
Sungjae turun dari taksi, ia memeriksa ponselnya untuk mencocokkan alamat yang diberikan oleh guru Kim padanya. Soobin menelepon Sungjae sesaat sebelum ia membunyikan bel yang ada didepan pintu.
" Lagi dimana?" tanya Soobin diujung telepon.
"Di rumah guru Kim. Kenapa?"
" Sendiri???" tanya Soobin lagi.
" Iya. Aku sudah terlambat, nanti akan ku hubungi lagi jika sudah selesai."
" Sungjae tunggu dulu..." namun telepon sudah di tutup oleh Sungjae.
Ia melirik jam di ponselnya ia ternyata sudah terlambat selama sepuluh menit. Ia menggosok gosokan tangannya yang dingin karena perubahan cuaca yang mendadak menjadi dingin sore itu.
Sungjae menunggu guru Kim membukakan pintu untuknya, dan tak lama guru Kim muncul dari balik gerbang. Ia tersenyum dan mempersilahkan Sungjae masuk.
" Maaf saya terlambat."
" Tak apa apa. Murid memang sering kali melakukan hal itu."
Guru Kim dengan sukarela mau memberikan pelajaran tambahan pada Sungjae, untuk mempersiapkan lomba fisika yang sebentar lagi akan di adakan di Busan.
Sungjae duduk di sebuah kursi yang berada di ruang tengah. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh rumah guru Kim, lalu kembali menatap guru Kim saat ia membawakan secangkir teh untuknya.
" Minum dulu. Diluar sangat dingin kan?! Maaf tadi lama membukakan pintu , karena baru selesai mandi." ucap guru Kim.
Ia seperti sengaja menyibakkan rambutnya yang masih setengah basah di depan Sungjae. Guru Kim lalu menyilangkan kakinya, yang saat itu sedang mengenakan celana pendek.
Sungjae yang ada di depannya mau tak mau melihat pemandangan yang seharusnya tak ia lihat tersebut.
" Kenapa? Apa ada yang salah?" tanya guru Kim berpura-pura tidak tau apa yang ia lakukan adalah tidak wajar.
" Ah, itu.. Bukankah sebaiknya saem mengenakan celana panjang. Karena disini hanya ada kita berdua." ucap Sungjae yang sebenarnya tak ingin mengatakannya karena takut dianggap tidak sopan.
" Bukankah semua laki laki menyukainya?" guru Kim kembali menggoda Sungjae.
Sungjae diam. Ia belum paham dengan situasi yang sedang ia hadapi sekarang.
" Sudahlah. Kita mulai saja pelajarannya." guru Kim merengut.
Ia lalu duduk di samping Sungjae dan menjelaskan semua pelajaran fisika padanya. Sesekali ia bertindak aneh di depan Sungjae. Membuat Sungjae tidak nyaman dengan situasi tersebut.
Awalnya niat baik guru Kim ia sambut dengan senang hati. Karena guru Kim adalah salah satu guru fisika yang populer dengan prestasinya, ia mendapat predikat guru terbaik selama beberapa tahun terakhir. Ada beberapa siswa yang dulunya mengikuti lomba, dan ialah yang mengajari mereka yang mengikuti lomba tersebut lalu berhasil dengan membawa nama baik sekolahnya. Maka dari itu Sungjae tidak menaruh curiga padanya.
Guru Kim adalah Seorang guru wanita berumur duapuluh tujuh tahun dan belum menikah. Banyak guru yang menyukainya karena visualnya yang begitu cantik dan seksi, juga cara mendidiknya yang hebat meski terbilang belum lama menjadi seorang guru. Ia baru menjadi pengajar selama empat tahun.
Ia belum memiliki suami. Kabarnya guru Kim hanya menyukai laki laki yang umurnya lebih muda di bawahnya. Daripada laki laki yang lebih tua darinya. Dia single tidak memiliki kekasih namun ia sering kali diantarkan oleh pria berbeda setiap harinya saat datang ke sekolah. Setiap hari selalu ada pria baru yang mengantarkannya hingga membuat murid murid yang melihatnya menyebarkan rumor jika ia sudah tidur dengan pria pria tersebut hanya untuk kepuasannya semata.
" Sungjae, sepertinya resleting bajuku tidak tertutup dengan benar. Bisakah kau menutupnya?" ucap guru Kim, tangannya mencoba meraih resleting yang tidak bisa ia jangkau.
Sungjae terkejut dengan permintaan guru Kim tersebut namun ia tak bisa menolaknnya juga.
" Eoh, sebentar." Sungjae dengan hati hati menaikkan resleting guru Kim.
Telepon Sungjae berdering. Soobin menelponnya dan langsung diangkat oleh Sungjae. Kali ini Sungjae merasa jika Soobin adalah penyelamat baginya untuk mengeluarkan dari situasi yang tidak nyaman tersebut.
"Maaf saem, tapi Soobin menelponku dia mengatakan jika sudah berada di depan rumah anda." ucap Sungjae.
Guru Kim mendengus kesal lalu berjalan keluar untuk membuka pintu untuk Soobin. Lalu tak berapa lama Soobin muncul di belakang punggung guru Kim dengan senyum cerah diwajahnya, berbeda dengan ekspresi guru Kim yang terlihat kesal.
" Kenapa kemari?" bisik Sungjae.
" Aku juga ingin belajar." Soobin juga berbisik pada Sungjae.
***
" Apa?!! Kau sudah gila?!!! Untung aku disana tepat waktu." Soobin terperanjat mendengar cerita Sungjae saat berada di rumah guru Kim tadi.
" Untung aku kesana tepat waktu." gumam Soobin.
" Ada apa memang?? Apa hanya aku yang tidak tau apa yang sedang terjadi?! "
" Ckckck.. Iya benar. Hanya kau yang tidak tau. Kenapa kau tidak bisa membaca situasi. Jika aku datang terlambat sebentar saja pasti kau sudah dimakan oleh guru Kim."
Soobin terdengar lega saat Sungjae tidak mengalami hal serupa yang dialami oleh siswa yang dulu pernah belajar dengan guru Kim tersebut. Ada beberapa kabar burung yang menyebar jika semua murid yang dibantunya harus melayani nafsunya.
" Awwwhhh aku tak bisa membayangkannya lagi." Soobin bergidik ngeri tiap kali membayangkan jika Sungjae dengan guru Kim melakukan hal tersebut.
" Pokoknya jangan kesana sendirian lagi?! Jangan pernah." seru Soobin.
" Tapi guru Kim tadi terlihat sangat kesal saat kau datang kesana."
Soobin memutar matanya ia masih tak percaya jika Sungjae tak mengerti maksud dari guru Kim sebenarnya.
" Belajar di tempat lesku saja. Ok?! " pinta Soobin.
" Aku tak punya banyak uang untuk belajar disana."
Soobin berpikir sejenak, lalu ia menemukan ide agar Sungjae bisa belajar di sana.
" Kau besok datang saja. Ada satu tempat kosong untukmu. Masalah uang, kau bisa menyicilnya kepadaku. Aku akan membantumu. Lagipula hanya untuk sementara kan?! "
Sungjae menatap mata Soobin yang meminta dirinya agar ikut ditempat lesnya. Ia sebenarnya tak ingin merepotkan sahabatnya tersebut. Namun hal itu juga penting untuknya.
" Berhentilah membuatku khawatir Yook Sungjae!" Soobin menepuk pundak Sungjae lalu akhirnya ia mengangguk dan mau menerima bantuan dari Soobin.
Saat obrolan mereka mulai asik. Terdengar suara bel pintu rumah Sungjae berbunyi.
" Siapa?!" teriak Sungjae, ia membuka pintu dan terkejut mendapati Sora sudah berdiri di depan pintu.
Sungjae langsung keluar dan menarik Sora agar menjauh dari rumahnya.
" Kau??? Mau apa datang ke rumahku?!!" tanya Sungjae ia menahan suaranya agar tidak terdengar oleh orang disekitarnya.
"Aku.. Aku hanya ingin memberikan ini." Sora menyerahkan sebuah plastik yang berisi beberapa susu dan baju untuk anak perempuan.
" Tak usah. Hyeri tak membutuhkannya darimu. Aku masih mampu membelikannya. Jadi jangan khawatir." Sungjae langsung meninggalkan Sora yang masih mematung disana.
"Ah.. Jadi namanya Hyeri?!" gumamnya yang didengar oleh Sungjae.
" Pergilah?!!! Aku tak ingin ibuku melihatmu disekitar rumahku." usir Sungjae.
Soobin menyusul Sungjae karena lama ia tak kembali masuk ke dalam.
" Ada siapa? Kenapa tak lekas masuk. Hyeri bangun dan mencarimu?!!" teriak Soobin dari kejauahan.
Sungjae langsung berlari sebelum Hyeri dan Soobin menemukan Sora yang masih berdiri disana.
Sungjae melirik Sora dari kejauhan. Ia melihat wanita yang tak lain adalah ibu Hyeri mematung berharap Sungjae mengijinkannya untuk bertemu dengan Hyeri.
Jangan lupa klik like ya.. Berikan komentar jika ada saran dan kritik untuk ceritanya😘 baca juga novel lainnya yang berjudul My Beautiful Wife