
-
Kalau saja ada sebuah keajaiban yang datang padaku, aku akan sangat senang dapat mengetahui semua teka-teki yang terjadi didalam hidupku. Lagipula, apa yang sebenarnya yang terjadi pada hari dimana aku mengalami kecelakanaan. Apakah ada seseorang yang sengaja merencanakan itu, tanyaku.
“Yass, kamu ingin makan siang diamana? Uhm…apa kamu ingin aku meminta OB untuk membelikan makanan untuk kita?”suara Andrew membuat pikiranku buyar.
“Bisakah kita tetap berada disini, aku ingin membicarakan sesuatu yang penting padamu”aku memandangi wajahnya. Ia terlihat kebingungan.
Setelah memanggil OB dan menyuruhnya membelikan makanan yang kami inginkan, Andrew langsung duduk dihadapakanku—di sofa ukuran lumayan besar untuk beberapa orang. “Jadi, apa yang ingin kamu katakan padaku?”tanyanya.
“Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi saat aku mengalami kecelakaan?”tanyaku. dia hampir menjatuhkan gelas ditangannya, sepertinya ia terkejut dengan pertanyaan yang aku ajukan. Apa ada sesuatu yang sedang ia coba tutupi dariku atau sesuatu yang lain.
“Mengapa tiba-tiba menanyakan hal itu?”tanyanya. Aku dapat merasakan kegugupan dari suaranya. Dia mengangkat wajah setelah beberapa lama menunduk, “Sebenarnya, aku tidak begitu senang ketika harus menceritakan kejadian itu kembali, karena aku merasa gagal menjadi seorang suami untukmu”dia menangis.
Tidak lama kemudian OB datang dengan makanan yang kami pesan. Aku sama sekali tidak bernapsu untuk menyantap makanannya, tetapi untuk mengetahui semuanya, mau tidak mau aku harus melakukannya agar bisa mendapatkan informasi.
Andrew menyuapiku dan aku tidak bisa menolaknya, aku dengan cepat mengunyah makanan yang baru masuk kedalam mulutku. Ternyata, Andrew memang sengaja hanya memesan makanan dengan porsi sedikit. Katanya, ia ingin makan berdua denganku. Konyol.
Aku membasahi kerongkonganku, “Jadi, kapan kamu mau menceritakannya padaku?”tanyanya. tidak seperti sebelumnya, kini ia dengan sukarela menceritakan semuanya. Aku terus saja memperhatikan wajahnya, mencari tahu validitas informasi yang ia katakan:jujur atau berbohong.
“Yass, kalau saja waktu itu aku lebih mengerti kamu. Mungkin, kamu tidak akan mengalami masalah sulit seperti ini”tutupnya sambil menyuapi sendok terakhir kepadaku.
“Sampai sekarang aku masih tidak percaya kalau kamu adalah suamiku, karena selama ini aku selalu mengalami kerumitan cinta:cinta dalam diam dan beberapa masalah lain. Tapi, mengapa aku bisa menikah denganmu? Ini sungguh membuatku terkejut, yah…maksudku kamu adalah pria yang sangat_maksudku cukup tampan”aku cepat-cepat menutup mulut sebelum aku mencurahkan isi hatiku.
Andrew tersenyum. Astaga, dia terlihat sangat tampan saat bibirnya melengkung keatas. “Terimakasih sudah memujiku. Kamu tahu, saat ini aku ingin sekali menciummu”dia kembali tersenyum. Apa yang baru saja ia katakan, ia ingin menciumku. Tidak, ia tidak akan bisa melakukan itu padaku.
“Kamu tidak membohongiku kan? Kamu tidak menceritakan kebohongan padaku kan?”aku kembali memperhatikan mimic wajahnya.
Dia menjauhi sofa dan menghilang diruangan pribadinya. Apa yang ia lakukan, mencoba berkelit atau melakukan hal lain. Setelah menunggu beberapa menit, ia kembali keluar dari sana dengan tumpukan ditangannya dan aku tidak tahu apa yang ia bawa.
Aku membulatkan mata saat melihat album foto yang berisi foto-foto keluargaku dan foto diriku bersama dengan Andrew. Aku mengambil salah satu foto kami, difoto aku terlihat sangat bahagia—aku mengenakan kaus berwarna putih berlengan panjang, celana jeans bergaya pensil, disebelahku ada Andrew dengan kaus polo bergaris dan celan bahan berwarna hitam. “Kita_hubungan kita…”aku memandang wajah Andrew. Dia tersenyum padaku.
“Ini tidak mungkin. Aku tidak mungkin memiliki hubungan dengan pria sepertimu”aku menggelang. Tidak, aku tidak mungkin memiliki hubungan yang amat romantic dengan seorang pengusaha tampan seperti Andrew.
“Berapa usiamu?”tanyaku seraya menggoncangkan lengannya tidak sabaran.
“Dua puluh delapan”jawabny tanpa keraguan.
“Dan aku masih dua puluh tiga”ucapku lirih.
Andrew masih memandangiku. Aku meraih foto kami yang lain, kali ini lebih mesra lagi. Aku yakin foto itu diambli saat aku masih menjadi karyawan magang dikantornya. Aku dengan jelas melihat lambang perusahaan dibelakang bahu Andrew. Difoto itu aku dan Andrew saling memandang satu sama lain.
“Tidak mungkin aku menjalin hubungan dengan bosku sendiri”aku kembali menggeleng.
“Itu kenyataannya, Yass. Kita memang saling jatuh cinta karena kegiatan magang itu. Hampir berkali-kali aku mengutarakan perasaanku padamu, tetapi berkali-kali juga kamu menolakku”
Kepalaku terasa berat. Otakku seperti tidak kuat menerima kenangan itu dan aku tidak tahu apa-apa lagi. Semuanya terasa gelap.
Aku membuka mata. Aunty Chelo tepat berada dihadapanku dengan wajah cemasnya, kemudian aku mengendarkan pandangan kesisi lainnya, ada Uncle Hans yang sibuk membaca buku ditangannya. Tetapi, Mama dan Papa tidak ada, Andrew juga tidak ada. Kemana mereka semua.
“Kamu sudah sadar, Nak”aku mengenali suara itu, Aunty Chelo maih saja memandangku.
Aku tersenyum, “Apa yang terjadi padaku, Aunty Chelo?”tanyaku sambil mencoba untuk duduk tegak.
“Suamimu membawamu kerumah sakit dan menghubungi kami semua”jelasnya. Aku menganguk.
“Aunty, boleh aku menanyakan sesuatu?”tanyaku.
Ia menganguk. Dengan cepat ia melirik suaminya—memintanya untuk memberikan waktu untuk kami berdua. Setelah suaminya menutup pintu, Aunty kembali menatapku, “Apa yang ingin kamu tanyakan?”tanyanya
Aku menanyakan semua yang ingin aku tahu pada Aunty. Sesekali ia menganguk dan beberapa kali juga ia nampak terkejut dengan apa yang aku katakan.
“Aunty tidak paham dengan pertanyaanmu, tetapi sepertinya Aunty tahu apa yang kamu maksud. Yah, Aunty tahu segalanya tentang kalian berdua, hubungan kalian sebelum menikah hingga pernikahan kalian”Aunty mengatakan itu dengan mimic wajah yang serius. Berarti benar Andrew adalah suamiku. Lalu beberapa detik kemudian ia tertawa, “Rasanya ingin sekali tertawa saat tahu kisah cinta kalian tidak jauh berbeda dengan Aunty dan Uncle-mu”Aunty kembali tertawa.
“Mama, Harsh ingin jajan”rengeknya. Aku menahan tawaku saat Harsh menatap kerahku. Matanya sungguh indah, siapapun yang memandangnya akan terpesona.
“Mintalah pada Papa. Mama harus berbicara hal penting pada Kak Yassi”aku memperhatikan Aunty yang sedang memberikan penjelasan pada anaknya dengan sangat pelan.
Pintu ruangan terbuka dan menampakan Uncle Hans yang berjalan mendekati kami. Tangan kirinya menggandeng tangan putrinya, padahal jelas-jelas putrinya yang berusia lima belas tahun itu merasa enggan untuk terus menerus dijaga oleh Papanya.
“Sayang, putri kita sejak tadi merengek ingin pergi dari sini. Sepertinya ia sudah memiliki seseorag”aku tersenyum saat menayadari apa yang dimaksud Uncle tentang putrinya yang sudah memiliki seorang.
Hachel melepaskan genggaman tangan Papanya dan mendekati Mamanya, “Tidak, Mama, Hachel tidak memiliki siapapun. Papa saja yang salah menangkap apa yang aku ceritakan”. Aunty Chelo menganguk pada putrinya seraya mengelus pelan kepalanya.
“Pa, ajaklah Harsh keluar. Dia bilang ingin jajan sesuatu”
Aku diam-diam memperhatikan Andrew yang tertidur didekat lenganku. Aku mengelus kepalanya dengan tanganku yang bebas. Andai saja Andrew benar-benar suamiku, pastinya aku akan sangat bahagia. Tetapi, mengapa hatiku belum yakin dengan kenyataan ini. Otakku masih penuh dengan teka-teki yang sangat sulit untuk dipecahkan.
“Kamu sudah bangun, Yass?”tanyanya dengan suara yang rendah. “Apa kamu menginginkan sesuatu untuk dimakan?”tanyanya lagi.
Aku menggeleng. “Apa yang dokter katakan tentang penyakitku?”tanyaku padanya.
“Kamu sepertinya terkejut dengan ingatan yang baru saja kamu dapatkan. Aku tahu, rasanya pasti sangat menyakitkan, tetapi ini kan yang ingin kamu dapatkan?”aku merasakan Andrew menggerutu. Apakah ia marah karena aku sudah menanyakan tentang kecelakaan itu.
Andrew menghela napas, “Maaf. Bukan maksudku marah padamu, tetapi aku hanya tidak ingin kamu melukai dirimu sendiri dengan mengingat semuanya”ucapnya pelan.
Semua keluargaku berada disini—menemaniku. Saat Andrew mengurus kepulanganku, aku merasakan kepalaku kembali terasa sakit. Aku mencoba menahan rasa sakit itu, kulirik Mama sedang memperhatikanku dan aku tidak ingin membuatnya khawatir. Jadi, aku hanya memejamkan mata untuk meredakan rasa sakit dan setelah beberapa saat aku seperti melihat ingatanku sendiri.
“Selamat pagi, Pak”sapaku. Aku menampilkan senyum dibibirku.
“Selamat pagi. Apa kabar laporan keuangan perusahaan?”pria yang berwajah buram itu menyunggingkan senyuman.
“Bapak tidak membaca email yang saya kirimkan?”tanyaku seraya tersenyum.
“Ah, aku belum mengeceknya”ia sedikit tertawa dan langsung menatap komputernya, tangannya mengutak-atik papan ketik. “Baik, aku akan memeriksanya”ucapnya.
Kemudian, ingatan yang lain kembali muncul.
“Hai cantik, Sayangku”pria itu tersenyum kearahku.
“Apa?”tanyaku sedikit kesal.
“Gaun pengantin mana yang kamu inginkan?”tanyanya dengan lembut.
Aku tertawa. Memilih satu gaun dari beberapa gaun memang bukan keinginanku, tetapi inilah pekerjaan yang aku bereskan sebelum acara pernikahan.
“Pilihkanlah untukku”jawabku.
Pria itu tertawa, tangannya mengacak rambutku gemas. Memangnya rambutku mainan untuknya. Bibirku memberengut dan Ah, dia dengan sengaja menciumku.
“Sayang, apa kamu baik-baik saja?”aku mengenali suara itu, Mama.
Aku mengerjap. Aku masih berada dikamar rumah sakit. Sebelumnya aku melihat bayangan diriku dikantor bersama seorang pria berwajah buram. Aku menggeleng pelan. Apa tadi adalah pertanda kalau Andrew adalah suamiku.
“Iya, Ma”jawabku.
Mama kembali melanjutkan pekerjaannya menata pakaianku dan aku hanya memperhatikannya dari samping. Tak lama, Andrew muncul dibalik pintu bersama Papa. Mereka terlibat percakapan yang serius. Mungkinkah, mereka membicarakan sesuatu yang penting. Bagiamanapun caranya, aku akan mencari tahu siapa pria didalam ingatan itu
To be continue……
Jangan lupa vote, subscribe, dan comment
Ig : @crkhan8
blog : crkhan8.blogspot. com