
Aku menghubungi Fauzi dan kebetulan sekali ia mengajak bertemu. Dan disinilah aku berada, caffe yang lumayan jauh dari kantor. Beberapa menit yang lalu aku sudah mengatakan pesananku pada pelayan, hanya tinggal menunggu disajikan saja.
“Hei, maaf aku terlambat”
Aku mengangkat wajahku dan tersenyum. Fauzi datang lima menit lebih dari waktu yang kita janjikan. Aku memperhatikan wajahnya yang penuh keringat. Aku jadi bertanya-tanya, apakah ia berlari untuk menuju kemari.
“Kebetulan sekali kamu menghubungiku. Kamu tahu betapa bahagianya aku saat kamu menghubungiku?”tanyanya tersenyum. Kedatangan pelayanan yang membawa pesananku membuatny berhenti bicara sesaat, kemudian ia menyebutkan pesanan pada pelayan.
“Jadi, kamu menunggu teleponku?”tanyaku menahan senyum. Dia menunduk malu, “Mengapa kamu tidak menghubungiku lebih dulu?”tanyaku sambil memperhatikan wajahnya yang kebingungan.
Ia memutar matanya, aku tahu dia sedang menutupi rasa gugupnya. “Kamu tahu kan bagaimana kisah kita dulu? Semuanya berjalan baik sampai akhirnya datang Arsyad yang membut semuanya hancur”dia menatapku sedih. Sebenarnya, aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi diantara aku dan dia, juga pria yang bernama Arshad.
“Yass, sangat sulit melupakan kamu. Dari dulu hingga sekarang, aku hanya mencintai satu wanita:dirimu”ucapnya seraya tersenyum.
“Aku tidak begitu percaya dengan ucapan pria”jawabku sambil mengaduk jus-ku. Dia tertawa. Yah, entah mengapa aku bisa bersikap apa adanya saat bersama Fauzi. Mungkin, hubunganku dengannya memang benar adanya.
“Sebenarnya, aku ingin sekali minta maaf padamu”ucap Fauzi sambil memandangku. Aku mencoba menerka apa yang membuatnya berterimakasih, apa dia membuat kesalahan pada diriku. “Saat masih SMP, aku mengatakan pada Arshad kalau kita pacaran dan ia mempercayainya”ucapnya pelan.
Aku menghela napas. “Itu bukan masalah, Zi”jawabku membasahkan kerongkonganku dengan jus. Tak lama pelayan datang membawa pesanan Fauzi. Aku tidak menyangka pertemuanku dengannya berlangsung cukup lama dan aku tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh Andrew kalau melihatku saat malam hari. Ah, masa bodo.
“Zi, aku harap kita bisa menjadi teman”ucapku saat kami akan berpisah didepan caffe.
Fauzi tersenyum, “Aku bahkan mengharapkan lebih dari itu, kalau kamu tidak keberatan”. Aku terpaku. Apakah dia menginginkan hubungan yang jauh lebih dekat dari pertemanan dan apakah ia masih mencintaiku hingga saat ini.
Aku sampai dirumah. Didalam tidak ada siapapun, Andrew juga tidak ada. Mungkin, ia sedang dikantor mengurus pekerjaannya atau dia sedang berduaan dengan Si Gabby. Lagipula, aku juga tak peduli dia kemana, siapa suruh membuatku kesal. Sekarang yang aku inginkan adalah tempat tidur dan istirahat. Baiklah, hari ini aku bebas menguasai tempat tidur tanpa harus berbagi dengan Andrew—pria asing.
Aku sangat menikmati tetesan air hingga tidak menyadari kalau aku begitu lama berada disana. Baiklah, saatnya keluar dari tempat yang sangat menyenangkan. Sepertinya Andrew belum pulang, jadi baik-baik saja kalau aku keluar hanya mengenakan bathrobe.
“Let’s dance together, get on the dance floor………..”
Aku mulai bersenandung sambil menarik pakaian yang aku kenakan dengan amat bahagia. Lebih baik aku terlihat bahagia, daripada harus menampilkan kesedihan, nanti pria itu akan menganggapku cemburu padanya. Tidak, Yassi tidak akan mudah jatuh cinta.
“Kamu darimana?”pertanyaan itu membuatku terkejut. Aku menutup lemari dan melihat Andrew duduk ditepi ranjang masih mengenakan pakaian kantor. “Kamu pergi dari kantor tanpa memberitahuku”tambahnya.
Aku kembali masuk kedalam kamar mandi, membiarkan Andrew berbicara dengan udara. Biar tahu rasa dia, salahnya dia membela Gabby dihadapanku. Isteri manapun akan cemburu kalau suaminya membela wanita lain tepat didepan wajahnya. Ups, apa tadi kubilang, isteri. Tidak, aku bukan isterinya dan itu akan berlaku mulai saat ini. Lebih baik aku berpacaran dengan Fauzi dan memandang masa depan bersamanya.
“Yass, kamu belum menjawab pertanyaanku”Andrew kembali menanyakan hal yang sama. Aku malas menjawabnya, lagipula memangnya dia siapa sampai mengurusi kehidupanku.
Aku duduk dimeja rias dan mulai menyisir rambut, “Kamu bisa keluar? Aku ingin istirahat”ucapku. Malas juga kalau berurusan dengan pria asing yang belum tentu benar perkataannya.
“Kamu marah padaku? Karena Gabby?”tanyanya.
Aku menggeleng. “Mulai sekarang aku tidak akan meributkan soal itu padamu. Jadi, bisa kita akhiri pembicaraan kita malam ini?”tanyaku lagi. Andrew sepertinya tidak berniat keluar dari kamarku, maka aku harus melakukan cara lain. “Kalau kamu suka berada disini, maka aku yang akan pindah”. Aku meraih bantal dan guling dan berjalan menuju pintu. Yah, sebenarnya, aku tidak perlu repot-repot membawa bantal dan guling, toh dikamar sebelah juga ada semuanya. Tetapi aku malas saja memakai milik Andrew.
“Baiklah, kita bicara besok pagi”ucapnya mengalah. Ia berjalan menuju pintu dengan gontai. Terserah ia mau mengatakan apa, mau bicara hari ini atau besok pagi, jawabanku akan tetap sama.
Aku bangun dengan semangat baru. Hari ini aku akan memulai pagi dengan senyuman dan aku juga sudah bertekad untuk tidak memikirkan soal Gabby atau wanita yang berada disekeliling Andrew.
Setelah selesai mandi, aku langsung keluar kamar. Andrew sudah ada diruang makan, seperti biasa dengan koran tepat didepan wajahnya. “Selamat pagi”sapaku dengan ramah. Sekarang, aku sudah tidak peduli dengan kehidupan Andrew, aku sudah menganggap Andrew sebagai tetanggaku.
“Kamu mau kemana?”tanyanya setelah melipat koran dan meletakannya diatas meja. “Pakaianmu juga sangat rapi”komentarnya sambil membenarkan letak kacamatanya yang sedikit melorot.
Aku menelan roti dengan sangat pelan, kemudian meminum cokelat panas yang sebelumnya aku buat. “Aku pergi dan mungkin akan pulang malam”pamitku tanpa mendengar jawaban darinya.
Aku memandang pria dihadapanku lekat-lekat. Sudah beberapa lama ia mengamatiku dari ujung kaki hingga kepala, memangnya ada yang salah dengan diriku. Seharusnya, hari ini aku bertemu dengan Fauzi, tetapi sepertinya dia datang terlambat.
“Kamu masih mengingatku?”tanyanya.
“Aku? Aku tidak mengenal dirimu, memangnya kamu mengenalku?”tanyaku dengan wajah bingung. Semua ini pasti terjadi kalau aku benar-benar amnesia dan tetntu saja aku tidak mengenal pria ini.
“Yassi”panggilnya pelan dan itu mengantarkanku pada sebuah ingatan tentang seorang pria yang seringkali berbeda pendapat denganku, tetapi aku sama sekali tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas—semuanya terasa buram.
Tak lama setelah kebisuan yang terjadi diantara kita, aku melihat Fauzi datang. Syukurlah, ia membantuku terbebas dari tatapan pria itu. Tapi, tunggu, mengapa Fauzi menjadi kesal saat melihat pria itu.
“Jadi kabar itu benar:kalian terlibat CLBK?”tanyanya dengan tatapan tak suka.
“Memangnya kenapa?”. Aku melihat Fauzi tidak suka dengan pertanyaan itu. Nyatanya sekarang ia sudah menggenggam tanganku dan membawaku untuk duduk dikursi, disusul dengan dirinya sendiri, juga pria tadi.
Aku mengatakan pesananku pada pelayanan, begitu juga dengan yang lainnya. Aku mencoba membiarkan getar ponsel didalam sakuku, paling juga Andrew yang akan memberikan aku seribu macam pertanyaanku tentang kepergianku.
“Aku tahu kamu merasa tidak nyaman dengan kehadiran Arshad”. Aku memandang Fauzi dengan penuh kebingungan. Jadi, pria yang duduk dihadapanku adalah Arsyad—teman masa kecilku yang kata Fauzi pernah memperebutkan hatiku dengannya.
Pria bernama Arshad itu tersenyum kearahku, “Jadi, masih bisakah aku menggapai hatimu saat ini? Kamu bisa melihatnya kalau aku masih single dan sepertinya tidak berniat mencari kekasih selain dirimu. Didalam hatiku masih terpatri namamu”jelasnya. Aku menelan saliva dengan susah payah.
“Maksudmu?”tanyaku sambil memutar mata kearah lain. Malas juga mendengar ocehan Arshad yang membuatku ingin muntah. Dari wajahnya aku tahu kalau ia adalah pria yang memiliki segudang stok wanita dan sudah biasa mempermainkan wannita yang begitu tergila-gila dengan ketampanannya.
Aku menghela napas, mataku kembali memutar dengan malas dan menjatuhkan pandangan pada Fauzi yang ternyata tengah memandangiku juga. “Zi, bisa kita pergi dari sini? Entah mengapa aku merasa bosan dan menurutku tempat ini tidak begitu cocok untuk membicarakan tentang aku dan dirimu”ucapku sengaja membuat Arshad pergi dari sini.
Belum sempat Fauzi membuka suara, Arshad mendahuluinya, “Bagaimana ketempat favorite-ku saja, kebetulan aku memiliki tempat yang cocok untuk kita ngobrol”.
Rasanya sungguh memuakan, bagaimana bisa pria ini tidak tahu dengan kata kiasan yang bernada sarkas dariku. Apa selama pelajaran bahasa Indonesia, ia biasa tertidur. “Yass, sudah lama kita tidak mengobrol dan aku ingin mendengar ceritamu tentang kehidupanmu”Arshad kembali bicara lagi bahkan saat aku tidak menyahutinya. Mataku juga sudah menyalak dan siapapun yang melihatku pasti akan tahu kalau aku sedang kesal. Tetapi, Arshad bukanlah orang yang bisa memahami isyaratku atau memang ia tidak memiliki muka.
“Zi, tolong”pintaku setengah memohon dan menatapnya dengan memelas.
Fauzi menarikku keluar dari sana dan buru-buru berjalan menuju kasir untuk membayar pesanan kami. Lega rasanya saat sudah berada jauh dari pria itu. Sejujurnya aku sangat suka memiliki teman baru, tetapi aku tidak tahan dengan bualannya. Memangnya aku wanita-nya yang akan senantiasa mendengarkan rayuan gombalnya.
“Kamu kelihatannya kesal padanya”Fauzi mulai mengajakku bicara saat kami sudah berada didalam mobil.
“Kamu juga merasakan hal yang sama denganku bukan?”tanyaku sambil menahan senyum. Fauzi tertawa dan selanjutnya kami terlibat dalam percakapan hal yang serius tentang masa-masa sekolah kami.
“Kamu diantar siapa?”pertanyaan itu membuatku mengurungkan niat untuk beristirahat disofa. Ternyata, Andrew sudah berada didalam dan pakaiannya juga sudah berganti dengan piyama tidur. Dia mengambil tempat disebelahku, “Pria itu siapa?”tanyanya lagi.
Aku sebenarnya malas menjelaskan padanya, tapi aku tidak ingin ribut. “Dia Fauzi, teman masa kecilku”jawabku malas. Aku memperhatikan rahangnya yang menggeras, apa dia kesal padaku. Ah, masa bodo.
“Apa kamu bermain dibelakangku?”desisnya.
“Aku tidak merasa sedang menduakanmu, toh aku belum mempercayai kalau dirimu adalah kekasihku”aku membela diri. Kenyataannya memang begitu dan aku tidak ingin membuang waktuku dengan mempercayainya sebagai suamiku kalau aku belum yakin dengannya. Aku tidak ingin sakit hati saat mengetahui kalau kenyataannya Andrew bukanlah suamiku dan ia hanya menipuku untuk tujuan tertentu.
“Apa yang kamu katakan? Jelas-jelas aku adalah suamimu dan kamu tidak bisa melakukan sesuatu tanpa seijinku”perkatannya seperti perintah, bukan menasihati. Aku tidak menyukainya.
“Aku belum yakin denganmu”ucapku sambil memejamkan mata. Tanganku meraih gagang pintu dan masuk kedalamnya. Aku merasa pening, lebih baik aku merebahkan tubuh diatas ranjang daripada harus perang mulut dengan Andrew.
Setelah menata bantal dan guling, aku siap merebahkan tubuh, tetapi aku lupa belum mengunci pintu. Dengan malas aku berjalan menuju pintu dan menutupnya, tetapi belum sempat aku mendorongnya, Andrew sudah lebih dulu mendorong tubuhny masuk kedalam kamarku, kemudian menguncinya dan mengantongi kuncinya.
“Kita harus bicara”ucapnya seraya menarik lenganku hingga duduk ditepi ranjang, “Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, tetapi aku merasa kamu berubah”ucapnya.
Kalau boleh memilih, aku tidak ingin membahas masalah ini. Tetapi, sepertinya semuanya harus jelas dan selanjutnya Andrew tidak akan mengganggu kehidupannya lagi.
“Aku tiak berubah, inilah aku. Kalau kamu tidak mengenalku, berarti kamu bukan suamiku yang sebenarnya. Cukup mudah kan?”aku naik ketempat tidur. Terserah dia mau melakukan apa, toh dia juga yang memegang kuncinya, pasti ia bisa membuka pintu dan keluar dari sini.
“Aku tahu, kamu pasti marah padaku karena Gabby bukan. Hari ini aku sudah membuat keputusan untuk memindahkannya kekantor cabang, jadi kamu tidak perlu cemburu lagi”ucanya sambil memeluk pinggangku—ia ternyata merebahkan tubuh disampingku. Jujur, saat mendengarnya, aku sangat bahagia, akhirnya Si Wanita Penggoda itu enyah juga. Tetapi, aku masih meragu.
Aku merasakan pelukan diperutku semakin menguat, kepalanya sudah berada dikepalaku. Embusan napasnya membuatku tidak bisa tidur, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memeluknya balik. Dia tersenyum, “Ini baru Yassi-ku”ucapnya sambil menciumi rambutku.
“Memangnya siapa yang sudah mempercayaimu. Aku masih belum yakin denganmu”ucapku. Biar saja.
“Ini lebih baik daripada kamu harus mendiamiku seharian penuh dan melarangku untuk tidur disini. Apa seharusnya kita pindah kamar?”tanyanya. Aku menggeleng.
Aku merasakan sentuhan lembut dibibirku. Aku membuka mata dan menatap Andrew dengan kesal, bisa-bisanya ia meciumku dipagi hari. Dia hanya tersenyum dan kembali mencuri ciuman dibibirku. Aku cepat-cepat melepaskan diri sebelum Andrew melakukannya lebih jauh.
“Sayang_maksudku Yass, kamu harus selalu percaya padaku”ucapnya seraya memelukku.
“Ndrew”pekikku
“Mandilah, aku akan menunggumu disini”dia mengatakan itu sambil memandangku dari atas hingga bawah. Dia berdehem, “Apa kamu ingin melakukannya bersamaku?”tanyanya sambil mengedipkan mata. Aku berlari masuk kedalam kamar mandi.
Aku keluar dari kamar mandi setengah jam kemudian. Andrew masih berada disana, tetapi ia sudah memakai pakaian kantor, sepertinya ia mandi dikamar sebelah.
“Oh ya, Yass…jadi hubunganmu dengan pria itu apa?”tanyanya saat aku sedang menarik keluar pakaian dari lemari.
“Apa aku sudah mengatakan kalau aku belum mau menerimamu?”sindirku tajam. Aku melihat bibirnya terangakat keatas.
“Kamu akan menjelaskannya atau aku harus memaksamu mengatakannya setelah aku melepas bathrobe-mu?”
Astaga, aku lupa kalau Andrew memiliki segudang jebakan untuk menjeratku dan salah satunya adalah menggodaku. “Dia temanku, cinta masa laluku”jelasku singkat.
“Apa ingatanmu sudah kembali?”tanyanya. Aku melihat kewaspadaan diwajahny, apakah ia tidak ingin aku mengingat masa laluku. Mungkin saja.
Aku memandangnya, Andrew menjadi gugup. Apa mungkin ia merasa aku akan menjauh darinya saat mengingat masa laluku. Ah, semuanya sangat rumit untukku.
To be continue……
Jangan lupa vote, subscribe, dan comment
Ig : @crkhan8
blog : crkhan8.blogspot.com