You're My Destiny

You're My Destiny
WANITA PENGGODA



Semalam, aku memang meminta Andrew untuk menceritakan semuanya dan disinilah aku sekarang:kantor. Saat aku dan Andrew masuk, beberapa karyawan menyapaku dengan panggilan “Nona” kemudian meralatnya menjadi “Nyonya”. Apa mereka semua mengenal diriku sebagai kekasih Andrew, tanyaku.


“Selamat pagi Pak Andrew”sapa seorang wanita dengan wajah yang sangat anggun. Ia menatapku sekilas, “Akhirnya, anda datang juga, Bu”.


Aku tersenyum. Ini bukan pertanyaan yang aku inginkan. Wanita itu memperlihatkan tatapan tak suka padaku dan tatapan begitu memuja pada Andrew. Apa sebelumnya ia pernah memiliki rasa untuk Andrew. Tidak, ini tidak boleh terjadi.


Aku dengan cepat menarik lengan Andrew dan mengajaknya untuk mempercepat langkahnya. Bagaimanapun juga, setahuku Andrew adalah suamiku dan aku tidak ingin ada wanita manapun yang menginginkannya selain diriku.


“Yass”panggilan itu mengejutkanmu. Pasalnya, beberapa menit yang lalu aku masih memikirkan cara agar wanita itu menjauh dari Andrew.


Andrew menyelipkan rambut kebelakang telingaku dan menatap mataku, “Kamu cemburu?”tanyanya. Apa dia cenayang, tanyaku. Aku tidak menjawab pertanyaannya, hanya menyentak tangannya dari wajahku.


“Jangan cemburu”ucapnya sambil menahan tawa. Memangnya ada yang lucu.


Aku kesal. Andrew justru biasa-biasa saja saat melihat tatapan wanita itu. Dia yang mengatakan sendiri kalau aku adalah isterinya, jadi pantas kalau aku sewot karena merasa posisiku terancam akan adanya wanita penggoda.


“Gabby hanya menggodamu, karena ia tahu kalau kamu baru saja mengalami kecelakaan”.


Oh, nama wanita itu adalah Gabby dan aku tidak menyukainya. Aku tidak suka pada tatapan memujanya kearah Andrew.


Aku menghela napas, “Aku tidak cemburu. Aku hanya kesal”ucapku sambil duduk disofa dan meraih air putih yang kebetulan berada diatas meja.


Astaga, mengapa aku jadi kesal begini. Masa iya aku cemburu melihat Gabby menatap Andrew, suami yang belum jelas kebenarannya. Tidak, ini tidak boleh terjadi.


“Yass, aku suka kamu melakukan ini. Sejak dulu kamu selalu tidak suka pada Gabby, waktu itu kamu bilang kalau ia menyukaiku”


“Itu kenyataannya. Orang amnesia manapun akan kesal saat melihat pria yang katanya suaminya ditatap begitu”aku berdiri setelah meletakan gelas diatas meja. Saat menyadari apa yang aku katakan, aku langsung menutup wajahku yang memerah karena amarah.


Aku melihat Andrew berjalan mendekat. Ia menarik tangan dari wajahku dan saat itulah aku merasa malu. Sudah pasti, wajahku memerah karena kesal. Semoga saja Andrew tidak merasa kepedean karena rasa cemburuku.


“Akhirnya”jantungku rasanya mau copot saat ia mendekap tubuhku. Kenapa jantungku berdegup saat sudah tidak ada jarak lagi diantara kita, apa dulu aku benar-benar mencintainya. “Kamu mungkin belum mengingat tentang kisah kita, tetapi aku percaya kalau kamu akan merasakannya untuk kedua kalinya”ucapnya seraya menciumi rambutku.


“Aku belum yakin”ucapku mengurai pelukan. Lebih baik aku menghentikannya sekarang, sebelum semuanya menjadi rumit.


Andrew tersenyum. Tangannya kini menarik pinggangku dan mata hitamnya menatap mataku seolah hanya ada aku dihadapannya. Astaga, tatapan itu sangat menenangkan dan aku tidak bisa menghindarinya sama sekali, apalagi saat bibirnya menyentuh bibirku. Dia menciumku dan aku tidak bisa menolaknya.


“Jangan menutup dirimu untuk mengetahui sedalam apa hubungan kita sebelumnya”ucapnya tidak berniat melepaskan pelukannya.


Aku memegangi bibirku sendiri. Sebenarnya, itu bukan masalah besar, toh Andrew adalah suamiku, tetapi aku merasa ada yang janggal. Apa mungkin, Andrew bukan suamiku sesungguhnya, lalu apa tujuannya mendekatiku. Andrew jelas pria yang kaya raya dengan memiliki perusahaan besar yang dinaungi olehnya.


“Bu”aku menoleh saat salah satu karyawan Andrew menghampiriku. Dia adalah informanku yang pertama untuk mencari tahu kebenarannnya.


“Duduklah”ucapku. Saat ini kami berada disalah satu ruangan khusus—sebelumnya aku sudah meminta Andrew untuk memberikan salah satu ruangan untuk diriku. Aku ingin menanyai semua karyawan tentang diriku dan hubunganku dengan Andrew.


“Jadi, sudah berapa lama kamu bekerja untuk perusahaan ini?”tanyaku.


Ia memandangku dengan serius, ada sorot mata ketakutan saat bibirnya akan membuka. “Saya bekerja sudah cukup lama, hampir tiga tahun”jawabnya masih dengan ketakutan yang sama. Aku menghela napas, sudah saatnya aku mencari tahu kebenarannya. Yah, walaupun akhirnya aku akan membuat keputusan sendiri untuk tetap tinggal atau menjauh.


“Jadi, kamu pasti mengenalku, bukan?”tanyaku. Ia menganguk, “Andrew bilang kalau aku amnesia setelah kecelakaan dan hingga saat ini aku tidak begitu yakin kalau dirinya adalah suamiku. Apa benar, ia suamiku?”tanyaku serius.


Dia terlihat gelisah, “Saya mengetahui tentang kecelakaan itu dan benar kalau Pak Andrew adalah suami Ibu. Bapak dan Ibu menikah satu tahun yang lalu beberapa minggu setelah acara wisuda”jelasnya. Aku memperhatikan raut wajahnya, sepertinya ia tidak bohong.


“Aku menikah setelah wisuda?”tanyaku tak percaya. Ia kembali menganguk. Aku berjalan menuju jendela, menatap pemandangan gedung-gedung dari sana. Ini sungguh diluar dugaan. Jelas-jelas aku tidak pernah memiliki hubungan dengan siapapun selama ini, jadi bagaimana bisa aku menikah setelah wisuda.


Aku menggeleng. Aku seperti mengulang kisah Aunty Chelo, beliau pernah menceritakan kisah cintanya dengan Uncle Hans yang berakhir dipelaminan. Itu memang kisah yang sungguh romantis dan aku sangat mengelu-elu kan kisah cinta seperti mereka. Kehidupan rumah tangga yang diimpikan setiap pasangan:bahagia, tenang, dan saling mengasihi. Aunty Chelo pernah bercerita kalau ia menikah beberapa bulan setelah wisuda.


“Seperti apa hubunganku dengan Andrew?”tanyaku.


“Saya tidak begitu mengetahui dengan jelas bagaimana hubungan Bapak dan Ibu, tetapi saya yakin kalau Bapak begitu mencintai Ibu setelah kejadian itu”jelasnya.


Aku terperanjat. Tanpa sadar aku menyentuh bibirku, apa benar Andrew mencintaiku. “Bagaimana pertemuan pertama kami?”tanyaku lagi. Kali ini dengan keinginantahuan yang luar biasa.


Ia membenarkan posisi duduknya, “Sebelumnya Ibu magang diperusahaan ini. Selama itu pula Bapak mencintai Ibu”jelasnya.


Aku membuka pintu kamar dengan tergesa-gesa. Aku dan Andrew baru saja pulang dari kantor. Selama dikantor, aku tidak tahu apa yang Andrew kerjakan, begitu juga sebaliknya. Setelah semua urusan selesai, kami berdua pulang bersama.


“Bukalah perlahan”suara itu membuatku hampir jatuh kalau saja tangan Andrew tidak menangkapku. Sykurlah.


“Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, tetapi aku merasa kamu sedikit berbeda dari biasanya. Apa ada yang membuatmu berubah?”tanyanya.


Sebenarnya tidak ada fakta penting yang aku temukan, hanya cerita Marisa tentang Andrew yang begitu mencintaiku dank arena itulah aku jadi merasa canggung. Saat Andrew berada disekitarku, aku akan merasakan jantungku berdegup. Astaga, apa yang kupikirkan.


“Aku tidak apa-apa”jawabku sambil masuk kekamar.


“Apa ini semua karena Gabby”Andrew kembali mendekatiku hingga kekamar. Ini bukan karena Gabby atau siapa, karena akulah yang tidak bisa menahan diri untuk tidak memeluknya.


Andai saja aku bisa mengendalikan diriku, mungkin aku tidak akan menyembunyikan wajahku didadanya. Apa yang aku lakukan sebenarnya.


“Aku senang kamu kembali bersikap manja padaku. Sejujurnya, aku sangat merindukanmu”bisiknya dan aku masih saja bersembunyi didadanya. Harum tubuhnya membuatku terlena, kalau saja aku benar-benar yakin dia adalah suamiku, mungkin aku akan memintanya untuk memelukku sepanjang tidur. Oh, astaga.


“Maafkan aku membawamu naik ketempat tidur, karena aku terlalu lelah untuk menopang tubuhmu sambal berdiri”ucapnya.


Aku menekan lampu dan seketika kamar menjadi terang benderang. Aku tidak ingin tidur seranjang dengannya, tetapi aku sangat menyukai tidur dipelukannya sepanjang hari. Oh, andai aku tidak amnesia, aku tidak akan bingung seperti ini.


“Kamu tidak kembali kekamarmu?”tanyaku seraya membasahi bibir, karena ak gugup luar biasa.


Andrew menggeleng. “Bisakah aku tetap berada disini?”tanyanya dengan wajah memelas. Aku jelas tidak ingin, “Sudah lama sekali aku tidak tidur sambil memelukmu”ucapnya dengan wajah sedih. Anggap saja diriku lemah, karena luluh begitu saja dengan perkataannya sekaligus wajanhya, tetapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, apalagi saat ia menegaskannya dengan jelas, “Aku janji tidak akan melakukan sesuatu yang membuatmu tidak nyaman”janjinya.


Entah apa yang ada diotakku saat ini, karena aku langsung mematikan lampu dan menarik selimut untuk kita berdua. Semoga saja mala mini tidak akan terjadi apapun diantara kami. Aku tidur memunggunginya, tetapi aku merasa tidak nyaman. Aku nyaman tidur sambil memeluknya—seperti tadi.


Aku dapat merasakan deru napasnya dileherku, sepertinya dia sudah terlelap. Jadi, ini kesempatanku untuk memeluknya dia-diam. Paginya, aku akan mengatakan aku melakukan sesuatu yang tidak kuinginkan dengan tidur sambil memeluknya. Bagus, Yassi.


Aku membalikan tubuhku dan betapa terkejutnya aku saat menemukan dirinya masih belum terlelap. Saat aku berbalik, kami saling bertatapan dan melakukannya dengan sangat lama. Sadar dengan apa yang aku lakukan, aku langsung membalikan tubuhku kembali. Astaga, apa yang harus kulakukan. Aku tidak akan tidur kalau tidak memeluknya.


Ah, masa bodo dengan rasa malu. Aku membalikan tubuhku kembali dan langsung memeluknya dan langsung menyembunyikan wajahku didadanya. Aku merasa ia sedikit terkejut, tetapi lama-kelamaan aku merasakan tangannya mengelus puncak kepalaku.


Aku membuka mata. “Selamat paginya”sapanya dengan senyuman yang terbit dibibirnya.


Aku menyenderkan tubuhku dikepala ranjang. Sungguh, aku belum mampu menatap wajahnya. Aku terlalu malu untuk kejadian tadi malam, apa pendapatnya tentang diriku yang tiba-tiba memeluknya. Iya, kalau pernikahan kami terbiukti benar, kalau kenyataanya tidak, aku pastinya yang akan malu dan merasa bodoh.


“Kalau boleh, aku ingin tidur dikamar ini bersamamu. Boleh?”tanyanya.


Aku menoleh. Apa sekarang aku merasa tuli, Andrew mengatakan hal yang tidak masuk akal dipagi hari bersamaan dengan kecupan didahiku. Oh, bagaimana bisa aku mencari tahu tentang dirinya kalau begini jadinya.


“Tapi kita__”aku mencoba membuat alasan.


“Ssstttt…aku dan kamu adalah pasangan suami isteri”ucapnya seraya meletakan jari telunjuk dibibirku.


“Tapi Ndrew, aku belum yakin kalau hubungan yang aku miliki denganmu adalah seperti ini”jawabku dengan nada rendah. Aku memang belum begitu yakin dengan kenyataan itu, apalagi setelah acara reuni yang mengharuskan aku bertemu dengan Fauzi. Namun, aku tidak membohongi diriku sendiri kalau aku memang sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Andrew.


“Tanyakan itu pada hatimu, Yass. Kisah cinta kita memang singkat, tetapi cinta itu sudah cukup dalam untuk mengingat hubungan kita”ucapnya. Aku tahu, Andrew sedang menahan emosi yang sebentar lagi akan meledak.


“Ndrew, aku tahu itu. Tetapi kenyataannya aku tidak mengingatnya. Aku menerima kehadiranmu sebagai suamiku, tapi aku belum begitu yakin dengan hubungan ini. Maaf”ucapku menunduk.


-0-0-0-


Aku memperhatikan Gabby yang langsung menyambar lengan Andrew saat masuk kantor. Ingin rasanya aku membanting tangannya atau mematahkannya agar ia jera dan tidak akan menarik lengan Andrew yang jelas-jelas sudah memiliki isteri.


“Ndrew”


Telingaku rasanya tuli seketika saat mendengar wanita itu memanggil dengan panggilan ‘Ndrew’. Bukannya ia adalah karyawan disini dan sudah sepatutnya ia memanggil Andrew dengan panggilan ‘Pak’. Aku mendelik kearahnya, tetapi ia hanya menatapku penuh kemenangan. Astaga, tak bisakah Andrew menyadari betapa liciknya wanita itu.


“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Bisa kita masuk?”tanyanya.


“Tapi, aku dan Yassi akan membahas masalah kantor bersama”Andrew menoleh kearahku.


Gabby memandang wajahku, “Yassi tidak akan masalah kalau ini menyangkut perusahaan”ucapnya seraya menarik lengan Andrew masuk kedalam ruangannya secara paksa. Dasar, wanita yang tidak tahu diri.


“Marsya, bisa kamu buatkan aku kopi?”tanyaku


“Tapi, Bu, Pak Andrew tidak memperbolehkan Ibu mengonsumi kopi. Beliau mengatakan itu sangat buruk untuk kesehatan”


Dahiku mengernyit. Aku tidak suka diatur, apalagi rasa kesalku belum juga reda dan saat ini aku hanya membutuhkan kafein untuk menenangkan diri. Lagipula, Andrew sama sekali tidak tahu kalau aku meminum kopi bukan, toh saat ini ia sedang berduaan dengan Gabby.


“Buatkan saja”ucapku seraya menatapnya tajam seolah tak ingin dibantah.


Aku menatap ruanganku. Sudah hampir setengah jam Andrew belum juga kembali dan itu membuatku gusar. Sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan hingga selama ini dan rayuan apa yang membuat Andrew betah berada diruangan Gabby. Ah, entahlah.


“Bu, ini kopinya”Marsya menletakan secangkir kopi diatas meja dan langsung keluar daru ruangan begitu saja.


Saat cangkir itu sudah mendekati bibirku, aku merasakan cangkir terasa berat. Aku memeriksanya dan menemukan tangan Andrew yang menahannya agar tidak kuminum. “Andrew”pekikku tidak suka. Aku melepaskan tangannya dari cangkirku dan memilih meletakannya diatas meja.


“Yass, sudah berulang kali aku memperingatimu untuk tidak mengonsumi kopi”


“Aku tidak mengingatnya. Lagipula, apa urusanmu denganku, bukannya kamu sibuk dengan Gabby?”sindirku tajam.


“Yass, kita sedang membicarakan perusahaan bukan sedang menjalin kasih”jelasnya. Aku tidak ingin mendengarnya.


Andrew berjalan mendekatiku. Dia memandangku, “Jangan bersikap kekanak-kanakan dengan membuatku berada posisi yang salah, Yass”ucapnya dengan tatapan yang tajam. Aku kecewa padanya, sangat kecewa.


To be continue……


Jangan lupa vote dan comment ya...


ig : @crkhan8


blog : crkhan8.blogspot.com