You'R My Destiny

You'R My Destiny
Rumah kenangan



"Alex... Alex... Alex..." Panggil Ricky.


"Darimana saja Kau?"Tanya Alex.


"Sasa ingin bicara." Ucap Ricky


Sasa mendekat duduk disamping Alex.


"Mama sedang sakit. Jangan pergi, temani Aku." Ucap Alex. Memeluk Sasa dengan erat.


"Lepas Alex. Banyak orang disini." Ucap Sasa


"Kenapa? Kau pacar Ku, Aku bebas memeluk Mu." Ucap Alex.


"Tapi jangan didepan umum." Ucap Sasa.


"Sudahlah, peluk Aku." Ucap Alex. menahan Sasa dipelukannya.


"Roy... kenapa Kau tidak bilang Sasa bersamamu." Ucap Alex.


"Dia hanya ingin memberimu sesuatu." Ucap Ricky


"Tidak usah membawakan sesuatu. Karna hanya Kau ada disini, Aku sudah bahagia." Ucap Alex. mencium kening Sasa.


Sasapun tersenyum kepada Alex. Melihat bola mata Sasa yang indah.


"Jangan pergi lagi." Ucap Alex.


"Bangunlah... Kamu harus kuat." Ucap Sasa


"Alex... Alex. Bangun Lex..." Ucap Ricky memegang pundak Alex.


"Mmmm... Yah?" Ucap Alex.


"Bangunlah. Kamu harus kuat." Ucap Ricky


"Dimana Sasa?" Ucap Alex, Membuka matanya melihat Ricky ada disampingnya. Alex tersadar ternyata itu semua hanya mimpi.


"Sasa sudah pergi. Aku sudah mencarinya. Tapi Sasa pergi tanpa meninggalkan jejak. Dia wanita yang sangat pandai. Tidak setitikpun dia meninggalkan tanda." Ucap Ricky


"Aku harus bagaimana Kyy?," Tanya Alex.


"Dia hanya meninggalkan rumahnya." Ucap Ricky menunduk. Ilmunya tidak sanggup mencari Sasa.


setelah beberapa jam, dokter keluar dari ruangan mamah Alex.


"Dokter... Bagaimana keadaan mamah." Ucap Alex. Berdiri dan menemui dokter.


"Kondisinya sudah stabil. Untung saja tensinya tidak sedang tinggi. Bisa saja mamamu struk." Ucap dokter


"Yah... Makasih Dokter." Ucap Alex.


Alex kembali duduk dan menunduk.


"Tolong jaga mamah, Aku sedang tidak ingin diganggu." Ucap Alex


"Tapi bagaimana jika Ibu presdir sudah sadar?" Tanya Ricky, melihat Alex yang masih terlihat lemah.


"Telepon aku nanti." Ucap Alex, Berdiri lalu pergi. Tangan kirinya menghempaskan jasnya kebahunya. sedangkan tangan kanannya dikantong celananya.


"Kenapa aku ikut sedih melihatnya," Ucap Ricky.


Dengan gayanya yang tanpan, Alex membawa mobilnya melaju kencang. Mengingat yang terjadi antara Alex dan Sasa malam itu.


Alex pergi menuju rumah Sasa. Sesampainya disana, Alex mengambil papan tulisan yang menempel dipintu. Membuangnya kesamping rumah Sasa.


Alex membuka paksa, pintu rumah Sasa. Masuk berjalan melambat, melihat ruang tamu. Mengingat kembali waktu ayah dan ibu Sasa bercerita disana. Kembali berjalan membuka pintu kamar Sasa. Melihat sekeliling kamar, mengingat kembali, bagaimana Sasa menata rapi kamarnya. Setelah melihat sekeliling kamar, Alex keluar dan melihat meja makan. Disana Alex melihat betapa beruntungnya Sasa memiliki orang tua yang begitu peduli dan perhatian padanya.


"Huhhh.... kenapa kau pergi. Lihat, aku disini begitu rapuh dan hancur Saa." Ucap Alex. Berlutut dan menunduk menyesalkan kepergian Sasa.


Tiba tiba Alex mengingat, Bahwa Alex banyak menyimpan foto kenangannya bersama Sasa. Alex menelepon Ricky.


Tuuuuut.... tuuuut... tuuuut....


" Haloooo... Ricky, cuci semua fotoku bersama Sasa. Setelah selesai, antar semua foto kerumah Sasa." Suruh Alex.


Alex memesan semua peralatan rumah. Kulkas, televisi, kipas tempat tidur, Alat masak dan lain lain. Alex mengurus dan merapikan rumah Sasa. Bahkan berniat tinggal dirumah Sasa.


"Alex... Kau disana?" Tanya Ricky... melihat rumah Sasa sudah bersih dan layak.


"Ya, Aku disni." Jawab Alex. Memegang kain pel.


Ricky terkejud melihat Alex melakukan semua pekerjaan yang tidak pernah dikerjakannya.


"Ini, yang kamu pesan." Ucap Ricky


"Letakkan disitu, dan jangan pergi dulu. Bantu aku memperbaiki ini semua." Ucap Alex. Mengajak Ricky memperbaiki semua peralatan masak didapur.


"Apa Kau akan tinggal disini." Ucap Ricky. melihat semua barang barang dirumah Sasa sudah tersusun rapi.


"Mmmm.... mulai sekarang." Jawab Alex, membersihkan debu disisi jendela.


"Yakin? bagaimana jika orang orang tau tentang mu." Ucap Ricky


"Sudah serahkan saja padaku." Ucap Alex, meletakkan kain lap diatas meja.


"Baiklah, Jaga dirimu. Aku masih mengurus keperluan presdir dirumah sakit." Saut Ricky


"Yah... Baiklah." Ucap Alex. Kagum melihat Asistennya yang sangat bertanggung jawab.


Alex melihat kotak yang diletakkan Ricky diatas meja. Membuka dan melihat semua isi didalam kotak tersebut. Alex mengangkat kotak tersebut kekamar Sasa. yang dimana itu akan jadi kamar Alex.


Alex menempelkan semua foto foto saat bersama Sasa. Hampir semua dingding kamar Sasa, Alex menempelnya dengan memberikan hiasan lampu berwarna.


Seharian Alex memperbaiki rumah dan kamar Sasa. Alex bersantai diruang tamu menonton televisi. Lalu pergi kekamar, untuk istirahat.


melihat foto fotonya bersama Sasa. Alex tersenyum melihat foto, yang membawanya kemasa lalu.


"Aku merasa Kau masih mencintai ku. Dan aku, bahagia disini menunggumu." Ucap Alex.


Sementara Ricky sibuk mengurus mamah Alex dirumah sakit. Sambil menerima telepon dari perusahaan Alex.


"Lama lama aku bisa gila... Aku harus telepon Alex." Ucap Ricky


Kring... kring.. kring...


"Mmm...." Saut Alex.


"Kau tidur?" Tanya Ricky


"Ya..." Jawab Alex.


"Wah... enak sekali. Asisten mati matian, Bos tidur tiduran..." Ucap Ricky


"Sejak kapan Kau suka mengeluh." Ucap Alex.


"Aku hampir gila, mengurus perusahaan mu dan semua kesibukan yang seharusnya Kau yang melakukannya." Ucap Ricky.


"Setelah pekerjaanmu selesai, datang kesini. Ada yang harus kita ker." Ucap Alex. Terkejut, telepon dari Ricky sudah terputus.


"Bukannya membantu, malah menambahi pekerjaan ku saja. Dia kira Aku robot? Huh..." Ucap Ricky. memutarkan kepalanya kekiri dan kekanan, karna kelelahan.


Ricky benar benar lelah. malam menjaga mamah Alex dan siang mengerjakan pekerjaan Alex.


"Hah... Kau memang asisten terhebat. Terimakasih sudah setia bersamaku." Ucap Alex. Menatap ponselnya, memuji Asisten sekaligus sahabatnya itu.


Alex pergi kedapur untuk memasak.


"Ya, Ampun... padahal aku lapar sekali. Aku harus belanja dulu." Ucap Alex, melihat tidak ada makanan yang bisa di masak dan pergi berbelanja.


Alex pergi kesalah satu supermarket terdekat. Membelanjakan susu, telor, ikan dan bahan bahan untuk keperlukannya masak dirumah. Sesampainya dirumah Alex menyusun semua makanan dan belanjaannya kedalam kulkas.


"Huhhh... Sudah siap." Ucap Alex, sambil makan roti dan susu yang Dia beli barusan. Alex tersenyum melihat foto Sasa, yang ada dipintu kulkas. Alex menempel foto Sasa disetiap hal penting yang berurusan dengan keperluan Alex. Alex terus tersenyum, merasa didalam rumah itu seperti ada Sasa bersamanya.


Setelah selesai makan. Alex kembali masuk kekamar, duduk dimeja belajar. memandang betapa cantiknya wanita yang dia cintai. Sesekali Alex menciumnya dan meletakkan foto tersebut diatas meja.


"Apa kau sedang memikirkan ku disana? Apakah kau tau betapa aku ingin memelukmu... Hah... Sudahlah, Jadilah orang hebat disana... Agar kau merasa pantas untuk ku. Tapi apapun yang terjadi nanti, Aku menerimamu seutuhnya." Ucap Alex, Bicara sendiri kefoto yang ada dihapannya. Senyumnya menandakan Alex akan lebih semangat dalam melakukan segala hal, dalam penantiannya.