
Nora yang melihat papanya berdarah-darah seperti itu panik dan ketakutan, karena rasa panik ingstingnnya mengatakan untuk segera mencari pertolongan, tentu saja satu tujuan yang telintas di pikirannya, ia berlari sekencang mungkin keluar rumah.
Awalnya ia takut keluar, karena diluar gelap dan sepi, namun karena teringat papanya ia memberanikan diri.
Ia berlari sangat kencang dengan debaran jantung yang keras mencoba melawan rasa takut.
Tok tok tok
"PAMAN" teriak Nora
Tok tok tok
"BIBI"
Kerasnya teriakan Nora membangunkan seluruh penghuni rumah Rey, tidak butuh menunggu lama pintu terbuka.
"Nora ada apa?" tanya Rey terkejut melihat Nora datang sambil menangis.
"Papa paman hwaaaa"
"Kenapa Nora jangan menangis cerita papa kenapa?" tanya Rey yang mulai cemas.
"Papa sakit dia berdarah paman" tutur Nora.
"Berdarah? siapa yang berdarah?" tanya ani yang muncul di belakang Rey juga Dania yang menguap.
Nora menarik tangan Rey untuk segera mengikutinya ke rumah, Hani juga Dania mengikuti di belakang.
Mereka melangkah ke atas menuju kamar Jaevan dan saat masuk ke kamar mereka sangaat terkejut mendapati Jaevan di wc memuntahkan isi perutnya yang bercampur dengan darah mimisannya, sedangkan bajunya sudah banyak terkena darah mimisan.
Rey segera membantu Jaevan mengurut tengkuknya dan menepuk nepuk punggungnya.
Tubuh Jaevan bereaksi ia kembali muntah, setelah itu ia lemas dan ambruk ke lantai. Rey memapah Jaevan untuk berdiri, dan saat tangannya menyentuh tangan Jaevan ia menyadari anak ini demam.
Karena sangat lemas Rey memegangi pinggang Jaevan agar dia dapat berdiri, lengannya yang memegang pinggang Jaevan pun tidak sengaja menyentuh kulitnya, dan merasakan betapa panasnya suhu tubuh Jaevan seperti bara api.
Rey merebahkan Jaevan di kasur, namun sebelum membaringkannya ia melepas piyama yang Jaevan kenakan karena bajunya sudah banyak terkena noda darah.
"Ambilkan bajunya cepat" titah Rey.
Nora langsung sigap membuka lemari pakaian papanya menarik baju yang bisa ia gapai dan menyerahkanya pada Rey.
"Tisu"
Dania yang saat itu berada dekat dengan tisu segera meraih dan memberikannya pada ayahnya.
Rey mengelap darah yang ada di hidung, dagu , dan tangan Jaevan, lalu setelah itu membantunya memakai baju.
"Ayo bawa dia ke rumah sakit"
Rey segera turun untuk kembali kerumah dan mengeluarkan mobilnya dari garasi, sedangkan Hani dan Dania memapah, Nora juga di bawa ikut bersama mereka.
...****************...
Di rumah sakit, Jaevan segera di tangani oleh Dokter.
"Saya periksa ya"
Jaevan yang kondisinya lemah hanya bisa mengangguk tidak bersuara, tatapanya sayu wajahnya pun pucat pasi.
Dokter memeriksa suhu tubuh Jaevan, yang ternyata menunjukan suhu 40°, kemudian Dokter memeriksa tensi Jaevan yang menunjukan tekanan darahnya 80, Dokter juga menekan perut Jaevan.
Setelah selesai memeriksa Dokter pun memberi suntikan cairan tubuh pada Jaevan dan memberi diaknosa "Anak bapak baik-baik saja, dia hanya demam"
"Tapi Dok dia tadi mimisan dan itu banyak Dok" ujar Rey khawatir.
"Itu karena demamnya sangat tinggi hingga membuat pembulu darah di hidungnya pecaha pak, saya akan beri obat penurun panas juga vitamin agar dia segera pulih"
"Diminum ya obatnya"
Jaevan mengangguk.
Dokter pun menuliskan resep "Nanti diminum 3x1 sesudah makan ya, Jaga pola makannya kamu sering telat makan tuh, Istirahat yang cukup biar tekanan darahnya normal kamu kurang istirahat mangkanya tekanan darah kamu rendah" terang Dokter.
Jaevan menangguk.
Setelah itu Rey membayar tebusan obat, sedangkan Hani dan Dania memapah Jaevan ke mobil.
Sesampainya di rumah, Hani segera membuatkan bubur untuk Jaevan, sedangkan Rey di kamar Jaevan bersama Nora dan Dania.
"Dania bawakan minyak kayu putih sama lotion"
"Jae sini biar paman urut, lepas baju kamu" pinta Rey.
"Tidak perlu paman aku tidak apa-apa" tolak Jaevan.
"Ssss ayo sini biar kamu cepet sembuh" geram Rey karena Jaevan selalu menolak bantuannya.
Ia pun sedikit memaksa Jaevan untuk duduk, membuka bajunya dan menyuruhnya untuk berbaring tengkurep.
Dania datang dan memberi kan piring berisi lotion dicampur minyak kayu putih yang diminta ayahnya "Ini pa"
Mulailah Rey mengurut Jaevan yang membuat Jaevan mengerang, Rey menggeleng prihatin saat merasakan suhu panas tubuh Jaevan.
Saat Rey mengurut punggung Jaevan ia mendapati bagian otot yang keras ia pun menekan kuat bagian itu, otomatis Jaevan berteriak kesakitan.
"AAAARRRGG" Jaevan mulai bergerak mencoba memberontak.
"Tahan, ini angin yang buat kamu sakit" tutur Rey.
"AAARRRGGG" Jaevan kembari mengerang kesakitan saat Rey kembali menekan bagian punggungnya yang sakit, wajahnya memerah bahkan urat di leher dan keningnya pun bermunculan.
"Paman jangan! Papa kesakitan" protes Nora yang sangat khawatir dan ketakutan melihat papanya berteriak seperti itu.
sedangkan Dania hanya bisa diam melihat Jaevan.
"Nora tenang saja ya setelah ini papa pasti cepet sembuh"
"AAARRRGGG"
"Paman jangan" Teriak Nora memukuk Rey, ia mulai menangis tidak tega melihat papanya kesakitan.
"Nora yuk ikut kakak ya" Dania menarik Nora dan membawanya keluar dari kamar.
Satu jam Rey mengurut Jaevan, dan Satu jam pula Jaevan terus berteriak hingga akhirnya Rey pun selesai mengurutnya.
Hani datang membawa bubur dan obat, namun bubur itu hanya dimakan sedikit oleh Jaevan. Rey dan Hani memaklumi kondisi Jaevan, demam dengan suhu tubuh setinggi itu tentu saja berefek pada nafsu makannya, namun setidaknya dia memakan bubur walaupun sedikit yang terpenting perutnya terisi agar bisa meminum obat.
Mereka pun turun membiarkan Jaevan istirahat.
"Jaevan bagaimana?" tanya Dania saat Rey turun.
"Dia sudah tidur tadi juga sudah minum obat" Dania menangguk.
Nora pun langsung berlari ke atas.
"Pulang lah sudah malam, papa disini jaga Jaevan"
Hani dan Dania mengangguk.
Di Kamar Jaevan, Nora berdiri menatap papanya yang sudah tidur dengan napas teratur, ia meletakkan telapak tangannya di kening Jaevan.
"Masih panas" ujar Nora.
Ia kembali turun kebawah mengambil baskom kecil dan mengisinya dengan air dingin.
"Nora untuk apa itu" tanya Rey yang malah diabaikan Nora.
Nora segera kembali ke atas dan mencari sapu tangannya di kamar, lalu pergi ke kamar papanya.
Ia naik ke kasur dan mencelupkan sapu tangan, memerasnya lalu diletakan di kening Jaevan.
Rasa dingin yang menyentuh kulitnya membuat Jaevan terbangun, dan mendapati Nora di sampingnya, ia tersenyum "Maksih Nora"
Nora langsung memeluk papanya "Papa jangan buat Nora takut hiks"
Jaevan tersenyum ia mengelus surai Nora "Papa minta maaf ya".
"Papa jangan sakit lagi, papa tidak boleh sakit biar Nora saja yang sakit papa jangan" sungut Nora marah yang entah marah kepada siapa.
Jaevan terkekeh "Papa janji gak sakit lagi".
"Janji" Nora mengangkat kelingkingnya.
Jaevan menautkan kelingkingnya "Janji"
Nora pun mengangguk,ia memindahkan baskom air di sampingnya ke meja lalu masuk keselimut, ia menepuk-nepuk pelan Jaevan seperti Jaevan meninabobokkannya.
Rey yang penasar naik ke atas untuk melihat apa yang Nora sedang lakukan, ia menuju kamar Nora namun tidak ada, ia pun ke kamar Jaevan dan benar saja ia mendapati Nora sudah tertidur di samping Jaevan begitu pun Jaevan, Rey menyalakan lampu tidur dan mematikan lampu untuk mereka.
...To be Countinue...