
"Lihat ini Pak... semua file file ini adalah tanda tangan bapak. dan ini adalah cek yang kedua kalinya bapak berikan kepada istri saya." Ucap pak Dude.
Alex yang melihat semua berkas itu, meyakini bahwa pak Dude adalah orang yang berkaitan dengan masa lalunya.
Tok...tok...tok.
"Ya masuk." Ucap pak Dude.
Sasapun masuk dengan dengan menutup wajahnya, yang terlihat hanya matanya saja.
Pak Dude heran melihat Sasa yang menutupi wajahnya pakai masker, sambil meletakkan dua gelas kopi dimeja.
Dukduk... Suara jantung Alex. Tapi dia mengabaikannya.
"Kenapa kamu menutup wajahmu?" Tanya pak Dude.
"Huuuaaacim..." Sasa pura pura bersin.
"Kamu sakit?" Tanya pak Dude.
Sasa mengangguk.
'Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu. tadikan, masih baik baik saja.' Ucap pak Dude dalam hati.
Alex yang dingin sama sekali tidak melirik Sasa sedikitpun. Masih memikirkan semua yang dijelaskan oleh pak Dude.
Saat Sasa hendak pergi. Pak Dude memanggilnya.
"Emmm Sasa..." Panggil pak Dude.
Sasa sontak kaget dan melihat kearah Alex.
"Ya, Pak." Ucap Sasa. Dengan menahan suaranya.
"Tolong bantu saya, memperbaiki semua file ini." Ucap pak Dude. Yang memang ingin sengaja mempertemukan Sasa dan Alex.
"Mmm, baik Pak." Ucap Sasa. Mulai mengumpulkan semua file yang berserak dimeja.
Melihat Sasa mengumpulkan file tersebut. Alex memperhatikan mata wanita yang ada dihadapannya.
"Tunggu..." Ucap Alex. Memperhatikan Sasa.
Sasapun berhenti mengumpulkan berkas.
"Ada apa, Pak?" Tanya pak Dude.
Alex langsung membuka penutup wajah Sasa.
"Haa... Pak." Ujar Sasa. Kaget, menutup kembali wajahnya.
"Sepertinya kita pernah bertemu. Tapi dimana?" Tanya Alex.
"Mungkin, Pak Alex salah orang." Ucap Sasa. melirik pak Dude.
"Sasa. Kamu boleh keluar." Ucap pak Dude.
Alex menatap Sasa tanpa putus sedikitpun. Perasaan yang begitu besar masih tidak mampu mengembalikan ingatan Alex.
"Tapi pak, filenya?" Tanya Sasa. memegang sebagian file.
Pak Dude mengangguk lalu mempersilahkan Sasa pergi.
"Bapak yakin tidak mengenal wanita tadi?" Tanya pak Dude.
"Kenapa sepertinya Anda sangat mengenal saya?" Tanya Alex.
Pak Dudepun menceritakan semuanya.
"Ya Tuhan. Sampai kapan aku begini... bahkan sudah melihatku sekalipun, tidak mampu membuatnya mengingat semua." Ucap Sasa sambil memegang telanan.
Setelah selesai dengan pekerjaannya Chelsia melihat Sasa berjalan seperti ada masalah, Chelsiapun menghampiri Sasa.
"Saa... Kau bertemu dengannya?" Tanya Chelsia. mengusap punggung Sasa.
"Apa yang harus aku lakukan Chel? Kenapa melihatnya hatiku semakin sakit..." Ucap Sasa.
"Sabar ya. Alex pasti kembali padamu. Belum saatnya kita melakukan semua." Ucap Chelsia. menyemangati.
"Yah... Aku akan tunggu saat itu." Ucap Sasa. mengusap air matanya.
Saat rapat dimulai. Alex terdiam memikirkan semua yang dijelaskan oleh pak Dude. Alex bahkan tidak memperhatikan semua yang dibicarakan dirapat hotel grand suaka.
"Pak. kemajuan hotel ini masih begitu begitu saja. Apakah Bapak masih ingin mempertahankannya? Pak... Pak Alex..." Tanya asisten baru Alex. mengagetkan Alex dari hayalnya.
"Ha... Ada apa?" Tanya Alex
"Biarkan saya yang mengurusnya." Ucap Alex.
"Tapi pak. Jika bapak melepaskan hotel ini, kita akan mendapat keuntungan sepuluh kali lipat." Ucap asisten baru Alex. Tersenyum miring.
Alex melihat asistennya. Curiga sepertinya ada sesuatu dengannya.
"Jangan mengambil keputusan tanpa sepengetahuanku." Ucap Alex kepada asistennya, berdiri lalu pergi.
Alex mengingat kembali semua yang diucapkan pak Dude, tapi Alex masih tidak mengingat sedikitpun tentang dirinya.
Alex berjalan menuju atap hotel. Disana ada Sasa yang sedang menangis. Alex ingin kembali dan meninggalkan Sasa. Tapi saat Sasa menyebut namanya. Alexpun berhenti dan mendengarkan semua yang Sasa ucapkan.
"Mestinya aku bahagia, takdir mendekatkanmu padaku. Tapi kenapa rasanya sakit sekali, saat aku berhadapan denganmu, tapi kau tidak mengingatku lagi Alex. Kau tidak mengingat cinta kita. Jika dia lahir nanti, apa yang akan aku katakan padanya. Dan siapa nama anak ini. Kau belum sempat mengatakannya Lex. Hahhh... Kenapa jadi begini... Mestinya kita tidak melakukan itu..." Ucap Sasa. menangis dalam kesendiriannya.
"Apa Alex itu, Aku?" Tanya Alex. berjalan mendekati Sasa.
Sasa terkejut mendengar suara itu. lalu menghapus air matanya dan memakai maskernya. Sasa berdiri dan menunduk menghormat Alex, yang berdiri dihadapannya.
Saat Sasa menatap Alex. jantung Alex langsung berdegup kencang, begitu juga dengan Sasa.
"Ternyata lebih baik begini, dibanding Alex yang dulu telah salah mencintai orang." Ucap Alex. Merasakan jantungnya berdegup kencang.
"Maksud Bapak, apa?" Tanya Sasa. Kaget mendengar ucapan Alex.
"Kamu hamil?" Tanya Alex.
Sasa tidak menjawab pertanyaan Alex. Sasa tau, Alex akan menyakiti hatinya.
"Jangan bilang Alex yang melakukannya!" Ucap Alex. Membelakangi Sasa.
"Maksudnya?" Tanya Sasa.
"Ya, Saya sudah tau semuanya. Dulu aku pernah memacarimu dan pernah berbuat baik kepada orang yang tidak pantas mendapatkannya. Aku yakin, Alex pasti sudah menyesal mengenalmu, sehingga Tuhan buat aku tidak mengingatmu lagi." Ucap Alex.
Tanpa sadar air mata Sasa jatuh. Sasa tidak menyangka ucapan Alex begitu kejam padanya.
"Jangan jangan kamu menjebak saya. Seharusnya saya tidur dengan tunangan saya, tapi kamu mengacaukannya dan malah tidur dengan mu." Ucap Alex. lagi lagi membuat air mata Sasa semakin deras.
Sasa hanya diam, tidak ingin membuat dirinya membenci Alex.
"Atauuu... Jangan jangan kamu menjual dirimu waktu itu padaku?" Ucap Alex. mendekatkan wajahnya kepada Sasa. Nyaris hidungnya menyentuh hidung Sasa.
Plakkkkk.... Sasa menampar Alex.
"Hai... Sejak kapan kamu disini?" Tanya Chelsia kepada Ricky yang menunggu dicafe dekat hotel.
"Apa aku tidak boleh menemui kalian?" Tanya Ricky.
"Ia ya... Sudah makan belom?" Tanya Chelsia.
"Sudah... Oia Sasa mana?" Tanya Ricky.
"Enggak tau dimana, Aku kesini mau nyariin Sasa. Tapi malah ketemu kamu..." Ucap Chelsia.
"Dari tadi aku merasa tidak nyaman. Apa mungkin terjadi sesuatu kepada Sasa?" Tanya Ricky.
"Tidak mungkin, baru dua jam yang lalu kami bertemu. Tapi dia kemana yah?" Tanya Chelsia balik.
"Ayo kita cari Sasa." Ajak Ricky.
"Tapi, bagaimana kalau karyawan hotel melihatmu? dan disana masih ada Alex..." Ucap Chelsia. Kawatir terjadi sesuatu.
"Sudahlah, sekarang Sasa yang penting. Ayo..." Ajak Ricky. Berjalan lebih dulu, menuju hotel.
"Ricky memang orang yang baik, yah. itu yang membuatku semakin menyukaimu." Ucap Chelsia. Berdiri tersenyum melihat Ricky berjalan semakin jauh.
"Ayooooo." Teriak Ricky.
Chelsia yang senyum senyum sendiri berlari mendrkati Ricky. Chelsia yang terlalu bersemangat, tiba tiba kakinya terpleset dan jatuh kepelukan Ricky.
"Ahhhh..." Chelsia jatuh kepelukan Ricky. Merekapun saling menatap satu sama lain. Chelsia tersenyum lebar, sementara Ricky menatap mata Chelsia begitu dalam.
Saat jantungnya berdegup kencang, Rickypun tersadar.
"Sampai kapan kau begini, tanganku sudah tidak kuat lagi." Ucap Ricky. menahan tubuh Chelsia yang hampir terjatuh.
"Ohh, maaf. Makasih ya. Untung ada kamu, kalau tidaaakkk." Ucap Chelsia.
"Kalau tidak kepalamu akan pecah." Ucap Ricky, lalu pergi meninggalkan Chelsia.
"Hheemmm, Aku yakin kamu juga menyukainya." Ucap Chelsia. Berjalan mengikuti Ricky.