You're My Destiny

You're My Destiny
Tidak Tersentuh?



Lea memasuki ruangan itu dengan ragu, mata bulatnya melihat pria itu tengah memiringkan kepalanya.


Ternyata pria itu sudah sadar setelah di berikan obat bius tadi saat di jahit.


'Apa sudah lebih baik?" tanya Lea


Sedangkan pria itu tidak menjawabnya membuat Lea kesal, padahal dia sudah menolongnya tetapi pria itu nampak acuh padanya, bahkan wajahnya dingin seperti tidak bisa disentuh sama sekali, sifat pria di depannya membuat Lea mengingat Leon yang sekarang masih berstatus suaminya.


'Apaan sih, aku cuma nanya, jawab kek atau gimana, kesel banget, buat emosi" umpat Lea menggunakan bahasa Indonesia tanpa mengetahui jika pria itu menatapnya


'Nyesal deh bantuin, mending tadi biarin aja sampe mati atau aku tabrak saja tadi" ucapnya kembali dan melihat pria itu yang juga menatapnya


'Apa lihat-lihat, mau aku tusuk matanya!" kesal Lea


Pria itu sejenak menatap wajah Lea kemudian melihat Lea yang masih saja berbicara sendiri.


'Apa kamu tidak bosan berbicara terus, kepalaku pusing mendengarnya" ucap pria itu


'Terserah aku dong, mulut juga mulutku!" balas Lea masih kesal hingga dia sadar dengan sesuatu


Lea menoleh dan menatap pria itu dengan syok, Lea baru sadar jika pria itu membalas ucapannya dengan menggunakan bahasa negaranya, meski terdengar lucu tetapi pria itu cukup lugas saat mengatakannya.


'Kamu bisa berbahasa Indonesia?" tanya Lea tidak percaya


'Diamlah!" balas pria itu sambil menutup matanya


'Apa tidak ada yang bisa di hubungi, aku males disini, rasanya sesak" Lea tidak suka rumah sakit karena ingatannya tertuju pada Daddy-nya


'Tidak ada, aku anak yatim!" balas pria itu dingin


Lea terdiam, sepertinya mereka sama-sama anak yatim, entah kenapa Lea respect pada pria itu padahal belum tau yang sebenarnya.


'Benarkah? aku juga anak yatim, Mommy meninggalkan saat aku di lahirkan dan Daddy juga meninggal beberapa waktu yang lalu" Lea menceritakan kisahnya membuat pria itu kesal


'Aku tidak bertanya, tidak bisakah kamu diam?!" tanya pria itu memperlihatkan wajah kesalnya


'Santai dong, harusnya ucap sesuatu gitu, makasih atau apalah, Gedeg banget sama kamu" Lea mendengus


'Aku tidak meminta untuk di tolong!" balas pria itu membuat Lea melotot


'Tidak meminta? yang benar saja, jika bukan kamu yang berdiri di tengah jalan sambil mengetuk pintu kaca mobilku maka itu siapa? Hantu? yang benar saja!" kesal Lea merasa sia-sia menolong pria di depannya


'DIAMLAH!" teriak pria itu marah


Lea sangat kesal langsung memilih meninggalkan pria itu, amarahnya meluap padahal dia sudah menolong tetapi malah di perlakukan seperti itu.


'Menyesal sudah aku menolongnya" ucap Lea langsung menuju pintu keluar tetapi langkahnya terhenti


Ingatannya tertuju pada ucapan pria itu yang mengatakan jika dia adalah anak yatim, bisa saja pria itu berucap Karena sedang bersedih, Lea seperti bisa merasakan perasaan pria itu.


'Apa aku keterlaluan padanya?" tanya Ke pada dirinya sendiri


'Sebaiknya aku minta maaf, mungkin hatinya sedang sedih" gumannya


Lea memilih ke arah kantin rumah sakit dan memesan makanan ringan kemudian membawanya ke ruang dimana pria itu berada.


Baru saja Lea membukanya terdengar teriakan pria itu di sertai barang yang jatuh membuat Lea buru-buru masuk.


Lea melototkan matanya melihat pria itu mencoba menusuk tangannya dengan sebuah gunting yang berada di atas meja, sepertinya suster tadi yang menanganinya lupa membawa gunting itu.


Lea merebut gunting itu dan membuangnya ke sembarang arah, terlihat wajah pria itu memerah dan sorot matanya yang tajam.


'KELUAR!" teriak pria itu menggunakan bahasa Rusia


Lea masih terdiam melihat tingkah pria itu yang menjambak rambutnya sendiri membuat Ke khawatir jika luka jahitan terbuka.


Lea dengan berani memeluk pria itu dengan erta tetapi pria itu memberontak dengan bringas tetapi Lea menahannya hingga pria itu mulai tenang.


Tubuh pria itu nampak lemas dan bersandar pada tubuh Ke yang mungil, untung saja Lea kuat.


Lea membawa pria itu kembali berbaring di ranjang dan menidurkannya, Lea bisa melihat pria itu begitu rapuh.


Lea mengelus tangan pria itu hingga pria itu tertidur membuat Lea sangat Lega.


Jika memang pria itu tengah berduka maka Lea akan merasa sedih juga karena pernah berada di posisi pria itu meski Lea menahannya tetapi hatinya hancur dan dengan keberanian yang besar Lea memilih pergi jauh untuk melupakan semuanya.


***


Pria itu membuka matanya dan melihat sekeliling hingga mata birunya tertuju pada Lea yang tengah duduk di kursi dengan menyandarkan kepalanya pada dinding.


'Kamu sudah bangun?" tanya Lea berdiri menghampiri pria itu


Pria itu terdiam membuat Lea menghela nafas panjang, pria di depannya sangat dingin.


'Namaku Lea, siapa namamu?" tanya Lea berharap pria itu memberitahu namanya


'Jonh, Jonh Evanders Porrins" ucap pria itu dengan suara yang mulai terdengar lembut


'Hai Jonh, apa sudah lebih baik?" tanya Lea kembali menampilkan senyum manisnya


'Yaa... lumayan baik" balas Jonh


Mereka berdua terdiam hingga tidak lama kemudian Jonh angkat suara.


'Aku berbohong" ucapannya membuat Lea mengerutkan keningnya


'Orang tuaku sebenarnya belum meninggal, aku hanya marah pada mereka" ucapannya kembali


'Mereka sibuk terus hingga melupakan jika mereka masih memiliki seorang anak, aku tau jika aku sudah besar tetapi apa salah jika aku mengharapkan kehadiran mereka, rumah terasa sepi dan sunyi, aku merasa seperti tidak memiliki keluarga" ucap pria itu sambil menceritakan kisah hidupnya


'Hingga tadi pagi mereka pergi lagi ke Swiss padahal baru tadi malam mereka pulang setelah dua bulan lebih di Jerman, aku bertengkar dengan mereka tadi hingga aku nekat menerobos hujan dan menabrak trotoar jalan, apa aku egois jika meminta mereka untuk tetap disini?" pria itu menutup matanya menahan rasa sakit hatinya


'Menurutku kamu tidak egois, yang egois itu mereka, lagian kasih sayang itu tidak mesti di tujukan untuk anak kecil saja, buktinya orang dewasa juga membutuhkan kasih sayang sebagai penguat untuknya" Lea mengeluarkan pendapatnya


'Oh iya menurutku kamu sebaiknya membicarakan hal ini dengan kedua orang tuamu, tunjukkan jika kamu masih sangat mengharapkan kasih sayang mereka, bicaralah dengan baik dan lembut jangan menggunakan amarah karena amarah tidak akan menyelesaikan masalah, aku mengatakan ini supaya kamu tidak menyesal nantinya, hormati dan sayangi mereka selagi masih hidup" Lea tersenyum manis pada Jonh yang terdiam mendengar nasihatnya


'Aku tidak bermaksud menggurui mu Jonh, hanya saja aku tidak mau kamu menyesal karena tidak memiliki orang tua sangat menyakitkan, aku sudah merasakan hal itu" Ke tersenyum masam


Jonh menatap Lea dengan tatapan yang sulit di jelaskan, ucapan Lea benar dia harus membicarakan hal ini dengan kedua orang secara baik-baik.


🌸🌸🌸


Semoga kalian suka yaa...


riri-can