sepulang dari jadwal pemotretan, mereka menyempatkan diri mampir ke restoran terdekat untuk makan siang dan memesan makanan sefood.
Jaevan makan sembari menyuapi Nora
"Huuufff huff AAA" Jaevan menyodorkan makanan yang sudah di tipunya pada Nora.
"Hap Emmmm" Nora menganggukkan kepala tanda bahwa makanan yang dimakannya
" enak".
Drrrt Drrrtt
Dion meraih hpnya di meja dan menjawab panggilan telphon.
"Hallo".
"oh iya, baiklah terimakasih pak untuk infonya".
Tut
"Jaevan aku rasa kau harus pindah secepatnya!".
Jaevan berhenti menyendok makanan di piringnya.
"Ada apa?, memangnya telphon dari siapa tadi?".
"Aku tadi mendapat telphon dari polisi, kita mendapat keluhan dari para tetanggamu. polisi bilang terjadi pertengkaran antara fansmu dan warga sekitar di tempat tinggalmu".
“Hah baiklah apa boleh buat, tapi kak aku belum mencarinya".
"Tenang saja, aku sudah mencarinya kau tinggal memilih mau yang mana!"
"Uhu memang kakak yang terbaik jang" Jaevan memberikan dua jempolnya pada Dion.
Dion membusungkan dadanya bangga "Hei ingat aku ini manajer artis sekarang, tentu saja aku sangat bisa di andalkan".
"Nora beri tepuk tangan untuk kak Dion".
Prok prok prok
Jaevan dan Nora bertepuk tangan untuk Dion yang besar kepala.
"Tentu saja ini tidak geratis, beri aku gaji yang besar" canda Dion.
"Ok"
"Yes" girang Dion yang senang karena candaannya di tangapi serius Jaevan.
"Kalau begitu setelah ini mau lihat-lihat aparteman?".
Jaevan melirik jam di pergelangantangannya, pukul 13.00 siang.
"Nora, setelah ini mau lihat-lihat aparteman baru tidak ?" tanya Jaevan.
"Mau" girang Nora.
Jaevan mengusak rambut Nora gemes.
"Oh iya aku baru ingat, Jae bagaimana
dengan sekolah Nora".
"Mungkin untuk saat ini schoolinghome saja".
"Kau yakin?tapi itu mahal Jae".
"Mau bagaimana lagi kak, Nora tidak mau jauh dari ku?".
Dion menganggu memahami situasi yang Nora alami saat ini. semenjak Jaevan di tangkap, hari itulah Nora memiliki trauma. Nora akan merasa gelisah dan menangis jika lama-lama berpisah dari Jaevan.
Merkapun kembali menyantap makanan, sembari sesekali melontarkan lelucon. Hingga tidak terasa kini sudah pukul 14.00 siang, sebelum pergi Jaevan meminta bil dan membayar semua dengan uangnya.
Tidak jauh dari tempat merka duduk, ada tiga orang gadis nampak ragu-ragu untuk mendekat. Dari mereka bertiga satu orang didorong untuk maju lebih dekat "Permisi" panggilnya.
Jaevan dan Dion menoleh" Iya ada apa? " tanya Jaevan ramah.
"Apa kau Jaevan Ankara?".
"Iya".
Dua gadis dibelakang nampak saling pukul karena kegirangan.
“Kami fans mu"
"Benarkah".
"Maaf apa kami menganggu waktumu".
"Oh tidak, aku sedang senggang sekarang".
"Kalau begitu boleh kami meminta tanda
tanganmu".
Gadis itu memberikan selembar kertas dan pena pada Jaevan, Jaevan menerimanya dengan canggung "Tandatangan ku?" Ulang Jaevan memastikan.
Gadis itu mengangguk.
"Baiklah" Jaevan menandatangani tiga kertas di tangannya dan memberikannya pada gadis didepannya.
"Boleh kita berfoto".
"Ah.... oh..i..iya".
Mereka ber empat pun mulai berpose, di bantu Dion sebagai fotografer.
"Terimakasih banyak, nice to meet you" pamit mereka.
Jaevan yang saat itu merasa canggung karena ini pertamakalinya hanya bisa mematung di tempat.
"Hei ayo kita pergi" Dion menepuk bahu Jaevan.
"Oh iya ayo".
...To be countinue...
Hy guys apa kabar👋 lama ya gak ada kabar, maaf ya author ini yang suka lama up, saya harap hari ini saya dapat menghibur hari kalian.
Terus dukung dan nantikan karya saya ya, jangan lupa tnggalkan jejak kalian ya hehehehhe love you semua. 😊