You'R My Destiny

You'R My Destiny
Hampir bertemu.



"Ia, nanti saya akan segera urus." Ucap mamah Alex. mematikan ponselnya. lalu memarkirkan mobilnya didepan rumah sakit.


"Kamu curang... Pokonya aku udah lima." Ucap Chelsia. bermain batu gunting kertas.


"Hahahaha." Ricky tertawa puas.


"Iiiii, malas ah." Ucap Chelsia. merajuk.


"Ia... ia... ayo kita ulang dari awal. aku janji tidak curang lagi, apa lagi menghianatimu." Ucap Ricky. Merayu.


"Apaan sih..." Ucap Chelsia, tersenyum lebar. memukul ricky.


"Ricky... Apa yang kau lakukan disini." Ucap mamah Alex. melihat Ricky dan Chelsia duduk disebelah ruangan Alex.


Ricky dan Chelsia sontak terkejut, melihat mamah Alex berdiri dihadapan mereka.


"Oh... Kebetulan. Saya melihat ada penjagaan didepan ruangan Alex. Aku yakin, Ibu presdir terhormat pasti mengatakan kepada para pengawal, untuk tidak mengizinkan saya masuk. Ya kan?" Ucap Ricky.


Sementara Chesia berdiri disamping Ricky, menunduk ketakutan.


"Baguslah kalau kamu sudah tau. lalu, kenapa kamu masih datang kesini?" Tanya mamah Alex.


"Dia sahabatku, aku mohon pertemukan kami untuk yang terahir kalinya." Ucap Ricky.


"Tidak. Aku tidak akan mempertemukanmu, dan bahkan tidak akan pernah menyebutkan nama mu padanya. " Ucap mamah Alex. Sinis.


"Kenapa, Buk? kenapa?" Tanya Ricky.


"Jangan memanggilku ibu lagi. Kau bukan siapa siapa lagi dikeluarga Raka Buming." Ucap mamah Alex.


"Baik. Apa alasan anda, untuk tidak mempertemukan aku dengan Alex. Oh aku tau, anda pasti takutkan, aku memberitahu yang sebenarnya. Yakan?" ucap Ricky.


"Dengar... Sedikitpun saya tidak takut padamu." Ucap mamah Alex. Geram melihat Ricky.


"kenapa aku tidak boleh menemuinya? atau jangan jangan anda lupa, siapa saya?" Tanya Ricky.


"Jangan coba coba kamu mengancamku. Paham!" Ucap mamah Alex. lalu pergi.


"Hah... Ingat Sasa? wanita yang pernah menolong anda, waktu dirawat dirumah sakit ini?" Tanya Ricky.


Langkah mamah Alex langsung berhenti. mengingat kembali, waktu itu Sasa menolongnya. Bahkan melawan penjahat tersebut, demi menyelamatkannya.


"Dia hamil..." Ucap Ricky.


Mamah Alex menoleh kearah Ricky.


"Jangan melakukan kesalahan besar seperti ini. Atau anda akan menyessal nanti. Alex sangat mencintai Sasa. Biarkan mereka bersama. Jangan sampai Alex membenci anda nanti." Ucap Ricky.


"Ayo Sa..." Ajak dokter.


Sasa mengangguk dan keluar dari ruangan Alex.


Saat Sasa menoleh, melihat Alex dari pintu kaca ruangan Alex. Alexpun melihat Sasa berhenti didepan pintu ruangannya, melihat dirinya.


"Siapa wanita itu... Kenapa hatiku seperti terpanggil. Tatapannya, membuat ku sakit." Ucap Alex. melihat Sasa, berhenti melihat dirinya.


Dokter dan Sasapun berjalan bersama. lalu melihat mamah Alex, Ricky dan Chelsia.


Sasa sangat terkejud melihat mamah Alex. wajahnya seperti murka.


"Oia, Buk. Besok Alex sudah bisa pulang." Ucap Dokter.


Dokter melihat Ricky dan Chelsia sangat tegang.


"Ya. Baiklah, dokter." Jawab mamah Alex.


"Siapa mereka?" Tanya dokter.


"Bukan siapa siapa dok, Saya permisi dulu." Ucap mamah Alex. Lalu pergi, masuk keruangan Alex.


"Hufff... kenapa lama sekali. Aku sudah kehabisan kata, untuk menahannya." Ucap Ricky.


"Mmmm... Aku juga sangat takut." Ucap Chelsia.


"Maafin aku yah." Ucap Sasa. menunduk."


"Hey... tidak perlu minta maaf." Ucap Ricky. merasa lega.


"Dokter, kami harus pergi sekarang. Takutnya mamah Alex akan kembali lagi kesini." Ucap Chelsia.


"Makasih dokter. Bajunya akan saya antar besok." Ucap Sasa lalu pergi.


"Ya..." Saut dokter. tersenyum.


Merekapun sampai dimobil. Cepat cepat Ricky melaju mobilnya.


"Bagaimana keadaan Alex Saa?" Tanya Ricky.


"Dia sudah baikan... Dia benar benar lupa ingatan. Tapi aku masih merasakan, kalau dia masih mencintaiku, Kyy." Ucap Sasa.


"Apa yang terjadi." Tanya Chelsia.


"Saat Aku akan pergi. Dia sempat menahan tanganku dan berkata. 'Apa kita pernah bertemu?' haaaa... Hhhhhhh.... Kenapa sakit sekali rasanya. Kenapa hanya aku yang merasakan cinta ini. Haaaa..." Ucap Sasa, menangis.


"Saa..." Peluk Chelsia.


Rickypun tersentuh, matanya berkaca kaca. melihat Sasa menangis.


"Kita harus banyak berusaha. Supaya Alex tidak benar benar melupakan kita. Kamu harus sabar, ya Sa." Ucap Chelsia. masih memeluk Sasa.


"Emmmm, yah... Aku harus bertahan... Hhhhhh." Ucap Sasa. Air matanya masih terus membasahi pipinya.


"Sabar yah..." Ucap Chelsia.


...


"Hah... Berani sekali dia mengancamku begitu..." Ucap mamah Alex. menggerutu didalam ruangan Alex.


"Ada apa mah?" Tanya Alex.


"Oh... nak. Kamu sudah bangun?" Tanya mamah Alex. Kaget melihat Alex duduk santai.


"Mmmm." Saut Alex.


Mamah menatap Alex penuh dengan kekesalan. memikirkan apa yang Ricky ucapkan barusan.


"Tidak tidak, Sasa tidak mungkin hamil. Lalu, bagaimana jika benar Sasa sedang hamil? Bisa bahaya ini." Ucap mamah Alex. dalam hati.


"Maaah..." Panggil Alex. melihat mamanya mondar mandir.


"Alex. Jika mama melakukan kesalahan, apa kamu mau memaafkan mama?" Tanya mamah Alex.


""Mah, kesalahan yang seperti apapun, tidak pantas Alex menyalahkan mamah. Ada apa sih mah, ceritalah." Ucap Alex.


"Emmm, sudahlah. Jangan fikirkan. Mamah akan mengurusnya." Ucap mamah Alex.


....


"selesai. Semua rekaman cctv sudah aku hapus. Sedikitpun tentang Ricky dan wanita kampungan itu sudah benar benar hilang dari kehidupan Alex." Ucap Elsa. Sendiri, menghapus semua rekaman cctv.


"Maaf anda siapa?" Tanya penjaga ruangan monitor.


"Ohh... Maaf saya salah ruangan. Tadi mau cari seseorang." Ucap Elsa. Lalu pergi.


"Aneh sekali." Ucap penjaga monitor.


....


"Kyy... Terimakasih ya, sudah menemaniku terus." Ucap Sasa.


"Sama sama... Alex pernah bilang padaku. aku harus menjagamu, apalagi dengan keadaan yang seperti ini. Aku harus pastikan kau baik baik saja." Ucap Ricky.


"Berapa lama lagi, dia bisa mengingatku... Aku sangat merindukannya." Ucap Sasa. menangis lagi.


"Mmmmm.... jangan menangis lagi. Aku ikut sedih." Ucap Chelsia.


"Kita harus bisa buat Alex mengingat kita lagi." Ucap Ricky.


"Yah... Oia Chel... Besok kita masuk kerja yaah." ucap Sasa.


"Kamu yakin?" Tanya Chelsia.


"Aku yakin... dengan begini aku pasti bisa mengembalikan ingatannya lagi... Ini bakal sakit. Tapi aku harus bisa buktikan padanya." Ucap Sasa.


"Baiklah... Besok kita temui pak Dude." Ucap Chelsia.


"Ya sudah... kami masuk dulu... Kamu hati hati ya Kyy." ucap Sasa


"Ya... Sampai jumpa." Ucap Ricky lalu pergi.


"Aku harus bisa menuntun Alex. untuk selalu datang kehotel grand suaka. Semua kendali masih ditanganku. Aku masih bisa mengurusnya meski tidak harus bekerja disana." Ucap Ricky. sambil menyetir, menuju apartemennya.


"Ayo Saa. Kita masuk." Ajak Chelsia. Berjalan lebih dulu.


"Chel..." Panggil Sasa.


"Mmm" Saut Chelsia. menoleh kebelakang.


"Bagaimana kalau Alex, tidak pernah datang kehotel?" Tanya Sasa


"Saa... Kamu jangan kawatir... Ada Ricky yang akan mengurusnya. Yakilah." Jawab Chelsia. mengajak Sasa berjalan. Menuju kontrakannya.


"Tapikan, Ricky tidak bekerja disana lagi, Chel..." Ucap Sasa.


"Hemmm... Percayalah. Ricky tidak akan tinggal diam dengan semua ini." Ucap Chelsia. memegang bahu Sasa.


"Mmm." Saut Sasa. Dan masuk kedalam rumah kontrakannya.