
Lea menatap sekeliling cafe yang lumayan ramai, terlihat beberapa pasangan yang tengah kencan ada juga yang sendirian hingga pandangannya tertuju pada dua orang wanita yang tengah bercumbu membuatnya bergidik ngeri.
Bukan apa-apa hanya saja Lea masih belum terbiasa melihatnya, Jeany mengetahui arah pandangan Lea seketika tawanya pecah.
'Biasa saja dong melihatnya, itu sudah menjadi pilihan mereka, penyimpangan yang cukup signifikan, bisa saja mereka trauma dengan berpacaran dengan lawan jenis atau memang perilaku menyimpang mereka sudah tertanam dari kecil bisa saja karena lingkungan atau faktor gaya, aku juga bingung mau menyikapi mereka bagaimana, yang penting aku tidak ikut-ikutan" jelas Jeany dan Ke mengangguk paham
'Oh iya ngomong-ngomong jika aku boleh bertanya, kamu bekerja dimana?" tanya Lea
'Aku hanya seorang model biasa" balas Jeany tetapi Lea tidak percaya karena jika Jeany hanya seorang model biasa tidak mungkin dia bisa tinggal di apartemen mahal itu, Lea saja berpikir berkali-kali lipat ingin tinggal di sana tetapi itu pilihan Derrick
'Baiklah jangan menatapku seperti itu, aku seorang desainer sekaligus model pakaian yang aku rancang sendiri" Jeany tersenyum malu menjelaskan
'Jujur saja aku merasa familiar dengan wajahmu itu, nama merk pakaianmu apa?" tanya Lea mulai tidak sabaran
'Sepertinya jeans yang kamu pakai itu merupakan brand dari kami" kekeh Jeany membuat Lea membulatkan matanya
Lea membulatkan bola matanya tidak percaya dengan perkataan Jeany.
'Jangan bilang kamu adalah Olaffi Jeany ?" tanya Lea tidak percaya
'Yaa.. itu nama kepanjangan ku dan dan Olaffi adalah nama brand kami" kekeh Jeany membuat Lea melotot
Lea tidak menyangka akan bertemu dengan seorang desainer ternama, bahkan mereka satu gedung apartemen beda unit, bahkan Lea sangat menggilai brand Olaffi karena bahannya adem dan nyaman di gunakan, pemilik brand Olaffi memang jarang tersorot karena tidak mau kehidupannya terekspose oleh media masa, katanya jika kehidupannya terekspos maka dirinya tidak akan tenang jika ingin bepergian ke suatu tempat padahal dia adalah salah satu model brandnya sendiri tetapi banyak orang tidak mengetahui hal itu, sungguh luar biasa sekali.
'OH MY GOD!" teriak Lea tidak percaya
'Syuttt... jangan kuat-kuat" Jeany merasa jika Lea adalah gadis yang lucu
'Aku masih tidak percaya, wow... tolong cubit aku, sepertinya aku sedang bermimpi" Lea masih tidak percaya
'Tidak mungkin aku mencubit mu Lea, tolong jangan kasih tau soal ini, aku hanya ingin bebas tanpa di batasi" Jeany menatap Lea berharap
'Baiklah, aku berjanji tidak akan membocorkan ini" ucap Lea berjanji
'Terimakasih" balas Jeany
Cukup lama mereka berbincang-bincang dan pada akhirnya mereka memilih untuk pulang tetapi sebelum pulang mereka mampir ke mini market untuk membeli kebutuhan.
Lea merasa malam ini begitu berbeda dari biasanya karena bisa bertemu dengan pemilik brand yang selama ini dia sukai, jujur saja Lea masih belum percaya.
'Sampai ketemu di lain waktu, jangan sungkan menghubungi ku jika kamu butuh sesuatu" Jeany masuk ke unit apartment nya
Lea tersenyum bahagia karena bisa memiliki nomor Jeany, entah mimpi apa dirinya semalam.
Lea membereskan belanjanya dan bersih-bersih dengan menggantikan pakaiannya dengan baju tidur dan setelah itu Lea langsung tidur.
***
Pagi harinya Lea sudah rapi dengan seragamnya, sejujurnya Lea sedikit malas untuk sekolah hari ini melihat cuaca yang yang begitu dingin karena kota Rusia di guyur hujan dengan deras dari subuh tadi.
Lea memasuki mobil yang berada di basement gedung apartemen dimana mobilnya terparkir.
Setelah berdebat dengan Derrick dan Rauff akhirnya Lea di perbolehkan memakai mobil sendiri meski masih di awasi oleh Rauff.
Fokus Lea kini hanya pada jalanan karena jalan yang basah membuat aspal itu licin, Lea harus berhati-hati agar mobil yang di kendarai nya tidak tergelincir yang mengakibatkan kecelakaan nantinya.
Hingga pas perempatan jalan menuju sekolah seseorang berhenti di depan sana membuat Lea menghentikan mobilnya.
Lea rasanya mau mengamuk saja, untung saja Lea melihatnya jika tidak maka tidak bisa di pastikan orang di depan sana sudah tertabrak mobilnya karena hujan mengakibatkan kaca mobilnya sedikit buram.
Seseorang itu mengetuk mobilnya membuat Lea menghela nafas, setelah kepergian Daddy-nya amarah Lea sulit terkontrol biasanya dia adalah gadis penyabar tetapi sekarang rasanya semua nampak mengerikan di depan matanya.
Lea menurunkan kaca jendelanya dan melihat seorang pria dengan seragam serupa dengannya.
'Permisi, apa saya boleh menumpang sebentar, saya baru saja mengalami kecelakaan dan motor saya tidak bisa hidup" ucap pria itu dengan wajah menahan sakit
Lea menatap tangan pria yang terlihat berdarah membuatnya kasihan, apalagi di leher pria itu nampak darah yang mengalir dari wajah yang di tutupi helm.
'Naiklah" Lea mempersilahkan pria itu untuk naik ke mobilnya
Pria itu membuka helmnya dengan susah payah dan terdengar suara ringisan dari pria itu membuat Lea menoleh, nampak kepala pria itu pecah melihat darah yang mengalir padahal dia memakai helm kenapa bisa separah itu?.
'Kamu baik-baik saja?" tanya Lea khawatir
'Entahlah, rasanya sangat pusing dan gelap" ucap pria itu sambil memegangi kepalanya
'Tiduran dulu, seperti aku mengingat di dekat sini ada sebuah rumah sakit" Lea memperlaju kecepatan mobilnya hingga terlihat sebuah rumah sakit yang tidak terlalu besar berdiri kokoh di depan sana
Lea memutar mobilnya dan memasuki area rumah sakit.
Lea mengabil payung yang berada di dalam pintu mobilnya dan buru-buru keluar.
Mereka berdua memasuki rumah sakit itu, terlihat seorang perawat yang tidak sengaja melihat dan berlari menghampiri mereka.
'Ikuti saya" ucap perawat itu membuat Lea menghembuskan nafas lega
Pria itu naik ke atas brankar tempat tidur, sedangkan perawat itu mulai memeriksa pria itu, dengan berat hati suster itu menggunting rambut pria itu mengingat luka berada di kepala belakang hingga depan dan cukup dalam mengakibatkan harus di jahit.
Cukup lama Lea menunggu hingga perawat itu keluar dari dalam ruangan.
'Gimana sus?" tanya Lea khawatir
'Pasien sudah di obati, di harapkan pasien jika tidur tengkurap atau miring agar lukanya tidak tersentuh" terang suster itu
'Dan satu lagi perban harus di ganti dua kali sehari" ucapnya lagi membuat Lea mengangguk mengerti
Lea menatap jam yang kini sudah menunjukkan pukul 07: 35 dimana sekolah sudah tutup dan proses belajar mengajar sedang berlangsung pastinya, Lea bolos hari ini karena seseorang tetapi Lea harusnya bangga karena baru saja menolong nyawa seseorang.
🌸🌸🌸
Semoga kalian suka yaa... Jangan lupa untuk klik Like, Komen and Vote seikhlasnya saja, author tidak memaksa kok tetapi tolong di hargai yaaa...
riri-can