Young Papa

Young Papa
Maaf



Sudah 30 menit lebih Jaevan berada di kamar mandi, berdiam diri di bawah guyuran air dingin. Apa yang sudah ia lakukan pada Dania terus saja berputar di kepalanya.


"AAAAArrrggg Jaevan bisa-bisanya kau kehilangan akal" Jaevan mengacak kasar rambutnya "Aku benar-benar kehilangan muka di depannya" Jaevan mendongak membiarkan wajahnya terguyur air shower.


'Tok tok tok'


'Sssrrrrraaaa'


Regan mengetuk pintu kamar mandi "Jae mau sampai kapan kau di dalam, apa kau baik-baik saja?"


Regan tidak mendengar lagi suara air mengalir


"Emmm" Jaevan mengusap wajahnya, lalu meraih handuk dan melilitkannya di pinggang.


...**********...


"Jaevan mana?" tanya Lenovan.


"Mungkin sebentar lagi dia turun" .


Regan duduk memangku Nora, "Apa papa sudah sembuh kak?".


"Emm papa sekarang sudah sembuh" Regan tersenyum dan mengelus kepala Nora.


"Khawatir ya sama papa?".


Nora mengangguk, kemudian tiba-tiba ia teringat sesuatu. "kakak tadi kak Dania kenapa?, kenapa bajunya basah?".


Regan tergagap "Ah itu dia tadi ketumpahan air" jawab Regan sekenanya "Iya kan!" Regan melemparkan kalimatnya pada Lenovan .


" Ahhh iya iya" Lenovan mengiyakan perkataan Regan.


"PAPA" panggil Nora, lalu turun dari pangkuan Regan, berlari pada Jaevan memeluknya seakan-akan lama tidak bertemu.


Jaevan menggedong Nora, ia tersenyum, tangannya mengelus punggung Nora sayang.


Jaevan memandang dua sahabatnya yang duduk di sofa, dan bergabung duduk di tengah.


"Ehmmm, Jae maaf yang tadi kami tidak sengaja" Regan bersuara sedikit pelan, takut jika Jaevan marah.


"Itu tadi tidak seperti yang kalian pikirkan".


"Maksudnya?".


Jaevan memijat keningnya, bingung bagaimana harus menjelaskan situasinya saat itu "Sudahlah lupakan saja".


Regan dan Lenovan mengerjap


"Ehmmm.." deheman Lenovan berhasil mengambil atensi Jaevan "Jika boleh tau kalian sejak kapan memiliki hubungan lebih dari teman" tanya Lenovan pensaran.


Jaevan diam.


"Wahhh jangan bilang kalian tidak ada hubungan apa-apa".


Jaevan tetap diam tidak memberi tanggapan.


"Wahhh jika benar, kalian tadi benar-benar Wahh melakukan itu hanya untuk bersenag-senang".


"Tidak" Jaevan mengurut keningnya"AAAAA" teriaknya frustasi.


Regan dan Lenovan terperanjat mendengar teriakan Jaevan bahkan Nora pun ikut terperanjat.


"Bukan seperti AAARRGGGG Re No aku harus bagaimana menghadapinya" Jaevan tertunduk lesu.


"Jadi kau yang menyerangnya duluan?".


Skak mat, Jaevan mengatupkan kedua bibirnya.


"Benar! Wahhh" Lenovan terperangah.


Hening, tidak ada yang membuka suara.


"Kau harus segera meminta maaf"


Jaevan mengangguk menuruti perkataan Regan.


"Jadi kau menyukainya?" tanya Lenovan.


"Tidak tau".


"Hah lalu kenapa kau menyerangnya, jika kau saja tidak tau dengan perasaanmu sendiri" Lenovan dan Regan tidak habis pikir.


"Aku tidak tau, saat itu aku hanya tidak bisa mengontrolnya".


Regan dan Lenovan mengerutkan kening.


"Aku tidak bisa menahannya, aku ingin AAAAA" Jaevan kesal sendiri bagaimana cara menjelaskannya.


"Jadi maksud mu kau sedang benar-benar terbangun dan kebetulan dia ada di hadapanmu dan yah kau menyerangnya" papar Regan lugas.


Wajah Jaevan memerah menahan malu mendengar kaliamat lugas Regan.


"Papa bertengkar dengan kak Dania?" tanya Nora polos.


"Emmmm Nora marahi papamu, dia tadi menggigit kak Dania"ujar mulut kompor Regan.


Sedangkan Lenovan menggeleng.


Nora menatap Papanya menghakimi "Papa kenapa gigit kak Dania? Nanti kalau kak Dania balas gimana? Papa mau balik digigit"


Jaevan melempar tatapan membunuh untuk Regan, sedangkan Regan dan Lenovan sudah tertawa terpingkal.


...**********...


Di dalam kamar Dania tengah termenung menatap langit-langit kamarnya, kilatan-kilatan bayangan kejadian siang tadi selalu datang menganggu pikirannya.


Setiap kali dia teringat jantungnya selalu berdebar. Seperti saat ini, Dania memegang dadanya merasakan debaran jantungnya yang keras debaran.


Dania kemudian menyentuh lehernya, teringat rasa dan bagaimana Jaevan mengecup lehernya. Dania meraih kaca kecil yang tergeletak tidak jauh dan mengarahkannya ke leher.


Ia meraba setiap bercak kemerahan di lehernya. Tidak terasa sakit, namun Danian masih dapat teringat jelas rasa sakit saat Jaevan menghisap kuat kulit lehernya,


Drrrttt Drrrrtt


"Astaga" Dania dikagetkan oleh getaran hpnya.


'Jaevan' batinnya, Dania nampak menimbang-nimbang haruskah dia menjawab panggilan itu 'Tumben sekali Jaevan menelpon ku, Oh astaga aku harus bagaimana' panggilan itu kemudian putus.


Drrrttt Drrrrt


hp Dania kembali bergetar, ia benar-benar dilema 'Aaahhh aku tidak sanggup berbicara dengannya' Dania memejamkan mata memutuskan mengabaikan panggilan itu.


"DANIA ADA JAEVAN" teriak ibunya.


Mata Dania terbuka, ia langsung terduduk 'Bagaimana ini, bicara ditelpon saja aku tidak sanggup apa lagi harus berhadaan dengannya' rutuk Dania.


"Jaevan, tumben kau kesini" samar-samar Dania dapat mendengar suara ayahnya yang sedang berbicara dengan Jaevan.


"Kau ingin menemui Dania".


"Iya paman".


"Naik saja, dia sekarang pasti sibuk nonton di kamar".


"Boleh?".


"Naik saja, asal biarkan pintunya terbuka".


'Ya tuhan bagai mana ini sekarang' Dania menagis dalam hati 'Andai ada pintu kemana saja, huh pasti aku akan selamat'


Tok tok tok


"Dania aku Jaevan, boleh aku masuk sebentar?".


Mau tidak mau Dania harus menghadapinya, sebelum membuka pintu, Dania mengambil nafas dalam-dalam mencoba mengumpulkan keberanian.


Cklek


Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah senyum Jaevan "Ini tas mu yang tertinggal tadi".


"Ah iya terima kasih" Dania mengambil tas dari tangan Jaevan.


"Bisa kita bicara sebentar?"


Dania mengangguk, namun dengan kepala tertunduk tidak berani menatap Jaevan.


Dania mempersilahkan Jaevan masuk ke kamarnya. Mereka berdua duduk di bibir ranjang, diam sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Dania" panggil Jaevan.


"Emmm".


"Yang tadi siang aku benar-benar minta maaf".


Dania diam.


Tidak mendapat respon dari Dania, Jaevan menghembuskan napas berat. Perhatian Jaevan kemudian terpaku pada bercak merah di leher Dania.


Jaevan turun dari kasur, duduk bersimpuh di lantai dengan kepala tertunduk "Maaf, sungguh aku minta maaf".


Dania menutup mulutnya, kaget melihat Jaevan yang seperti itu "Jaevan tidak, jangan seperti ini" Dania menarik tangan Jaevan untuk berdiri.


"Jaevan berdiri, jangan di lantai" namun usahanya tidak berhasil, Jaevan sama sekali tidak merubah posisinya.


"Jae aku akan marah jika kau tidak bangkit" ancam Dania.


"tidak masalah, kau memang berhak marah kepadaku".


Dania tidak habis pikir Jaevan akan menjadi seperti ini "Jae ku mohon jangan seperti ini, tidak apa-apa aku sudah melupakan kejadian siang tadi, aku tau pasti kau punya alasan".


Jaevan menatap Dania.


Ditatap seperti itu, membuat Dania tidak bisa tahan balas menatapnya lama-lama.


"Hah Jaevan ini sudah malam, kau ingin seperti ini sampai pagi?".


Jaevan melihat jam di dinding kamar Dania, benar hari sudah malam hampir menunjukan jam 10 malam, Jaevan juga teringat dia meninggalkan Nora sendiri di rumah. Tapi ia tidak bisa pergi dengan mudah.


Jaevan bangkit "Dani..".


"Tidak apa-apa aku sudah memaafkan mu, pulanglah Nora sendirian".


"Tapi..."


"Aku ingin sendiri".


"Dani".


Tolong kini Dania tidak bisa tahan lagi berhadapan dengan Jaevan ia benar-benar merasa malu sampai-sampai tidak sanggup menatap Jaevan saat ia bicara dengannya.


Jarvan mengangguk "Ok aku pergi, Dania sekali lagi aku benar-benar minta maaf".


Dania mengangguk


"Aku pulang dulu" pamit Jaevan.


"Emm" Dania mengantar Jaevan keluar kamar.


Cklek


Sruk


Dania terduduk di lantai, memegang dadanya yang sedari tadi ribut 'Akhirnya aku bisa bebas bernapas' batin Dania.


Sejenak Dania termenung, ia sebenarnya ingin tau apa alasan Jaevan apakah Jaevan memiliki perasaan padanya, namun hal itu tidak terjadi. Ada rasa kecewa menghampiri hatinya, karena nyatanya Jaevan datang hanya untuk meminta maaf.


'Ah entahlah, lebih baik tidur saja'


...To be countinue...