
Aku dan Andrew menghabiskan malam tanpa mengatakan apapun. Setelah lelah, kami kembali kekamar masing-masing. Sebenarnya, aku yang meminta untuk memakai kamar yang berbeda untuk saat ini, paling tidak sampai aku yakin jika ia adalah suamiku. Saat itu, aku melihat sorot kekecewaan dari sudut, tetapi sorot kekecewaan itu dengan cepat berubah menjadi senyuman.
Setelah memberikan senyuman, ia langsung masuk ke kamar tanpa mengatakan sepatah katapun. Apakah ia tersinggung dengan permintaanku. Kalau begitu, aku akan menunggu sampai pagi dan menjelaskan apa yang harus kupikirkan saat dilihat saat ini.
"Selamat pagi" sapaku.
Andrew sibuk membaca surat kabar dengan secangkir kopi di atas meja. Wajahnya terlihat sangat serius, apa ia masih marah.
“Ndrew, kamu masih marah padaku?” Aku memberanikan diri untuk bertanya sambil duduk dihadapannya. Aku mengambil dua lembar roti, kemudian mengoleskan selai cokelat diatasnya.
Ia menurunkan surat kabar dari reaksi, memandang lekat-lekat diriku. “Memangnya aku pernah bilang kalau aku marah padamu?” Tanyanya sambil melipat Koran lalu meletakannya di atas meja.
“Yah, aku hanya meraasa kemarin malam kamu kesal, karena ucapanku” aku menutup selai dan meletakannya kembali ketempat semula.
“Sayang__maaf, aku sudah terbiasa memanggilmu begitu....Yass, aku bisa memahamimu dan sepertinya itu yang terbaik untuk kita berdua. Aku tahu maksudmu ”dia berdehem sebelum kembali melanjutkan perkataannya.
"Yah, aku juga belum yakin bisa mengendalikan diri kalau kamu berada dijangkauanku" ucapnya pelan, tapi aku mampu memahami apa yang ia katakan.
Aku menggigit roti dan mengunyak sebanyak beberapa kali. “Ndrew, aku minta maaf. Ini semua terjadi karena ingatanku yang entah hilang kemana. Mungkin, jika saja aku sedikit mengingat tentangmu__pasti semuanya akan teratasi ”ujarku menyesal.
Andrew menggeleng, “Tidak. Seharusnya aku meminta maaf padamu. Kalau saja waktu itu aku yang mengantarmu pulang, maka tidak akan terjadi kecelakaan ”. Aku melihat raut wajah penyesalan. Namun, bukan itu yang aku mau. Aku ingin semuanya jelas sekarang.
“Ndrew, aku mohon__selama aku belum mengingat apapun, tolong bantu aku mengingat semuanya. Yah, aku memang belum yakin dengan hubungan yang kita miliki, tetapi percayalah__aku akan mendukung untuk mengingat masa-masa kita dimasa lalu ”ucapku tulus.
Mama memberitahuku tentang sekolahku dulu. Kebetulan, siang tadi aku mendapatkan panggilan dari seseorang yang sama sekali tidak aku kenal. Orang itu hanya mengatakan kalau namanya adalah Octa, ia mengundangku untuk acara Reuni SD dan aku menyetujui ajakan tersebut.
Aku diantar supir — Andrew sudah menyiapkannya untukku, katanya ia tidak bisa mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya. Didalam mobil, aku menghubungi Andrew untuk meminta ijin dan ia hanya memintaku untuk menjaga diri.
"Yass, apa kabar?"
Aku hampir saja terjatuh. Seorang wanita tiba-tiba saja langsung memelukku hingga aku hampir terjungkal kebelakang. Untungnya, aku tidak merasakan dinginnya lantai. Aku membalikan tubuhku dan menemukan seorang pria yang sudah menopang tubuhku. Ia tersenyum, sangat manis. Tunggu, sepertinya aku mengenalnya.
"Wah, cinta itu tidak pernah kemana-mana ya" wanita yang baru saja memelukku memainkan alisnya dihadapanku, diikuti dengan sebuah senyuman dari pria yang baru saja menolongku. “Yass, jangan bilang kalau kamu pangling sama ketampanan Fauzi sekarang”. Yah, pria itu namanya Fauzi. Aku mengingatnya sekarang.
"Apa kabar, Yassi?" Tanya pria bernama Fauzi masih dengan senyumannya.
“Baik” jawabku seramah mungkin.
“Jadi, bagiamana penampilan Fauzi sekarang? Dia tampan bukan, Yass? ”Wanita itu kembali menggodaku — meminta pendapatku tentang Fauzi.
"Sania, jangan buat Yassi makin bingung dengan tingkahmu" Fauzi mengajakku masuk dan tentu saja wanita itu — Sania juga menemani kami.
Saat kami mengambil posisi, mereka semua yang ada dimeja itu menatapku dengan tatapan yang berbeda-beda: takjub, terpesona, kagum, dan yang lainnya. Memangnya aku terlihat aneh atau yang bagaimana.
"Wah, sepertinya akann ada CLBK nih, cinta lama belum kelar" Aku hanya melihat seorang pria yang duduk disampingku dengan tangan yang masih memegang gelas. Aku tidak mengingatnya, banyak sekali perubahan yang terjadi setelah sekian lama tidak bertemu.
Fauzi memberikan gelas berisi jus kepadaku dan aku menerimanya. Aku melihat sekilas, apa aku punya hubungan dengannya saat masih sekolah. Yah, apa salahnya jika aku mencari tahu melalui kegiatan ini, siapa tahu mereka semua tahu bagaimana kehidupanku sebelumnya.
"Yass, kamu belum menikah bukan?". Astaga, pertanyaan yang belum pernah kutanyakan sebelumnya. Mengapa saya tidak mempertimbangkan pertanyaan ini sebelumnya. Bodoh. Tapi tunggu, jika mereka semua tidak tahu soal pernikahanku, apa mungkin pernikahanku hanya tipuan semata yang Andrew ciptakan untuk membodohiku.
"Belum" jawabku.
Ucapanku langsung berhasil menimbulkan sorakan dari mereka. Hampir semuanya menyerukan nama Fauzi. Apa aku memiliki hubungan dekat sebelumnya, aku harus mencari tahu.
Fauzi menceritakan semuanya menyetujui, termasuk saat memulai mulai menyukai. Yah, ini memang aneh, karena aku ingat Fauzi hanya sebatas teman bagiku.
“Waktu kita masih berhubungan__kita banyak menghabiskan waktu bersama, yang lainnya menyebut kita pasangan kekasih. Yah, aku memang menyukaimu sejak kali pertama bertemu dan kamu sudah tahu bukan? ”Tanyanya dengan bahagia.
“Dulu, kita memang belum memiliki hubungan apa pun. Namun, kita sama-sama tahu kalau kita memiliki perasaan yang sama. Setelah dewasa, aku berpikir untuk mencarimu didaerah sekitar sekolah, tetapi kamu sudah pindah dari sana ”jelasnya. Aku menanggapinya dengan senyuman. Aku ingat Mama dan Papa mengajakku untuk pindah — meninggalkan tempat itu dan kembali melanjutkan kehidupan yang lebih sederhana.
Aku merasa Fauzi terlihat gugup. “Tapi, apa mungkin bisa membuat kita menjadi nyata, Yass?” Pertanyaan itu membuatku bungkam. Bagiamana aku bisa menjalin hubungan dengan Fauzi kalau jelas-jelas aku sudah punya suami. Tunggu, aku juga belum yakin kalau Andrew adalah suamiku.
"Mungkin" jawabku pelan, tetapi mampu membuatnya tersenyum.
-0-0-0-
Aku menuangkan air ke gelas. Aku baru saja akan meminumnya saat mendengar suara pintu yang dibuka. Andrew masuk dengan wajah menyetujui, Apakah ada sesuatu masalah yang terlihat terlihat begitu. Tanpa aku sadari, aku mendekat dan mengambil alih tas dan jasnya. Andrew menatapku bingung, terkejut lebih tepatnya.
"Apa yang terjadi?" Tanyaku sambil mengikutinya masuk ke kamarnya. Dia berhenti sejenak, memandangku, kemudian memundurkan langkahnya.
“Hanya sedikit masalah dikantor” jawabnya tersenyum.
Aku membuka pintu dan menyuruhnya masuk lebih dulu, baru kemudian aku masuk. Meletakan tas ditempatnya dan jas digantungan baju. Tanganku terulur untuk melepaskan dasi dari leher Andrew, lagi dan lagi pria itu terkejut. Mungkinkah, aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya.
“Apa kamu sudah ingat tentang kita?” Tanyanya.
Aku menggeleng. Aku hanya tidak tahu apa yang harus kulakukan, aku hanya melakukan sesuai dengan kehendakku. "Belum. Namun, bukannya tugas seorang isteri adalah membantu suaminya? ”Jawabku.
Andrew menampilkan wajah kecewa. "Aku akan menunggunya" jawabnya seraya meraih handuk yang tergantung dan masuk ke kamar mandi.
Aku menghela napas. Apakah aku kembali melakukan kesalahan yang membuat Andrew kesal, tanyaku. Lebih baik, aku menunggunya selesai mandi dan menjelakan semuanya.
"Bisakah kita bicara?" Tanyaku saat Andrew keluar dari kamar mandi setengah jam kemudian.
Ia menatapku. “Aku pikir kamu sudah kembali kekamar. Ada apa? ”Tanyanya. Ia berjalan menuju lemari dan menarik celana dan pakaian. Dari celah lemari, aku bisa melihatnya mengenakan pakaian dengan sangat cepat.
"Apa kamu kesal padaku?" Tanyaku.
Andrew menutup lemari dan berjalan mendekatiku. Aku memperhatikan semua gerakannya sampai duduk ditepi kasur bersamaku. Tangannya terulur dibahuku — memelukku dari samping, “Aku tidak pernah kesal padamu” jawabnya.
Aku memperhatikannya yang terlihat sangat lelah. Istirahat, aku harus membicarakannya istirahat dan membicarakannya esok hari. Namun, saat aku ingin keluar dari sana, Andrew menahanku. Ia memintaku untuk menemaninya beberapa saat. Menyelesaikan sangat serius.
"Apa yang terjadi?" Tanyaku.
Andrew menggeleng. Namun, aku bisa melihat kefrustasian diwajahnya. Aku mengelus pundaknya pelan-pelan, kemudian ia meletakan kepalanya dipahaku dengan wajah yang terarah padaku. Aku gugup saat melihat melihat matanya.
“Hanya kamu yang perlu melakukan ini” Aku tersenyum mendengarnya, untuk pertama kalinya aku merasa begitu jatuh cinta pada seorang pria.
"Ceritakan semua tentang kita".
Malam itu, aku kembali menjadi bimbang. Haruskah aku membuka hubungan baru bersama Fauzi atau memberikan kesempatan pada Andrew untuk menyetujui jika kami memiliki hubungan selama ini.
-0-0-0-
Selamat Membaca
Jangan lupa vote dan comment ya
ig : @crkhan8
blog : crkhan8.blogspot.com