You'R My Destiny

You'R My Destiny
Pulang dari rumah sakit.



"Sudah siap. Ayo..." Ajak Elsa menuntun Alex.


"Ayo sayang... Jalan pelan yah." Ucap mamah.


Alex tersenyum menatap Elsa.


"Aku tau aku cantik. jangan menatapku begitu." Ucap Elsa.


Lagi lagi Alex tersenyum menatap Elsa.


"Kalian tunggu disini saja yah... Aku sebentar, okeh!" Ucap Sasa berlari. mengantarkan pakaian perawat yang dipakainya menjenguk Alex.


"Ia... Hati hati. Ya ampun... Anak itu." Ucap Chelsia. melihat Sasa berlari.


Elsa dan Alex berjalan keluar dari ruangannya. Sementara Sasa berjalan menuju ruangan dokter.


"Setelah kamu sembuh, kita liburan yah." Ajak Elsa.


"Mmm Baiklah." Jawab Alex.


"Kita keeeee.." Ucap Elsa, ucapannya terputus.


Sasa berjalan dengan semangatnya menuju ruangan dokter.


"Wanita itu, sedang apa dia disini?" Ucap Elsa.


"Wanita? siapa?" Tanya Alex.


Tiba tiba langkah Sasa terhenti. Melihat Elsa memegang tangan Alex digenggam oleh Elsa.


"Tidak, bukan siapa siapa?" Jawab Elsa.


Alex melihat kesekelilingnya, tidak ada yang Alex kenal. Sampai akhirnya Alex melihat Sasa berhenti berdiri didepannya.


"Ayo kita pergi." Ucap Elsa.


Sasa tidak mau memperkeruh suasana hati Alex. Melihat Alex sudah baikan, Sasapun melanjudkan langkahnya.Mereka berpapasan, tapi tidak saling menyapa.


Elsa yang sudah panik, takut Sasa akan menemui Alex. mempercepat langkahnya. Mendorong Alex agar berjalan lebih cepat.


Saat Alex melihat Sasa lewat dari sampingnya. Jantung Alex sempat berdegup kencang. Tapi Alex tidak menghiraukan perasaannya saat Sasa lewat dari hadapannya.


"Hah... Sakit sekali. Aku percaya, kau masih mencintaiku." Ucap Sasa. Air matanya menetes, lalu pergi keruangan dokter.


"Ada apa?" Tanya Alex melihat Elsa tidak tenang.


"Oh... Tidak. Aku merasa panas sekali." Jawab Elsa.


"Hah... Ini rumah sakit paling elit Elsa. Disini sangat sejuk, bagaimana bisa kamu kepanasan." Ucap Alex, tersenyum miring melihat Elsa salah tingkah.


"Hah... kenapa bisa begitu yah." Ucap Elsa.


"Entahlah. Oia mamah dimana?" tanya Alex.


"Tadi mamah bilang mau mengurus kamar, dan biaya administrasi." Ucap Elsa.


"Ow... Baiklah kita tunggu dibawah saja." ucap Alex.


"Baiklah." Ucap Elsa.


"Selamat pagi, dokter." Ucap Sasa. membuka dan masuk keruangan dokter.


"Ya, selamat pagi." Jawab dokter lalu melihat Sasa.


"Ini pakaian yang Sasa pakai semalam dokter. Terimakasih, sudah membantuku menemuinya." Ucap Sasa. tersenyum.


"Yah... Dia sudah pulang." Ucap dokter.


"Aku melihatnya dokter. Dia bersama mantan tunangannya, berjalan bersama bergandengan tangan." Ucap Sasa menunduk.


"Duduklah. Kamu percaya takdir, tidak?" tanya dokter.


"Percaya dokter. Kenapa?" jawab Sasa.


"Tadi pagi sebelum Alex berangkat, Saya memeriksanya dulu. Dan sempat bicara padanya." Ucap dokter.


"Benarkah? dokter bilang apa padanya." Tanya Sasa.


"Ya, sama seperti pertanyaanku padamu tadi. Dia percaya takdir." Ucap Dokter.


"Lalu?" Tanya Sasa.


"Dia bilang, sebelum dia tau tentang hidupnya selama sepuluh tahun ini. Dia tidak akan pernah memutuskan segala sesuatu yang akan membuatnya menyesal nanti." ucap dokter.


Sasa menangis mendengar ucapan dokter.


"Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Sasa. menangis.


"Buktikan, nak... Buktikan jika benar kau dan dia adalah takdir Tuhan." Ucap dokter.


"Mmm Baik dokter, Terimakasih. Saya akan berhutang banyak kepada dokter." Ucap Sasa.


"Jangan dipikirkan... Semangat." Ucap dokter.


Setelah Alex dan Elsa sampai didepan hotel. Alex melihat mobil merah, parkir didepan rumah sakit. Mobil merah kesukaan Alex dulu. Alex terus memperhatikan mobil tersebut. Sementara Elsa, asik memainkan ponselnya. Alexpun berjalan mendekati mobil tersebut, tiba tiba Alex melihat Sasa berlari menuju mobil tersebut.


"Siapa mereka? kenapa wajah mereka tidak asing bagiku..." Ucap Alex. melihat wajah Sasa, Chelsia dan Ricky.


Mobil merah itupun pergi.


"Loh, Alex... Alex ada apa? Apa yang kamu lihat?" Panggil Elsa. Melihat kearah Alex memandang.


"Tidak apa apa..." Jawab Alex.


"Kenapa lama mah, apa ada masalah?" tanya Chelsia.


"Tidak ada masalah. mungkin karna mamah sudah tua. Harusnya diusia mamah yang sudah tua ini, mamah sudah menimang nimang cucu." Ucap mamah Alex. melirik Alex.


"Mamah, sabar yah ma. Ada saatnya." Ucap Elsa.


"Kenapa melirikku begitu?" Tanya Alex.


"Mmmm sudah sudah, aku kita pulang. mamah juga sudah lelah sekali." Ucap mamah Alex.


"Ayo, Lex." Ajak Elsa.


....


"Ada apa lagi Saa?" Tanya Chelsia.


"Aku bertemu dengannya." Ucap Sasa.


"Siapa? Alex?" Tanya Ricky.


"Yah, Alex bersama Elsa." Ucap Sasa.


"Izz... kenapa bukan dia saja yang lupa ingatan. menyebalkan." Ucap Chelsia. Geram mendengar nama Elsa.


"Dia melihatku, tapi tidak menyapaku." Ucap Sasa. Menangis, menutupi wajahnya.


"Saa... Jangan menangis." Ucap Chelsia. memeluk Sasa.


"Aku sangat merindukannya. Aku sangat merindukannya." Ucap Sasa. Menangis haru.


Ricky ingin bicara, malah terdiam melihat Sasa yang sangat menderita. Ricky juga ikut menangis, melihat kesedihan Sasa.


"Kita pulang saja yah..." Ucap Chelsia.


"Baiklah." Saut Ricky.


"Tidak... antar kami kehotel." Ucap Sasa.


Rickypun mengiakan perintah Sasa.


.....


"Oia mah, Setelah Alex sembuh nanti. Aku dan Alex ingin pergi liburan. Ia kan Lex." Ucap Elsa. menatap Alex.


Alex mengangguk dan tersenyum.


"Bagus itu... Yah, mamah setuju." Ucap mamah Alex.


"Kira kira tempat liburan yang asik dimana ya mah." Tanya Elsa.


"Bagaimana kalau kalian kekorea?" Tanya mamah.


"Mmm, boleh juga tuh mah." Jawab Elsa. terus bercerita dengan mamah Alex.


Saat berhenti dilampu merah. Alex melihat kesebelah kirinya. seperti mengingat sesuatu. Dulu Alex melihat Sasa pertama kali setelah menabraknya disana, dan menyuruh Ricky mencarinya ditempat itu. Tapi Alex tidak mengingatnya. Alex berusaha mengingat sesuatu ditempat itu, lagi lagi Alex tidak bisa mengingatnya.


"Kenapa aku merasa, ada kisah yang sangat berharga ku lupakan. dan kisah itu, seperti ingin mengingatkanku, tapi... Ahhh, sudahlah. Rasanya kepalaku sakit sekali, jika aku memaksanya." Ucap Alex dalam hati.


"Alex, kamu baik baik saja?" Tanya Elsa. melihat Alex memegang kepalanya.


"Ya... Aku baik baik saja. Aku hanya berusaha mengingat, tapi tidak bisa." Ucap Alex.


"Alex... Jangan dipaksa. Ingatanmu akan kembali dengan sendirinya. Jika kamu terus memaksanya, yang ada akan semakin buruk." Ucap Elsa.


"Ya... Aku tau." Saut Alex. Bersandar lalu menutup matanya. seperti kelelahan.


"Ingatanmu tidak boleh kembali sebelum kita menikah." Ucap Elsa menatap Alex, dengan senyuman sandiwaranya.


....


"Makasih ya, kyy." Ucap Sasa.


"Daa... Sampai jumpa besok." Ucap Chelsia.


"Daa..." Saut Ricky lalu pergi.


"Sasa..." Panggil Roy.


"Roy... Apa kabar, kamu dari mana saja selama ini..." Ucap Sasa. memeluk Roy.


"Huffff... Aku juga mencarimu, tapi aku tidak tau dimana kamu tinggal. Yaaa... Cara satu satunya datang ketempat kerjaan, kamu ini." Ucap Roy.


"Mmmm... Gimana kalau kita, ketemunya nanti malam saja. Soalnya mau kerja nih." Ucap Sasa.


"Baiklah..." Saut Roy.


"Oia... Rumah kontrakan aku disana. itu, gedung tua itu..." Tunjuk Sasa.


"Baiklah, nanti aku akan kesana... Selamat bekerja." Ucap Roy.


"Daaa..." ucap Sasa melambaikan tangannya.


"Mau apa dia kesini?" Tanya Chelsia.


"Dia ingin menemui akulah, sahabatnya. Kenapa? Kamu cemburu?" Tanya Sasa.


"Cemburu? Buat apa?" Tanya Chelsia.


"Ya, kan siapa tau ajah gitu. Kedua sahabatku saling jatuh cinta." Ucap Sasa.


"Oh, syukurlah Sasa belum tau tentang aku dan Roy dulu." Ucap Chelsia dalam hati.