
Sesampainya Roy dirumah Sasa. Roy melihat ayah dan ibu Sasa dalam kesedihan. Roy berjalan mendekati ayah dan ibu Sasa.
"Buk... Pak. Ada apa? kenapa jadi begini." Ucap Roy melihat ibu Sasa, wajah yang kusud dan rambut yang berantakan. juga ayah Sasa yang terus memeluk Istrinya takut jatuh sakit.
"Sasa hilang..." Ucap ayah Sasa. melihat Roy dengan tatapan yang penuh dengan harapan.
"Sasa hilang? bukankah Sasa sudah sampai dirumah Pak?" Tanya Roy, yang sudah mengetahui Sasa telah sampai dirumah.
"Ia, Dia sudah sampai. Tapi dia keluar lagi nak, Tolong bantu kami nak. Sasa harta bapak satu satunya nak... Ku mohon." Ucap ayah Sasa. Air matanya sangat deras menceritakannya kepada Roy.
Roy melihat jam, masih jam empat pagi. Roy masih menunggu polisi datang dari kota, untuk menyelidiki penculikan Sasa.
Ayah Sasa mengajak istrinya untuk tidur terlebih dahulu. Tapi istrinya selalu menolak.
"Tidak Ayah, ibu tidak ingin tidur... Ayo kita cari Sasa ayah.... Huuuu..." Ucap ibu Sasa. selalu menangisi putrinya
Roy, semakin tidak tega melihat ibu sasa yang teramat sedih.
kring...kring...kring...
"Halo Dan." jawab Roy, pergi keluar.
"Ada masalah apa? kenapa pagi pagi sekali pergi kerumah Sasa?" Tanya Daniel.
"Sasa diculik." Ucap Roy.
"Apah? enggak mungkin." Ucap Daniel kaget.
"Ayah Sasa menemukan sendal Sasa, hanya sebelah. Aku juga sudah melapor, mungkin polisi akan sampai." Ucap Roy.
"Baiklah aku akan kesana sekarang." Ucap Daniel.
"Aku sudah didepan rumahmu, cepatlah turun." Ucap Ricky menunggu Alex.
"Sudah lama menunggu?" Ucap Alex, masuk kedalam mobil.
"Itu sudah hal biasa." Ucap Ricky tersenyum miring.
"mmmm... Oia, semalam pak Dude meneleponku. Ada file yang ketinggalan dihotel grand suaka. jadi, kita singgah kesana dulu." Ucap Alex.
"Okeeee..." Ucap Ricky, sipenurut.
Sesampainya dihotel Alex keluar dari mobil dan berjalan menuju ruangan pak Dude. Saat menuju ruangan tiba tiba Katrin menabrak Alex.
"Apah? Sasa diculik?" Tanya Katrin, menabrak Alex dan berjalan tanpa memperdulikan siapa yang ditabraknya.
Alex terkejud mendengar pembicaraan Katrin ditelepon. Alex mengejar Katrin.
"Tunggu." Ucap Alex kepada Katrin yang berlari, ingin menemui Daniel.
"Selama ini kau mengetahuinya?" Ucap Alex.
"Maaf pak, saya tidak mengerti maksud bapak." Ucap Katrin.
"Dimana Sasa?" Ucap Alex.
"Sasa, Saya tidak tau pak. Saya pergi dulu." Ucap Katrin
"Baiklah, lihat saja apa yang akan terjadi pada keluarga mu sore ini." Ucap Alex.
Katrinpun takut atas ancaman Alex. sehingga Katrin tidak berani sedikitpun melangkah. Saat security sedang berjalan, memegang buku dan pulpen. Katrin meminta selembar kertas kepada security juga pulpennya. Katrin menulis nomor Sasa yang dimintanya sari Roy waktu itu.
"Ini pak, Saya ada urusan penting." Ucap Katrin. Memberikan selembar kertas kepada Alex.
Alex melihat nomor telepon dan ada nama Sasa.
Alex langsung berlari menemui Ricky yang menunggu didepan hotel.
"Lacak nomor ini sekarang, sepertinya Sasa dalam bahaya." Ucap Alex, lalu pergi mengambil file yang ketinggalan diruangan pak Dude pemilik hotel.
"Baiklah." Ucap Ricky.
Lalu menelepon salah satu anggota cyber yang dipekerjakan hanya untuk melacak orang dan mencuri data lewat leptop leptopnya. Apa lagi yang berurusan dengan perusahaan dan keluarga Alex. Pelacak tersebut tidak pernah gagal dalam pencariannya, selalu berhasil dan tidak pernah berjalan lama.
"Halo." Jawab sipelacak atau cyber crime.
"Aku sudah lama menunggunya, jari jariku juga sudah sangat kaku sekarang." Ucap Cyber.
"Baiklah. ini perkerjaan sangat mudah, Temukan dimana pengguna Nomor telepon yang akan ku kirim nanti." Ucap Ricky
"Cepatlah kirim... Aku suka itu." Ucap Cyber.
Cyber tersebut menerima nomor telepon tersebut.
"Ooohhhh Let's plaaaayyyyy." Ucap Cyber dengan suara samarannya, dikamar kecil yang hanya ada sedikit cahaya.
saat cyber melacak nomor tersebut, ternyata nomor telepon Sasa masih aktif. mempermudah cyber melacaknya.
"Bagaimana... kau sudah menyuruhnya" Ucap Alex, kembali kemobil.
"Ya, kita akan mengetahuinya segera. Masih sempat melewatkan rapat hari ini." Ucap Ricky.
"Baiklah." Ucap Alex.
Ricky melihat Alex sangat panik. kwatir akan terjadi sesuatu pada Sasa.
"Tenanglah, semua akan baik baik saja" Ucap Ricky. kepada Alex.
Alex dan Rickypun sampai dikantor. Alex mempercepat rapat tersebut agar Alex sempat mengetahui keadaan Sasa.
"Bagaimana, Nak.... sudah ada kabar?" Tanya ayah Sasa.
"Belum Pak, tapi polisi sudah mengerahkan anggotanya menyelidiki keliling pulau." Ucap Roy. masih dalam tahap pencarian.
"Anakku.. Anakkuuuu Sasaaa. Dimana kamu nak?" Ucap ibu Sasa menangis dikamarnya.
Saat ibu Sasa berjalan kedapur, melihat semua masakan yang akan dijual. Ibu Sasa membuang semua makanan yang ada dimeja, melempar satu persatu peralatan jualan mereka.
Ayah Sasa dan Roy kaget mendengar suara ribut dari dapur.
"Buuukkk... buk... Jangan begini, kita semua sama sama sedih. jangan melakukan hal konyol. Kita harus kuat buk." Ucap ayah menenangkan istrinya.
"Sampai kapan Yah, sampai kapan? kita hanya berdiam diri disini... Sasa tidak akan ketemu Yah..." Ucap ibu. Matanya sudah bengkak kusam layu.
"Mereka sudah lebih mahir mencari anak kita, Buk." Ucap ayah Sasa.
"Kenapa lama sekali ayah... Apa yang mereka lakukan kepada putri kita." Ucap Ibu Sasa.
Roy yang melihat ibu Sasa menangis tiada henti. Roypun meneleon polisi, untuk lebih cepat menangani masalah penculikan Sasa.
kling... Suara pesan dari cyber untuk Ricky. Ricky memberikan pesan tersebut kepada Alex. Alex terkejut melihat pesan cyber tersebut.
"Baiklah, rapat hari ini sudah selesai, dan jangan sampai ada yang mengecewakan. Maka berahirlah hidup kalian disini." Perintah Alex, kepada teamnya yang akan mengusut kejanggalan diperusahaannya.
Alex dan Ricky keluar dari ruangannya, menuju lokasi yang dikirim oleh cyber handalannya.
"Akan aku buat mereka mati tiga kali. Beraninya dia menyentuh kekasihku." Ucap Alex.
Cyber mengirim pesan ke Ricky lagi.
"Hati hati, tempat itu adalah tempat prostitusi internasional." Pesan cyber.
"Tunggu apa lagi, ayo masuk." Ucap Alex.
"Tunggu. bahaya jika kau yang kesana. Aku akan suruh pengawal pribadi datang kesini." Ucap Ricky
"Kenapa?" Tanya Alex.
"Reputasimu taruhannya." Ucap Ricky.
"Aku tidak peduli. Meski sekalipun nyawaku taruhannya." Ucap Alex.
"Tunggu Lex, dengar aku. Jika pengawal kita lolos masuk, maka kita juga akan masuk." Ucap Ricky.
"Baiklah, cepat suruh mereka. Aku tidak tau apa yang mereka lakukan kepadanya." Ucap Alex.
Sementara Sasa, ada diruangan gelap. tempat yang bersih layak untuk ditempati, masih tertidur. bius yang diberikan penculik Sasa sangat banyak. membuatnya masih belum sadarkan diri. Tangan yang terikat ditempat tidur, dengan mulut yang dibungkam pakai lakban hitam.
Sasapun akhirnya terbangun. melihat dirinya yang diikat dan mulutnya dilakban, tidak bisa membuatnya bergerak banyak. Sasa menangis, memanggil ayah dan ibunya, berteriak sekencang mungkin tapi tidak ada yang bisa mendengarnya, karna mulutnya masih dilakban.