
"Jae aku harap kita nanti bisa bertemu dan nongkrong bersama".
Jaevan mengangguk dan bersalaman dengan Erga.
"Jaga kesehatan mu" Erga menepuk bahu Jaevan.
Selesai berpamitan dengan Erga, Jaevan berbalik dan di depannya Zen dan Kerel berdiri.
"Jangan lupa dengan kami, ingat kita pernah berada di sel yang sama" Zen mencoba menahan air matanya. mereka bertiga pun saling bersalaman, tidak cukup sampai di situ Zen dan Kerel juga bergantian memeluk Jaevan.
Aku senang bisa mengenal kalian Jaevan memandang satu-persatu teman selama ia berada di tahanan "Jaga kesehatan kalian"
Mereka semua mengangguk.
Jaevan mundur lima langkah melambaikan tangan, lalu berbalik berjalan keluar gedung tahanan.
Sebelum itu, terlebih dahulu ia mengambil barang miliknya yang di sita, mengganti baju tahanan yang ia kenakan dengan seragam sekolah saat dirinya di tangkap. Jaevan mengaktifkan hpnya dan langsung memesan taksi menggunakan aplikasi.
3 menit kemudian taksi yang Jaevan pesan sudah sampai. Mobil melaju meninggalkan rumah tahanan, selama di perjalanan Jaevan memandang pemandangan kota, sudah lama rasanya ia tidak melihat pemandangan di depannya.
Ia pulang kerumah tanpa memberi kabar seorang pun, ia sengaja melakukannya karena ia tidak ingin merepotkan siapapun selama ia sendiri masih bisa mengusahakannnya.
1 jam sudah berlalu, kini mobil yang ditumpanginya akhirnya sampai di depan gerbang sekolah taman kanak-anak. Ia turun dari mobil dan segera membayar jasa taksi.
ia berbalik berjalan masuk ke gedung sekolah, duduk di bangku sembari menunggu Nora keluar dari kelasnya.
...**********...
Drttttttt drrrttt drrrrr
"Iya Halo“ Hani mengapit hp di telinganya, sembari sibuk memasukkan barang-barang ke tas.
"Halo bi, ini Jaevan".
Hani mematung sejenak "Jaevan! Nak, kamu sudah keluar?".
"Iya bi, ini aku sekarang berada di sekolahan Nora".
"Benarkah, bibi baru saja mau pergi menjemput Nora".
"Ya sudah tunggu ya, bibi jemput".
"Tidak perlu bi, kami pulang sendiri saja, terima kasih sebelumnya".
"Ya sudah kalau kamu mau nya gitu, hati-hati dijalan ya".
"Iya bi, terimakasih bi"
"Sama-sama"
Tut
...**********...
Nora baru saja menyelesaikan harinya disekolah,ia keluar dari kelas, berbeda dengan anak-anak yang lain yang berlarian girang menghampiri orang tua masing-masing, Nora berjalan sendiri dengan kepala tertunduk.
Di luar, Jaevan baru saja mengakhiri panggilan telephon, ia memasukkan hpnya ke saku celana dan mencari keberadaan Nora, matanya ia edarkan mencari sosok putri cantiknya.
bibirnya tertarik membentuk lengkungan inda saat sosok cantik itu nampak di matanya, bahkan mata yang akhir-akhir ini menatap tajam namun sayu kini melengkung indah seperti senyumnya "Nora"panggil Jaevan.
Mendengar namanya dipanggil, Nora mengangkat kepalanya. Ia berhenti, mencari suara yang ia kenal sekaligus ia rindukan.
'Papa' gumam Nora sedikit tidak yakin.
"Nora" panggil Jaevan sekali lagi.
Nora terkejut sekaligus bahagia melihat sosok yang kini berdiri sambil melambaikan tangan "PAPA" Nora berlari sekuat tenaga menghampiri Jaevan.
Jaevan berjongkok sembari merentangkan tangannya lebar-lebar.
Brug
"Papa hiks" tangis Nora dalam dekapan erat Jaevan.
"Iya sayang ini papa Jaevan" mengelus punggung, kepala Nora juga menciumi kepala Nora.
Nora melepas pelukan Jaevan, menatap Jaevan lekat-lekat "Ini papa kan? " tanyanya memastikan. Nora menyentuh pipi Jaevan, memastikan yang ada di hadapannya ini memang nyata papanya.
Jaevan mengangguk, ia menghapus jejak air mata yang membasahi pipi putih Nora.
Sadar situasi, mereka kini mengundang perhatian banyak orang "Pulang yuk" ajak nya.
Nora mengangguk.
Jaevan tersenyum lalu berdiri menggandeng tangan Nora.
Beruntung, bus kebetulan berhenti di halte depan sekolah. Jaevan mempercepat langkahnya agar tidak tertinggal naik. Jaevan duduk di bangku tengah memangku Nora.
Sudah di katakan bukan bahwasanya saat menjemput Nora mereka menarik banyak perhatian, dan situasi yang sama pun juga saat ini terjadi, situasi memang nampak biasa, orang-orang sibuk dengan urusan mereka namun sebenarnya sejak Jaevan masuk ke dalam bus pasang pasang mata melirik penasaran akan dirinya.
...**********...
Cklek
"yey" Nora berlari riang masuk ke rumah, ia naik sofa di ruang tamu dan melompat-lompat.
"Awas jatuh!" Jaevan memperingati.
Mendengar peringatan Jaevan tentu Nora berhenti melompat, ia duduk di sofa sembari sibuk membuka tasnya dan mengeluarkan toga yang tadi ia dapat di sekolah.
"Papa besok aku wisuda loh" tangan mungilnya begitu antusias merobek pelastik yang membungjus toga barunya, matanya berbinar lucu memandangi toga yang ia bentangkan dan lekas memakainya.
"Benarkah?" tanya Jaevan yang ikut duduk di sofa.
Melihat Nora yang bingung bagaimana cara memakai toga, Jaevan mengambil alih toga dari tangan Nora dan membantu memakaikannya, "Sudah".
Nora menoleh kesamping melihat pantulan dirinya di layar Tv, ia berputar-putar memamerkan penampilannya pada Jaevan
"Pa apa aku cocok memakainya?”
"Emmm Nora cocok sekali, nah sekarang ini topinya" Jaevan memasangkan topi dikepala Nora, "Ini ibu guru yang kasih?".
Nora menggeleng "Ini Nora yang beli papa".
ĹNora yang beli? memangnya Nora punya uang?".
Jaevan tersentum "Pintar banget sih anak papa" ia mencubit pipi Nora gemes.
"Hehehehe".
...**********...
Kini hari sudah malam, Jaevan mematikan lampu-lampu dan naik ke atas "Nora sudah sikat gigi, cuci kaki?"
Nora mengangguk.
Jaevan meletakan gelas di nakas samping kasur Nora dan ikut berbaring bersama Nora. Ia menyelimuti dirinya dan Nora, membawa Nora ke peluknnya dan menepuk-nepuk pelan punggung Nora.
Nora menatap Jaevan lekat, ia hendak mengatakan sesuatu pada Jaevan Papa
"Hmmm" Jaevan menatap Nora bertanya.
Namun Nora merasa ragu ia diam dan malah memeluk Jaevan.
"Papa boleh kita pindah saja dari sini" Nora akhirnya bersuara.
Jaevan tertegun mendengar perkataan Nora, "Ada apa sayang, bisa cerita ke papa kenapa Nora berpikir begitu?".
"Papa selama papa tidak pulang, banyak orang-orang aneh yang datang ke rumah, mereka pernah tengah malam mengubur sesuatu di depan rumah pa, kadang ada yang sengaja melempar telur ke jendela, bahkan pernah melempar batu sampai jendela nya pecah" Nora bercerita pada Jaevan dengan air mata berlinang "Nora takut".
Jaevan menghapus air mata Nora dan memeluknya erat, mengelus kepala Nora dan mencium pucuk kepalanya "Papa minta maaf ya, maaf papa tidak bisa menjaga dan menemani Nora" mata Jaevan mulai berkaca-kaca, dan setetes air mata lolos dari matanya,
"Ususus dah Nora tidur ya sekarang!" Jaevan kembali menepuk-nepuk pelan punggung Nora.
Nora mengangguk, Ia pun memejamkan matanya dan tertidur dalam pelukan Jaevan. Jaevan melihat ke jendela di sana terdapat lobang, kaca jendela kamar Nora pecah yang pasti akibat dari lemparan batu yang tadi Nora ceritakan. Ia mengamati Nora yang sedang tertidur "maaf papa sudah membiarkanmu ketakutan seperti ini sayang" gumam Jaevan, Tidak lama Jaevan yang juga mulai mengantuk dan akhirnya tidur juga.
Klek klek klekklek kelek
Samar-samar terdengar suara pintu.
"HEI SIAPA KALIAN PERGI SANA"
Terdengar suara teriakan dari luar rumah, Jaevan yang mendengarnya terbangun dan segera bangun untuk melihat apa yang terjadi.
Dari jendela kamar Nora, Jaevan melihat Rey berada di depan rumah berdiri sambari berkecak pinggang, dan juga mobil hitam yang melaju pergi.
Jaevan segera turun kebawah, saat ia membuka pintu, ada sekotak box di depannya.
"Jaevan" panggil Rey.
"Iya paman".
"Jangan lupa kunci rumah mu rapat-rapat sebelum tidur!".
"Iya paman".
"Ya sudah tidur lah ini sudah malam".
"Tapi tadi itu siapa pama?"
"Itu tadi hanya orang-orang tidak jelas, abaikan saja".
Tentu Jaevan masih bertanya-tanya karena masalahnya raut muka Rey nmpak sangat tidak bersahabat "Apa paman baik-baik saja?"
Rey mengangguk," Tidur lah ini sudah malam".
Tidak mau bil pusing Jaevan mengangguk.
"Jangan lupa kunci setiap pintu! " Rey sekali lagi mengingatkan.
Jaevan mengangguk lagi, ia kemudian masuk dan mengunci pintu, ia berdiri disana membuka amplop yang tertempel di atas tutup kotak box.
...'Jaevan ku sayang, segera hubungi aku, mari kita bertemu 08XXXXXXXXXX'...
Itulah yang tertulis di kertas. Karena penasaran ia memutuskan untuk membuka kotak itu untuk mengetahui apa isinya.
Saat kotak di buka, ia langsung menutup kembali kotak itu. Ia terkejut mendapat kiriman foto-foto bugil seorang wanita yang entah itu siapa, wajah di foto iti di coret dan hanya memperlihatkan tubuhnya saja
...**********...
Di kamar, Nora terbangun. Tangannya meraba-raba kasur mencari Papanya, matanya perlahan terbuka. Saat mendapati Jaevan tidak berada di sebelahnya, mata Nora terbuka lebar ia bangun melihat sekeliling kamar mencari Papanya.
"Papa" panggil Nora, namun tidak ada jawaban "Papa" panggil Nora sekali lagi, namun tetap sama.
Nora mulai merasa resah, ia mulai menangis takut dirinya kembali di tinggal papanya. Nora turun dan keluar kamar "PAPA" teriak Nora, tangis Nora pecah "PAPA HEEEE" Nora menuruni tangga "PAPA".
Nora akhirnya Nora dapat mendengar sura papanya. ia mencari papanya berada, dan melihat dia di sana didepan pintu. Nora berlari menuruni tangga menghambur memeluk Jaevan.
Jaevan yang mendapati Nora manangis seperti itu panik, "Nora ada apa?" ia menggendong Nora dan menatapnya.
"Papa jangan pergi lagi"
"Papa tidak pergi sayang, papa di sini bersama Nora".
Nora memeluk Jaevan erat, "Papa jangan pergi lagi tinggalin Nora ya janji"
Jaevan menepuk punggung Nora pelan menenangkannya, "Ssssttt iya papa janji tidak lagi tinggalin Nora".
Nora mengeratkan pelukannya, Jaevan yang merasakannya hanya bisa tersenyum. ia berjalan ke atas kembali kekamar Nora. Saat hendak membaringkan Nora, Nora enggan melepaskan pelukannya, jika seperti ini akan tidak nyaman untuk berbaring karena tangan Nora melingkar erat di leher Jaevan, alhasil Jaevan hanya bisa duduk bersandar di kepala kasur sembari memeluk Nora seperti koala. Sedangkan Nora mencari kenyamanan dan memejam kan matanya.
1 jam Jaevan memeluk Nora dengan posisi seperti itu, ia mulai menguap dan merasa pegal. Perlahan Jaevan membaringkan Nora di sebelahnya.
Srrrk
Tangan Nora jatuh, Jaevan reflek menahan napas takut Nora terbangun. Mendapati Nora ternyata tidak terganggu, Jaevan kembali mebaringkan Nora perlahan. Berhasil, Nora sudah dibaringkan, dan dia tidak terbangun sedikitpun. Jaevan meregangkan otonya yang kaku, dan terdengarlah suara gemeretak tulang.
"Huaaah" Jaevan menguap, ia kemudian berbaring di sebelah Nora, meraih selimut menyelimuti dirinya dan Nora
...To be Countinue...
Hy guys, gimana apakah cerita ini dapat menghibur kalian 😊 hehhehe.
mulai ngwur nih, gak tau lagi mau ngetik apa buat cerita yang menarik, hehehheeh.
saya berharap semoga kalian suka, jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya hehhehe.
Have a nice day