
"Sasa? Saaa?" Panggil ayah.
"Haaaa... ayah?" Ucap Sasa.
"Sedang apa? bukankah Alex sudah pergi jauh." Tanya ayah.
"Aahhhh... Sasa bukan ngiliatin dia, ayah." Ucap Sasa ngeles dan pergi masuk kerumah.
"Oooo, ia kah? kenapa ayah tidak percaya yah." Ucap ayah meledek.
"Hahhh... ayah apaan sih." Ucap Sasa memeluk ayahnya.
Kring... kring... kring.
"Halo." Jawab Alex
"Sudah baikan?" Tanya Ricky.
"Ada apa?" Tanya Alex, tidak menjawab pertanyaan Ricky tentang dirinya dan Sasa.
"Sepertinya bahagia sekali." Ucap Ricky.
"Hahaa... Nanti aku akan ceritakan. Ada apa menelponku?" Tanya Ricky.
"Ibu presdir sedang sedih." Ucap Ricky.
"Hemmm... Kalau begini, aku juga merasa bersalah pada mamah. Tapi apa mau dikata, semua harus inginnya." Ucap Alex.
"Pergi dan temuilah. Bagaimana pun, Dia ibu kita Lex." Ucap Ricky.
"Yah... setelah sampai disana, aku akan menemuinya." Ucap Alex.
"Baiklah. Setelah itu kita harus berpesta." Ucap Ricky.
"Okey." Ucap Alex.
"Pak, Buk... Saya juga izin pulang." Ucap Roy.
"Tapikan Roy masih baru sampai." Ucap ibu Sasa.
"Sasa harus istirahat, Buk. Bapak dan Ibu juga harus istrahatkan..." Ucap Roy.
"Baiklah. Terimakasih Roy. Sudah membawakan aku bunga dan makanan." Ucap Sasa senyum lebar.
"Yah, Sama sama." Jawab Roy.
Roypun berdiri dan berjalan menuju pintu rumah. Saat Sasa ingin membereskan meja makan. Sasa menemukan dompet Roy.
"Ya ampun... Wanita ini? aku pernah bertemu dengannya. tapi dimana yah?" Ucap Sasa melihat foto wanita didompet Roy.
"Hati hati ya Roy." Ucap ayah.
"Tunggu... Tunggu Roy." Panggil Sasa mengejar Roy.
"Ya... Ada apa Saa?" Tanya Roy.
"Ini... punyamu kan?" Tanya Sasa.
"Ohhh, yah... Terima kasih." Ucap Roy.
"Wanita itu..." Tanya Sasa
"Wanita?" Tanya Roy heran.
"Ya... Siapa Dia?" Tanya Sasa.
"Oh... Dia wanita hebat. Dia mantan kekasihku. hanyaaaa, aku lupa melepaskannya dari dompetku." Ucap Roy melihat foto Chelsia.
"Aku pernah bertemu dengannya." Ucap Sasa.
"Apah? bertemu? dia sudah pergi Saa. Entah dia dimana sekarang." Ucap Roy
"Tidak Roy, kemaren. Dia membantuku dekat pelabuhan. Aku rasa dia tinggal disini juga." Ucap Sasa.
"Sasaaaa... mungkin kamu salah lihat, atau mungkin ada yang mirip dengannya." Ucap Roy
"Hmmm... yah, mungkin juga sih." Ucap Sasa.
"Ya, sudah. Aku ada kerjaan sedikit dipulau ini. Aku permisi dulu. Pak, Buk." Izin Roy. dan tersenyum kepada Sasa.
Saat Roy berbalik. Roy memikirkan apa yang Sasa ucapkan tadi.
"Tidak mungkin Chelsia ada disini. Tidak mungkin. hah." Ucap Roy, melanjudkan perjalanannya.
Kring...kring...kring...
"Halo. Siapa ini?" Tanya ayah Sasa.
"Ini Alex Pak. Bapak tidak simpan nomor Alexkah?" Ucap Alex.
"Ohhh Alex... Maaf kemaren tidak ingat simpan nomor Alex diponsel Bapak. nanti janjilah, Bapak akan simpan." Ucap ayah Sasa.
"Ya Pak..." Ucap Alex, tersenyum.
"Ada apa nak, menelpon malam malam begini?" Tanya ayah Sasa.
"Hmmm... cumaaaa... tidak apa apa kok Pak." Ucap Alex. tidak berani menyuruh ayah Sasa memberikan ponselnya.
"Mmm Bapak tau nih, mau bicara dengan Sasa yah?" Tanya ayah Sasa.
"Oh, boleh Pak. jika bapak mengizinkan." Ucap Alex.
"Ya, ayah... Ada apa?" Tanya Sasa
" Ini ada telpon dari Alex." Ucap ayah.
"Ada apa dia menelpon malam malam begini?" Tanya Sasa.
"Sudah nih, mungkin ada yang perlu." Ucap ayah.
"Halooo." Ucap Sasa dengan wajah datar.
"Hemm... Hai..." Ucap Alex. Malu.
"Ada apa? ini sudah malam. aku ngantuk." Ucap Sasa
"Ooowww Galaknyaaa. Kau tidak merindukanku?" Tanya Alex.
"Rindu? untuk apa?" Tanya Sasa balik.
"Untuk apah? Akupun tidak tau untuk apa?" jawab Alex. pertanyaa Sasa membuat Alex bingung untuk bicara apa lagi.
"Kalau tidak bicara lagi. aku tutup ini." Ucap Sasa.
"Aku Rindu." Ucap Alex, langsung.
Sasapun terdiam lalu mematikan ponselnya.
"Halooo... Sasa... Halooo...Ha. Kok dimatiin sih." Ucap Alex dalam mobilnya.
Setelah mendengar Ucapan Alex. Sasa tersenyum membayangkan Ucapan Alex tadi. Tersenyum berjalan menuju kamar dan membayangkan kembali kebersamaan mereka.
"Izzz, Dasar wanita aneh. Ya aneh... Tapi aku cinta." Ucap Alex. Tersenyum lebar. lalu pergi pulang kerumahnya.
Sesampai dirumahnya Alex, melihat mamanya duduk menonton sendiri diruang televisi.
"Mah..." Ucap Alex mendekati mamanya.
"Alex..." Ucap mamah Alex lalu memeluk anaknya.
"Mamah sehatkan?" Tanya Alex tersenyum kepada mamanya.
"Ya, Mamah sehat kok. Kamu dari mana saja nak? mamah sangat rindu." Ucap mamah Alex. mengajak Alex duduk dibangku.
"Alex juga sangat rindu sama mamah. Tapi mau bagaimana, Alexlah yang mengurus semua peninggalan papah. mamah sudah paham itukan." Ucap Alex.
"Alex... mama mau bicara soal pernikahan mu kemaren." Ucap mamah.
"Mah... mamah... Alex sama sekali tidak memikirkan itu lagi. sekarang Alex sangat sibuk mengurus perusahaan. jadi jangan bahas pernikahan kemaren lagi. itu membuat ku gila maaaaaa." Ucap Alex. mengingat kembali Sasa meninggalkannya saat akan menikah dengan Elsa.
"Umur mu sudah memasuki dua pulu sembilan tahun nak. mama rasa itu umur yang cukup buat menikah." Ucap mamah
"Mmmmm. Mah, jangan kawatir. jika nanti Alex sudah menemukan kekasih Alex yang pas. Alex akan langsung menikah." Ucap Alex.
"Ingat... harus yang sepadan dan sederajad. Ucap mamah.
"Maaa..." Ucap Alex, terpotong.
"Sudah mamah ngantuk mau tidur." Ucap mamah Alex. lalu pergi masuk kekamarnya.
"Ini yang buat Alex tidak menurut kepada mamah. Haaa" Ucap Alex. kesal.
Berjalan menuju kamarnya, dan berbaring ditempat tidur. Alex kembali mengingat Sasa, membuka lagi ponselnya melihat fotonya bersama Sasa. Alex tersenyum, tidak menyangka Sasa bisa kembali kepeluknnya. memutar ulang vidio yang hanya ada Sasa.
"Bagaimana caranya untuk meyakinkanmu... Bahwa aku sangat mencintaimu." Ucap Alex melihat foto Sasa diponselnya.
Ting... Suara pesan.
"Tidurlah, jangan mengingatku terus. agar aku bisa tidur..." Pesan Sasa dari ponsel ayahnya.
"Haaaa... maksudnya, Kamu juga sedang memikirkanku?" Balas Alex.
"Itu karna Kau memikirkanku." Balas Sasa.
"Oh yah... Aku tidak memikirkanmu." Balas Alex.
"Mmmm Bohong. kau bilang kau juga memikirkankukan?" Balas Sasa.
"Ooohhh ya ampun. Baiklah aku akan tidur. semoga malam ini aku memimpikanmu. dan, mimpikan aku. selamat malam." Balas Alex.
"Itu pasti mimpi yang buruk. selamat malam juga." Balas Sasa.
"Aaizzzz... lalu kenapa dia mengirim pesan padaku." Ucap Alex, bingung.
Sasa yang mengirip pesan ke Alex tertawa terbahak bahak dikamarnya.
"Aku akan telepon Ricky." Ucap Alex. menelpon Ricky.
"Halo... ada apa lagi, menelpon malam malam begini." Ucap Ricky.
"ini... mmmm aku mau tanya. Jika kita memikirkan seseorang, apa seseorang itu tau bahwa kita sedang memikirkannya?" Tanya Alex ke Ricky.
"Huff... tidak ada kah hal yang lebih penting kau tanyakan padaku?" Tanya Ricky.
"Tidak, tidak. jadi begini, Tadi Sasa mengirim pesan padaku. 'Tidurlah, Jangan mengingatku terus, agar aku bisa tidur.' Dia tau kalau aku sedang memikirkannya Kyy..." Ucap Alex.
"Itu tandanya kau dan Sasa sudah ditakdirkan untuk bersama. jadi, untuk itu. cepatlah bertindak sebelum pangeran lain datang menjemputnya." Ucap Ricky.
Alex terdiam mendengar pernyataan Ricky.
"Hah, kirain ngajakin berpesta... hadehhh..." Ucap Ricky melanjudkan tidurnya.