
"Teman-teman jangan berteman dengan Nora, ayo kita jauhi dia".
"Iya, kalian jangan mau berteman dengannya, aku dengar papanya masuk penjara, dia anak penjahat".
Hiiiiiii
"ITU TIDAK BENAR" Teriak Nora.
"Itu benar, kami sudah lihat beritanya di Tv".
"Iya, ibu ku saja sudah menduga kalau papa mu itu sampah".
"TIDAK"
"Iya, ibu ku juga bilang kalian seharusnya pergi saja ke tempat lain, jangan disini, kalian hanya menambah masalah saja
Kalian orang rendahan, miskin tidak jelas asal-usulnya sudah pasti berahir seperti itu, SAMPAH”
“JANGAN MENILAI PAPAKU SEMBARANGAN YA, KALIAN LAH YANG SAMPAH".
"SAMPAH".
"SAMPAH".
"SAMPAH".
Mata Nora memerah menahan amarah, "Nora jangan dengarkan mereka" Haeru yang selalu berada di samping Nora mencoba menenangkan.
"Haeru sudah kubilang jangan berteman dengannya, kau mau jadi sampah juga".
Driiiit
Nora bangkit dan memukul wajah temannya hingga hidungnya mengeluarkan darah.
Bukh
"Darah! Kau berdarah!”.
Anak yang dipukul Nora menyentuh hidungnya, dan mendapati rasa berdenyut serta darah di jarinya "HWAAAA" tangisnya pecah.
Anak lainnya merasa tidak terima temannya di pukul, mereka menjambak rambut Nora, suasana kelas pun menjadi kacau.
Haeru berlari keluar kelas menuju ruangan guru "Bu guru, ada yang berkelahi".
"APA" teriak ibu guru, ia segera berlari menuju kelas, dan melerai perkelahian.
Semua anak yang terlibat perkelahian di bawa ke kantor, dan orang tua mereka di panggil untuk datang.
"Nora, apa kau tau nomor telphon paman atau bibi mu? tanya ibu guru".
Nora menggeleng, tidak ada nomor yang ia ingat selain nomor milik papanya. Ibu guru bingung harus menghubungi siapa karena tidak mungkin ia menghubungi Jaevan yang saat ini sedang di tahan, tentu ia tidak bisa menghubungi dan memintannya datang ke sekolah.
"Sayang!" satu-persatu orang tua dari ke tiga anak datang.
"Mama" rengek mereka.
"Astaga kenapa dengan wajahmu hmmm? Sakit?”
Mereka mengangguk.
"Siapa yang memukul mu?".
" iya siapa? katakan saja jangan takut".
Ketiga anak itu menunjuk Nora.
"Oh anak ini ternyata, yang papanya di penjara itu".
"Pantas saja kelakuan mereka 11 12".
Nora menatap mereka tajam, memperlihatkan raut ketidak sukaannya pada mereka.
Lihat tatapannya, bahkan dia tidak punya rasa bersalah
“Kau tidak tau malu, bagaimana sebenarnya papamu mendidikmu?"
Ibu guru terenyuh mendengar perkataan itu, ini sudah berlebihan.
"Sebelumnya saya mohon maaf nyonya, tolong jangan lagi bicara, saya mewakili wali dari Nora memohon maaf yang sebesar-besarnya atas semua yang sudah Nora lakukan, sekali lagi maaf Ibu guru menunduk meminta maaf".
"Dasar, katakan pada walinya didik dia dengan benar atau pindah saja sekolah, aku tidak mau anak ku terganggu oleh anak seperti dia
Setelah mengatakan itu, mereka berlalu pergi begitu saja".
"Hufff" ibu guru menghelak napas lalu berjongkok di depan Nora.
"Nora lain kali jangan pukul teman mu ya, dan kalau Nora membuat kesalahan Nora harus minta maaf ya".
"Bu guru aku tidak akan membiarkan siapapun berbicara jelek tentang papa".
Ibu guru mengerjap mendengar penuturan Nora Tapi tetap saja, memukul orang itu tidak baik Nora.
"bukan akau yang memulai, mereka terus mengejek ku bu guru" tutur Nora kesal.
"Pokoknya apapun itu jangan memukul orang lagi ya" Nora menunduk sembari mengangguk.
"Maaf bu guru".
Ibu guru tersenyum, merasa kagum dengan kepribadian Nora yang sedikit tidak seperti anak-anak yang lain. Semenjak Nora kehilangan orang tuannya, ia selalu mengamati dan melihat perubahan kepribadian anak itu.
Nora yang dulu ceria seperi anak-anak pada umumnya, sekarang sedikit berbeda. Keceriaannya saat belajar dan bermain tetap sama seperti anak-anak yang lain, namun terkadang ia mendapati sikap yang tangguh pada diri Nora, ia tidak membiarkan dirinya lemah.
Kebanyakan anak seusia Nora ketika mereka melakukan kesalahan dan di marahi, mereka hanya akan menunduk takut atau menangis. Namun Nora tidak, saat wali anak yang lain memarahi dan melemparkan kata kata tajam padanya, Nora dengan berani memperlihatkan raut tidak sukannya dan mempu mengontrol emosinya untuk tidak meledak, juga tidak ingin membiarkan dirinya disalahkan.
Tidak mau mengucapkan kata maaf, karena dia tau dia benar. Tidak membiarkan ia dan papanya direndahkan, namun masih mendengar nasihat yang diberikan padanya.
"By Nora" pamit Haeru.
Nora melambaikan tangan pada Heru yang berjalan menjauh menghampiri mobilnya, mata bulatnya menatap mobil hitam Haeru hingga mobil itu tidak lagi dapat ia lihat.
Wussss
angin bertiup sedikit kencang membawa debu debu halus, debu itu menerpa wajah lucu Nora dan membuat Nora refleks memejam kan mata karena debu yang masuk ke matanya.
Ia mengucek kedua matanya menggunakan punggung tangan mungil nan berisinya.
"Nora matanya kemasukan debu?"
Tanya ibu guru yang mengajar Nora, ia membawa bahu Nora untuk menghadapnya "Sini biar ibu guru yang tiup".
Nora menurut dan menurunkan kedua tangannya.
"Hufff huufff sudah?"
Nora mengangguk.
"Siang bu" Sapa Hani yang baru saja datang untuk menjemput Nora.
"oh siang, Nyonya walinya siapa ya kalo boleh saya tahu?"
Hani tersenyum "Saya walinya Nora bu"
"Oh kebetulan sekali, apa Nyonya punya waktu sebentar?"
"Oh iya, ada apa memangnya?"
"Saya ingin membicarakan sesuatu dengan ibu, apa bisa?".
"Tentu ?"
"Kalau begitu mari ke kelas bu"
Sesampainya di dalam kelas, mereka duduk berhadapan, Ibu guru Nora menarik napas sejenak "Jadi Nyonya pagi tadi saat jam istirahat Nora berkelahi".
"Hah, berkelahi" ulang Hani terkejut.
"Iya nyonya"
"Kenapa anda tidak menelphon saya?"
"Maaf nyonya saya hanya mempunyai nomor papanya, dan Nora tidak mengingat nomor telphon nyonya karena itu saya tidak bisa menghubungi anda".
Hani mengangguk paham, "Lalu Kok bisa, tidak mungkin Nora berkelahi tanpa sebab?"
"Begini bu ceritanya, ini berhubungan dengan papanya"
Kening Hani mengkerut "Papanya?".
"Iya, teman-temannya mengejek papanya, dan Nora marah karena itu"
"Memangnya apa yang mereka katakan ?"
"Mereka bilang Papanya itu orang jahat daan sampah".
Hani menoleh menatap Nora yang sedang bermain lego di pojok ruangan, "Jujur aku justru memuji perbuatannya bu".
"Hah"
Hani pun menoleh mendengar helaan napas.
"Saya juga sependapat nyonya".
"Lalu bagaimana dengan orang tua anak anak yang berkelahi dengan nora?"
"Mereka tentu saja marah dan ingin Nora di keluarkan dari sekolah nyonya".
"Dasar seharusnya anak merekalah yang harus pergi"
Mendengar penuturan kesal Hani ibu guru hanya bisa tersenyum hambar.
"Saya minta tolong ya bu, tolong jaga Nora".
"Tentu nyonya".
"Dan ini nomorku, tolong kabari aku jika terjaji sesuatu" Hani memberikan hp nya pada ibu guru.
Ibu guru pun segera mencatat nomor hani di kontak telponnya.
"Apa masih ada sesuatu yang penting lagi?"
"Ah tidak ada lagi nyonya" ibu guru pun mengembalikan hp Hani.
"kalau begitu kami pamit pulang dulu bu"
"Iya terimakasih Nonya untuk waktunya".
"Tentu"
Mereka pun bejabat tangan.
"Nora ayo" panggil Hani dan Nora pun langsung menghampiri.
"Dah bu guru"
"Dah"
......To be Countinue......