Young Papa

Young Papa
Dua



Sungjae Pov


Sepertinya sebentar lagi aku harus meninggalkan sekolah ini. Berita tentangku yang sudah memiliki seorang anak mungkin seluruh sekolah sudah mengetahuinya. Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Jika aku harus pindah sekolah lagi, bagaimana dengan nasib Hyeri? Aku tak mungkin meninggalkannya pada ibuku. Karena sudah banyak menderita karena ku.


Ibuku meneleponku jika Hyeri suhu badannya tiba-tiba panas. Ia menangis dan mencari ku, aku harus segera pulang entah bagaimanapun caranya. Aku tak bisa melihatnya terus menangis.


" Aku akan pulang sekarang," ucapku pada ibuku, aku mengemasi buku-buku ku kedalam tas dan segera bergegas pergi.


" Kau mau kemana?" tanya Soobin, ketua kelas sekaligus teman dekatku di sekolah ini.


" Aku akan pulang. Ada urusan sebentar."


" Yya?!! Aku harus mengatakan apa pada guru nanti?"



" Tolong aku sekali ini saja." aku memohon pada Soobin agar dia membantuku kali ini.


Walaupun aku sudah sering merepotkannnya. Tapi Soobin akan tetap membantu walau awalnya dia tampak mengeluh.


" Sebagai gantinya aku akan ke rumahmu nanti sepulang sekolah."


Aku mengangguk, lalu keluar dari kelas dan bergegas menuju rumah.


**


Hyeri sedang dalam pangkuan ibuku. Pipinya yang basah karena terus menangis. Ibuku mengatakan jika Hyeri mencariku sesaat setelah ia bangun tidur. Dan ketika melihatku tak ada ia menangis hingga badannya demam.


" Sudah tenang?!" tanyaku pada ibuku.



Dia mengangguk ia memberiku kode agar tidak berisik. Hyeri sedang rewel rupanya. Aku lalu menggendongnya dan membawanya ke dalam kamarku.


Aku berbaring di sampingnya dan membelai lembut keningnya. Melihatnya seperti ini membuatku merasa semakin bersalah padanya. Ia tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu sejak ia masih kecil. Dan sekarang, ia juga jarang bertemu denganku karena jadwal sekolah dan pekerjaan sampinganku.


Aku harus bekerja karena ibuku hanya seorang pegawai di sebuah restoran galbi di sekitar rumah. Meskipun ibuku masih memiliki uang pensiunan dari ayahku. Namun itu tidak akan cukup untuk menghidupi kami berempat. Aku masih memiliki adik, dia setahun di bawahku. Ia juga terpaksa harus bekerja paruh waktu untuk membantu perekonomian keluarga ini.


Pintu terbuka pelan, kepala ibuku sedikit menyembul dari baliknya "Ibu berangkat kerja sekarang ya? Agar nanti bisa pulang sore," bisiknya.


Aku mengangguk.


Ku ambil selimut untuk menyelimuti Hyeri. Lalu aku mulai membuka buku pelajaran yang seharusnya aku pelajari hari ini. Aku akan belajar sendiri dirumah. Dan meminjam catatan dari Soobin nanti saat ia datang kesini.


**


So Hyun Pov


Jiwa stalking ku bergejolak. Ada rasa ingin tau tentang Sungjae cowok misterius yang sedang menjadi perbincangan hangat di sekolah ini.


Aku sedikit menguping pembicaraan anak-anak lain. Aku terkejut ketika mendengar jika Sungjae adalah anak dengan peringkat satu di kelas ini disusul oleh ketua kelas yaitu Choi Soobin. Meskipun ia nakal dan suka berkelahi, namun ia sangat pintar dikelas ini.


Kelas mendadak sunyi begitu Sungjae masuk. Mata Sungjae berkeliling melihat sekitar dan mengawasi. Semua tertunduk seperti ada macam rasa takut padanya.


Jika mereka takut kenapa mereka membicarakan hal-hal buruk mengenai Sungjae???


" Ini catatan dari kau kemarin. Terima kasih." Sungjae menyerahkan buku catatan itu pada Soobin.


Dia dekat dengan Soobin ternyata. Dia tersenyum pada Soobin?! Cowok yang ku pikir seperti kanebo kering itu bisa tersenyum? Wah, daebak?!!


Lalu ia menarik kursinya dan duduk di samping ku. Baru saja aku ingin menyapanya namun ia sudah menolakku.


" Tak ada pertanyaan hari ini," ucapnya santai sambil mengeluarkan buku-buku ditasnya


Soobin menghampiri bangku kami lalu duduk di bangku tepat didepanku.


" Mulai hari ini aku akan duduk disini," ucapnya, namun aku tak tau pada siapa ia berkata dan aku berpura-pura tidak mendengarnya.


" Pulang sekolah aku ke rumahmu ya?" tanya Soobin, aku yang wanita sendiri disini merasa tidak berarti apa-apa didepan mereka.


" Aku kan harus bekerja."


"Baiklah aku akan mampir kesana. Kita belajar disana."


Lalu obrolan itu berakhir ketika guru masuk ke dalam ruangan. Pelajaran pertama kami adalah menggambar. Pelajaran yang sama sekali tidak pernah aku sukai karena aku memang tak ada bakat untuk menggambar.


Guru kesenian tersebut menyuruh kami membuat kelompok yang terdiri dari tiga atau empat orang. Untuk menggambar diri kami masing-masing dengan background pemandangan di sekolah.


Soobin tentu saja tersenyum senang karena pasti dia akan memilih Sungjae masuk dalam kelompoknya. Lalu murid cewek yang lain mengerubungi bangku Soobin memintanya agar memasukkan mereka di kelompoknya.


" Tapi aku sudah dengan Sungjae dan anak baru," ucapnya dan murid lain mengeluh kecewa.


" Aku?!!!" Aku menunjuk diriku sendiri dengan ujung telunjukku.


" Hemm?!!" Soobin tersenyum lalu mengangguk.


Sungjae meninggalkan kelas duluan disusul oleh Soobin dan aku, setelah Soobin memanggilku karena tak lekas menyusul mereka.


" Beruntung sekali sih anak baru itu?!" Aku mendengar kalimat itu dilontarkan padaku.


***


Tugas menggambar kali ini adalah menggambar pasangan. Jadi aku harus menggambar Soobin dan Sungjae, kemudian Sungjae akan menggambarku dengan Soobin. Begitu pula sebaliknya Soobin akan menggambar aku dengan Sungjae.


Aku yang sama sekali tidak bisa menggambar tiba-tiba ditertawakan oleh Soobin saat ia melihat gambar buatanku.


"Apakah ini aku dan Sungjae??? Wahhhh?? Kau pandai membuat karikatur," ledeknya.


Sungjae seperti biasa memasang wajah datarnya didepanku.


Aku tak bisa berkomentar apa-apa karena lukisannya begitu bagus dan nampak nyata. Seperti pelukis profesional. Tak heran jika Soobin memilihnya.


Mengenai Soobin sebenarnya dia tak jauh berbeda dengan hasil gambaranku. Malah menurutku lebih bagus milikku.


" Ini?? Gambar kami berdua?" Aku menunjuk gambar yang wujudnya pun sangat abstrak.


" Iya. Bagus kan?"


Alisku bertaut tak mengerti dengan maksud gambaran Soobin tersebut. Namun setidaknya dia nampak manusiawi karena ada satu kelemahan dalam pelajarannya yaitu kesenian.


Seorang murid berlari ke arah kami dengan nafas terengah-engah. Ia memberitau jika Sungjae dipanggil oleh kepala sekolah.


Soobin menatap Sungjae cemas.


"Mau ku temani? Jika ini soal kau bolos kemarin aku akan membelamu."


" Tak usah. Paling seperti biasa di omeli olehnya kalau tidak di skors seperti biasanya." ucapannya yang begitu santai seakan jika ia tak memperdulikan sekolahnya.


Sungjae menyerahkan hasil gambarannya pada Soobin.


Aku menatap Soobin, seakan ia tau apa yang ingin kutanyakan.


" Kau pasti sudah mendengar desas desus itu ya?!"


" Heh?!!"


" Jika kau ingin tau lebih baik tanyakan langsung pada Sungjae. Terkadang cerita dari orang lain bisa saja dilebih-lebihkan." Soobin mengambil hasil tugas menggambarku.


" Bantu aku mengambil hasil tugas dari anak-anak lain. Aku akan mengantarkannya ke ruang guru."


Aku mengangguk lalu mengikuti Soobin dibelakangnya. Ku lihat Sungjae berjalan seperti tidak ada beban dalam pikirannya. Namun aku tak akan pernah tau apa yang ia rasakan saat ini.


Jangan lupa klik like dan favorit ya😘