Young Papa

Young Papa
Bebas



Berselang 30 menit dari acara persidangan usai, media berita sudah menerbitkan dan menyiarkan jalannya acara persidangan dengan tajuk yang beragam, diantaranya.


...[Selebgram Zorya Gifanda mencoba menyangkal skandal dengan cara memfitnah Jaevan Ankara.]...


...[Kuasa hukum Jaevan Ankara berhasil membuktikan bahwasanya Jaevan Ankara tidak bersalah.]...


...[Jaevan Ankara terbukti tidak bersalah, kini Zorya Gifanda menjadi terancam karena terbukti memfitnah.]...


...Dll....


"Bibi...Bibi aku sudah bilang kan Papa bukan orang jahat" girang Nora melompat-lompat saat melihat berita di Tv.


Hani tersenyum "Memangnya siapa yang bilang Papa jahat?".


Nora berhenti melompat, ia berbalik dan duduk di samping Hani "Teman-teman sekelas selalu bilang Papa orang jahat, padahal Nora sudah bilang Papa tidak jahat, tapi mereka tidak percaya".


Hani merasa bersalah telah menanyakan hal itu pada Nora. Ia mengelus kepala Nora, ia teringat akan alasan kenapa ia sering di panggil ke sekolah Nora, penyebabnya adalah karena akhir-akhir ini Nora sering berkelahi dengan temannya disekolah.


"Sudah jangan dengarkan mereka, lebih baik Nora abaikan saja mereka ya".


" Bibi tapi jika Nora tidak pukul, mereka terus mengejek Nora".


Flas back


"Permisi bu"


"Ibu wali Nora ya" tanya salah satu guru yang mengajar di sekolah.


"Benar bu saya walinya"


"Mari bu ikut saya"


Tok Tok Tok


"Ya masuk" Sahut seseorang dari dalam ruangan.


"Silahkn bu"


Hani pun mengangguk dn masuk ke dalam ruangan, di dalam ruangan itu sudah hadir beberapa orang tua lainnya, dan menatapnya dengan tatapan mencemooh.


Hani terpaku di tempat hingga pandangan matanya bertemu dengan sosok anak kecil yang sudah berpenampilan acak-acakan, rambutnya yang sudah tidak lagi rapi jelas habis di jambak, dua kncing atas bajunya yang lepas, dan dua matanya yang sembab.


"Astaga Nora apa yang terjadi" Hani menghambur menghampiri Nora, memutar badan dan wajahnya memeriksa tubuh Nora.


Hani menoleh menatap satu persatu anak anak yang kini bersembunyi di belakang orang tuanya, 'Apa ini kenapa hanya Nora yang terluka?' Marahnya tidak terima karena selain Nora mereka nampk terlihat baik-baik saja.


Hani berdiri "Bu guru kenapa ini? Kenapa putri saya seperti ini?".


"Ibu mohon tenang dulu".


"Tenang!, bagaimana aku bisa tenang". Suara Hani mulai meninggi.


"Ibu saya mohon tenang dulu, mari duduk, saya akan jelaskan semuanya".


Hani menarik napas dalam lalu menghembuskannya "Baiklah" ia duduk dan berusaha tenang, mendengar dengan baik perkataan ibu guru terkait keronologi yang melibatkan Nora.


ia shock mendengar sebenarnya bukan kali ini saja terjadi perkelahian, dan ini yang terparah "Jadi Nora dikeroyok" desisnya.


"Saya tidak terima jika seperti ini"


"Hei apa maksud anda?" salah satu orang tua murid menunjuk Hani.


"Hei turunkan jari anda Nyonya" desis hani.


"Ibu mohon ini sekolahan, tolong mengerti"


"Bu guru saya minta beri anak-anak ini sanksi, agar mereka jera".


"Hei anak anda lah yang memulai kekerasan lebih dulu".


"Kau pikir dengan mengejek itu bukan kekerasan, itu salah satu kekerasan juga asal ibu tau".


"Dia benar"


Hani menoleh pada salah satu orang tua yang tadi setuju dengan ucapannya.


.


.


.


"Permisi"


"Ya"


"Terimakasih tadi nyonya sudah membela saya"


Dia tersenyum "Sama-sama, saya memang sudah seharusnya membela Nora" dia pun mengelus kepala Nora yang saat ini berdiri di sebelahnya "Benarkan Nora sayang".


"Emmmmm"


Dia pun menatap Hani kembali "Saya Mona, ibu siapa".


"Saya Hani".


"Anda siapanya Nora"


"Saya bibinya".


"Oh" dia pun tersenyum "Kalu begitu saya harus segera pergi Hani, maaf tidak bisa berlama-lama, mungkin kita bisa lanjut ngobrol di lain waktu" pamit Mona.


"Oh iya tidak masalah".


And


Hani memutar bahu Nora untuk menghadapnya "Kalau Papa tau Nora sering berkelahi disekolah bagaimana?"


Nora diam


"Kalau Papa tau Papa nanti sedih loh. Jadi jangan pukul mereka, diamkan saja mereka lama-lama pasti akan bosan Nora mengerti"


Nora mengangguk.


"Anak pintar" puji Hani.


"Bibi jangan bilang ke Papa Ya kalau Nora sering berantem" Nora menatap dengan mata popynya.


Hani tersenyum "Bibi tidak akan bilang, tapi Nora janji ya jangan lagi berkelahi".


Nora mengangguk.


"Oh iya, apa anaknya bibi Mona itu teman Nora"


Nora mengangguk.


"Namanya Haeru"


Prang


Tiba-tiba terdengar suara kaca pecah.


...**********...


Satu minggu kemudian


Bertempatan di gedung Pengadilan negeri, di sebuah ruangan dimana Jaevan kini tengah mendengarkan Hakim Ketua membacakan putusan pengadilan.


Rasa tegang tentu saja menghampiri dirinya, yang saat ini membuatnya duduk gelisah dengan kedua telapak tangan yang berkeringat dingin dug dug dug begitulah debaran keras jantungnya berdetak.


"menimbang bahwa dari uraian-uraian tersebut diatas pada akhirnya Majelis berpendapat bahwa terdakwa tidak terbukti telah melakukan perbuatan pidana sebagaimana didakwakan padanya"


Belum selesai Hakim Ketua membacakan putusannya, semua orang yang hadir dan berpihak pada Jaevan bersorak gembira.


Tendra selaku Kuasa Hukum Jaevan, menepuk pelan punggung Jaevan, dan tersenyum "Kita menang Ujarnya pelan".


Jaevan mengangguk "Aku sangat berterimakasih pada mu, terimakasih banyak sudah mau membantuku".


Tendra mengangguk.


"Demikian sidang pada hari ini dinyatakan ditutup".


Tok tok tok


Hakim Ketua memukul palu sebanyak tiga kali, tanda bahwa persidangan kasus Jaevan dinyatakan selesai dan di tutup.


Seperti sebelum-sebelumnya para hadirin kini berdiri saat para Hakim keluar ruangan sidang. Setelah mereka keluar, lagi!, para wartawan langsung menyerbu Jaevan.


Mereka tidak membiarkan Jaevan lolos kali ini, semua pertanyaan wartawan dijawab Tendra selaku Kuasa Hukum Jaevan, Jaevan berdiri di belakang Tendra dengan kepala tertunduk menghindari flash kamera yang mengenainya.


Polisi yang juga bertugas mengawal Jaevan berusaha melindungi Jaevan dari kerumunan wartawan. Jaevan sesekali memejamkan matanya karena sakit terkena Flash cahaya kamera.


”Sudah ya, cukup"


Tendra menempatkan Jaevan disampingnya, menuntunnyaa berjalan menerobos para wartawan.


Sedangkan dari kejauhan Nora digendong Rey, ia melambai pada Jaevan berharap Jaevan dapat melihatnya dan terus memanggil Papanya "PAPA PAPA DI SINI NORA DI SINI PAPA".


Sayangnya sekuat apapun Nora memanggil, suaranya tidak cukup dapat didengar Jaevan.


Nora terus memanggil Jaevan yang tengah dikerumuni para wartawan di depan sana, hingga Jaevan masuk ke dalam mobil bersama Tendra.


Nora dan Orang tua Dania segera berlari ke pinggir jalan berharap Jaevan dapat melihat mereka, namun sayangnya Wartawan yang terus saja mengejar Jaevan, menghalangi mereka yang sudah berdiri di pinggir jalan.


...**********...


"Aku pulang" Dani masuk kerumah dan melempar tasnya ke sofa, langsung menghampiri mamanya di dapur.


"MAMA" Panggilnya bersemangat.


"Issss, pelanin suara kamu" tegur Hani, ia mangelus dadanya akibat ulah anaknya.


"Heheh sorry" "Ma! Mama tadi ke sidang Jaevan kan, aku tadi lihaTV berita katanya Jaevan menag kan?"


Hani mengangguk, lalu melirik anaknya yang melangkah menuju keluar rumah.


"Mau kemana?"


"Kerumahnya lah, mau sambut dia pulang, Jaevan di rumah kan ?".


Hani menggeleng


"Hah aku lihat berita loh ma".


"Jaevan masih harus mengurus sesuatu di sana, jadi kemungkinan besok baru pulang".


"Tau dari mana?".


"Pengacaranya tadi yang bilang di telphon".


Dania menjadi murung "Nora sekarang dimana?"


"Ada di atas, mungkin tidur".


Dania mengangguk, dan segera pergi ke kamarnya.


Cklek


Dania masuk ke kamar dan melihat Nora duduk di jendela menatap lurus ke seberang.


Air mata Nora berlinang, Dania menyadari Nora sedang menangis langsung menghampirinya "Nora kamu kenapa nangis?".


Nora yang baru menyadari Dania di sampingnya, langsung menghapus air matanya.


"Cerita dong Nora kenapa nangis?"


Nora masih terisak dengan kepala menunduk "Nora kangen sama Papa, Papa kapan sih pulang ke rumah?".


"Nora kangen? Sama, kakak juga!".


Nora menoleh menatap Dania, "kangen? Paman kan ada dirumah kenapa kakak kangen sama Papa Nora, Papa kakak kan ada?".


Dania meringis mendengar pertanyaan Nora "Kenapa? gak boleh ya kakak kangen sama Papa Nora? Kakak kan berteman sama Papa".


"Kakak kan perempuan, Papa laki-laki, Perempuan dan laki-laki itu gak bisa temenan, pasti nanti ada yang suka" kemudian Nora menatap Dania menyelidik "Jangan-jangan kakak suka Papa ya?".


Dania gelagapan, Nora menangkap basah dirinya. Karena apa yang dikatakan Noara benar adanya, dania dibuat tidak bisa berkutik.


"Dasar anak kecil, Nora kamu tau kata-kata itu dari mana sih?" tanya Dania mencoba mengalihkan topik.


"Dari Tv".


"Shhh" Dania mencubit kedua pipi Nora "Nora gak boleh ya nonton kayak gituan, mending nonton yang lain aja".


"Kenapa?"


"Papa nanti marah loh! lapor Papa ah, biar Nora dimarahin" ancam Dania.


“Jangan kak" Nora memohon dengan mata bulatnya.


Dania tersenyum, dan malah semakin mencubit pipi Nora " iiiiiiiii "


"Aaaaa" Nora berteriak karena cubitan Dania sedikit kuat.


"Dah ah kakak mau ganti baju dulu".


...To be countinue...