You'R My Destiny

You'R My Destiny
cinta sejati.



"Huaaammm... dimana semua orang. Aw,, ssttt. kenapa badan ku sakit sekali." Ucap Roy. memegang pinggangnya.


Perlahan Roy berdiri dan membersihkan tempat tidurnya. Roy tidak melihat siapapun dikamar tersebut, Roypun keluar dari kamar.


"Kamu sudah bangun? ayo duduk dulu dan sarapan." Ucap Sasa. sambil membereskan jualannya.


"Terimakasih..." Ucap Roy dan duduk dekat meja makan.


Roy mengambil air putih dan minum. Melihat Sasa yang bersemangat akan berjualan.


"Ini, makan dulu." Sasa memberikan roti dan susu kepada Roy. yang ingin beranjak dari tempat duduknya.


"Sasa... dimana kamu menyimpan ayamnya?" Teriak ibu dari luar rumah.


"Sebentar buk. Ayo, cepat makan. Aku bantu ibu dulu."Ucap Sasa


"mmm" Jawab Roy.


Sasa mengangkat ember ketempat jualannya. Ayah mulai menggang ayam kecap spesial, ibu memasak ayam kecap level. Sasa membereskan tempat jualannya, dan menyusun ditempatnya agar lebih mudah diambil saat sedang ramai ramainya.


Roy berjalan menuju tempat jualan Sasa. melihat keluarga yang sangat bahagia, saling mencintai dan saling menjaga. Roy bersendar dipintu rumah Sasa dan tersenyum melihat Sasa, ayah dan ibunya yang begitu kompak untuk mencari nafkah sama sama.


"Roy, sini bantu aku." Ajak Sasa


"Oh, baiklah," Ucap Roy


"Sebentar lagi akan ramai, bantu Sasa melayani yah." Ucap ayah Sasa


"Baik Pak." Ucap Roy.


"Lihat para pembeli sudah berdatangan." Ucap Sasa, dan siap siap untuk melayani mereka.


"Halo selamat siang, mau pesan apah?" Ucap Sasa memberi hormat kepada pelanggan setianya.


"Saya pesan sepulu ayam kecap panggang, dan sepuluh ayam kecap level."Ucap pembeli


"Baiklah... Buk, Pak. Sepuluh." Ucap Sasa kepada ayah dan ibunya.


"Okeh... segera meluncur." Jawab ayah Sasa.


Sasapun mulai menyusun, dua puluh kotak. Dengan kotak yang bertulisan AYAM KESUKAAN SASA.


"Nama kamu?" Tanya Roy.


"Ya... bagus kan?" Tanya Sasa tersenyum. Sambil membungkus, ayam yang sudah dipanggang ayah Sasa.


"Ini mbak, dua puluh kotak ayam kesukaan sasa." Ucap Sasa kepada pembeli.


"Ini mbak... terimakasih yah." Ucap Sasa kepada pembelinya.


"Kamu betah disini?" Tanya Roy.


"Mmm, Aku betah." Ucap Sasa sambil makan ayam sisa panggangan.


"Bagaimana kalau kita cari kerjaan yang bagus... ibu dan bapakpun tidak selelah ini, bekerja." Ucap Roy kasihan kepada Sasa dan orang tuanya.


"Roy... Kamu tidak usah kawatir. Aku, Ayah dan Ibuk sudah biasa kerja begini. Dan kami tidak pernah mengeluh sedikitpun. Aku tau apa yang kamu fikirkan, sssttt jangan kawatir." Ucap Sasa.


"huff... Baiklah." Jawab Roy. kawatir akan terjadi sesuatu kepada mereka. Dan melanjudkan pekerjaannya membantu Sasa.


"Alex, kamu dimana?" Tanya Ricky, lewat telepon genggamnya.


"Aku dipuncak." Ucap Alex menatap matahari tenggelam.


"Bagaimana dengan rapat jam delapan malam nanti." Tanya Ricky.


"Lakukan saja, seperti kemaren. saat aku sedang bernostalgia." Ucap Alex. Lalu mematikan telpon dari Ricky


"Kenapa bukan dia saja yang mengatakan itu kepada kliennya. kenapa harus aku? Hufff menyebalkan." Ucap Ricky tapi tetap saja dikerjakannya.


"Cepat sekali Kau pergi, belum sempat ku melihat indahmu." Ucap Alex kepada matahari yang terbenam.


Alex duduk diatas batu, tepat dimana kemaren dia mencium Sasa. Alex menutup matanya, berharap sebuah keajaiban datang hari itu.


Alex membuka matanya, dan melihat ditengah danau ada pulau kecil, disana Alex melihat ada cahaya, yang menandakan ada kehidupan.


"Sepertinya hari ini pelanggan kita berkurang ya, Ayah" Tanya Sasa.


"Namanya usaha, Nak. ada pasang surutnya." Ucap Ayah, mulai membersihkan tempat jualan mereka.


"Sudah Nak, tidak ada lagi." Ucap ayah Sasa


"Oh.. mmmm Kalau begitu, Saya izin pamit pulang dulu ya Buk, Pak?" Ucap Roy.


"Kamu pulang?" Tanya Sasa.


"Ya, ada yang akan aku kerjakan besok." Ucap Roy.


"Tapi, apa ada kapal yang menyebrang jam segini?" Tanya Sasa.


"kayanya masih ada, ini masih jam tujuh. semoga masih ada. Nanti Ayah yang antar Roy kepelabuhan." Ucap Ayah.


"Ya sudah, ayo masuk dulu kerumah." Ajak ibu Sasa.


Merekapun masuk, dan memberangkatkan Roy untuk pulang.


"Hati hati yah." Ucap Sasa.


"Ya... terimakasih sudah menampungku seharian disini." Ucap Roy


"Mmmm." Saut Sasa mengangguk dan tersenyum kepada Roy.


Roypun pergi bersama ayahnya kepelabuhan.


"Terimaksih ya, Nak. Sudah mau membantu Bapak dan ibuk hari ini..." Ucap Ayah.


"Sama sama Pak. Oia, Sasa sudah menyimpan nomor ponsel ku. Jika ada apa apa, segeralah menelepon ku." Ucap Roy.


"Ya, Nak. Pasti." Ucap ayah Sasa.


Roy bersalaman dengan ayah Sasa, memberi hormat lalu pergi.


"Dia anak yang baik." Ucap ayah Sasa lalu kembali kerumah kontrakannya.


Setelah sampai dirumah, ayah Sasa mencari putrinya.


"Buk, Sasa dimana" Tanya ayah


"Ya... kalo tidak ada dikamar, ya seperti biasa. Dipinggir danau." Ucap ibu sasa.


Sementara Sasa yang duduk dibebatuan, memikirkan cinta yang selalu membayanginya.


"Disana, kita bercumbu mesra. kau milikku dan aku milikmu. hah, kenapa kenangan itu susah sekali untuk ku lupakan. duduk diatas batu kau mencium kuh... Bukankah dia sudah bahagia..." Ucap Sasa, melihat kearah puncak, tempat dia dan Alex menghabiskan malam yang indah. sambil merasakan angin tiupan ombak, Sasa masih menatap keatas puncak.


Saat Alex hendak pergi, tiba tiba Alex berbalik melihat pulau tersebut. seolah hatinya terpanggil kesana.


"Pulau apa itu? kenapa, tiba tiba aku ingin kesana?" Tanya Alex, melihat pulau yang terlihat sangat kecil dari puncak.


"Sudah jam sembilan. Aku harus pulang, ayah pasti sudah nyariin aku." Ucap Sasa bergegas pulang.


Alex yang tadinya ingin kepulau tersebut, mengurungkan niatnya kembali pulang kerumah.


Saat ditengah perjalanan. Alex menelepon Ricky.


"Halooo... ada apa lagi" Ucap Ricky yang sudah tidur, setelah menyelesaikan pekerjaannya.


"Besok kita akan kesebuah pulau, tunda semua jadwal untuk besok. dan beritahu sekretaris kantor, bahwa dalam dua hari nanti. kau dan aku ada tugas keluar kota." Ucap Alex.


"Baiklah." Jawab Ricky dan mematikan teleponnya.


"Aku harus kesana, Siapa tau disana ada harta karun. Bisa menguntungkan perusahaan. Aku tidak pernah melihatnya." Ucap Alex, sambil menyetir.


"Aaaaarrrrrggggg.... aaarrrrgggggghhhh... Selalu saja menggangguku, hal kecil hal besar, selalu melibatkan ku. Tidak bisa melihat ku tenang sebentar saja... aaaahhhh." Ucap Ricky yang sangat kesal mendengar perintah Alex.


Sesampainya dirumah. Alex, langsung masuk dan bertemu dengan mamanya.


"Darimana saja kamu?" Tanya mamah Alex.


"Mencari cinta sejatiku." Ucap Alex.


"Alex, omong kosong dengan cinta sejati. Cinta sejati tidak bisa menguntungkan keluarga kita, tidak bisa menambah kekayaan kita Lex." Ucap mamah Alex.


"Alex juga lagi nyari wanita yang seperti itu mah." Ucap Alex membuka sepatunya.


"Alex..."


"Mah... sudah cukup, Alex sudah dewasa. Alex sudah bisa menentukan yang terbaik buat Alex." Ucap Alex lalu pergi kekamarnya.