
Lea sampai di ruang inap Daddy-nya, terlihat di depannya Daddy yang selalu menjadi sandarannya tengah terbaring lemas di atas ranjang bahkan di bantu dengan alat pernapasan.
'Daddy" guman Lea dengan deraian air mata
Lea mendekat dan menyentuh tangan Daddy-nya yang terasa dingin tidak seperti biasanya yang hangat saat dia genggam.
'DADDY!" isak Lea menciumi tangan Daddy-nya
Lea merasa pasokan oksigen yang dia hirup semakin berkurang saja, dadanya terasa sesak melihat Daddy-nya tidak sadarkan diri.
'Paman, katakan sebenarnya Daddy kenapa hiks.. Lea rasa Daddy dan Paman menyimpan sesuatu dari Lea, katakan Paman, Lea mau tau hiks.." isak Lea sambil memohon pada dokter Peter yang berada di ruangan itu
Dokter Peter menatap Lea yang menangis terisak, tangannya terjulur mengelus kepala Lea.
Dulu dokter Peter masih mengingat dengan jelas bagaimana Lea begitu manja padanya, menjadikan dirinya sebagai teman curhat jika tuan Gofran sedang sibuk, senyum yang selalu tersemat pada wajah Lea kini berganti dengan tangisan.
'Daddy kamu sebenarnya sudah lama menyembunyikan penyakit ini, hampir 8 tahun dia menahannya, bahkan Daddy mu hanya mengandalkan obat-obatan pereda rasa nyeri saja" jelas dokter Peter membuat Lea syok
Daddy-nya menahan rasa sakit begitu lama dan Lea tidak menyadari hal itu, anak macam apa dirinya yang tidak mengerti dan tidak tau dengan kondisi Daddy-nya sendiri.
'Jangan bilang saat pesta itu Daddy bukan bekerja melainkan pergi berobat, ayo katakan dengan jujur Paman hiks.. saat itu Lea lihat di leher Daddy ada noda warna merah, Daddy bilang itu hanya pewarna hiks.. Daddy membohongi Lea hiks.." Lea menepuk-nepuk dadanya yang terasa sangat sesak
'Kamu benar nak, saat itu sakit kepala Daddy mu kambuh jadi Paman membawanya untuk pemeriksaan, Paman tidak mau mengatakan ini tetapi kondisi Daddy kamu sudah semakin parah, bisa saja pandangannya mulai kabur nantinya, Paman mohon berpura-pura lah seolah tidak tau karena Paman sudah berjanji tidak akan mengatakan ini padamu" dokter Peter menepuk pundak Lea yang masih bergetar hebat
'Mengapa kalian begitu egois hiks.. memangnya Lea tidak penting hiks.. apa Lea orang luar hingga berita penting seperti ini tidak kalian beritahukan pada Lea hiks.. mengapa Daddy harus bohong hiks.." isak Lea
'Maafkan Paman dengan Daddy mu nak" sesal dokter Peter menyesal
'Sebentar lagi Daddy mu akan sadar, segera hapus air matamu nak, jangan bersedih di depannya karena Daddy mu akan sakit melihatnya" terang dokter Peter kemudian pamit pergi meninggalkan Lea yang menatap Daddy-nya dengan tatapan sedih dan kecewa
'Apa Daddy akan meninggalkan Lea juga? hiks... Lea mohon Tuhannnn... jangan ambil Daddy hiks... bagaimana nantinya jika Lea hidup tanpa Daddy, apa belum cukup Mommy engkau ambil hiks... mengapa mempermainkan aku seperti ini hiks.." Lea memohon di dalam hatinya
Tidak lama kemudian sesuai perkataan dokter Peter akhirnya tuan Gofran bangun dari pingsannya.
'Daddy" panggil Lea dengan suara seraknya
Tuan Gofran merasa pusing terlebih tuan Gofran merasa pandangannya mulai kabur bahkan tuan Gofran tidak melihat dengan jelas keberadaan Lea.
'Sayang, apa sedang mati lampu? mengapa gelap begini?" tanya tuan Gofran membuat Lea menutup mulutnya karena menahan suara isakannya agar tidak terdengar
'T.. tentu saja Daddy, sedang mati lampu mungkin sebentar lagi akan hidup" jawab Lea dengan suara bergetar membuat tuan Gofran bingung
'Apa kamu sedang menangis? ada apa sayang?" tanya tuan Gofran
'Daddy pingsan dan di bawa ke rumah sakit, Lea hanya khawatir saja" balas Lea mencoba tegar di hadapan Daddy-nya
Tuan Gofran menegang mendengar jawaban putrinya, tuan Gofran baru sadar jika dirinya tengah berada di rumah sakit, jika putrinya tau kondisinya bagaimana nantinya.
'Daddy hanya lelah saja sayang, sebaiknya kita pulang saja" tuan Gofran mencoba melepaskan jarum infus yang tertanam di lengannya tetapi langsung Lea tahan
'Daddy, jangan sakit hiks... jangan pergi hiks.. Daddy sudah berjanji akan terus bersama Lea hiks.." mohon Lea dengan isakan yang menyayat hati
'Daddy tidak akan kemana-mana sayang, memangnya Daddy pergi kemana, jangan menangis lagi" tuan Gofran mengelus kepala Lea
'Maafkan Daddy sayang" batin tuan Gofran
'Apa kepala Daddy pusing, Lea pijit yaa" tawar Lea
'Tidak perlu sayang, Daddy akan istirahat saja, apa kamu baru pulang sekolah?" tanya tuan Gofran perhatian
'Lea baru pulang Daddy" jujur Lea
'Apa sudah makan, makanlah dulu sayang, nanti sakit, jangan menyepelekan hal ini sayang, nanti jika Daddy pergi siapa yang akan mengingatkan kamu buat makan" tuan Gofran berkata seolah memang ingin berjahuan dari putri kesayangannya itu
'Apa maksud Daddy, Daddy akan terus bersama Lea sampai kapan pun" balas Lea terisak
'Princess Daddy cengeng sekali, maksud Daddy nanti jika kamu menikah pasti kita akan berpisah" kekeh tuan Gofran
'Lea tidak akan menikah kalau begitu" balas Lea serius
'Kamu ini, sudah... lebih baik kamu makan dulu sayang, Daddy akan istirahat" tuan Gofran membaringkan tubuhnya di bantu Lea
Lea berjalan menjauh dan membuka pintu dan menutup kembali pintunya, tetapi sejujurnya Lea tidak keluar melainkan masih bertahan di ruang inap itu.
'Maafkan Daddy sayang, Daddy merasa jika kita akan berjahuan bahkan Daddy merasa kita akan berpisah dan tidak akan berjumpa lagi" ucap tuan Gofran setelah merasa putrinya pergi
Tanpa dia ketahui jika Lea tengah menutup mulutnya menahan suara tangisannya.
Hati Lea begitu perih mendengar perkataan Daddy-nya yang seolah berkata jika maut sudah di depan mata.
'Lea mau bersama Daddy hiks.. Tuhannn... bawa Lea juga supaya bisa berkumpul dengan Mommy juga hiks.. mengapa tidak adil begini hiks.. apa belum cukup engkau ambil Mommy dari kami dan sekarang Engkau ingin mengambil Daddy juga hiks..." isak Lea dalam hatinya
Di ruang inap itu Lea menangis sepuasnya meski suaranya tidak terdengar, berat sekali rasanya untuk pergi meninggalkan ruangan itu.
Lea hanya ingin terus bersama Daddy-nya, tetapi sepertinya takdir akan berkata lain, dokter bahkan sudah memvonis usia Daddy-nya tidak akan lama lagi padahal dia bukan tuhan, tetapi tetap saja Lea mempercayainya terdengar begitu konyol tetapi itulah fakta sesungguhnya.
Bagaimana nantinya jika dirinya benar-benar berpisah dengan Daddy-nya? takdir mempermainkan dirinya untuk ke sekian kalinya, begitu berat.
🌫️🌫️🌫️
Di tinggal oleh orang yang paling berpengaruh dalam hidup kita tentu saja sangat menyakitkan, author nggak bisa mikir jika di posisi Lea.
Semoga kalian suka yaa...
riri-can