
"Mamah sudah baikan?" Ucap Alex. Duduk memegang tangan mamanya.
"Haaaa... aaaaaa... Maafin mama Lex... Mamah udah hancurin kebahagiain Kamu." Ucap mamah Alex.
"Ssstttt... Mah. Jangan pikirkan itu lagi. Mama istrahat ajah... Alex bisa buat diri Alex bahagia Mah." Ucap Alex.
"Wanita itu... Datang lagi kemimpi Mamah." Ucap mamah Alex, memimpikan Sasa.
"Siapa? wanita mana?" Tanya Alex
"Wanita yang pernah menolong Mamah dirumah sakit kemaren." Ucap mamah Alex.
"Mah... Sebenarnya itu pacar Alex, Mah. dan" Ucap Alex. Tiba tiba terputus.
"Apah? Kenapa kamu tidak bilang ke mamah kalau kamu sudah punya pacar?" Tanya mamah Alex. Kaget mendengar anaknya ternyata sudah punya pilihan sendiri
"Aku tidak mau mengecewakan mamah. Apalagiii, Mamah sangat antusias sekali menjodohkan Aku dengan Elsa." Ucap Alex menunduk.
"Nak... selama ini mamah berfikir, kalau kamu tidak pernah memikirkan wanita lain selain Elsa. Mamah baru sadar sekarang. Elsa memang bukan jodohmu." Ucap mamah Alex.
"Yah mah, tapi sekaraaang. Dia sudah pergi dari hidup Alex mah." Ucap Alex
"Kenapa? Apa kamu kurang ganteng? atau, apa ada laki laki lebih kaya dari mu? Kenapa?" Tanya mamah Alex.
"Tidak mah... Dia tau kalau Alex akan menikah dengan Elsa. Dia tidak mau dicap sebagai wanita pengganggu, makanya dia pergi mengiklaskan Alex kepada Elsa." Ucap Alex
"Baik sekali dia... Ya sudah, setelah mamah sembuh. Kita akan cari wanita itu." Ucap mamah Alex.
Alex menatap mamanya, merasa kalau ucapan mamanya hanya akan mempermainkan Alex.
"Mmm... Ya baiklah." Ucap Alex. lalu memeluk mamanya.
Tiba tiba Ricky menelepon Alex.
"Ya... Baiklah, Aku segera kesana." Ucap Alex.
"Ok." Jawab Ricky. Mematikan ponselnya. Melihat ada banyak wartawan menunggu Alex, Angkat bicara.
Kecelakaan yang menimpa mamah Alex. Banyak para penanam saham, mencabut sahamnya dari perusahaan Alex. Takut perusahaannya ikut brangkrut bersama perudahaan Alex.
Alexpun datang merapikan dasinya dan menghadapi semua wartawan yang menunggu di depan perusaannya.
"Itu pak Alex, ayo kita kesana." Ucap Para wartawan.
Merekapun berlari mengejar Alex.
Alex keluar dari Mobil dan tetap dikawal para pengawal yang berjaga didepan pintu perusahaan. Alex berdiri tegap, dengan tersenyum miring. meyakinkan dirinya bisa bangkit dan bertahan, membuktikan cintanya kepada Sasa.
"Pak, bagaiman dengan kabar yang menimpa bapak?"
"Apakah pernikahan Bapak akan tetap dilanjut?"
"Bagaimana dengan perusahaan bapak yang akan kemungkinan akan bangkrut." Ucap para wartawan.
"Baiklah akan ku jawab satu persatu. Yang pertama, Saya dan keluarga saya baik baik saja. yang kedua, Tidak akan ada lagi pernikahan. Dan terahir. Saya tidak akan terima, siapapun yang telah menghianati saya, saat seperti ini. Dan saya akan membuktikan Tower High akan kembali seperti semula." Ucap Alex Tegas. Dan berjalan masuk menuju perusahaannya.
"Alex... bagaimana bisa kamu masuk, melewati mereka." Tanya Ricky
"Hah... apa yang harus ditakutkan. mereka hanya rumput liar jika disiram, maka mereka semakin menjalar." Ucap Alex, dan berjalan menuju ruangannya.
"Ini berkas yang kamu mau." Ucap Ricky, memberikan berkas yang sangat penting.
"Untuk hari ini... Sebelum aku meneleponmu, jangan ada yang menggangguku. Aku sedang sibuk" Ucap Alex.
"Yah..." Saut Ricky lalu pergi.
Sebelum memulai pekerjaannya Alex terlebih dulu memasang foto Sasa di bingkai kecil. meletakkannya diatas meja kerjanya.
Alexpun membuka laptopnya dan memulai pekerjaanya. Ilmu yang diwariskan Papanya, Raka Buming. Itulah yang Alex manfaatkan untuk memperbaiki perusahaannya yang hampir bangkrut. Sampai lupa waktu, Alex terus bekerja. sudah dua hari Alex tidak keluar ruangan. Ricky yang peduli kepada sahabatnya, selalu mengantarkan makanan dan air mineral untuk Alex, agar sahabatnya tidak dehidrasi.
Alex mendalami semua berkas berkasnya, sambil makan roti Alex berjalan membaca berkas, lalu duduk dan minum. Dalam kesibukannya Ricky selalu mengingatkannya kembali, untuk makan dan minum lewat pesan singkat. Alex tersenyum melihat pesan dari Ricky yang tidak pernah lupa mengingatkannya.
"Hah... Dia takut Aku mati atau takut akan merepotkannya." Ucap Alex. Senyum miring membaca pesan singkat dari sahabatnya Ricky.
"Sudah hampir tiga hari dia tidak keluar... Semoga hari ini semua pekerjaannya selesai." Ucap Ricky melihat ruangan Alex dari luar.
Ricky tertidur dikursi, menunggu Alex selama tiga hari tidak beranjak dari ruangannya. Ricky selalu menjaga ruangannya. Agar tidak ada yang mengganggu Alex.
Tiba tiba suara tubrukan meja mengagetkan Ricky dan membuatnya terbangun.
"Hahhh.. apa, ada apa?" Ucap Ricky dengan mata mengantuk.
"Jika sudah lelah, pulanglah." Ucap Alex. meletakkan beberapa map dimeja Ricky dengan keras.
"Bagaimana bisa aku meninggalkanmu dikantor sendirian? sementara kau bekerja sangat lama..." Ucap Ricky mengusap matanya.
"Kau terpaksa?" Tanya Alex, meledek.
"Hah... Sudahlah, Kau tidak akan paham itu." Ucap Ricky
"heh... Ayo kita minum." Ajak Alex.
"Apah? Hah... minum? Maaf aku tidak punya waktu. Aku sibuk." Ucap Ricky. menolak karna akan mengerjakan pekerjaan yang Alex berikan.
"Bukankah bos yang mengajakmu? Bagaimana jika aku pecat kau malam ini. Apa kau juga akan menolak?" Ucap Alex.
"Baik... Ayo kita minum." Saut Ricky. Memasukkan berkas penting tersebut keberangkas didekat mejanya.
"Nah... Itu baru sahabatku." Ucap Alex. melihat Ricky yang menurut.
"Bukan sahabat, tapi Budak." Ucap Ricky dan keluar bersama Alex dari ruangannya.
"Itu makanya Aku terus mempekerjakanmu, Karna kau merasa dirimu seperti budak." Ucap Alex. Tersenyum dibelakang Ricky.
"Yahh... Terserahmu saja." Ucap Ricky.
"Bagaimana mungkin aku menganggapmu sebagai budak, Kau juga bagian terpenting dihidupku." Ucap Alex dalam hati. Melihat sahabatnya yang paling dia sayangi.
"Ayo masuk, jangan senyum senyum sendiri seperti orang gila disana." Ucap Ricky. Mengajak Alex masuk kemobilnya.
Alexpun masuk dan mereka pergi kesalah satu tempat hiburan malam.
"Ricky..." Ucap Alex. Menatap kedepan.
"Mmm... Ada apa lagi?" Ucap Ricky, sambil memyetir.
"Apa kau sudah dapat informasinya?" Tanya Alex
"Hufff... Hanya menunggunya. Itu cara satu satunya untuk bisa bertemu dengannya." Ucap Ricky
"Sesulit itukah mencarinya? dulu... Kaulah yang pertama menemukannya." Ucap Alex.
"Semut sekalipun tidak bisa menemukan jejak kakinya. Sepertinya dia niat sekali pergi meninggalkanmu." Ucap Ricky.
"Yah... mungkin, jika dia tau aku batal menikah. Dia pasti akan menemuiku lagi." Ucap Alex.
"Apaaa... Bagaimana jika kita cari dia kekutup Utara saja?" Ejek Ricky
"Masih becanda? atau kau akan ku turunkan disini." Ucap Alex. yang serius, tapi Ricky selalu becanda.
"Ia... ia... Maaf maaf. Sebenarnya, Aku sudah putus asa untuk mencarinya. Tidak tau lagi harus cari kemana." Ucap Ricky, menutup mututnya. dengan mengigit bibirnya.
"Kamu dimana Saa, Aku sangat merindukanmu." Ucap Alex dalam hati.