You'R My Destiny

You'R My Destiny
Ponsel pemberian Alex.



"Semoga Sasa suka." Ucap Alex membelikan Sasa ponsel.


kring... kring...kring.


"Halo Ricky." Jawab Alex


"Aku sudah menemukan bukti. kapan kita akan memusnahkan hidup sipenghianat itu." Ucap Ricky.


"Mungkin bukan waktu dekat ini. peningkatan perusahaan kita sekarang semakin meningkat. jangan sampai ada isu yang beginian dulu. tapi secara perlahan akan kita kikis jantungnya." Ucap Alex.


"Baiklah... Oia, ada sedikit problem soal proyek opjek wisata itu. bagaimana selanjudnya?" Tanya Ricky.


"Sudah aku urus semalam. Itu sebabnya aku tidak sempat lagi mengajakmu berpesta semalam." Ucap Alex.


"Oh, tidak apa apa. kalau soal pekerjaan kau menunda pertemuan kita, tidak masalah. Aku suka itu." Ucap Ricky.


"Ya sudah, setelah ini. kita akan berpesta." Ucap Alex


"Setelah ini? kau ada dimana sekarang." Tanya Ricky


"Ini baru sampai pelabuhan, aku ingin menemuinya sebentar saja. setelah itu kita pergi sama. Okey?" Ucap Alex.


"Ya lah, Aku maklum. yang lagi kasmaran itu." Ucap Ricky.


"Syukurlah jika kamu mengerti. ini cinta pertama ku Kyy." Ucap Alex.


"Ya, aku tau itu... Cepatlah bertindak. Aku akan selalu mendukung." Ucap Ricky menyemangati sahabatnya.


"Terimakasih, sudah dulu. aku akan berangkat." Ucap Alex.


Okey... Hati hati disana." Ucap Ricky.


"Saya, kesana sebentar yah." Ucap Roy, kepada anggota proyek.


"Ini aku bawakan makanan siang untukmu. Pasti belum makan kan." Ucap Daniel.


"Ayo, temani aku makan." Ucap Roy.


"Ya kebetulan aku juga belum makan. huhh... menemaninya belanja seharian, itu sangat melelahkan sekali." Keluh Daniel.


"Kenapa? bukankah dia kekasihmu?" Tanya Roy sambil membuka bungkusan makanannya.


"Ya. memangsih, kita ketemunya cuma sekali seminggu. Tapi sekali ketemu pasti lelah sekali." Ucap Daniel.


"Haha... bersyukurlah menemukan wanita yang sangat mencintaimu. Percayalah, Katrin adalah wanita yang setia." Ucap Roy.


"Mmm memang dia sangat mencintaiku, tapiiiii. sudahlah. ini salah ku dari awal memanjakannya." Ucap Daniel.


"Memang begitulah yang dia mau, jangan berubah. atau dia bisa meninggalkanmu." Ucap Roy.


"Ya... Aku akan bertahan sampai kapan pun." Ucap Daniel lalu membuka bungkusan makanannya dan mulai memakannya.


"Oia Dan..." Ucap Roy


"Mmm" saut Daniel.


"Sasa pernah ketemu dengan Chelsia." Ucap Roy.


"Hukk... hukk... Apa? Chelsia disini, dannnn darimana Sasa kenal Chelsia?" Tanya Daniel.


"Ya. Semalam, Sasa menemukan dompetku terjatuh dekat meja makan dirumahnya. dan melihat foto Chelsia. Sasa bilang sama persis dengan wanita yang membantunya dekat pelabuhan. Sasa juga bilang kalau wanita itu tinggal disini.Ucap Roy.


"Enggak mungkinlah. enggak mungkin Chelsia kabur kepulau ini. Sementara Ibu dan Pak presdir memberinya banyak uang." Ucap Daniel.


"Itu yang buat aku bingung... Bagaimana jika kau menyelidikinya dulu." Suruh Roy.


"Heeeiiiii... Pulau ini sangat besar. jika aku mencarinya dengan foto yang kau beri itu. yang ada Chelsia akan kabur, jika tau kita mencarinya. " Ucap Daniel


"Ia juga... Mmm nanti kita akan suruh mata mata mencarinya. jika tidak ada, mungkin hanya mirip saja." Ucap Roy.


"Yap... Dan tidak mungkin dia ada disini." Ucap Daniel. dan lanjud makan.


"Selamat pagi Pak." Ucap Alex menyapa ayah Sasa.


"Oh. Alex... Kamu tidak kerja, nak?" Tanya ayah Sasa


"Tidak Pak..." Ucap Alex tersenyum dan menyembunyikan sesuatu ditangannya.


"Masuklah, Sasa ada didalam." Ucap ayah Sasa.


"Ya Pak." Jawab Alex


Saat Alex masuk, dirinya melihat Sasa sedang mengadon bumbu. untuk jualannya.


"Perlu bantuan." Tanya Alex mengagetkan Sasa.


"Huhhh... bikin kaget saja. biasakan sebelum masuk rumah orang beri salam dulu." Ucap Sasa.


Alex tersenyum melihat Sasa yang sangat giat membantu ayah dan ibunya. Saat Sasa mengangkat adonannya keatas meja, Alex langsung memberikan ponsel baru untuknya.


"Apa ini?" Tanya Sasa, melihat ponsel yang Alex berikan kehadapannya.


"Ponsel baru untuk mu." Ucap Alex.


"Ya. Agar aku bisa menelponmu." Ucap Alex memalingkan pandangannya.


"Kan ada ponsel ayah..." Ucap Sasa. menatap Alex.


"Tapi yang memegang ponsel itu kan ayah. Bagaimana jika aku mengirim pesan untukmu. dan bilang aku rindu." Ucap Alex, mengalihkan lagi pandangannya keatas.


"Hemmm. Baiklah. Berapa harganya?" Ucap Sasa.


"Plis, ambillah. Jangan tanya begitu. Aku hanya melakukan sewajarnya orang pacaran..." Ucap Alex.


"Pacaran? siapa yang pacaran denganmu...." Ucap Sasa.


Alex terdiam melihat Sasa. menghela nafas panjang, mendengar ucapan Sasa yang begitu tajam menusuk jantungnya.


"Okey, selesai. sekarang waktunya belanja." Ucap Sasa. Minum air putih dan melirik Alex yang menunduk kehabisan kata.


"Alex... Bisakah kau menemani Sasa belanja?" Tanya Ayah menyadarkan Alex.


"Belanja? Bisa Pak." Ucap Alex.


"Ayah... Hari ini aku belanja sangat banyak, pasti sangat lama. mana bisa Alex menemani Sasa. Dan dia juga tidak terbiasa belanja dipasar tradisionalkan? ia kan Alex?" Ucap Sasa. menyindir Alex.


"Tidak juga. Aku akan menemanimu meskipun itu sangat banyak dan akan lama." Ucap Alex.


"Yakin?" Ucap Sasa meragukan Alex.


"Ayo, kita pergi." Ucap Alex. tersenyum. merencanakan sesuatu untuk Sasa


"Ihhh kenapa wajahnya sangat mencurigakan..." Ucap Sasa.


"Sudah,Sana. Dia anak baik." Ucap ayah Sasa.


"Anak baik ayah bilang?" Ucap Sasa keayah.


"Emang Alex pernah ngelakuin apa untuk Sasa" Tanya ayah Sasa


"Diaaaaaa... e.eemmmmm, tidak ada, Yah." Ucap Sasa hampir ceplos.


"Ya sudah kalau tidak ada, sudah pergi sana. Dia sudah menunggu." Ucap ayah Sasa.


Saat Sasa menuju mobil Alex. Alex tersenyum lebar melihat Sasa berjalan memegang ponsel yang Alex berikan padanya.


"Kita kemana?" Tanya Alex masih tersenyum.


"Be.lan.ja." Ucap Sasa.


"Ya, belanja kemana, Aku tidak tau jalan kesana..." Ucap Alex.


"Jalan Saja, nanti akan aku beritahu." Ucap Sasa.


"Baiklaaah." Ucap Alex.


"Kiri." Ucap Sasa.


"Okeeyyy...." Saut Alex.


"Nanti pertigaan kekanan yah." Ucap Sasa.


"Mmmm." Saut Alex.


Sesampainya sipasar tradisional. Alex melihat tempat itu sangat kotor, tapi niatnya ingin menemani Sasa sangat besar. Alexpun tidak peduli dengan bau dan sesaknya pasar.


"Wahhh... ganteng sekali... sedang apa dia kesini." Ucap setiap orang, melihat Alex. berjalan dibelakang Sasa dengan baju yang rapi dan mencium bau parfum yang mahal.


"Pak, seperti biasa yah... siapin dulu, saya mau belanja kesana sebentar." Ucap Sasa kepenjual sayuran.


"Siapa tuh?" Tanya penjual sayur, melihat Alex berdiri selalu dibelakang Sasa.


"Dia temanku dari kota." Jawab Sasa.


"Izzz, Dia memanggilku teman." Ucap Alex berbisik.


"Ohhh, Ganteng yah." Ucap penjual sayur.


"Hah... Saya kesana dulu ya Pak, jangan lupa. Seperti biasa." Ucap Sasa.


Sasa memberikan semua belanjaan kepada Alex. Alex sama sekali tisak mengeluh. Tetap tersenyum kepada Sasa. Meski Sasa sengaja membeli yang tidak perlu, agar Alex mengeluh tapi nyatanya tidak. Alex tetap bertahan dengan keringat yang membasahi pipi dan tubuhnya.


"Capek?" Tanya Sasa.


"Tidak, masih ringan." Ucap Alex. Tersenyum kepada Sasa.


"Izz... Sudahlah. sepertinya dia tidak menyerah. Aku malah kasian melihatnya." Ucap Sasa dalam hati.


Merekapun kembali kemobil Alex. Sasa melihat Alex memasukkan barang belanjaan kedalam mobilnya.


Sasa tersenyum melihat Alex yang begitu bersemangat membantunya.


Setelah menutup pintu belang. Sasa memberikan Alex air putih. dan melap keringat Alex diwajah dan leher Alex. Alex tersenyum melihat Sasa perhatian padanya. Lalu meminum air putih pemberian Sasa.