
Kembalinya Alex ke keluarganya. Mamah Alex membuat pesta besar.
Seluruh saluran televisi menyiarkan, atas kembalinya Alex.
"Putra tunggal Raka Buming telah kembali, pewaris tunggal Alex Raka Buming sempat dinyatakan hilang. Sekarang telah kembali, kekeluarga Raka Buming. Bersama dengan tunangannya Elsa, Alex berdiri tegap. seakan tidak terjadi sesuatu pada dirinya kemarin."Ucap pembawa acara televisi.
"Saya bersyukur, bisa selamat dari kejadian kemaren. Selama saya tidak ada, perusahaan sempat goyah. sekarang sudah kembali stabil, semenjak saya kembali." Ucap Alex. Dengan gaya eksotisnya.
"Usir semua wartawan itu, jangan sampai mereka menanyakan masa lalunya." Ucap mamah Alex. membisikan kepada pengawal.
"Baik buk." Saut pengawal.
Beberapa pengawal menghadang para wartawan.
"Ibu presdir, memanggil anda Pak." Ucap pengawal.
Alexpun pergi menemui mamanya.
"Ada apa mah?" Tanya Alex.
"Jangan lama lama meladeni mereka. pertanyaan mereka selalu menjebak. Mamah takut, mereka mengetahui bahwa kamu lupa ingatan." Ucap mamah Alex.
"Baik mah." Jawab Alex.
"Alex." Panggil Elsa. Berdiri bersama para tamu undangan.
"Alex kesana dulu ya mah." Ucap Alex.
"Alex yang sekarang lebih penurut, dibanding Alex yang dulu." Ucap mamah Alex. Tersenyum.
.....
"Saa... Muntah lagi, yah?" Tanya Chelsia. cemas.
"Ia nih... Semakin hari makin menjadi." Ucap Sasa mengelus elus perutnya.
"Setelah pulang kerja nanti, kita ke dokter yah..." Ajak Chelsia.
"Tapi bagaimana dengan, Roy?" Tanya Sasa.
"Biar aku yang mengurusnya." Ucap Chelsia.
"Baiklah." Ucap Sasa.
Merekapun bekerja bersamaan. Chelsia dibagian yang berat sementara Sasa dibagian yang ringan.
"Yes, Berhasil... Hufff.... Apa yang telah ku kerjakan ini, akan membuatmu bangga punya sahabat sepertiku, Alex. Mamah Alex mungkin bisa mengusirku, tapi tidak dengan posisiku." Ucap Ricky. Diruang kerjanya.
....Flashback....
"Aku tau itu semua, Aku bahkan sudah terima. Harusnya kau mengerti aku... Maaf aku tidak bisa." Ucap mama Ricky.
"Tidak tidak... Kau tidak boleh pergi. Bagaimana dengan aku, anak kita?" Tanya papah Ricky
"Aku tidak peduli." Ucap mamah Ricky
"Jangan, Sayang. Jangan tinggalkan aku. Kasihan anak kita." Ucap papah Ricky
"Lepas. Lepaaaas. Aku tidak peduli kau ingin membuangnya atau bahkan menjadikannya gembel sekalipun. Aku tidak peduli." Ucap mama Ricky.
"Sayang... sayang... Ahhhhhh." Ucap papah Ricky.
""Mah... Jangan tinggalkan Aku, Maaaa..." Ucap Ricky. berlari mengejar mamanya.
"Ricky tunggu." Ucap papah Ricky.
"Aaaaaaa...." Srackkk. Ibu Ricky ditrabrak mobil pengangkut barang bahan bangunan.
"Mamaaaaaaaaa....... Aaaa, jangan tinggalin Ricky, maaa... Mama bangun..." Ucap Ricky. menangis memeluk mamahnya.
Papah Ricky yang melihat kejadian, langsung berlari dan sambil minta pertolongan, lalu membawa mamah Ricky kerumah sakit. Sesampainya dirumah sakit, mamah Ricky dinyatakan meninggal.
"Mahhhh.... Mamah... Bagaimana dengan Ricky Maaa." Ucap Ricky. memeluk jasad mamahnya.
......
"Aku bersyukur, masih ada Alex bersama ku. Terimakasih Pah." Ucap Ricky. Lalu pergi.
Kring... kring... kring...
"Halo..." Angkat Ricky
"Besok, Alex ada kunjungan kerja ke hotel grand suaka." Ucap mata mata Ricky.
"Okeh. " Jawab Ricky dan mematikan ponselnya.
"Nih minum dulu. Abis ini kita kedokter, yah." Ucap Chelsia. Memberikan Sasa segelas air putih.
"Makasih." Ucap Sasa.
"Sama sama." Ucap Chelsia.
"Chel... Kayanya kita besok ajah deh, speksinya. Aku kangen sama Roy. Udah lama tidak jumpa." Ucap Sasa.
"Hemmmm... Baiklah." Ucap Chelsia. singkat.
"Kamu kenapa sih? Tiap kali aku bahas Roy, wajahmu pasti berubah. Ada apa sih?" Tanya Sasa curiga.
"Hah... Enggak ada apa apa lah..." Ucap Chelsia. Panik.
"Chel..." Panggil Sasa. menggelengkan kepalanya.
Chelsia yang tidak ingin berceritapun. Menggeleng gelengkan kepalanya.
Sasapun langsung buat wajah cemberut.
"Ohhh... ia ia... Aku cerita." Ucap Chelsia. Kesal.
"Nah gitu dong. Kenapa?" Tanya Sasa.
"Roy mantanku." Ucap Chelsia.
Sontak Sasa kaget.
"Hah... Roy, mantan mu?" Tanya Sasa.
"Yah... Tapi keluarganya sangat sadis. Mereka berusaha memisahkan aku dengan Roy. Bahkan merekalah yang menyebabkan kedua orang tua ku meninggal." Ucap Chelsia.
Sasa mendengar cerita Chelsia terheran heran. Betapa menderitanya Chelsia dulu saat bersama Roy.
"Sshhhhh... Dan lagi. Mamah Roy memberiku tawaran uang ratusan juta dan mengembalikan semua apa yang sudah dirampasnya dari papahku. Asal aku meninggalkan Roy. Aku tau saat itu Roy ada disana mendengar semua yang dilakukan orang tuanya. tapi, Aku memilih uang dan jabatan papahku. Aku membawa semua uang dan surat surat penting diperusaan papahku. Tapi keesokan harinya, Aku dan papah mengembalikan itu semua, dan bilang ' Jangan pernah mengganggu hidup kami lagi. Awalnya mamah Roy setuju, tapi setelah kami pergi. Mamah Roy menyuruh suruhannya, untuk membunuh aku dan kedua orang tuaku." Chelsia menangis mengingat kepahitan yang dia alami.
Sasa ikut menangis dan menyentuh tangan kanan Chelsia.
"Kamu tau Saa. puluhan luka tusukan dan tembakan, ditancapkan ditubuh papah ku, jika tidak ada dia, maka aku juga akan ikut mati. Papahku memelukku saat pembunuh bayaran itu ingin menembakiku. Betapa sadisnya mereka. Papahku mati dipelukanku." Ucap Chelsia.
"Lalu apa yang Roy lakukan waktu itu?" Tanya Sasa.
"Roy mengetahui lokasi kejadian tersebut dari asistennya, Daniel. Lalu menelpon polisi. Saat Roy berjalan mendekati aku. Para penjahat itupun pergi. Memang Roy yang mengurus semua, mengubur papah dan mamahku. bahkan menyembunyikan aku disebuah rumah yang jauh dari jangkauan mamah dan papahnya... Roy, memang minta maaf. Bahkan rela pergi membawaku jauh dari keluarganya. Tapi Saa, Aku tidak bisa menerima Roy dihatiku lagi. Sama saja aku telah berhianat. hidup dengan anak pembunuh kedua orang tuaku." Ucap Chelsia. dengan tatapan dendam.
"Lalu?" Tanya Sasa.
"Malam itu, dia bilang. 'Aku akan menebus semua apa yang telah dilakukan mamah dan papahku' . Dia juga berjanji akan selalu bersama denganku. Bahkan rela mati untukku. Tapi apa yang kudengar malam itu hanya kemunafikan saja, tidak ada sedikitpun rasa untuknya. hanya ada rasa ingin membunuhnya malam itu juga. Tapi aku tidak sanggup Saa. Aku, kabur. dan meninggalkannya. Hari itu sangat gelap, aku menunggu sampai terang, baru aku melanjudkan perjalanan ku. Aku tau dia sangat menderita, Saat Roy tau aku pergi. Dia juga hendak bunuh diri. Aku tidak peduli, aku pergi menutup telingaku, untuk tidak mendengar suara jeritannya. Aku pergi kesebuah pulau dan hidup sebatang kara, tempat dimana kamu menemukan aku." Ucap Chelsia.
"Maafin aku, Chel. Aku tidak tau kalau kisahmu bersama Roy sesakit itu." Ucap Sasa. terpaku.
"Tidak apa Saa. selama ini aku ingin menceritakannya padamu. Tapi aku... Huff..." Ucap Chelsia.
"Sudah Chel... Aku selalu berdoa, supaya kamu hidup bahagia. Dan kamu akan selalu ada buat aku." Ucap Sasa. memeluk Chelsia.
"Kamu juga, harus bahagia Saa." Ucap Chelsia. memeluk Sasa dengan rasa haru.
Merekapun berpelukan dan saling mendoakan satu sama lain.
"Oia... ini sudah jam delapan. Ayo, Roy pasti sudah menunggumu." Ucap Chelsia.
Sasa tersenyum.
"Yah... ayo kita pulang." Ucap Sasa.