
"Baik, Dok. Terimakasih banyak." Ucap Sasa.
"Kalau begitu, kami permisi dulu ya, Dok. Terimakasih sudah membantu kami lagi." Ucap Ricky.
"Ya, sama sama." Jawab dokter.
Merekapun pergi.
"Alex, jangan memaksakan mengingat masa lalu. Semua yang aku dan mama ceritakan, benar adanya." Ucap Elsa.
"Aku tidak mengingat apa apa, hanya terkadang mimpi ku seakan menceritakan semua yang terjadi selama ini." Ucap Alex.
"Namanya juga mimpi, jangan diambil pusing. Sekarang kamu harus banyak istrahat, yah." Ucap Elsa. memegangi tangan kanan Alex.
"Ya... Terimakasih sudah mau merawatku." Ucap Alex. Menatap Elsa.
Elsa hanya tersenyum lebar.
"Halo sayang..." Ucap mamah Alex.
"Hi, Mah..." Ucap Elsa.
"Pasti kamu sudah capek banget, ya... Sekarang kamu boleh pulang, biar mamah yang jaga." Ucap mamah Alex.
"Baiklah... Besok aku akan datang lagi." Ucap Elsa.
"Makasih ya, sayang..." Ucap mamah Alex memeluk Elsa.
"Jangan lupa istrahat dan minum obat ya Lex, Aku pergi dulu. Sampai jumpa besok." Ucap Elsa. melambaikan tangan ke Alex.
Alex hanya tersenyum sedikit.
"Saa. Ayo." Ucap Chelsia.
Sasa hanya duduk diam disofa.
"Kamu mikirin apa?" Tanya Chelsia, mendekati Sasa.
"Entahlah, Hufff..." Ucap Sasa. menghela nafas panjang.
"Saa... Jika kamu yakin Alex milikmu, perjuangkanlah. Nanti kamu menyesal, jika Alex pergi bersama wanita genit itu." Ucap Chelsia.
"Emmm... Ya..." Saut Sasa.
"Ya sudah, ayo kita pergi. Ricky sudah lama nunggu dibawah." Ucap Chelsia.
Saat Sasa berjalan. Ricky melihat Sasa tidak bersemangat, Sepertinya Sasa sangat berat hati menemui Alex.
"Saa... Kamu kenapa?" Tanya Ricky.
Sasa menggelengkan kepalanya.
"Tidak... Ayo kita pergi." Ucap Sasa.
Sasa dan Chelsiapun masuk ke mobil. Ricky masih melihat Sasa dari kaca sipion mobil.
"Saa..." Panggil Ricky.
"Mmm" Saut Sasa.
"Ini yah. Jika aku jadi kamu. Saat bertemu Alex nanti, aku akan langsung menciumnya. Kalau dia marah. Aku langsung bilang. 'Dulu, kau juga pernah memaksaku, lalu menciumku dihotel.' " Ucap Ricky.
Chelsia menahan tawanya.
"Darimana kamu tau, Alex pernah memaksaku?" Tanya Sasa.
"Haha... Tidak usah takut, hanya aku yang tau." Ucap Ricky.
"Ya, ampun. dia ceritakan semua padanya. Aizzz" Ucap Sasa dalam hati.
"Sebenarnya itu karna, Alex belum pernah pacaran." Ucap Ricky.
"Apah?" Tanya Sasa kaget.
"Ya, aku tidak bohong. Akulah yang mengajarinya, begini dan begitu." Ucap Ricky.
"Maksudmu? Kaulah yang menyuruh Alex membawa ku keujung tebing, saat acara pernikahannya, hari itu?" Tanya Sasa.
"Semuanya, tanpa terkecuali." Ucap Ricky.
"Hah..." Sasa mengehela nafas, dan menggeleng gelengkan kepalanya.
"Itu berarti Alex berguru dari Ricky? Jangan jangan, Alex bunuh diri karna suruhan Ricky?" Ucap Chelsia.
"Ohhh... Tidak mungkin. Semua yang ku ajar kan padanya, semua baik... beginilah, jika tidak mendengar ku bicara." Ucap Ricky.
Mendengar ucapan Ricky, Sasa dan Chelsia tertawa bersama.
"Kenapa tertawa begitu?" Ucap Ricky. melihat Sasa dan Chelsia menertawainya.
"Aku tidak percaya. Hahahaha." Ucap Chelsia.
Ricky melihat Sasa tersenyum lepas dari sipion mobil.
"Nanti malam saya akan datang lagi, memeriksanya." Ucap dokter.
"Baik dokter." Jawab mamah Alex.
"Jangan lupa minum obat... rumah lebih nyaman dari tempat ini." Ucap Dokter.
"Terimakasih, Dokter." Ucap Alex.
Ricky, Sasa dan Chelsiapun sampai dirumah sakit.
"Kyy, Aku lapar." Ucap Sasa.
"Ya udah ayo makan." Ajak Ricky.
"Hem... Aku tidak diajak?" Ucap Chelsia. murung.
"Diajak dong... Bagaimana bisa aku tanpamu." Ucap Ricky.
Sasa langsung berjalan. Tersenyum melihat Ricky sedang merayu Chelsia.
"Apaan sih..." Ucap Chelsia berjalan menyusul Sasa.
"Kan emang benar, kan?" Ucap Ricky.
"Jangan biarkan orang masuk kedalam, kecuali dokter yang memeriksanya tadi. Paham! Jam delapan nanti, dokter akan datang memeriksanya lagi. Oia... Sekalipun itu asistennya. jangan bairkan dia masuk" Ucap mamah Alex. kepada pengawal yang menjaga ruangan Alex.
"Baik, Buk." Jawab pengawal.
"Aku akan pergi sebentar." Ucap mamah Alex.
Setelah selesai makan malam, mereka pergi keruangan dokter yang menangani Alex.
"Kamu gugup yah?" Tanya Chelsia.
"Ha... Tidak." Jawab Sasa tersenyum terpaksa.
"Semoga saja, mamah Alex dan Elsa tidak ada disana." Ucap Ricky.
"Aku harap juga begitu." Saut Sasa.
"Mamah Alex..." Ucap Ricky. melihat mamah Alex berjalan sambil memainkan ponselnya, dari arah ruangan Alex.
Spontan Ricky menarik tangan Sasa dan Chelsia, keruangan obat, tepat disebelah kiri Sasa
"Ada apa?" Tanya Sasa.
"Mamah Alex lewat, sssttt..." Ucap Ricky.
Merekapun bersembunyi diruangan obat tersebut. Setelah mamah Alex pergi jauh. Sasa, Ricky dan Chelsia cepat cepat keluar dari ruang obat dan pergi menuju ruangan dokter.
Tok...tok...tok.
"Masuk." Saut dokter.
"Selamat malam, Dokter." Ucap Ricky, Sasa dan Chelsia.
"Ya, silahkan duduk." Ucap dokter.
"Makasih dokter." ucap Sasa.
"Tunggu disini." Ucap dokter. pergi mengambil sesuatu.
"Baik, Dok." Ucap Sasa.
"Lihat baju ini. Ini adalah baju perawat yang kamu pake beberapa bulan lalu, saat menjenguknya." Ucap dokter.
Sasa tersenyum melihat betapa dokter itu sangat baik padanya.
"Saya tidak akan pernah lupa atas kebaikan, Dokter." Ucap Sasa. Terharu.
"Yah. Semoga suatu hari nanti, kamu dan Alex ditakdirkan bersama." Ucap dokter.
"Makasih, dokter." Ucap Sasa. Matanya berkaca kaca.
"Pakailah, ini sudah jam delapan. Sudah waktunya untuk memeriksanya lagi." Ucap dokter.
"Baik dokter." Ucap Sasa. Mengambil pakayan perawat tersebut. lalu pergi kekamar kecil.
"Dokter. Sasa sedang hamil anak Alex, dokter." Ucap Ricky, berbisik.
"Apa?" Tanya dokter. Kaget.
"Ssttt, jangan ada yang tau dokter. ini rahasia besar. Aku hanya tersentuh dengan kebaikan dokter, sampai sampai mempertaruhkan pekerjaan dokter." Ucap Ricky.
"Kalian harus menjaganya dengan baik. kedaan yang seperti ini, bisa mempengaruhi pisikologisnya. Jangan sampai stres." Ucap dokter.
Sasapun keluar.
"Pakai masker ini. tenang saja, semua akan baik baik saja." Ucap dokter. menenangkan Sasa yang sedikit takut.
"Terimakasih dokter." Ucap Sasa.
"Ayo kita pergi." Ucap dokter.
Chelsia dan Rickypun menunggu didekat ruangan Alex.
Clep. suara pintu ruangan Alex dibuka.
"Sepertinya dia sedang tidur." Ucap dokter.
Sasa langsung membelai rambut Alex. Sasa menangis dan air matanya jatuh diwajah Alex.
"Tunggu..." Ucap Alex terbangun dari tidurnya.
"Kamu mimpi apah?" Tanya dokter. memeriksa infus Alex.
Sasa yang terkejud hanya bisa berdiri diam menatap Alex.
"Tidak dokter. saya sering sekali mimpi buruk. Bahkan seorang wanita selalu datang menghampiri mimpiku. tapi wajahnya buram, dokter. Aku tidak mengenalinya." Ucap Alex. Tiba tiba melihat perawat.
Sasa langsung menunduk.
"Sudah minum obat tadi?" Tanya dokter.
"Sudah dokter. Sepertinya sudah lebih baik." Ucap Alex.
"Ya, Saya rasa juga begitu." Jawab dokter. memeriksa denyutan jantung Alex.
Alex masih melihat kearah perawat disamping dokter.
Saat Sasa melihat Alex. Merekapun saling menatap.
Tiba tiba jantung Alex bergup kencang.
"Mata ini, dimana aku pernah melihatnya. Dan kenapa tiba tiba aku jadi merasa sedih." Ucap Alex. dalam hati.
"Baiklah, sepertinya kamu sudah lebih baik. Besok sudah bisa pulang. Istrahat yang cukup. Saya permisi dulu." Ucap dokter.
Sasa langsung menunduk menghindari pandangan Alex.
Saat dokter dan Sasa berbalik badan. Alex langsung memegang dan memahan tangan Sasa.
Sasa sangat kaget, air matanya langsung jatuh, menetes. Sasa melihat tangan Alex menyentuhnya. Tubuhnya seperti dihantam badai.
"Tunggu." Ucap Alex.
Dokter dan Sasapun berbalik arah lagi. Cepat cepat Sasa menghapus air matanya
"Ya, ada apa?" Tanya dokter. melihat tangan Alex, masih memegang tangan Sasa.
"Apa kita pernah bertemu?" Tanya Alex. melihat Sasa.
Sasa tidak menjawab hanya menggeleng gelengkan kepalanya.
"EHhmm, maaf. Mungkin saya salah orang." Ucap Alex. melepaskan tangannya dari Sasa, lalu bersandar.
"Baiklah kalau begitu. Kami permisi dulu." Ucap dokter.
Sasapun menyusul dibelakang dokter. Jalan Sasa melambat, rasanya berat sekali untuk melangkah, meninggalkan Alex.