
Sungjae Pov
Aku sudah terbiasa dengan panggilan dari kepala sekolah. Ia selalu memanggilku bahkan saat aku terkena masalah yang bisa dibilang masih sepele. Kali ini apalagi hukuman yang harus aku terima. Dari berlari mengelilingi lapangan hingga skors seminggu sudah pernah aku jalani.
Aku mengambil napas dalam sebelum mengetuk. Lalu aku membuka pintu ketika pemilik ruangan tersebut menyuruhku masuk. Ada Seunggi Saem juga disana rupanya. Ia menatapku tak seperti biasanya.
" Duduk sini." Kepala sekolah menyuruhku duduk tepat di depannya.
"Kau tau kenapa kau dipanggil kesini?" tanyanya, aku menggelengkan kepalaku.
Lalu tak lama seorang guru fisika masuk dan ikut duduk bersama kami.
" Aku tau kau banyak menyebabkan masalah di sekolah ini. Dari membolos, berkelahi hingga sekarang kau dikabarkan sudah memiliki seorang anak."
Kalimat terakhir membuatku terperanjat. Mengapa berita itu cepat sekali menyebar? Ku lihat Seunggi Saem juga terkejut padaku. Ia mungkin tak menyangka jika akan mendengar kabar ini dari orang lain.
" Tapi, aku juga mendengar jika semua nilaimu bagus. Bahkan kau juara pertama di sekolah," ucapnya lagi.
Lalu guru fisika, yaitu guru Kim memberikanku sebuah formulir. Aku membacanya dengan seksama. Awalnya ku pikir mungkin itu adalah surat pernyataan agar aku di skors lagi. Namun tidak.
" Jika kau bisa memenangkan lomba fisika tersebut dan bisa membawa nama sekolahmu ini ke skala nasional. Aku akan membiarkanmu bersekolah disini. Tapi jika tidak, aku akan mengeluarkanmu karena kau terlalu membuat banyak masalah di sekolah. Itu adalah penawaranku yang terakhir. " kepala sekolah berdiri dan Seunggi Saem mencoba untuk membujuknya agar ia bisa bersikap lebih lunak padaku.
" Tapi gyojang swonsaengnim??? " *kepala sekolah.
" Kau tak usah lagi membelanya."
Lalu ia berjalan menuju ruangan pribadinya.
" Bagaimana?? Apakah kau bisa??" tanya Seunggi Saem padaku.
Aku mengamati formulir itu dan dengan yakin mengisinya.
" Saem, aku akan ikut," ucapku yakin.
" Aku akan membantumu." Guru Kim memberikanku dukungan.
Aku harus berhasil memenangkan lomba ini. Aku tak peduli dengan gosip-gosip yang sudah menyebar namun aku harus tetap bersekolah demi Hyeri. Karena aku tak mau melihatnya suatu saat nanti Hyeri memiliki seorang ayah yang putus sekolah.
***
" Kau tak apa-apa?" tanya Soobin begitu melihatku sampai di tempat dudukku.
Aku mengangguk.
" Aku akan ke atap sebentar. Jika Seunggi saem menanyakanku bilang saja jika aku sedang di UKS."
Soobin tanpa banyak bertanya mengangguk mengerti.
Selama ini hanya dia teman yang masih mau berteman bahkan dekat denganku. Kami berdua berteman sejak kelas satu SMP. Hanya dia yang tau kisah sebenarnya tentang aku dan mamanya Hyeri
Empat tahun yang lalu...
Aku menyukai seorang gadis, ia lebih tua dariku. Saat aku kelas tiga smp dia sudah kelas tiga SMA. Dia sangat cantik, namanya adalah Sora, Lee Sora.
Tak hanya cantik ia juga anak orang kaya. Ayahnya saat itu memiliki perusahaan taksi di Seoul. Perbedaan yang sangat jauh itu membuatku hanya bisa menatapnya dari jauh.
Ia sering tersenyum bahkan menyapaku saat melihatnya atau sekedar berpapasan dengannya. Hingga suatu ketika aku mengetahui jika dia sudah memiliki seorang kekasih. Kekasihnya seorang ketua geng di sekolahnya. Waktu itu aku tak punya alasan apa-apa untuk mempertahankan perasaanku ini padanya.
Aku diberi petunjuk jika ia sedang di sekap di sebuah gudang tua belakang sekolahnya. Namun setelah sampai sana, aku melihat ia sedang bersama dengan Jung Woon yang tidak lain adalah kekasihnya dan beberapa teman gengnya.
Tanpa diberi kesempatan lalu aku dipukuli dan dicekoki beberapa gelas minuman yang membuatku tak sadar.
Sebelum aku tak sadar, ku mendengar Jung Woon mengatakan jika ia tak menyukai jika gadisnya disukai oleh orang lain apalagi disukai oleh laki-laki miskin sepertiku.
Sampai keesokan paginya, aku tersadar dan melihat aku sudah berada diatas ranjang. Tubuhku telanjang tanpa mengenakan sehelai benangpun. Hanya selimut tebal menutupiku. Semua pertanyaanku terjawab begitu aku mendengar Sora menangis dibalik selimutnya.
Aku mengenakan kaos dan celana yang sudah berserakan di lantai. Kemudian aku mendekati Sora yang sangat ketakutan.
" Nuna... Kau... Tak apa-apa?!" tanyaku gugup.
Ia mulai menutup rapat tubuhnya dan aku mengambilkan beberapa baju miliknya yang juga berserakan di lantai.
Tangisnya semakin pecah ketika aku menyentuh selimutnya.
" Jangan dekati aku!!!" pekiknya.
Aku terkejut, aku tak ingat apa yang sudah ku lakukan padanya hingga ia menjadi seperti itu.
" Ada apa???" tanyaku lagi.
" Semalam... Kau tak ingat apa yang sudah kau lakukan padaku???"
Aku mulai berpikir dan mengingat apa yang sudah aku lakukan padanya. Namun aku benar-benar tak bisa mengingatnya. Aku hanya ingat jika aku dipukul dan dicekoki beberapa minuman hingga semua nampak gelap.
" Kau tak ingat jika sudah meniduriku semalam hah!"
Menidurinya? Semalam? Bahkan aku tak ingat bagaimana bisa aku tidur di atas ranjang ini.
Lalu tak lama kemudian terdengar suara pintu di dobrak. Seorang pria paruh baya menatapku tajam. Ia melayangkan tinjunya ke wajahku yang mengenai pelipisku hingga darah segar mengucur.
Aku masih mencoba membaca keadaan saat itu. Namun belum sempat aku membela diri. Aku sudah di jebloskan di penjara anak. Aku di penjara selama sembilan bulan. Mengingat aku masih dibawah umur. Namun aku harus masih melakukan pelayanan masyarakat hingga dua tahun penuh.
Kabar Sora aku tak pernah mendengarnya lagi. Hingga suatu hari, ada seorang yang meletakkan seorang bayi yang cantik di depan pintu rumahku. Tertulis di sana jika dia adalah anakku dan aku harus menanggung dosa itu dengan merawatnya.
Lalu sejak saat itu aku menjadi papa muda untuk Hyeri.
Ibuku menyarankanku agar melakukan tes DNA. Namun aku menolaknya karena aku menyukai Hyeri saat pertama kali melihatnya. Melihat Hyeri seperti melihat Sora waktu itu. Aku takut jika kenyataannya dia adalah benar anakku. Dan aku juga takut jika Hyeri bukanlah anakku. Aku harus bagaimana ketika aku sudah menyukai anak itu sejak pertama kali bertemu???
Dan setelah aku fokus pada Hyeri. Aku tak pernah ingin mencari tau tentang Sora. Meskipun aku sangat ingin tau apa yang sebenarnya terjadi malam itu.
" Ini---" Suara anak baru itu mengejutkanku.
Ia menyerahkan sebuah buku pelajaran fisika.
" Dari guru Kim," ucapnya lagi.
Aku menerimanya tanpa mengucapkan terimakasih padanya. Mungkin aku terlihat kasar. Tapi aku hanya tak ingin dekat dengan wanita untuk saat ini. Aku tak ingin dijebak oleh perasaan lagi dan membuatku seperti orang bodoh seperti dulu.
Ia berjalan menuju pintu tanpa mengatakan apapun padaku. Mulutku seakan ingin mengatakan sesuatu. Tapi sangat berat.
" Terimakasih." Ucapan itu akhirnya keluar saat ia sudah menghilang dibalik pintu.
Klik like jika kalian menyukai cerita ini. Jangan lupa untuk membaca fan fiction aku lainnya yang berjudul My Boyfriend Having Affairs 😊❤️