
Beberapa waktu yang lalu...
Sungjae berniat untuk membuang sampah di tempat yang tak jauh dari minimarketnya. Namun tiga orang yang tidak dikenal dengan kasar menabrak bahunya secara sengaja.
Sungjae mengacuhkannya. Dia berjalan terus namun malah membuat tiga pria itu emosi. Dengan sekali tarikan, lengan Sungjae di tarik hingga terjatuh, tak terkecuali kantong-kantong sampahnya.
Matanya melirik kesal pada mereka. Tangannya sudah mengepal. Namun ditahannya agar tidak melayang ke wajah mereka.
Sungjae bisa saja berkelahi dengan mereka. Namun dia teringat dengan Hyeri, anaknya. Ia bangun lalu membersihkan celananya yang kotor. Sungjae memungut sampah yang berserakan. Namun saat tangannya mulai mengambil sampah-sampah tersebut. Dengan sengaja salah seorang dari pria itu menginjak tangan Sungjae.
"Arghh!" teriak Sungjae begitu tangannya diinjak dan ditekan dengan kaki mereka.
Sungjae mendongakkan wajahnya. Mendapati wajah mereka menyeringai pada Sungjae.
"Tinggalkan aku sendiri. Aku tak ingin mencari masalah," lirih Sungjae. Dan anehnya kaki mereka langsung diangkat.
Saat Sungjae mulai berdiri, tangan kekar pria itu langsung mencengkeram leher Sungjae. Memojokkannya hingga ke sudut dinding yang berada di gang yang sepi.
Sungjae masih tak tahu mengapa dirinya diperlakukan seperti itu oleh mereka. Dia mencoba berpikir apakah ia sudah memancing musuhnya atau tidak. Dan dia tidak menemukan jawabannya.
Lelaki itu sudah hidup tenang beberapa waktu ini. Hingga akhirnya Sora muncul. Ya, Sora muncul kemudian harinya berubah menjadi seperti ini. Ia yakin jika kejadian malam itu ada hubungannya dengan Sora.
Setelah kedua tangan Sungjae dipegang oleh kedua pria itu. Lelaki yang ada di hadapannya langsung melayangkan tinju bertubi-tubi. Tentu saja Sungjae tak bisa melawan. Hingga akhirnya dia terjatuh merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
Sampai bayangan Sohyun muncul untuk menyelamatkannya.
**
Sungjae mengaduh kesakitan tiap kali Sohyun menotolkan Betadine ke wajahnya. Sohyun menatapnya kasihan. Dirinya juga ikut meringis kesakitan saat melihat lelaki di depannya itu menahan rasa sakitnya.
Sungjae diam. Dia menatap wajah Sohyun dengan dekat. Entah sejak kapan, namun jantungnya mulai berdetak tak karuan tiap kali ia berdekatan dengan gadis itu.
"Jangan berkelahi lagi," ucap Sohyun pelan. Tangannya yang masih sibuk dengan obat, langsung diraih oleh Sungjae.
"Aku tidak berkelahi," lirih Sungjae.
Sohyun langsung menatap mata Sungjae. Ia menemukan sebuah kejujuran dari sana.
"Aku serius," tambahnya.
Sohyun mengangguk. "Untuk kali ini aku percaya," ucap Sohyun sambil tersenyum. Dia membereskan obat yang baru dibelinya tadi.
Di sisi lain. Sepasang mata memandang Sohyun dan Sungjae di meja kasirnya. Dia yang berdiri di sana untuk menggantikan Sungjae sementara.
"Kalian sudah selesai belum!!" teriak Soobin dari mejanya. Dia protes ketika melihat temannya itu malah berduaan dengan Sohyun.
"Aku akan pulang sekarang," pamit Sohyun pada Sungjae tapi tidak pada Soobin.
Soobin berdecak kesal melihat kelakuan Sohyun. Mengapa perasaannya begitu berubah cepat padanya?
Sungjae tersenyum meledek Soobin. "Kamu yakin kalau dia menyukaimu?" tanya Sungjae berjalan menghampiri Soobin.
"Tentu saja!" jawab Soobin yakin dalam bibirnya. Tapi tidak dalam hatinya. Ia merasa dipermainkan oleh Sohyun dengan ucapannya tadi siang.
"Hei!" panggil Soobin pada Sungjae. "Siapa yang memukulimu?" tanya Soobin kemudian.
Sungjae menaikkan kedua bahunya. Ia tak mengatakan pada Soobin. Sungjae sengaja.