
"Apa yang kau lihat?" Tanya Ricky kepada Alex melihat pelabuhan.
"Aku sudah menemukannya," Ucap Alex tersenyum.
"Siapa?" Tanya Roy.
"Sasa..." Ucap Alex tersenyum.
"Haaaa?" Saut Ricky, heran.
"Ayah. Ibu. Sasa pulang..." Ucap Sasa, membuka sepatunya didepan pintu.
"Kau sudah pulang nak?" Tanya ayah, sambil memotong ayam.
"Ia, Yah..." Ucap Sasa duduk lemas dimeja makan.
"Kenapa lemes gitu? apa ada masalah?" Tanya ibu Sasa.
"Capek buk... Katrin engak seperti biasanya. Kesana dan kesini, Hufff." Ucap Sasa
"Haha... mungkin itu saking bahagianya jumpa sama kamu." Ucap ibu.
"Ia sih Bu," Ucap Sasa.
" Ya sudah, kalau masih capek istirahat saja dulu, sana." Ucap Ayah.
"Tapi kerjaan masih banyak, Yah..." Ucap Sasa.
"Ibu sama Ayah, masakanya cuma lima kilo saja untuk besok. jadi enggak terlalu capek kok." Ucap ibu, yang kasihan melihat anak gadisnya kelelahan.
"Sudah sana tidur." Suruh ayah.
Sasa tersenyum melihat ayah dan ibunya yang begitu perhatian kepadanya.
Sesampainya dikota, Alex meminta Ricky untuk mengantarnya kerumah Sasa.
Selama perjalanan, Alex hanya terdiam dan senyum senyum sendiri. Ricky merasa aneh dengan Alex.
"Kenapa semenjak kepulau itu, Otak Alex jadi terbuka untuk menemukan Sasa. Selama ini akulah disuruhnya untuk mencari. dan dia yang menikmati." Ucap Ricky dalam hati.
"Setelah ini, aku akan membawanya pada mama. Dan kami akan menikah." Ucap Alex.
"Apah?" Tanya Ricky.
"Yah... ini takdir. dan aku tau, dia adalah takdirku." Ucap Alex.
"Sudah Sampai..." Ucap Ricky.
"Baiklah, jemput aku besok pagi pagi sekali." Ucap Alex
"Yah." Saut Ricky.
"Aku fikir aku akan kehilanganmu selamanya." Ucap Alex menuju pintu masuk rumah Sasa.
"Sampai Saat ini aku masih belum bisa melupakanmu." Ucap Sasa dikamar sendirian.
"Dan aku yakin. kau tidak akan bisa melupakanku." Ucap Alex didepan pintu kamar Sasa, dan menyentuh foto Sasa dipintu kamar Sasa.
"Apakah kau merindukan ku juga?" Ucap Sasa.
"Bagaimana Aku harus mengatakannya, agar kau percaya, bahwa aku sangat merindukanmu." Ucap Alex.
"Apakah aku harus menemuimu... mengakhiri dengan cara yang benar, agar aku tidak memikirkanmu lagi." Ucap Sasa
"Aku akan bertahan meski sakit rasanya, karna aku yakin kau juga sangat mencintaiku. yang kita lakukan kemaren bukan tentang nafsu. Tapi itu ikatan cinta yang tidak akan pernah bisa kau lupakan." Ucap Alex.
Alex dan Sasa berbicara ditempat tidur masing masing. Sasa tidak bisa melupakan Alex, meskipun telah pergi jauh dari hidupnya. sementara Alex tidak pernah menyesalkan setiap pertemuannya dengan Sasa.
"Belum tidur nak?" Tanya ibu. melihat Sasa masih terbangun.
"Ia buk, enggak bisa tidur." Ucap Sasa.
"Istrahatlah nak, besok kita jualan lagi." Ucap ibu Sasa.
"Buk, Sasa cari angin keluar dulu yah." Ucap Sasa. Berdiri lalu pergi.
"Tapi Nak, ini sudah jam sepuluh malam." Ucap ibu Sasa. menahan Sasa agar tidak pergi.
Clep... suara pintu rumah Sasa pergi berjalan sendirian.
"Siapa yang keluar, Buk?" Tanya ayah Sasa. meletakkan handuk.
"Katanya, enggak bisa tidur yah." Ucap ibu.
"Sebenarnya, Sasa masih mencintai Alex, Buk." Ucap ayah duduk disamping Ibu.
"Anak kita juga sepertinya sangat menderita, Yah." Ucap ibu.
"Ia buk. Tapi mau gimana lagi, Sasa yang meminta kita kesini. Demi kebahagiannya, kita harus ikut Buk. Ayah juga takut kalau sampai Sasa melakukan hal yang merugikan dirinya nanti." Ucap ayah.
"Ya sudah... kita istrahat saja." Ucap ayah.
"Tapi yah, Sasa belum pulang. Tidak biasanya dia pergi jam segini." Ucap ibu, masih menunggu Sasa pulang.
"Kenapa aku semakin hari semakin melemah begini... besok aku kekota, bertemu dan mengakhiri semua dengan baik baik." Ucap Sasa dan berbalik arah, pulang kerumah.
Diperjalan Sasa berjalan menuju rumahnya. Sasa merasa ada yang mengikutinya. Semakin cepat Sasa melangkahkan kakinya, berjalan.
Saat seseorang yang mengikutinya semakin dekat Sasapun berlari dengan sangat cepat.
"Aaaa, toloooooong." Ucap Sasa.
Tiba tiba kain berwana biru mendarat dihidungnya, dan pingsan. Laki laki tersebut sudah lama mengincar Sasa, Saat melintas dari gang yang biasa Sasa lewati. Laki laki berpakaian hitam, sepatu hitam dan topeng hitam.
Sasa dimasukkan kedalam mobil, masih dalam keadaan pingsan.
"Yah... Ayah. bangun, Yah.." Ucap ibu memanggil suaminya.
"Apa sih Buk? Haaa?" Ucap ayah masih mengantuk.
"Sasa yah, belum pulang. Ini sudah jam dua pagi." Ucap ibu panik.
"Apah? kemana dia pergi?" Tanya ayah, Panik dan berdiri.
Ayah Sasa langsung memakai jeketnya dan pergi mencari Sasa.
"Hati hati, Yah..." Ucap ibu. menunggu dan hawatir.
Ayah Sasa yang panik, langsung mencari Sasa disetiap sudut jalan, berlari ketempat, biasa Sasa duduk dipinggir pantai.
"Dimana kamu nak?" Ucap ayah, menangis mencari Sasa.
Ayah Sasa berjalan melambat, merasakan bahwa putrinya telah hilang. Melewati gang, tempat dimana Sasa diculik.
Tiba tiba ayah Sasa menemukan sendal yang sama persis dengan sendal Sasa. Ayah Sasa meyakini putrinya telah diculik, langsung berlari kerumah dan menemui istrinya...
Sesampai dirumah...
"Ayah... Sudah ketemu?" Tanya ibu mendekati suaminya
Ayah Sasa menunjukkan sendal Sasa sebelah.
"Apa ini? Sendal Sasakan yah? trus, Sasanya kemana?" Tanya ibu.
"Sasa... Sasa diculik, Buk." Ucap ayah terpatah patah. dan berlulut menangisi putrinya.
"Ahhhh... tidak mungkin... Tidak mungkiiiinnnn, Aaahhh... Sasaaa... dimana kamu nak..." Ucap ibu.
"Sabar buk, kita akan lapor polisi besok buk." Ucap ayah, menenangkan ibu yang nyaris pingsan.
"Sasakuuuu... Sasaaaa?" Ucap ibu terus menangis.
Ayah Sasa mencoba menghubungi putrinya, tp tidak diangkat. Ayah Sasa mengingat Roy, lalu meneleponnya.
"Halo... ada apa bapak menelepon saya pagi pagi sekali." Tanya Roy.
Ayah Sasa yang tidak bicara, tapi mendengar suara tangisan ibu Sasa. Sontak Roy langsung duduk.
"Aku akan kesana sekarang, Pak." Ucap Roy.
Roy menelepon Daniel...
"Ayo angkat Dan." Ucap Roy.
"Hmmm... ada apa" Ucap Daniel, bangun tapi masih menutup matanya.
"Sepertinya, terjadi sesuatu dengan keluarga Sasa." Ucap Roy.
"Lalu?" jawab Daniel.
"Carikan aku sekarang kapal untuk pergi kesana secepat mungkin." Ucap Roy.
"Baiklah, pergi kepelabuhan sekarang.akan aku suruh temanku menjemputmu dengan speed boadnya." Ucap Daniel menelepon temannya yang tinggal dekat pelabuhan.
"Baiklah." Ucap Roy
"Ya, hati hati. Aku akan menyusulmu nanti." Ucap Daniel.
Roy pergi membawa mobilnya, melaju kencang pergi kepelabuhan. Sesampainya disana Roy langsung menaiki speed boat yang sudah disiapkan.
"Kepulau itu." Ucap Roy menunjuk pulau tempat pelarian Sasa.
"Baiklah. Pegangan." Ucap pemilik speed boad, tancap gas.
Sesampainya dipulau tersebut, Roy langsung pergi berlari. mengabaikan pemilik speed boat tersebut.
"Sepertinya sangat darurat, semoga Tuhan melindunginya" Ucap pemilik speed boad.