
Di kelas Dania baru saja duduk di bangkunya, ia meletakkan kepalanya di meja.
Drrkkkkk
"Dania tolong aku"
Dania langsung terbangun saat mendapati Jaevan kini berlari mendekat.
"Ada apa?" tannyanya.
"Bantu aku menyelesaikan Pr kimia Please, aku benar-benar lupa mengerjakannya"
Melihat Jaevan memohon seperti itu, tentu Dania tidak dapat menolak. Ini adalah kali kedua Jaevan mendatanginya, Dania dengan sangat senang hati membantu.
"Coba aku lihat soalnya?"
Jaevan tersenyum lega, ia menarik kursi di dekatnya dan duduk di damping Dania "Yang ini" Jaevan memberikan bukunya pada Dania.
"Pena"
"Oh ini"
"Tidak apakan aku sobek kertasnya" tanya Dania meminta izin.
"Iya"
Mulailah Dania mencoret-coret kertas yang ia sobek untuk menyelesaikan setiap soal sembari mulutnya menjelaskan bagaimana ia menyelesaikannya. Jaevan diam fokus memperhatikan sembari sesekali bertanya saat ia belum mengerti.
Semua soal berhasil Dania selesaikan hanya dalam kurun waktu 20 menit, membuat Jaevan terkagum-kagum.
"Ada lagi?" tannya Dania.
"Tidak ada"
Dania pun menyerahkan kertas korekannya pad Jaevan.
"Terimakasih ya Dania kau telah menyelamatkan ku.......kalau kau mau sesuatu beri tahu..."
Kriiiing
Tiba-tiba bel masuk berbunyi.
Jaevan pun segera bangkit "Aku kekelas ya, chat saja nanti ya"
Belum sempat Dania menjawab Jaevan sudah lebih dahulu berlari pergi dari kelasnya.
"Ehhmmm E cie kalian pacaran kan?" tanya rekan satu kelas Dania.
"E....enggak kok"
...****************...
Srengg Csssssss Sraaaaahhhhh
Sepulang sekolah seperti biasa, kini Jaevan berada di dapur tengah sibuk membuat barbagai macam masakan yang pelanggan pesan.
Sangking ramainya cafè membuat Jaevan dan semua karyawannya tidak dapat berhenti barang sedetik pun untuk istirahat sekedar minum.
Karyawannya yang bertugas sebagai waeters tidak berhenti berlarian untuk mengantar pesanan, piring kotor pun terus berdatangan untuk segera di cuci, sedangkan Jaevan jangan ditanya bagaimana penampilannya sekarang, wajahnya memerah dan bajunya sudah dibanjiri keringat sangkin gerahnya sampai-sampai lengan bajunya ia gulung hingga siku mengabaikan rasa sakit tiap kulitnya terkena percikan minyak.
"Hufff"
Helakaan nafas terlontar dari bibir Jaevan, sebagai tanda bahwa ia saat ini sedang tidak baik-baik saja, sejak tadi ia menahan rasa tidak nyaman di bagian punggung menjalar hingga ke pinggannya begitu juga telapak kakinya yang terasa bagaikan menginjak duri.
Hingga akhirnya Jaevan berjongkok, kernyitan hadir di mimik wajahnya menandakan ia sedang mencoba menahan segala rasa kesakitan.
"Jae ada apa?"tanya Dion yang nampak khawatir melihat Jaevan seperti itu.
Jaevan kembali berdiri "Tidak apa-apa kak" bohong Jaevan.
Tentu saja Dion tidak percaya "Serius kau tidak apa-apa? jika kau lelah istirahat saja" tanya Dion sekali lagi.
Jaevan mengangguk sembari tersenyum.
Dion kembali melanjutkan pekerjaannya sembari sesekali melihat keadaan Jaevan.
Tidak terasa waktu berjalan hingga sudah pukul 19.00 malam. Jaevan melirik jam di pergelangan tangannya.
Kling
"Apa ada banyak pelanggan yang belum pergi?" tanya Jaevan pada seluruh kariyawannya yang berada di dapur dengannya.
Kling
lagi suara lonceng pintu cafè terdengar.
"Saya lihat dulu bos" karyawannyanya pun pergi memeriksa.
tak lama dia pun kembali "masih banyak bos"
"Tolong balik papan di pintu, agar mereka tahu kita sudah tutup".
"Siap bos"
20.00 malam Jaevan baru pulang, ia lah yang paling terakhir pulang untuk mengunci pintu cafè, sedangkan Nora sudah berada di jok motor dengan jaket bulu yang tebal melilit di tubuh mungilnya.
...****************...
Bruuummm
motor Jaevan masuk ke garasi.
"Yeeee sampai" sorak Nora.
Jaevan menurun kan Nora dari motor, juga membantunya melapas helm karena Nora nampak kesulitan melepaskannya, baru setelah itu melepas helmnya.
Nora senantiasa menunggu Jaevan menutup pintu garasi "Yuk" Jaevan meraih tangan mungil Nora masuk ke dalam rumah.
"Papa papa"
"Hemmm"
Sembari membantu Nora mencuci kaki ia mendengarkan setiap celotehan dan pertanyaan Nora dengan sabar sembari membimbingnya naik ke kasur.
"Papa tadi di sekolah Haeru cerita kalau di luar angkasa itu ada alien, warna kulitnya itu hijau terus ada yang matanya satu, ada yang dua, ada yang tiga"
"wuuuu serem dong"
"Terus katanya pa mereka terbang naik piring terbang"
"Canggih dong"
"Emmmm....oh iya pa Haeru bilang dia punya mainan boneka alien Nora juga mau"
"Nora mau?"
Naora mengangguk semangat.
"Nanti deh kalau Papa ada waktu kita beli ok"
"Ok"
"Nah sekarang ayo tidur"
Nora langsung menurut memejamkan mata sembari memeluk erat boneka kesayangannya momin.
Jaevan mencubit pipi Nora gemes lalu bangkit dan pergi ke kamarnya.
Bruuukk
Sampai di kamar Jaevan langsung menjatuhkan diri di kasur, ia memejamkan mata 10 menit berdiam diri.
Tak tuk tak tuk
Jaevan kembali membuka mata dan melirik jam 21.00 malam, ia pun bangkit dan masuk ke wc.
...****************...
Baru 30 menit Nora memejam mata ia sudah membuka mata, sembari tangan nya megosok-gosok mata ia turun dari kasur menuju kamar Papanya.
Kriiiit
"Papa" panggil Nora menyembulkan kepalanya di pintu.
Ternyata papanya sudah tertidur, ia naik ke kasur masuk keselimut dan tidur di samping papanya.
Tak tuk tak tuk
Malam pun semakin larut, dimana sebagian orang mungkin sudah terlelap, namun tidak dengan Jaevan, ia terbangung dari tidur karena merasakan tubuhnya semakin tidak nyaman, kepalanya pening, seluruh badannya pun terasa sakit, menyadari Nora tidur di sampingnya ia perlahan turun dari kasur menuju wc.
Saat berdiri seketika kepalanya semakin sakit bahkan rasanya ia seperti berputar hingga langkahnya hampir saja limbung, tiba-tiba ia merasakan mual buru-buru ia masuk ke wc dan memuntahkan semua isi perutnya.
mendengar suara gaduh Nora terbangun dan mendapati papanya sudah tidak ada di sampingnya.
Uuuueekk Uuuueekk Uuuueekk
"Papa" panggil Nora.
Ia pun turun dari kasur dan menuju wc.
"PAPA KENAPA" panik Nora saat melihat papanya muntah hebat.
Kini seluruh isi perut Jaevan sudah keluar semua, ia meringis merasakan rasa nyeri di perutnya akibat muntah napasnya pun tersenggal-senggal, sedangkan Nora sudah menangis tersedu-sedu dan terus bertanya.
"Papa kenapa, papa sakit" tanyanya khawatir.
"Papa tidak apa-apa" Jaevan tersenyum lemah pada Nora.
Tanpa diduga sesuatu yang kental mengalir keluar dari hidung Jaevan, ia meraba hidungnya dan betapa terkejutnya saat mendapati warna merah darah di jarinya, cairan kental itu semakin deras keluar hingga mengotori piyamanya.
Jaevan mendongak berusaha menghentikan mimisannya, namun karena darah yang keluar terlalu banyak membuat darah mimisannya malah mengalir masuk ke tenggorokan dan menimbulkan kembali rasa mual.
...To be Countinue...