
Di sebuah gedung, semua tahanan yang lain sedang melakukan kerja bakti. Jaevan mendapat tugas untuk membawa kayu kayu yang sudah di potong ke ruangan sebelah. Ia menyeka keringat yang menetes di keningnya, dan mengangkat setumpuk kayu yang sudah dipotong.
Pletak
Sebongkah kayu berukuran sedang mengenai kepalanya.
"Menyingkir bodoh, kau menghalangi" teriak kesal seorang narapidana pada Jaevan.
Sedari awal Jaevan masuk, orang itu memang selalu membuat masalah dengannya.
Jaevan memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. Ia menatap tajam orang itu.
"Kenapa, ada masalah?"
Kesabaran Jaevan sudah habis sekarang, ia mengepalkan kedua tangannya. Sudah cukup, sekarang ia tidak akan lagi diam saja.
Baru satu langkah Jaevan maju, tangannya di tahan oleh seseorang. Jaevan menoleh dan mendapati Erga berdiri di belakangnya.
"Ikut aku!"
Erga melepaskan tangan Jaevan dan pergi, Jaevan mau tidak mau mengikutinya di belakang menuju lapangan.
Erga berhenti dan berbalik menghadap Jaevan "Serang aku".
"Apa?".
"Serang aku" Ulang Erga.
"Tidak, aku tidak bisa" tolak Jaevan.
"Baiklah aku saja yang lakukan" Erga melayangkan tendangannya ke ajah Jaevan.
Jaevan refleks melangkah mundur untuk menghindari tendangan Erga.
"Coba yang satu ini" Erga melayangkan tinjunya ke wajah Jaevan.
Tap
Jaevan menangkis pukulan Erga dengan mudah.
Erga tersenyum setelah dapat sedikit mengukur kemampuan berjelahi Jaevan "Kau menguasai ilmu bela diri?"
“Aku pernah mempelajari tekwondo”.
Erga mengangguk "Seharusnya dari awal kau pukul saja dia, kenapa kau hanya diam saja saat mereka menganggu mu?"
"Itu karena aku hanya tidak ingin menambah masalah".
"Dasar" Erga tersenyum miring "Bicaramu itu seperti kau sudah menjalani hidup orang dewasa saja"
"begitukah"
Buaak
Jaevan meringis menahan rasa berdenyut ditangannya karena menngkis tendangan Erga.
"Hei coba kau serang aku, jangan hanya bisa menghindar".
Tap
Erga menggenggam tinju Jarvan "Ck pukul yang serius, aku tahu kau ragu"
Erga memelintir tangan Jaevan dan menguncinya di belakang punggung "Ku beri tahu, saat kau dewasa nanti kau akan masuk ke dunia yang sebenarnya, untuk itu menjadi jahat sedikit itu sangat berguna".
"Kenapa kau mengatakan hal ini pada ku?" tanya Jaevan sembari berusaha melepaskan kuncian Erga.
"Karena kau terlihat sangat malang".
Jaevan sedikit tersinggung mendengar itu. Dan itu dapat dilihat Erga, ia pun melepas kuncian tangannya dan mendorong Jaevan hingga hampir membuatnya tersungkur ke tanah.
"Ayo kita berduel, sudah lama rasanya aku tidak melakukan ini, ayo serang aku, dan kalahkan aku........ kalau bisa" remeh Erga.
Jaevan diam mematung.
"Kau takut" Ejek Erga memprovokasi
"Ayolah, mungkin dengan berduel kau bisa belajar dari ku".
Jaevan merasa tertantang dengan tantangan dari Erga, ia meulai memasang kuda-kuda dan bersiap menyerang begitu juga Erga.
Keduanya pun muai saling menyerang, mencoba untuk melumpuhkan satu sama lain. Tendangan, tinjuan, saling bergantian mereka lakukan, Namun saat ini Erga lah yang lebih unggul dalam setiap teknik, dan Jaevan mempelajari setiap teknik yang Erga lakukan.
Brakkk
Erga membanting Jaevan ke pagar besi.
"Uwoookh" Sorak heboh para narapidana yang menyaksikan duel itu.
"Pukul"
"habisi"
Sorak mereka kegirangan, dan malah memasang taruhan siapa yang akan menang.
Sudah 15 menit mereka saling bergumul, hingga mereka menjadi tontonan narapidana juga para sipir yang tidak ada inisiatif untuk melerai, bagi mereka perkelahian ini adalah hiburan.
Jaevan dan Erga semakin gencar menyerang begitu juga para penonton yang berteriak semakin semangat seperti suporter sepak bola yang menyemangati jagoannya. Baju tahanan yang Jaevan dan Erga pakai pun sudah basah keringat, wajah merekap pun sudah kotor bercampur dengan tanah dan keringat.
‘Grep
Erga mengunci pergerakan Jaevan.
"Aku menyerah" Jaevan terengah kehabisan tenaga.
Akhirnya Erga melepaskan kunciannya, Jaevan langsung menjatuhkan tubuhnya di tanah terlentang menatap langit biru yang cerah, duel pun berakhir.
"Kau lumayan juga hah hah hah" puji Erga, dan ikut berbaring di tanah di sebelah Jaevan.
Jaevan menyunggingkan senyum,dengan napasnya memburu "Auuu" ringisnya karena luka sobek di bibirnya tertarik.
...To be countinue...