You'R My Destiny

You'R My Destiny
Takdir cinta 2



Malam telah berlalu.


"Pagi Sayaaaang." Ucap Alex.


Sasa masih tertidur, sementara Alex sudah menyiapkan makanan yang dimasaknya.


Sreeeeeekkkk. Suara gorden terbuka. cahaya matahari, langsung menghadap Sasa, membuatnya terbangun.


"Mmmmm... Badan ku... Sakit sekali." Ucap Sasa.


"Sudah bangun sayang? mandilah, aku sudah belikan baju untukmu, aku taro dikamar mandi." Ucap Alex.


"Haaaa? Ya ampun." Ucap Sasa melihat tubuhnya tidak memakai apa apa, hanya ditutupi selimut putih.


"Ayo... cepat." Suruh Alex.


"Jangan lihat." Ucap Sasa, ingin berlari kekamar mandi.


"Bukankah, Aku sudah melihat semua tadi malam?" Tanya Alex.


"Ahhhh... sssttt, Berbalik..." Ucap Sasa dan melilitkan selimut tipis ketubuhnya. dan pergi kekamar mandi.


"Hahahha... kenapa harus malu?" Saut Alex merapikan meja makan.


"Aiiizzz... Bisa bisanya dia bangun terlebih dahulu. Dimana ku taro wajahku ini... iiihhh bodoh bodoh." Ucap Sasa memukul kepalanya.


Sasa menyalakan shower. Tiba tiba air panas mengguyur tangannya.


"Auuu, panas... Alex..." Panggil Sasa. menutup mulutnya.


"Yah... Ada apa?" Jawab Alex.


"Ihhh... Dia membersihkan telinganya terlalu bersih. Aku memanggilnya pelan, tapi langsung nyaut... izz." Ucap Sasa.


"Saaaa? ada apa?" Tanya Alex.


Sasa masih terdiam, tapi bingung untuk mengubah air panas menjadi hangat.


"Mmm... Kenapa airnya panas?" Tanya Sasa. masih tanpa sehelai benang.


Saat Alex hendak membuka pintu kamar mandi yang terbuat dari pintu kaca samar. Alex melihat tubuh Sasa, dan tersenyum lebar.


"Eppp... jangan buka. Bilang saja apa yang akan aku lakukan." Ucap Sasa.


Alexpun langsung medorong pintu yang tidak terkunci tersebut. tenaga Sasa tidak sanggup menahan pintu.


Sasa langsung mengambil handuk dan menutup tubuhnya.


"Sudah... Dah, mandi sana." Ucap Alex.


"Apa lagi? ayo keluar!" Bentak Sasa.


"Ikuuuttt."


"Keluar, Alex..."


"Mandi sama yuk?"


"Tidaaaaak." Ucap Sasa malu, berdiri dibelakang pintu.


"hahah... ya sudah, cepatlah mandi. Aku sudah lapar." Ucap Alex.


"Mmm." Saut Sasa.


Setelah Sasa mandi, Alex menunggu Sasa dimeja makan dengan memainkan ponselnya.


"Sudah siap?" Tanya Alex. Tersenyum melihat Sasa memakai baju yang dibelinya tadi pagi.


"Ya." Jawab Sasa. Tersenyum, dengan handuk masih dikepala.


"Ayo, duduklah." Ajak Alex.


"Terima kasih." Ucap Sasa, duduk.


Alex memberikan makanan yang dia masak untuk Sasa.


"Coba ini. Dulu papaku mengariku, bukan hanya pandai matematika atau yang lain. Beliau juga mengajariku memasak makanan kesukaannya." Ucap Alex.


"Mmmm, enak sekali..." Ucap Sasa.


"Makan yang banyak. para penjahat itu pasti tidak memberimu makan kan?" Ucap Alex.


"Tunggu, Aku belum mengabari ibu dan ayah. Kalau aku baik baik saja. Mereka pasti sangat kawatir padaku." Ucap Sasa.


"Pakai ponselku saja. " Ucap Alex. Memberikan ponselnya.


"Terima kasih." Ucap Sasa mulai mengetik nomor ayahnya.


Kring..kring...kring...


"Haloooo, Siapa ini?" Tanya ayah Sasa.


"Ini aku yah, Sasa." Ucap Sasa.


"Haaaa... Anakku, kau dimana? ibumu sudah hampir gila menunggumu naaaakk." Ucap ayah Sasa. Menangis.


"Sasa baik baik saja, Yah. Alex telah menyelamatkan Sasa dari penculik itu, Yah..." Ucap Sasa


"Bicaralah kepada ibumu." Ucap ayah memberikan ponselnya kepada istrinya.


"Siapa?" Tanya ibu.


"Buk... ini Sasa Buk." Ucap Sasa.


"Anakku, Kamu dimana nak?" Tanya ibu Sasa, menangis.


"Benarkah?" Tanya ibu Sasa.


Ayah yang penasaran mendengar putrinya bicara, lalu menyalakan speaker ponselnya.


"Ia Buk, Mereka hampir menjual Sasa. Entah apa jadinya, jika Alex tidak menyelamatkan Sasa, Buk." Ucap Sasa, melihat Alex.


"Baiklah nak, jaga kesehatanmu disana. Ayah akan pergi menemui Roy." Ucap ayah.


Wajah Alex langsung berubah murung. mendengar ayah Sasa menyebut nama Roy.


"Kenapa dengan Roy, ayah?" Tanya Sasa. melirik Alex.


"Roylah yang membantu ayah dan ibu mencarimu dipulau, nak." Ucap ayah.


Alex berjalan dan duduk murung dikursi meja makan, mendengar Sasa membahas laki laki lain.


"Emm... Katakan padanya Sasa sudah ditemukan, dan Sasa baik baik saja ayah." Ucap Sasa melirik Alex lagi.


"Baiklah, jaga dirimu disana nak.... makan yang banyak, dan istrahat yang cukup. Cepatlah kembali. Ayah dan ibu sangat menghawatirkanmu nak." Ucap ayah tersenyum kepada ibu.


"Baik, Yah." Ucap Sasa dan mematikan ponselnya.


Setelah siap menelepon ayah dan ibunya. Sasa melihat Alex yang murung. Karna menyebut nama laki laki lain.


"Hey... Kamu kenapa?" Tanya Sasa.


"Tidak apa apah." Jawab Alex.


"Ayolah, jangan begitu." Ucap Sasa memegang tangan kanan Alex.


"Kenapa, Roy ada disana?" Tanya Alex.


"Seorang sahabat pasti menghawatirkan sahabatnya, bukan?" Ucap Sasa.


"Tapi yang terlihat bukan seperti sahabat." Ucap Alex. Cemburu.


"Kamu cemburu?" Tanya Sasa membuat Alex makin kessel.


"Huhh... sudahlah." Ucap Alex. Sasa tidak tau kalau Alex benar benar cemburu.


"Mau kemana? bukankah tadi kamu bilang lapar?" Tanya Sasa.


"Udah kenyang." Jawab Alex, ketus. Lalu pergi.


Sasa langsung berhenti makan. dan duduk menunduk.


Saat Alex berbalik badan melihat Sasa yang tidak peka. Alex langsung sadar bahwa Dirinyalah yang salah.


"Maafin aku." Ucap Alex. memeluk Sasa dari belakang.


"Haaa?" Saut Sasa kaget.


"Ayo. kita makan." Ucap Alex. Mencium Kepala Sasa.


Sasa tersenyum melihat Alex yang pandai mengendalikan emosinya. Merekapun makan bersama.


Setelah selesai makan, Sasa membereskan meja makan, Lalu menyuci piring dan peralatan masak Alex yang berantakan.


"Perlu bantuan?" Tanya Alex, memeluk Sasa dari belakang.


"Hah... Sudah siap, baru manawarinkan diri..." Ucap Sasa.


"Oh ya, kenapa secepat itu. Aku hanya pergi ke kamar mandi sebentar." Ucap Alex. melihat Sasa, bekerja sangat cepat.


"Inikan pekerjaan kecil. Kenapa harus lama?" tanya Sasa. Sambil menyusun piring yang dicucinya.


"Oia, Aku akan mengantarmu pulang. Ucap Alex, lalu minum air putih.


"Terima kasih." Ucap Sasa


"Aku, rindu bercerita bersama bapak..." Ucap Alex.


"Sampai kerumah?" Tanya Sasa.


"Ya... Sampai kerumah. Aku juga rindu masakan ibuk." Ucap Alex


"Tapi, Lex... Bukankah kamu sedang sibuk? antar aku sampai pelabuhan saja." Ucap Sasa.


"Kenapa? apa salahnya, kalau aku mengantarmu?" Tanya Alex.


"Tidak masalah. hanyaaaa." Ucap Sasa.


"Hanya apa? Roy melihatku? Ha?" Tanya Alex. Kessal.


"Bukan Lex. Aku cuma tidak mau, Kalau." Ucap Sasa. terdiam, ucapannya dipotong Alex.


"Okeh... Okeh... Aku akan mengantarmu kepelabuhan." Ucap Alex lalu pergi kekamarnya.


"Maafin aku, Lex. Bagaimana kalau istri dan mama mu melihat kita atau bahkan orang lain?" Ucap Sasa. meletakkan celemetnya.


Sasa berjalan menuju kamar, dan melihat Alex berdiri didekat jendela kaca yang besar. Melihat wajah Alex marah, Sasa memberanikan diri mendekati Alex.


"Alex..." Ucap Sasa, Takut.


ting... nong... Bel kamar Alex.


Alex pergi membuka pintu. Sasa mengikuti Alex dari belakang.


"Ada apa Lex?" tanya Ricky.


"Antar dia kepelabuhan." Ucap Alex, lalu pergi meninggalkan Sasa dan Ricky diapartemennya.


Sasa menangis didepan Ricky.