You're My Destiny

You're My Destiny
Pergi



Lea masih kesal perihal kejadian di meja makan tadi, Leon selalu berkata kasar padanya, andai Leon tau bagaimana kondisi hatinya pasti Leon akan berpikir berkali-kali lipat untuk melakukan hal itu padanya.


Tidak bisa di pungkiri jika Lea masih menaruh harapan kecil pada Leon, jika seandainya Leon meminta maaf padanya maka Lea pasti akan memaafkan Leon, tetapi sepertinya Leon tidak mau maka Lea juga tidak akan takluk pada Leon begitu saja.


'Daddy" guman Lea yang tiba-tiba merindukan Daddy-nya


'Sebaiknya aku tidur saja" Lea segera membaringkan tubuhnya di atas ranjang Leon


Baru saja Lea merasa kesadarannya mulai menghilang tiba-tiba Leon masuk dan menarik kakinya.


'Apaan sih!" kesal Lea langsung duduk


'Siapa yang suruh untuk tidur di tempat tidur ku?" tanya Leon dengan sorot mata yang menatap Lea dengan tatapan tajam


'Jadi Lea harus tidur dimana? masa tidur di lantai? yang benar saja!" Lea mengabaikan Leon yang terlihat kesal


'Pokoknya tidak boleh tidur di kasur, buruan pindah, tempat tidur itu harusnya menjadi tempat tidurku dan juga istriku nantinya" Leon kembali menarik kaki Lea membuat Lea kesal dengan perkataan Leon


'Memangnya ada yang mau menikah dengan pria egois seperti dirimu itu? sudah baik Lea mau menikah denganmu!" Leo menatap Leon dengan malas


'Andai bukan karena wasiat Daddy mu itu mana mau aku menikahi gadis murahan sepertimu!" Leon berdecih tanpa sadar ucapannya membuat Lea terluka


PLAK


'KAMU PIKIR AKU JUGA MAU MENIKAH DENGAN PRIA MURAHAN SEPERTIMU ITU? SADAR DIRI DONG, AKU JUGA PUNYA KEKASIH ASAL KAMU TAU!" teriak Lea merasa panas dengan perkataan Leon yang menyebutnya wanita murahan


'Cih, ku dengar kamu sudah putus dengan kekasihmu itu" Leon mengolok-olok Lea yang memejamkan matanya menahan amarah


'Untuk apa kamu mengurusi masalah percintaan ku? ternyata kamu begitu mencintai ku sehingga mencari kehidupan ku" Lea merasa menang karena berhasil membungkam Leon


'Jangan terlalu percaya diri, aku melakukannya untuk memastikan istriku itu bersih atau tidak" Leon mengelak


Leon merasa malu, harusnya dia tidak menyuruh salah satu anak buahnya untuk memata-matai Lea.


'Kamu pikir aku seperti kamu, menjijikkan, biar aku katakan, mau aku bersih atau tidak itu bukanlah urusan mu, urus saja masalah percintaan mu dengan tunangan mu itu" balas Lea bangkit dari ranjang dan langsung membaringkan tubuhnya di atas karpet


Lea merasa bersalah setelah mengatakan kata-kata kejam pada Leon, tetapi Leon pantas mendapatkan itu karena sedari kecil Leon selalu menganggapnya remeh.


Leon menatap Lea yang berbaring di karpet, rasanya Leon ingin menggendong Lea dan menidurkannya di atas ranjang.


'Apa yang kamu pikirkan sia*lan! Biarkan saja dia tidur di sana" batin Leon segera menuju kamar mandi


'Daddy hiks.. mengapa kamu mau menikahkan putrimu ini dengan pria bre*ngsek itu" batin Lea sambil menutup matanya


Pagi harinya Lea langsung mengganti bajunya setelah selesai sarapan pagi.


Sesampainya di rumah sakit terlihat beberapa dokter dan perawat berlari memasuki ruang inap Daddy-nya membuat jantungnya serasa mau copot.


Lea mencoba masuk tetapi di tahan oleh seorang perawat, sebelum keluar Lea bisa melihat tubuh Daddy-nya yang kejang-kejang membuat Lea berteriak keras.


'DADDY!" panggil Lea dengan suara teriakan


'Tenanglah nona, dokter tengah memeriksa Mr. Gofran" perawat itu nampak menenangkan Lea yang terisak


Tidak lama kemudian terlihat dokter Peter keluar dari ruang inap dengan wajah sedihnya membuat Lea kalang kabut.


'Daddy, bagaimana dengan Daddy Paman?" tanya Lea tidak sabaran


'Sabarlah nak, ini sudah jadi kehendak Tuhan, kita tidak bisa mengubah takdir" dokter Peter menepuk bahu Lea


Tubuh Lea luruh ke lantai, air matanya sangat deras mendengar perkataan dokter Peter.


Lea menutup mulutnya menahan isak tangisnya, Lea masih tidak percaya dengan kenyataan ini.


'Daddy" panggil Lea lirih sambil menggoyangkan tangan Daddy-nya


Lea menjatuhkan selimut yang menutupi tubuh Daddy-nya, tubuhnya masih hangat membuat Lea berpikir Daddy-nya masih bernafas.


'Daddy" panggil Lea sambil mencium tangan Daddy-nya yang terasa dingin


'Dad...hiks... Daddy, Daddy pasti hanya tidur kan hiks.." Lea merasa pasokan oksigen dalam paru-parunya terasa sesak


Merasa Daddy-nya tidak merespon membuat Lea kalang kabut.


'DADDY!" teriak Lea dengan kuat


Dokter Peter berjalan mendekat mencoba menenangkan Lea yang sudah dia anggap putrinya sendiri.


'DADDY HIKS... DADDY BANGUN HIKS..!" Lea masih mengguncang tubuh Daddy-nya yang sudah tidak bergerak


'Tenanglah Nak, ikhlaskan" dokter Peter memeluk Lea


'P... Paman hiks.. Daddy hiks.. Daddy hanya tidur kann?" Lea menatap dokter Peter dengan tatapan penuh kesedihan


'Ikhlaskan Daddy mu nak, Daddy mu sudah tidak merasa sakit lagi" dokter Peter meneteskan air matanya melihat keterpurukan Lea


Dokter Peter adalah saksi bagaimana Lea mulai dari kecil, Lea adalah gadis yang ceria tetapi sekarang keceriaan itu hilang sirna seiring dengan kepergian sahabatnya itu yaitu tuan Gofran.


'Daddy hiks... hiks... maafkan Lea hiks... Maaf jika Lea membuat Daddy menderita sedari dulu hiks... andai Lea tidak ada di dunia ini pasti Daddy masih bersama dengan Mommy" Lea mencium pipi Daddy-nya cukup lama


'Bukan salah mu nak, sabarlah jangan membuat Daddy mu sedih" dokter Peter mengelus punggung Lea dari belakang


Lea masih menangis terisak membuat dokter Peter tidak kuasa melihatnya, gadis kecil yang dulu dia kenali kini sudah berubah seiring dengan pergantian jaman.


'Jika kamu memang begitu merasa kehilangan, maka bersandar lah pada Paman, menangis lah sepuasnya nak" dokter Peter kembali memeluk Lea


Runtuh sudah pertahanan Lea, tangisannya terdengar lirih karena menyimpan luka yang mendalam.


Dokter Peter ikut menangis melihat Lea yang begitu terluka, andai dokter Peter bisa memilih maka dokter Peter ingin menggantikan kepergian sahabatnya itu, karena dokter Peter juga sudah tidak memiliki keluarga, istrinya meninggal saat akan melahirkan di susul juga dengan calon anaknya, nasibnya tidak jauh dari sahabatnya itu.


'Paman hiks.. mengapa Daddy pergi hiks.. apa Lea jahat hiks.. Lea tidak mau Daddy pergi" Lea memeluk dokter Peter erat


'Tidak nak, kamu tidak jahat hanya saja Tuhan lebih sayang kepada Daddy makanya Daddy di ambil kembali, sekarang Daddy sudah tidak kesakitan lagi, Daddy tidak akan berbohong lagi padamu nak" dokter Peter menghapus air matanya


'Lea sayang Daddy hiks.. apa rasa sayang Lea tidak cukup kuat sehingga Daddy lebih memilih bersama Tuhan hiks.." Lea menatap tubuh Daddy-nya yang kini kembali di tutupi oleh selimut


'Tentu saja rasa sayang Lea pada Daddy sangat kuat, tetapi takdir tidak bisa di kecoh, kamu pasti kuat nak" dokter Peter menghapus air mata Lea dan tersenyum meski terasa berat


Lea menggelengkan kepalanya tetapi dokter Peter menganggukkan kepalanya membuat Lea dengan berat menganggukkan kepalanya.


'Suster urus semuanya" perintah dokter Peter


'Baik dokter" patuh suster itu


Dokter Peter membawa Lea keluar dari ruangan itu dan menenangkan Lea yang masih terisak sedih, padahal dulu dia berjanji tidak akan menangis pada Daddy-nya apapun yang terjadi tetapi Lea tidak kuat menahannya lagi.


🌫️🌫️🌫️


Sedih banget hiks.. author mewek ini huwaaa...


riri-can