You'R My Destiny

You'R My Destiny
Kepulau kecil.



"Halo... Aku akan turun." Jawab Alex, mengangkat telepon dari Ricky.


Alex berjalan keluar dari kamar, membawa tas tempat baju gantinya beberapa hari.


"Alex, Kamu mau kemana?" Tanya mamah Alex


"Alex, ada tugas keluar kota." Ucap Alex. Terus berjalan.


"Bukan kah minggu lalu kamu sudah pergi?" Tanya mama Alex.


"Sejak kapan mamah peduli soal urusan kantor?" Ucap Alex memakai sepatu sportnya.


"Semakin dewasa, Alex semakin sama persis dengan papanya. gaya bicara dan cara berfikirnya." Ucap mamah Alex, Melihat anaknya yang samakin hari semakin keras. Bahkan aturan yang mamanya buatpun tidak pernah dilakukannya lagi.


"Alex pergi dulu. Mah" Ucap Alex dan pergi.


Mamah Alex merasa kecewa dengan sifat Alex yang tidak menuruti semua perkataannya. Mamah Alex, mengingat kembali masa masa bersama anaknya yang selalu bermanja dengannya.


....Flas back....


"Ma... Mama.... Maaaaahhh." Panggil Alex dari kamarnya yang penuh dengan mainan termahal.


"Sabar sayang, sabar. Ada apa sih?" Tanya mamah Alex, cepat cepat berlari menemui Alex, yang duduk merengut.


"Kenapa mamah lama sekali, Aku bingung memilih baju yang mana?" Ucap Alex yang masih kelas tiga sekolah menengah pertama.


"Kenapa harus mamah yang memilih nak, pilihlah sesuai keinginan hatimu." Ucap mamah Alex


"Aku hanya terlihat tampan jika mamah yang memilihkan untukku." Ucap Alex.


"Ohhh... ya sudah baiklah, pakai baju yang ini, dan ini." Ucap mamah Alex memilihkan stelan untuk Alex.


"Okeh, Terimah kasih maaaaa, I love you." Ucap Alex kepada mamanya.


"I love you too, sayang." Ucap mamah Alex, lalu pergi menemui suaminya.


"Kenapa dia menjerit begitu." Tanya Papah Alex.


"Biasalah, apa apa mamah, apa apa mamah." Ucap mamah Alex yang bangga dengan perlakuannya.


"Dengar, jika kau tidak membiasakannya dengan keputusannya sendiri... jangan sakit hati ketika dia memberontak nanti." Ucap papah Alex.


"Maksud, kamu apa Pah?" Tanya mamah Alex.


"Yah.. besok dia akan dewasa. Dia sudah tau mana yang baik dan mana yang tidak. Sementara kau sudah terbiasa dengan keputusanmu padanya. Bagaimana jika dia memilih jalan hidupnya sendiri, dan tidak butuh bantuan mu lagi... Untuk itu, biasakan dia mandiri. agar kau tidak kecewa nanti." Ucap papah Alex.


"Tapi dia masih anak anak kan?" Ucap mamah Alex tidak terima.


"Sudah jika tidak mendengar ucapanku. bersiaplah kita akan pergi." Ucap paah Alex, dan pergi keruang tamu.


Mamah Alex sempat terdiam mendengar apa yang dikatakan suaminya.


"tidak mungkin, Alex akan selalu menurut apa kataku. Aku pastikan itu." Ucap mamah Alex didalam kamarnya, dan bergegas menemui suaminya.


.................


"Ternyata benar, apa yang kau katakan dulu. Kau sudah tau ini akan terjadi. kau sudah tau bahwa dia memiliki semua sifat mu itu. Haaaa, Aku menjadi tidak berguna untuknya. Atau aku harus mengikuti jalannya... Bagaimana jika Alex salah jalan?. Aku tidak mau kehilangan semua ini, Aku tidak mau kehilangan semua kenangan yang ada bersamamu dirumah ini. jika aku menyerahkan semua padanya, maka hancurlah namamu, Pah..." Ucap mamah Alex menangis duduk dikursi. Merasa kalau Alex belum pantas memilih jalannya sendiri.


"Kenapa kau diam saja..." Tanya Alex melihat Ricky, yang hanya diam sambil menyetir.


"Mmm... sedang tidak ingin bicara..." Ucap Ricky, yang masih jengkel.


"Kau marah pada ku?" Tanya Alex.


"Tidak juga..." Ucap Ricky singkat.


"terus? ayolah... Ada apa denganmu." Tanya Alex serius.


" Aku akan melaporkanmu, kekantor ketenaga kerjaan. Kau sudah mempekerjakan orang diluar jam kerja." Ucap Ricky. Ketus dan tidak mau melihat Alex.


"Hahaha... Aku sudah tau itu. Baiklah, Aku akan cerita. Sebenarnya kita kesini itu, buat liburan. Bukan untuk kerja." Ucap Alex tertawa.


"Sudahlah, liburan atau apa. Aku akan tetap mengikutimu." Ucap Ricky, masih jengkel.


"Bersenang senanglah, kali ini kau bebas." Ucap Alex.


"Hemmm..." Saut Ricky masih tidak percaya.


Sesampainya disana mereka turun dari kapal verry, yang juga membawa mobil Alex.


"Hemm... Aku lelah sekali." Ucap Ricky


"Kita cari penginapan saja." Ucap Alex.


"Baiklah." Ucap Ricky.


Alex dan Ricky mencari penginapan yang dekat dengan pinggir pantai. Saat mereka sedang mencari hotel. Alex tiba tiba melihat seorang wanita duduk dipinggir pantai.


"Kau tidak ingin menemuinya?" Tanya Ricky.


"Kenapa tidak kau saja..." Jawab Alex.


"Boleh juga." Ucap Ricky.


"Kita cari hotel dulu, baru kau menemuinya." Ucap Alex. meminta Ricky melanjudkan perjalanannya. Saat Ricky hendak berhenti.


"Ohhh Baiklah." Ucap Ricky.


"Lihat ada hotel disana." Ucap Alex, melihat hotel dengan kelas rendah.


Merekapun menuju hotel tersebut. Setelah memarkirkan mobil tersebut, merekapun berjalan bersama, untuk memesan.


"Mbak, Satu kamar yah." Ucap Ricky.


"Emmm Dua mbak." Ucap Alex. merasa risih satu kamar dengan sahabatnya.


"Kenapa dia?" Tanya Ricky.


"Sudahlah, Aku tidak mau melihat wanita mu itu." Ucap Alex. berfikir Ricky akan menjemput wanita dipinggir pantai tadi.


"Haha... Baiklah kalau begitu. Dua kamar, Mbak." Ucap Ricky.


"Baik, Pak. Mari saya antarkan." Ucap pelayan hotel.


Alex dan Ricky mengikuti kemana pelayan hotel tersebut berjalan.


"Mbak, mau sama teman saya" Ucap Ricky.


Spontan Alex memukul dada Ricky.


Pelayan tersebut tidak menjawab, hanya tersenyum mendengar ucapan Ricky.


" Baik, Pak. Ini kamar kosong dua, dan kosong tiga. Ini kuncinya dan selamat beristrahat ya Pak, Selamat malam." Ucap Pelayan Hotel. Lalu pergi.


"Tunggu." Ucap Ricky.


Pelayan tersebut berhenti dan berbalik badan.


"Ya, Pak..." Jawab Pelayan hotel tersebut.


"Kamu yakin, tidak mau menemani teman saya ini." Ucap Ricky.


Alex langsung membuka kamarnya dan menutupnya rapat rapat.


"Hahahaa... Maaf Mbak maaf... Hanya bercanda." Ucap Ricky kepada pelayan tersebut.


"Baik, Pak. Permisi." Ucap pelayan hotel lalu pergi.


"Dia fikir aku, sama seperti dia. Bisa meniduri sepuluh wanita dalam satu malam... Menjijikkan." Ucap Alex.


"Alex... Alex... Percuma wajah tanpan, tapi tidak dimanfaatkan. Kan saaayang. Hahaha... Sudahlah Aku lelah sekali." Ucap Ricky dan menghempaskan badannya ke tempat tidur.


"Semoga ini bisa membuatnya lebih baikan sedikit."Ucap Alex. Memikirkan sahabatnya yang sangat stres memikirkan pekerjaan selama terus menerus.


"Epppp... tunggu tunggu... Aku, harus, mematikan, ponselku. Agar, Alex tidak, menghubungi aku lagi. hemmm mati deh... Ahhh tidur dulu," Ucap Ricky, mematikan ponselnya agar Alex tidak mengganggunya lagi.


Ricky ingin tidur nyenyak malam ini sampai pagi, tanpa ada gangguan dari Alex dan pekerjaannya.


Sementara Alex. masih menatap keluar kaca. mengingat, dia dulu pernah bermain bersama dipinggir danau, tertawa bahagia, bahkan memeluknya dengan erat.


Alex sangat menginginkan hal tersebut terulang kembali. Maka dia tidak akan melepaskannya lagi untuk kedua kalinya. Karna Alex akan memilikinya selamanya.