
Di antara para wali-wali murid, Jaevan duduk di bangku paling belakang, menyaksikan satu-persatu anak maju ke tengah pangung membacakan puisi bahkan menyanyikan lagu untuk kedua orang tua mereka.
Jaevan menjadi resah, mengkhawatirkan Nora apakah ia saat ini sedang mengalami kesulitan? Apakah Nora punya sesuatu untuk ditampilkan?, pikiran itu kini mempengaruhi Jaevan, ia berkeringat dingin dan merasa gugup, seakan ia yang akan tampil ke depan.
"Nora Ankara"
Mendengar Nama Nora di panggil, Jantung Jaevan berdebar, ia dengan cemas memperhatikan Nora yang kini sudah berdiri di depan.
Nora diam, menimbulkan kesunyian di ruangan itu. Nora mengedarkan pandangannya mencari di mana papanya duduk, ia melihat mic di gengamnnya.
"Papa" panggil Nora menggunakan mic agar suaranya terdengar.
"Papa" panggil Nora sekali lagi karena ia belum dapat menemukan keberadaan Jaevan.
Jaevan berdiri seraya melambaikan tangan.
Nora akhirnya dapat melihat papanya yang berdiri di belakang, ia tersenyum," Papa, maaf aku tidak punya puisi atau pun lagu untukmu".
'Tiidak masalah' Jaevan bertepuk tangan sembari mengangguk.
Karena saaat itu sunyi, suara tepuk tangan Jaevan membuat semua wali murid menoleh menatapnya.
“Apa Kalian semua bisa lihat papaku! itu papa ku" Nora menunjuk Jaevan, ia melambaikan tangannya pada Jaevan "Papa ku itu, dia tampan, dia juga baik. Setiap malam papa selalu menemani aku tidur, papa juga selalu menuruti semua yang aku inginkan raut" wajah Nora kemudian berubah menjadi sendu.
“Setiap hari papa sekolah juga bekerja di café. Walaupun sesibuk apapun papa, papa selalu memperhatikan aku, papaku itu seperti malaikat" Nora kembali tersenyum, namun kemudian senyuman itu kembali hilang.
"Tapi kenapa orang-orang jahat sama papa? Papa salah apa?" pertanyaan yang dilontarkan seorang anak kecil akibat buah dari apa yang ia dengar, ia saksikan dan ia rasaka dari orang-orang yang mencaci akan sosok papa yang ia sayang, menusuk hati semua orang disana.
“Papa Panggil Nora Apa Papa baik-baik saja?" mata bening itu mulai berkaca-kaca.
Jaevan mengangguk menanggapi pertanyaan Nora.
Lalu ia teringat sebuah lagu, sedikit ragu tapi ia tetap ingin mencoba menyanyikannya.
...I see your monsters...
...I see your pain...
Jaevan bertepuk mengiringi nyanyian Nora, ia tersenyum melihat Nora di depan sana, dadanya bergemuruh tersentuh menahan haru.
...Tell me your problem Ill chase them away...
...Ill be your lighthouse ...
...Ill make it okay...
...When l see your mounster...
...lll stand there so brave...
...And chase them all away...
...In the dark we, we...
...We stand apart we, we...
...Never see that the things we need are staring right at us...
...You just want to hide hide...
...Hide never show your smile smile...
...Stand alone when you need someone its the hardest thing of all...
...That you see are the bad bad...
...But memories take your time and youll fine me...
Nora berhenti menyanyi, perlahan isakan tangis terdengar karena mic yang di genggam tidak ia turunkan.
Jaevan terkejut Nora kini sedang menangis, ia bergegas menghampiri Nora. Ia naik ke panggung dan berlutut menyamai tinggi Nora
"Nora ada apa hmmm kenapa menangis?" tanya Jaevan lembut, ia mengusap kedua pipi Nora yang basah karena air mata.
"Papa jangan pergi lagi, jangan tinggal Nora sendirian".
Jaevan tersenyum "Nora kenapa berpikir papa akan meninggalkan Nora?" Jaevan menggeleng "Papa akan selalu bersama Nora".
"Janji"
Jaevan mengangguk "Janji"
Akhirnya senyum Nora kembali di wajahnya, Nora memeluk Jaevan "Papa, Nora akan selalu bersama papa, Nora juga akan selalu membela papa, Nora akan pukul orang-orang yang jahat sama papa".
Jaevan terkekeh, Ia mengelus punggung Nora dan berdiri sembari menggendong Nora. Lalu menunduk memberi hormat kepada kepala sekolah yang berdiri di sebelahnya, dan juga menunduk memeberi hormat pada para wali siswa.
Tepuk tangan meriah terdengar memenuhi ruangan, persembahan Nora yang tidak sempurna meskipun begitu tetap mendapat respon yang baik dari semua orang yang hadir disana, suara hati yang di sampaikan Nora berhasil membuat semua orang tersentuh dan terharu mendengarnya.
Jaevan berbalik dan berjalan turun dari panggung.
kini di hadapan Jaevan Haeru berdiri bersama Moana.
Jaevan menurunkan Nora dari gendongannya.
"Wah yang tadi itu keren loh Nora" puji Haeru.
Nora tersenyum "Benarkah?"
"Kau hebat jaevan, kau dan putrimu! kalian berdua hebat" puji Moana seraya memperhatikan dua bocah yang kini sedang asik mengobrol.
"Apanya yang hebat?" tanya Jaevan.
"Menjadi orang tua tunggal terutama di usiamu sekarang, itu bukan hal yang mudah dilakukan Jae".
"Haeru banyak bercerita tentang Nora padaku, dari situ Ahhh aku bisa tau darimana kepribadian Nora yang tangguh terbentuk, tentu saja kau yang berperan penting" Mona kembali menatap dua bocah didepannya.
"Kau dan Nora pasti sudah melalu banyak hal"
Jaevan tersenyum samar .
"Mari kapan-kapan kita minum kopi sembari berbagi cerita, apa kau mau?"
"Tentu, aku rasa itu ide yang bagus".
...**********...
Brumm
Jaevan melepas helmnya dan menurunkan Nora. ia menggandeng Nora masuk, kedatangan mereka berdua membuat kehebohan, setiap orang yang melihatnya terkejut tidak percaya Jaevan datang ke sekolah bersama Nora.
Nora berjalan seraya memegangi topi toganya agar tidak terlepas. Ia terheran-heran mengapa semua orang juga memakai baju dan topi yang sama dengannya.
"Nora" panggil segerombolan gadis-gadis.
Nora menoleh kebelakang seraya melambaikan tangan pada gadis-gadis yang tadi memanggilnya.
"Papa"
Jaevan menunduk melihat Nora "Hmmmm"
“kenapa mereka memakai baju seperti Nora?".
"oh , itu karena hari ini mereka juga merayakan hari kelulusan mereka sama seperti Nora".
Nora mengangguk "Kenapa papa tidak?" tanya Nora polos.
"Itu karena papa tidak ikut ujian, jadi papa tidak bisa ikut"Jelas Jaevan jujur.
Nora tiba-tiba berhenti, ia menarik genggaman Jaevan agar Jaevan menatapnya
" Kenapa hmmm? tanya Jaevan.
Papa baik-baik saja, apa papa sedih?" tanya Nora khawatir.
Jaevan berjongkok dan tersenyum "Tentu saja tidak, papa malah bahagia karena hari ini Nora, kak Regan, Kak Lenovan, Kak Dania juga merayakan hari kelulusan, Papa bangga kalian berhasil melewati ujian sekolah dan lulus" bohong Jaevan, Tentu saja ia sedih melihat rekannya merayakan hari kelulusan sedangkan ia tidak. Mau bagai mana lagi ia sudah di drop out dari sekolah, dan saat ini ia hanya bisa merelakanya. Lagi pula banyak orang-orang di luar sana yang tidak lebih beruntung darinya namun menjadi orang-orang hebat. Jika mereka bisa melaluinya kenapa ia tidak bisa!.
"Jaevan".
Nora dan Jaevan menoleh, mereka melihat Regan dan Lenovan berjalan mendekat, di ke dua tangan mereka sudah penuh dengan buket-buket bunga.
Jaevan bangkit berdiri.
Regan dan Lenovan meletakan buket-buket mereka di tanah.
Greb
Regan memeluk Jaevan di susul Lenovan.
"Uhuk.... hei lepaskan, sesak" keluh Jaevan, namun di abaikan oleh mereka.
“kita dilihat banyak orang bodoh"
Akhirnya mereka melepaskan Jaevan "Nora" giliran Nora yang kini menjadi sasaran pelukan mereka.
"Kakak kalian bau"
Mereka melorot kaget "Apa?".
Nora segera melepaskan diri dari mereka dan bersembunyi di belakang Jaevan "Blekk" ia menjulurkan lidah iseng.
"Mana ada kakak bau" Protes Regan "Buktinya banyak tuh tadi yang minta poto bareng sama kakak"
Nora kemudian menghampiri Regan.
Duag
Nora menendang tulang kering Regan.
"Aawww" Nora sakit" ringis Regan sembari melompat-lompat memegangi satu kakinya yang tadi Nora tendang.
"Hukuman buat Kakak yang suka ganit"
Nora kemudian menghampiri Lenovan, ia hendak menendang Lenovan, tapi keburu Lenovan yang duluan berlutut memohon ampun "Nora ampun, tapi kakak tidak seperti kak Regan kakak orangnya kalem beneran".
Jaevan tertawa melihat tingkah mereka "Sudah-sudah hentikan kita dilihat banyak orang" Jaevan tidak berbohong , mereka saat ini benar-benar menjadi pusat perhatian.
Regan dan Lenovan pun kembali berdiri dengan benar, dan mencoba kembali mengatur ekspresi cool mereka, yang sayangnya membuat Jaevan mersa ingin muntah melihatnya.
Jaevan kemudian memberikan paper bag ukuran sedang yang sedari tadi ia tenteng kepada regan dan Lenovan.
Dan lihatlah sekarang mata mereka berbinar melihat paper bag di depan mereka, mana ekspresi sok cool tadi, sekarang yang Jaevan lihat adalah ekspresi imut seperti anak kecil yang kegirangan di belikan mainan.
"Wahhh thank you" Regan dan Lenovan kembali memeluk Jaevan.
"Tunggu-tunggu kita sekarang harus foto"
Dengan semangat mereka menarik Jaevan dan Nora, menyuruh mereka berpose seperti yang mereka lakukan
Cissss
Ckrek.
...To be Countinue...