Young Papa

Young Papa
Empat



Sungjae Pov


Soobin menemuiku usai pulang sekolah di minimarket tempatku bekerja. Ia membawakanku semua buku pelajaran fisika yang ia punya. Orangtuanya kaya, jadi tak heran jika Soobin memiliki segala yang ia butuhkan.


Setelah aku memberitahukan tentang hal perlombaan fisika tersebut. Soobin langsung bersemangat dan ingin membantuku. Bahkan ia menyarankanku agar masuk ke tempat lesnya dan ia yang akan membayarnya. Namun aku menolaknya dengan halus. Bagaimana bisa aku menerima bantuan dari dia secara cuma-cuma?


" Kau tak merasa tersaingi saat melihat aku berada di rangking satu?" tanyaku, aku memberikan air mineral dingin padanya.


Dia tersenyum hingga ada sebuah lesung pipi muncul di pipinya.


" Berada di nomer dua tak buruk juga kan?" Soobin duduk di sebuah bangku menghadap ke jalan raya yang cukup ramai. Ia membuka ramen cup-nya yang dirasa sudah matang.


Soobin anak orang kaya namun kurang kasih sayang dari orangtuanya. Ayah dan ibunya sudah bercerai. Namun ayahnya masih tetap memberikannya uang saku bulanan yang jumlahnya dua kali lipat dari gajiku disini.


Ibunya sibuk bekerja, ia hanya bisa melihat ibunya lewat televisi. Karena ibunya adalah seorang pembawa berita senior di sebuah stasiun tv.


" Lain kali datanglah ke rumahku. Ajak Hyeri juga." Ia sudah menghabiskan mie nya.


" Kau lapar??" tanyaku.


Ia mengangguk.


" Nanti saja setelah pulang les datanglah ke rumahku. Ibuku akan memasakkanmu masakan rumahan. Aku selalu melihatmu makan mie setiap hari."


" Aku cukup senang dengan perhatian darimu."


" Yya?! Semua gadis menyukaimu dan jika kau mau pasti mereka bisa membawakanmu bekal setiap hari."


" Aku tak menginginkannya. Mereka semua palsu. "


Aku memandangnya dari tempat kasir. Matanya mengawang jauh. Dari lubuk hatinya ia merasa sangat kesepian. Ia selalu menipuku dengan senyuman dan mengatakan baik-baik saja. Padahal kenyataannya dia mungkin lebih menderita daripada aku.


" Sora nuna?!!" gumam Soobin.


*nuna sebutan kakak perempuan.


" Ada apa?" tanyaku ia menggumamkan sebuah nama yang selama ini lama tak kudengar.


" Bagaimana jika ia kembali ke Korea dan ingin bertemu denganmu," ucap Soobin tiba-tiba.


Aku hanya diam dan teringat kembali masa kelam yang ku lalui karena gadis yang sangat aku sukai itu.


Ia menghilang tanpa jejak setelah kejadian itu. Aku tak tau ia dimana sekarang. Mungkin dia sekarang sedang kuliah di luar negeri atau menikah dengan Jung Woon.


Jika ia kembali lagi dan berdiri di hadapanku. Aku akan lebih memilih untuk berpura-pura tidak mengenalinya.


" Kau masih menyukainya?" tanya Soobin lagi.


Perasaan suka ku terhadapnya sudah lenyap ketika ia pergi meninggalkan Hyeri padaku. Bagaimana bisa ia tega meninggalkan gadis kecil yang lucu dan tak berdosa itu sendirian di depan pintu rumahku.


Aku sadar jika dulu aku menyukainya karena wajah cantiknya. Namun jika aku kembali membayangkan bagaimana sifat aslinya. Mungkin aku tak akan pernah jatuh hati padanya.


" Suka?! Tidak. Aku sudah tidak menyukainya."


" Dan sejak saat itu kau tidak pernah menyukai gadis lagi. Apakah kau trauma?"


" Tidak ada waktu untuk menyukai seorang gadis. Lagipula, dengan keadaanku yang seperti ini mana ada yang mau menerimaku?"


Soobin meneguk air di botol hingga habis dan menatapku dengan cemas.


" Setelah diberi syarat seperti itu. Ku mohon jangan berkelahi lagi. Apalagi di sekolah. Kau tahu kan konsekuensinya jika kau ketauan berkelahi lagi? "


" Jika mereka tidak menghina Hyeri aku tak akan pernah memukul mereka. Mereka boleh menghinaku tapi jangan Hyeri."


Soobin menatapku, ia seperti baru pertama kali mendengarkan alasanku yang seperti ini.


Mungkin orang lain mengira jika aku berkelahi karena kemauanku. Atau aku yang hobi berkelahi. Namun mereka salah. Anak-anak berandalan itu selalu menghina Hyeri di depanku. Bahkan ia berani melecehkan anak kecil yang tidak tau apa-apa itu. Bagaimana mungkin aku hanya diam dan mendengarkan omong kosong mereka.


"Maaf aku tidak tahu." Wajah Soobin berubah, ia sekarang nampak bersalah.


" Tak apa-apa. Kau tak tau karena aku tidak pernah bilang padamu."


***


So Hyun Pov


Aku membuka instagram dan mencoba mencari nama akun Soobin. Karena pasti mereka saling berteman. Jika aku mencari nama Sungjae langsung mungkin itu sulit.


Yang di follow Soobin hanya dua puluh orang. Sedang followersnya sudah mencapai hampir sepuluh ribu. Termasuk populer untuk ukuran dia yang non selebriti.


Aku menahan tawaku. Akun instagramnya mencerminkan siapa yang memiliki dibaliknya. Sangat simple bahkan tak ada satupun postingan foto apapun disana.


Lalu aku beralih ke akun Soobin. Dia seperti seorang Ulzzang. Lalu ada satu foto yang sangat unik. Ia berfoto dengan Sungjae ia tersenyum kecil memegang gelas kopi di tangannya.


Ulzzang sebuah istilah populer Korea Selatan yang secara harfiah berarti "wajah terbaik" atau "tampan/cantik". Seseorang yang menginginkan status ulzzang bisa saja meraih popularitas di internet melalui kontes umum, biasanya foto mereka akan dinilai dan dipilih oleh pemilik hak suara. Tren ini umum dilakukan di antara pria dan wanita


Sungjae sebenarnya dia juga tampan seperti Soobin. Namun sepertinya ia orang yang tertutup dan enggan memamerkan pesonanya pada orang di sekitarnya. Bahkan aku melihat beberapa komentar memuji Sungjae.


Aku ingin memfollow Soobin namun ragu. Lalu aku hanya men-scroolnya hingga bawah. Berharap menemukan sesuatu yang aku cari dari kemarin, yaitu anak Sungjae.


*


Setelah tak menemukan apa-apa akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke tempat Sungjae bekerja. Tak ada niatan untuk menemuinya aku ke sana karena ingin membeli kebutuhan bulananku. Walaupun sangat memalukan tapi aku sangat membutuhkannya saat ini.


" Eomma stok pembalut kita habis???" tanyaku mencari di sebuah rak tempat biasa aku menyimpan pembalut.


" Iya sudah habis."


" Ahhh ... aku malas turun untuk membelinya."


" Kau ini, minimarket kan dekat. Tinggal jalan sepuluh menit juga sampai."


" Bukan seperti itu ... masalahnya temanku yang sedang jaga di minimarket itu."


" Laki-laki?"


Aku mengangguk.


" Oh anak laki-laki yang ganteng itu ya," ucap ibuku, apakah yang ia maksud adalah Sungjae??


"Biasa saja. Dia malahan teman sebangkuku."


Aku tak tahu apa reaksi ibuku jika mengetahui jika Sungjae sudah memiliki seorang anak. Mungkin dia tak akan memujinya seperti ini.


Dengan terpaksa akhirnya aku membeli pembalut di minimarket Sungjae. Aku melihat Soobin disana, ia sepertinya sedang belajar bersama Sungjae. Dua pemandangan langka hingga membuat minimarket Sungjae penuh dengan gadis-gadis. Padahal biasanya tak sepenuh ini. Sepertinya mereka hanya ingin melihat Soobin.



" Hei anak baru!!" Soobin menyapaku, tangannya melambai dan aku membalasnya canggung.


" Pasti kau juga kesini karena setelah melihat postinganku di instagram kan?" tanyanya lagi dengan penuh percaya diri.


Aku menautkan alisku. Jadi gadis-gadis itu langsung datang setelah Soobin memposting foto dirinya??


Tanpa berpikir panjang aku langsung mengambil pembalut dan memberikannya pada Sungjae agar segera dibarcode. Ekspresi yang sudah aku bayangkan sebelumnya. Ia hanya menyapa layaknya kasir pada pelanggan. Sungjae memberikanku kantong hitam untuk membungkus pembalut tersebut.


Aku mengucapkan terimakasih lalu pergi, namun Soobin memanggilku dan sedikit tertawa.



" Waeee??!!!" Aku menaikkan nadaku karena mungkin juga sedang sensitif hari ini.


Soobin dengan cepat membalik badanku dan matanya menunjuk pada celanaku yang terdapat noda darah. Aku terkejut melihatnya karena tidak sadar jika akan tembus hingga sebanyak itu.


Sungjae melihatku yang sedang kebingungan. Memang jarak rumah dan minimarket dekat tapi sangat memalukan karena aku harus berjalan melewati jalan raya.


Ia lalu berjalan ke arahku dan memberikanku jaket miliknya.


"Tutupi dengan itu." Sungjae berbicara tanpa menatapku.


" Terimakasih tapi aku tak..."


" Setelah pinjam cuci lalu kembalikan padaku."



Sungjae lalu tak mendengarkan kalimat penolakanku. Setelah mengucapkan terimakasih padanya aku langsung memakainya untuk menutupi bagian belakangku.


Gadis yang ada disana berbisik-bisik padaku hingga membuatku tak nyaman.


" Terimakasih," ucapku pelan yang tak bisa didengar oleh Sungjae.


Aku melihat bayangannya di balik pintu minimarket sedang melihatku dari tempat kasirnya.


Jangan lupa klik like dan favorit ya untuk mendukung author❤️ Terimakasih


Jangan lupa untuk membaca novelku Berbagi Kekasih yaa